
Saat Rifqan sudah berada di atas pohon yang lumayan tinggi, orang yang pertama dia hubungi adalah Pinkan. Namun dia sudah mencoba menelpon beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari Pinkan
"Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku? Apa dia tidak tahu aku sangat merindukan nya, sampai naik ke atas sini." seru Rifqan
Karena dia menelpon Rifqan beberapa kali tapi tidak di angkat, dia memutuskan untuk menelpon bawahan nya.
"Ya tuan?" tanya Patra yang langsung mengangkat panggilan itu
"Kenapa Pinkan tidak mengangkat telpon ku?"
"Apa? Mana aku tahu." Patra menggeleng kepala nya karena mendapat pertanyaan tidak masuk akal dari atasan nya
"Kenapa tidak tahu? Aku kan menyuruh mu untuk menjaga nya. Jadi kamu pasti tahu alasan kenapa dia tidak mengangkat telpon dari ku."
"Tuan, tolong mengerti lah. Pekerjaan ku disini sangat banyak gara gara kau meninggalkan kantor sudah sangat lama, sekarang kau memerintah kan aku untuk menjaga nona Pinkan lagi? Dia kan sudah besar dan bisa menjaga diri nya sendiri." ucap Patra sambil menangis tersiksa
Rifqan langsung mematikan telpon nya sepihak, karena sudah sangat banyak semut di atas pohon itu. Dia sudah sangat gatal karena digigit oleh semut semut itu
"Seperti nya aku harus segera pulang. Tapi aku harus mengurus beberapa hal lagi disini agar tidak perlu kembali lagi untuk sementara waktu." Rifqan berpikir sejenak
Sementara itu di bioskop, Dharma dan Pinkan sudah selesai menonton. Mereka keluar dan langsung masuk ke dalam mobil karena Dharma sudah tidak ingin berlama lama disana, dia sudah sangat malu akibat ulah Pinkan
"Kamu sudah janji padaku kan?" Pinkan memancing
"Janji apa?" Dharma pura pura lupa
"Janji ingin mentraktir ku makanan Swiss."
"Lain kali saja ya, tiba tiba aku merasakan sakit perut." kilah Dharma
"Yasudah terserah kamu saja."
Sakit perut mu itukan hanya sebuah alasan saja. Kau tidak punya uang untuk mentraktir ku makanan mahal, Pinkan mengejek dalam hati
Setelah menurunkan Pinkan di depan pintu pagar rumah nya, Dharma langsung pergi dari sana dalam suasana hati yang buruk
"Sial sial sial! Aku sangat malu hari ini! Aku tahu Pinkan, kau sengaja ingin mempermalukan aku. Itulah mengapa kau mau menerima ajakan ku? Lihat saja nanti, aku akan membalas mu dan akan membuat mu malu lebih dari ini." Dharma marah dan memukul setir nya dengan kuat
Sedangkan Pinkan masuk sambil tertawa dengan keras, dia sangat puas dengan apa yang dia lakukan hari ini. Saat akan menaiki anak tangga, dia di hentikan oleh Verel yang sedang menuangkan jus nya
"Hei, siapa kau?" Verel meneriaki Pinkan
"Kau tidak mengenali aku?" Pinkan menunjuk diri nya sendiri
"Memang nya kau siapa? Kenapa aku harus mengenal mu?" Verel malah berbalik tanya
__ADS_1
Pantas saja buaya Amazon itu sangat marah, ternyata adik ku sendiri saja tidak bisa mengenali ku, batin Pinkan tertawa keras
"Sudahlah, tidak penting kau tahu siapa aku." Pinkan kembali melanjutkan langkah nya untuk masuk ke kamar nya
Dia membanting tubuh nya ke atas ranjang. Dia melihat sekilas ke arah ponsel nya dan memejamkan mata nya. Tetapi entah kenapa tangan nya sangat gatal ingin menyentuh ponsel nya
Pinkan langsung mengambil dan memeriksa ponsel nya. Dia membelalakkan mata nya saat melihat panggilan dari Rifqan yang berjumlah 50 panggilan tak terjawab dan ada beberapa pesan
"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon dari ku?"
"Tolong jawab lah sebentar Pinkan."
"Apa kamu tidak merindukan aku?"
"Pinkan??" itulah beberapa pesan yang dikirim oleh tuan muda Rifqan
"Sial! Kenapa aku lupa membawa ponsel ku sih?"
