Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Hari Pernikahan


__ADS_3

"Lalu?" tanya Raka yang bergantian memasang wajah cemas. Dia takut kalau dia sudah salah paham dengan maksud dari kedatangan mereka.


"Kami ingin mereka segera menikah, besok!" ucap Anya totalitas.


"Apa?" pekik Raka, Pinkan dan Verel.


Raka sampai spontan berdiri dari duduknya dan sempat menggebrak meja karena saking kagetnya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Mami Anya.


"Ayah, tenangkan dirimu." ucap Pinkan lalu menuntun Ayahnya kembali untuk duduk.


Raka menarik nafas dalam-dalam dan menetralisirkan kegugupannya. Setelah merasa lebih rileks dia kembali menatap Tuan Faruq dan Mami Anya.


"Apakah ini tidak terlalu cepat?" tanya Raka menatap ketiga tamunya secara bergantian.


"Menurut kami tidak. Tetapi, semua keputusan ada pada Anda dan Pinkan." jawab Anya lagi.


Sebenarnya, dia memang sangat berharap Raka akan menyetujuinya. Dia memang sudah sangat menginginkan Pinkan menjadi menantunya sedari lama, dia juga mengerti perasaan anaknya yang sudah sangat menggebu-gebu dalam mencintai wanita ini.


"Sungguh, kedatangan kalian membawa berita bahagia, tetapi membuat jantung saya harus bekerja ekstra." ujar Raka.


Semua orang tertawa mendengar penuturan Raka, mereka mengerti maksud dari laki-laki itu. Kedatangan mereka memang sangat mendadak, apa lagi permintaannya dari mereka, membuat Raka semakin kelimpungan.


"Bagaimana jawaban Anda, Tuan?" tanya Faruq lagi memastikan. Sebenarnya, dia paling tak suka dengan keadaan yang bertele-tele seperti ini, namun hal ini berbeda dari pekerjaannya. Dia harus sabar demi anak laki-lakinya.


"Kamu ingin bagaimana, Rifqan?" tanya Raka.


"Kalau saya, memang ingin segera menikah dengan anak Anda, Pinkan. Tempo hari Anda meminta saya untuk segera bertunangan. Tapi, kali ini saya membuktikan ucapan saya dengan membawa pernikahan untuk kami, yang saya yakini putri Anda akan saya bahagiakan seumur hidupnya." jawab Rifqan lugas.


"Kalau begitu, tunggu apalagi? Cepat, panggil aku Ayah juga, sama seperti mereka." jawab Raka sambil menunjuk ke arah anak-anaknya.


"Berarti, Anda menyetujui pernikahan mereka?" tanya Anya memastikan.


"Tentu saja. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk kebahagiaannya." ucap Raka.


Raka sangat terharu. Karena, akhirnya ada juga yang bisa ia perbuat untuk membahagiakan putri semata wayangnya itu. Dia akhirnya merasa menjadi ayah yang berguna untuk anak-anaknya.


"Besok, kalian akan menikah. Untuk resepsi pernikahan, terserah Pinkan kapan ingin mengadakannya." ujar Anya, Anya tentu saja mengerti. Tidak mungkin dia meminta mereka segera mengadakan resepsi dalam kondisi mereka yang sedang tertimpa masalah begini. Walaupun dia sudah tidak sabar untuk mengundang teman-temannya dari seluruh dunia untuk menghadiri acara pernikahan anaknya itu, namun dia tetaplah harus bersabar.

__ADS_1


"Terimakasih kasih, Mami." ucap Pinkan yang langsung berhambur ke pelukan Anya yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.


Setelah bercakap-cakap, keluarga Tuan Faruq minta izin untuk pulang. Karena, besok mereka akan datang kembali untuk menikahkan anak mereka.


Setelah kepulangan calon suaminya, Pinkan langsung memeluk Ayahnya dengan erat, dia menangis dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih secara berulang-ulang.


"Ayah, terima kasih karena sudah merestuinya kami." ucapnya.


"Sudahlah, Nak. Ayah tahu, dia memang yang terbaik untukmu, maaf karena dulu Ayah sempat membuatmu kecewa." ujar Raka.


Pinkan menggeleng cepat. " Tidak, Yah. Ayah tidak pernah mengecewakan aku." jawabnya.


**************


Keesokan harinya, utusan Mami Anya telah sampai kediaman keluarga Cleotra. Mereka membawakan gaun pengantin yang dipesan oleh Anya dari desainer ternama dunia, hanya ada satu di dunia, karena khusus dirancang untuk Pinkan.


