Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Bukti Besar


__ADS_3

"Kalau kau tidak mau. Jangan melihat hal-hal seperti itu!" jawabnya ketus


Pinkan hanya diam sambil sesekali melirik ke arah Rifqan yang menurutnya sangat tampan. Dia merasa telah menjadi wanita paling beruntung karena bisa bersama dengan pria yang sangat angkuh dan sombong kepada orang lain, tapi sangat hangat kalau sedang bersama dengannya


Setelah sampai di rumahnya, Pinkan terheran-heran melihat rumahnya. Tidak seperti biasanya, dia bertanya-tanya kenapa rumahnya masih terang-benderang


Dia membuka pintu rumahnya perlahan-lahan. Dan dia terkejut karena melihat ayahnya, Verel, dan Amrita masih duduk di sofa ruang tamu, seperti sedang menunggunya pulang


"Ayah, kenapa kalian masih berada di sini? Kenapa belum tidur, tidak seperti biasanya." ujarnya


Sebenarnya, dia juga takut. Tetapi karena sudah kepalang tanggung, dia sudah membuka pintu dan wujudnya pun sudah terlihat oleh seluruh keluarganya. Jadi, dia hanya bisa berpura-pura memasang senyum


"Tentu saja sedang menunggu kedatanganmu. Jam segini baru pulang!" sindir Amrita


Pinkan hanya diam. Dia tahu, kalau dia menjawab sindiran Amrita. Yang ada nanti semuanya akan berbuntut panjang


"Dari mana kamu, Pinkan? Kenapa sudah selarut ini baru pulang?" tanya Raka dengan wajah cemasnya


"Maaf, Ayah. Aku tadi dari rumah teman." jawab Pinkan


"Temanmu yang mana? Ternyata temanmu banyak juga, ya!" sahutnya lagi


Pinkan begitu jengah dengan mulut Amrita. Tapi, disini lah kesabarannya diuji, dia tidak bisa membalas satupun perkataan yang dilontarkan Amrita untuknya


"Ayah, tadi kakak sudah mengatakannya padaku, kalau dia ingin pergi dan memintaku untuk memberitahukannya pada kalian. Tapi, aku lupa." ucap Verel


"Verel! Kenapa kamu ikut berbicara?" seru Amrita yang geram karena lagi-lagi Verel membantu Pinkan


"Memang kenyataannya seperti itu, Bu." jawabnya dengan tampang serius


"Hem, ya sudah. Kalau begitu, semuanya masuk ke kamar masing-masing. Sudah waktunya untuk tidur. Dan kamu, Pinkan! Jangan pernah pulang selarut ini lagi." seru ayahnya


"Baik, Ayah." jawab Pinkan tertunduk


Amrita mendengus kesal. Dia melengos pergi begitu saja dengan sekali menghentakkan kakinya. Raka mengekor di belakangnya


"Terima kasih, kamu memang adik yang sangat baik." ujar Pinkan dan memasang wajah senyum manis


"Aku tahu kamu sedang bersedih. Jadi, aku membantumu hanya untuk menghibur kakak saja. Bagaimana, kapan mantan pacarmu akan bertunangan dengan aktris itu?" tanya Verel yang membuat Pinkan kesal dan mencemberutkan wajahnya


Pinkan menyenggol perut Verel dengan sikunya. "Mereka tidak jadi bertunangan." jawab Pinkan santai

__ADS_1


"Kenapa? Apa saat itu aku salah dengar?" Verel malah terheran-heran


"Bukan kau yang salah dengar. Tapi keluarga Vini yang salah paham." ujar Pinkan dan berlalu ke kamarnya. Dia sudah sangat mengantuk dan juga tidak sabaran menanti kedatangan esok hari


*********


Keesokan harinya, Pinkan sudah bersiap-siap untuk menemui Mr. Spy sang detektif yang ia sewa mahal untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ia cari untuk menjatuhkan sejoli menjijikkan itu


Pinkan menuruni anak tangga dengan membawa tas jinjingnya yang lumayan besar. Dia melihat Amrita yang sedang memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Amrita, saat melihat Pinkan yang baru turun dan menatap ke arahnya, dia langsung merubah raut senyumnya menjadi datar


Pinkan tidak ingin memperdulikan wanita tua itu, tapi sepertinya wanita itu sendiri yang suka mencari pasal dengan Pinkan dan berakhir dengan adu mulut


"Kemana lagi, Kamu? Setiap hari kerjaan kamu hanya tahu pergi saja. Tidakkah kamu bisa berpikir untuk membantu meringankan pekerjaan ayahmu di kantor?" ucap Amrita dengan logis


"Maaf. Bukankah jika aku bekerja di kantor, akan ada seseorang yang takut tidak akan bisa meraup keuntungan lebih dan juga tidak bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya?" ucapnya balik menyindir


Tanpa mau meladeni Amrita lebih lama lagi, Pinkan meninggalkan Amrita sendiri yang masih kalut dengan ucapan Pinkan. Amrita mengeram kesal dan rasanya ingin sekali ia menarik rambut panjang milik anak tirinya itu