Pinkan langsung mencoba untuk kembali menghubungi Rifqan, tapi sayang nya Rifqan sudah turun dari pohon dan sinyal nya pun sudah hilang
"Ahhh sial! Kenapa sudah tidak aktif lagi?" Pinkan kembali membanting ponsel nya dan langsung memejamkan mata nya
Baru sebentar dia memejamkan mata nya, ponsel nya kembali berdering. Dia dengan cepat langsung meraih ponsel nya, dia pikir itu tuan muda Rifqan. Ternyata Anya lah yang menghubungi nya
"Ya mam?" Pinkan menjawab
"Minggu malam?" Pinkan kembali mengulangi penuturan wanita yang berada di balik telpon itu
"Iya sayang, ajak juga sahabat mu itu ya agar mami bisa lebih leluasa untuk menjodohkan nya dengan Patra." ucap Anya yang sangat antusias
"Mami juga berencana menjodohkan mereka?" Pinkan seakan tak percaya dengan semua nya
"Iya. Dari pandangan mami sih, Patra sangat suka dengan sahabat mu itu."
"Berarti kita sepemikiran." balas Pinkan
"Bagaimana dengan perkembangan hubungan mu dan Rifqan?" tanya Anya dan membuat Pinkan tergagap
"Ya baik mam." jawab nya segera
Apa aku harus menanyakan keberadaan tuan Rifqan pada mami ya? Tapi nanti akan terlihat hubungan kami sedang tidak baik, Pinkan mulai bimbang
"Yasudah mami tutup dulu ya. Nanti mami akan menyuruh supir untuk menjemput kalian berdua."
"Siap mam." jawab Pinkan dan mereka pun langsung mengakhiri sambungan telpon
__ADS_1
Setelah itu Pinkan pun tertidur, dia kembali melewatkan makan malam nya
Dia terbangun dan hari sudah terang. Dia langsung bangun bersiap siap untuk pergi kuliah
"Kak ayo kita pergi bersama." ajak Verel yang dia memang sengaja menunggu Pinkan
"Kamu duluan saja, aku mau sarapan dulu. Urat perutku terasa sudah putus."
"Aku akan menunggu mu di depan, jangan lama!" Verel berbicara sambil berlalu
Pinkan langsung melanjutkan sarapan nya. Dia mengambil makanan sebanyak dua porsi untuk menggantikan jatah nya yang semalam, setelah kenyang dia langsung keluar dan melihat Verel masih menunggu nya dengan bersandar di pintu mobil
Sedangkan di kampus, Dharma sudah menunggu Pinkan untuk memastikan sesuatu
"Aku harus memastikan nya, jika dia tidak berpenampilan norak seperti kemarin, berarti memang benar dia hanya mengerjai ku." Dharma mengepalkan tangan nya
"Baby..." teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Erika dan langsung bergelayut manja di lengan Dharma
"Jangan menganggu ku!" bentak Dharma namun tidak menyurutkan keberanian Erika
"Aku tidak pernah menganggu mu, sebenarnya kau lah yang menganggu dan mengacaukan hati dan perasaan ku." ucap Erika dengan tidak tahu malu
"Kau lebay sekali. Aku muak dengan mu." sahut Dharma
"Kenapa sih kau ini? Tidak ada manis manis nya dengan ku, tetapi jika dengan wanita jalang itu kau sangat manis bahkan kau yang lebay." sewot Erika yang merasa iri
"Bukan urusan mu." potong Dharma dan langsung berlalu namun Erika masih setia mengekor di belakang nya
Dharma mulai menunggu Pinkan dengan duduk di bangku taman kampus, Erika juga ikut duduk tepat di sebelah nya tapi Dharma tidak mempedulikan kehadiran Erika sama sekali
Saat baru turun dari mobil, pandangan Pinkan langsung tertuju pada Dharma dan Erika. Dia langsung mendekati mereka berdua
"Baru kemarin berkencan dengan ku. Sekarang sudah tidak sabar untuk mengencani wanita lain lagi." sindir Pinkan dengan melipat tangan nya di dada
"Apa maksud mu?" tanya Erika dengan tidak sabaran
"Tanya saja langsung pada pria di sebelah mu." Pinkan melirik Dharma yang sedari tadi hanya diam saja
Benar kan dia sudah tidak berpenampilan seperti kemarin. Awas saja kau Pinkan! Dharma sibuk menilai penampilan Pinkan
Aku tahu kau sudah menyadari aku hanya mempermalukan mu kemarin, ku harap kamu belum mau untuk menyerah, batin Pinkan sambil tersenyum miring
"Sudahlah menjauh saja dari nya, dia tidak akan pernah melihat kehadiran mu sedikit pun." ucap Pinkan dan langsung pergi sambil melambaikan tangan nya
"Kau!" Erika berteriak
__ADS_1
"Wanita bodoh! Aku berusaha memperingati mu tapi kau malah marah padaku, yasudah lanjutkan saja pembodohan mu itu." gumam Pinkan