Mereka juga membawa beberapa orang make over kelas dunia yang tentunya saja diundang langsung oleh Anya. Bahkan, dekorasi pada acara pernikahannya jauh dari kata sederhana. Seperti sudah di persiapan dari jauh-jauh hari.


Pinkan sudah siap dengan balutan gaun putih yang dipadukan dengan aksen bunga berwarna cokelat dan silver, dan Rifqan juga sudah siap dengan tuxedo putihnya. Mereka menggelar akad nikah mereka di kediaman mempelai wanita.


"Bagaimana, apakah semuanya sudah siap?" tanya penghulu yang sudah siap untuk menikahkan mereka.


Pak penghulu mulai berjabat tangan dengan Rifqan, wajah Rifqan terlihat berseri-seri. Tidak ada kegugupan yang menyelimuti. Namun, berbeda dengan Pinkan, jantungnya berdetak seratus kali lebih cepat, dia percaya kalau Rifqan pasti bisa. Namun, kegugupan dan senang berpadu menjadi satu dan menyelimuti hatinya.


"Sah!" ujar semua orang yang berada di dalam ruangan dengan serempak. Kata itulah yang ditunggu oleh Pinkan, dan akhirnya ia bisa menghela nafas dengan tenang.


"Aduh, selamat ya, Pinkan. Aku sudah bertunangan, tapi malah kamu yang duluan nikah." ucap Kiara.


"Nikah dadakan! Aku juga tidak menyangka hal ini bisa seperti ini." jawab Pinkan malu-malu.


Anya menghampiri Pinkan, dia memeluk dan menciumi wajah Pinkan dengan gemas.


"Wah, cantik sekali menantu, Mami." ujarnya.


"Terima kasih, Mami." ucapnya sambil tersenyum.


"Maaf ya, Sayang. Dihari pernikahan kalian, Mami hanya bisa menyiapkan acara yang sederhana ini." ucapnya merendah.

__ADS_1


Sederhana? Dari mana datangnya sederhana. Ini sudah sangat jauh dari kata sederhana, batin Pinkan melihat sekelilingnya.


"Ini sudah lebih dari cukup, Mam." jawab Pinkan.


"Jadi, nanti kalian akan pulang ke rumah kami atau menginap disini?" tanya Tuan Faruq.


"Kami akan..." ucapan Pinkan langsung dipotong oleh Rifqan.


"Kami akan kembali ke apartemenku saja, Pi." jawab Rifqan cepat sambil mengedipkan sebelah matanya pada istrinya.


Setelah para tamu bubar, Pinkan membawa suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya, sekalian untuk membereskan barang-barang miliknya agar bisa dibawa ke apartemen milik Rifqan yang nantinya akan dia tinggali.


"Rifqan, bisakah nanti kamu mengantarku ke kantor polisi?" ucapnya sambil memasukkan bajunya ke dalam koper.


"Untuk apa lagi kamu kesana, Sayang? Besok saja, hari ini kita harus menikmati momen bahagia kita saja." jawab Rifqan enggan.


"Tidak bisa. Aku ingin hari ini juga. Aku ingin membuat laporan tuntutan untuk Dharma dan juga Amrita. Semakin cepat, semakin baik. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi." jawab Pinkan.


"Biarkan pengacaraku yang mengurusnya untukmu. Kita beristirahat saja."


"Tidak. Aku ingin, aku sendiri yang melakukannya. Untuk Dharma, aku akan membalaskan rasa sakit Ayahku dulu. Dan untuk Amrita, aku akan membalaskan perbuatannya pada ibuku dulu." ucapnya dengan matanya yang berkaca-kaca.


Menyadari hal itu, Rifqan yang sedang berbaring pun langsung turun dan memeluk istrinya itu. Dia mencoba menenangkannya agar tidak bersedih kembali.


"Baiklah, aku akan selalu berdiri di belakang mu dan mendukung apapun yang kamu lakukan."


"Terima kasih." sahut Pinkan yang masih menangis.


"Tapi, aku ada satu permintaan." ucapnya sambil menatap netra hitam milik istrinya.


"Apa? Jika kamu minta barang mahal, aku tidak sanggup membelikannya, ya!" ucapnya memberitahu duluan.


"Tidak. Aku tidak perlu semua itu, yang aku perlukan hanya kamu saja."


"Jadi, kamu minta apa? Cepat beritahu aku!" ujar Pinkan tak sabaran.


"Nanti malam, aku langsung minta hak ku sebagai suami, ya! Boleh, kan?" ucap Rifqan.

__ADS_1


__ADS_2