******


Di cafe, tempat Mr. Spy dan Pinkan pernah beberapa kali bertemu. Pinkan sudah datang dan langsung menemui si detektif di ruangan VVIP. Pasti tahukan tujuannya, agar tidak ada yang mendengar dan menganggu percakapan mereka


Mr. Spy meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat. Dengan tidak sabaran, Pinkan membuka amplop itu dan kembali melihat-lihatnya. Saat kebetulan dia melihat foto porno Dharma dan wanita lain, berbeda dari yang pernah dikirim oleh Mr. Spy, dia langsung mengganti dengan melihat yang lain. Karena, dia sudah berjanji dengan Rifqan untuk tidak melihat hal-hal itu lagi


"Apakah kamu pernah diculik, bersama dengan sahabatmu?" tanya Mr. Spy tiba-tiba


"Ya. Kenapa? Kenapa kamu bisa tahu?" Pinkan mengehentikan kegiatannya dan mengalihkan perhatiannya pada Mr. Spy


"Kau lupa Profesiku. Ckck." ejeknya


"Kau sudah pintar bercanda, ya!" Pinkan mengejek balas


"Dalang di balik penculikan mu, adalah Dharma!" ucapnya dengan santai. Tapi, Pinkan langsung terkejut dan mengebrak meja dengan kuat


"Apa? Bagaimana bisa? Apakah kau yakin?" tanyanya beruntun


"Tentu saja bisa, dan tentu saja aku yakin. Penyelidikanku tidak pernah meleset."


"Tapi, apa motif dari penculikan itu? Apakah dia ingin membunuhku? Tapi, mereka tidak menyakitiku sama sekali." gumamnya


Mr. Spy tersenyum melihat Pinkan yang berteka-teki seperti orang bodoh begitu. Dia langsung menyela gumaman Pinkan

__ADS_1


"Kau tahu istilah super Hero datang untuk menyelamatkan wanita cantik? Begitulah motif penculikannya." sahut Mr. Spy


Tanpa dijelaskan pun, Pinkan sudah paham dengan istilah yang dijabarkan oleh Mr. Spy. Dia mengangguk-anggukka kepalanya paham


Pantas saja mereka tidak menyentuhku. Tapi, ingin memperkos* Kiara. Dasar bedebah sialan! Jika aku memberitahu Patra tentang ini, seperti apa ya reaksinya


Pinkan sudah menyusun rencana jahat di pikirannya. Dia tersenyum jahil saat memikirkan rencana yang sedang ia susun


"Tapi, preman-preman itu di dapatkan dari mana?" tanyanya


"Tentu saja itu adalah anggota geng mafia yang tidak terlalu terkenal. Dia menyewa mereka untuk menculikmu. Tapi, malah terbawa sahabatmu juga." jelas Mr. Spy


"Setahuku, dia hanya mahasiswa miskin, anak haram dari keluarga kaya tapi dia tidak pernah diberi uang sepeserpun. Dari mana dia mendapatkan uang untuk menyewa para preman gadungan itu?"


"Dia memanfaatkan beberapa orang wanita dan menguras harta para wanita itu lewat rayuan mautnya. Dan, dia juga adalah seorang penipu kelas kakap. Dia sering mengganti identitas palsunya untuk menipu beberapa wanita teman kencan onlinenya, dan juga menipu uang mereka dalam jumlah besar." lanjutnya


"Jadi, dia mendapatkan banyak uang dari hasil menipu?" Pinkan seolah baru memenangkan undian besar. Dia sudah mendapatkan sebuah bukti besar yang bisa langsung menyeret Dharma ke penjara dan membuatnya mendekam sampai membusuk di sana


Setelah berbincang-bincang dengan dengan Mr. Spy. Pinkan masih duduk di tempat yang sama dan menelepon ayahnya


"Ayah?" ucapnya


"Ya, kenapa, Nak?"


"Ayah, apakah saat jam makan siang nanti kita bisa bertemu?" tanya Pinkan penuh harap


"Bisa. Nanti kita bertemu di cafe tempat biasa keluarga kita makan bersama saja, bagaimana?" ujar Raka


"Baiklah, sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Ayah!" ujar Pinkan sambil melihat kertas-kertas yang ia pegang


"Iya, aku akan mendengarkannya, Nak!" jawab Raka


Jam makan siang tiba. Seperti janjinya dengan Pinkan, Raka sudah menunggu anaknya itu di sebuah cafe tempat biasa keluarga mereka makan bersama. Jadi, bisa dikatakan tempat itu adalah tempat favorit dan langganan keluarga mereka


Raka berulang kali melihat jam yang melekat di pergelangan tangannya, jam istirahat sudah hampir habis. Tapi, kenapa anaknya belum juga tiba. Dia memutuskan untuk menelepon anaknya untuk menanyakan kejelasan


"Pinkan, apakah kamu jadi menemui ayah?" tanyanya


"Jadi, Yah. Maaf karena membuat ayah menunggu lama. Tapi, ini aku sudah sampai kok." ucapnya


Raka mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, dia melihat Pinkan yang datang bersama seseorang. Membuat dia tercengang dan tidak mengedipkan matanya. Dari pandangannya, sudah terbaca tatapan tidak suka

__ADS_1


__ADS_2