
"Ya. Aku membangun Vila ini saat kamu mengira aku mulai menjauh darimu, kamu ingat?" Tanya Rifqan sambil memperhatikan setiap inci dari wajah Pinkan
Pinkan mengangguk. Saat itu dia memang mengira kalau Rifqan sama seperti laki-laki lain yang akan mulai menjauh secara perlahan-lahan. Sekarang dia baru tahu, kalau selama ini ternyata dia hanya salah paham.
"Ternyata aku hanya salah paham, ya?" Tanya Pinkan malu-malu.
"Ya, sekarang kamu tahu kan, alasan dari aku menghilang saat itu." Jawab Rifqan sambil mencuil hidung mancung istrinya.
"Aku tahu, aku minta maaf karena pernah salah paham denganmu." Ucap Pinkan.
Bukannya menjawab, dia malah merasa gemas dengan tingkah Istrinya itu. Tingkah malu-malu Pinkan yang baru diperlihatkan sekarang membuat Rifqan semakin merasa gemas pada istrinya itu.
Rifqan ingin kembali mencium Pinkan, tapi secepat kilat tangannya menahan wajah Rifqan agar tak bisa menciumnya.
"Kenapa? Bukankah kamu senang kalau aku menciummu?" Tanya Rifqan dengan menaikkan alisnya.
"Malu. Nanti, kalau ada yang lihat bagaimana?" Jawab Pinkan.
"Orang pasti memaklumi, kita kan pengantin baru. Orang-orang juga pernah mengalami hal seperti kita, jadi biasa saja, Sayang." Timpal Rifqan yang tak suka kalau Pinkan terus saja menghalangi hal baiknya.
"Orang memang pernah seperti kita. Tapi tidak tergesa-gesa sepertimu!" Pinkan menolak tubuh Suaminya itu. Dia seperti telah kembali ke mode iblis nya.
Dia langsung keluar dari mobil meninggalkan Rifqan sendiri di dalam mobil.
Pinkan mengambil nafas dalam-dalam menghirup segarnya pedesaan. Sudah sangat lama sekali, sejak terkahir kali dia datang ke tanah kelahiran Ibunya. Baru kali ini dia datang ke sebuah desa lagi, dan statusnya juga sudah berubah menjadi seorang Istri dari seorang Rifqan Athalla Faruq.
Melihat wajah istrinya yang sangat menikmati suasana di sekitar, Rifqan turut senang. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Dia memeluk pinggang Pinkan dari belakang, dia menyeludupkan wajahnya ke bahu Pinkan. Dia menghirup dalam-dalam aroma rambut Pinkan yang membuatnya candu.
"Rifqan, jangan seperti ini. Coba lihat ke sekelilingmu. Semua orang sedang memperhatikan kita!" Pinkan mengatakan itu dengan berbisik-bisik karena merasa tidak enak hati dengan orang yang memang sedari tadi sudah memperhatikan mereka.
"Sayang, jangan panggil namaku. Dosa kalau kamu terus seperti itu." Bisik Rifqan yang masih tidak mau melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Lepaskan terlebih dahulu, baru aku akan merubah panggilanku." Tegas Pinkan yang sudah risih karena orang yang menatap mereka sudah mulai berbisik-bisik dan senyum-senyum.
"Tidak mau. Panggil aku Suamiku, aku pasti akan langsung melepaskan pelukanku." Rifqan tetap saja kekeh dengan pendiriannya.
"Menyebalkan!" Umpatnya kesal, tapi dia tetap menuruti keinginan Rifqan dan memanggilnya seperti keinginan laki-laki itu. "Suamiku, ayo cepat lepaskan aku. Kita lanjutkan di dalam saja." Ucap Pinkan penuh kasih sayang.
CUP CUP
Karena merasa sangat senang saat mendengar panggilan Pinkan yang membuatnya bahagia itu, dia pun mengecup kedua pipi Pinkan dengan gemas. Setelah itu barulah dia melepaskan pelukannya sesuai dengan janjinya.
Rifqan buru-buru melepaskan pelukannya dan menarik Pinkan masuk ke dalam Vila.
Setalah berada di dalam, dia menggendong Pinkan ala bridal style, kemudian menendang pintu masuk ke kamar dan menaruh tubuh Istrinya di atas ranjang dengan perlahan.
Dia pun mulai memegang baju Pinkan, bermaksud untuk membukanya. Tapi, tangan Pinkan lebih cepat dan menghentikan kegiatan Rifqan. Membuat Rifqan lagi-lagi melengos kesal.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Rifqan menatap netra Pinkan meminta penjelasan.
"Aku lelah. Bolehkah aku istirahat terlebih dahulu?" Pinta Pinkan yang sangat memohon, karena tubuhnya memang terasa remuk. Rasa lelahnya akibat pergumulan mereka semalam saja belum hilang, apakah sekarang harus ditambahkan lagi?
KRING KRING KRING
Pinkan baru saja memejamkan matanya, tapi ponselnya sudah berdering beberapa kali. Dia terpaksa menjawab panggilan itu karena panggilan itu berasal dari kantor polisi, tempat di mana Dharma dan Amrita ditahan.
"Halo, ada apa, Pak?" Tanya Pinkan penasaran.
"Nona, maaf atas kelalaian kami. Tapi, Tuan Dharma sudah melarikan diri dari penjara. Kami memperhatikan cctv, dia menyamar sebagai pengangkut sampah." Jelas sang polisi dengan gemetaran. Karena polisi itu tahu, siapa yang berada di belakang Pinkan.
"Apakah ada seseorang yang turut ikut membantunya?" Tanya Pinkan dengan wajah datar. Sungguh, kabar ini sangat membuatnya kesal dan ingin menelan semua orang yang berada di hadapannya saat ini. Tapi, yang berada di sekitarnya saat ini adalah suaminya, tak mungkin dia menelan Rifqan, orang yang baru saja sah menjadi suaminya itu. Bisa-bisa dia dikutuk menjadi bongkahan es batu yang tak bisa mencair.
"Ada, Nona. Menurut kami lihat dari rekaman cctv. Orang yang membantunya itu menukar pakaiannya dengan tersangka di kamar mandi. Setelah itu, tersangka bisa melarikan diri dengan aman." Jelas sang petugas.
__ADS_1
Pinkan menganggukkan kepalanya mengerti, dia menghela nafasnya kasar. Tidak menyangka kalau Dharma berani melarikan diri dari kantor polisi. Dan siapa orang yang berani membantunya.
"Kalian tidak perlu mencarinya. Biar aku yang mencarinya. Setelah aku menemukannya, aku akan langsung menghabisinya! Kalian tidak merasa keberatan kan, Pak?" Tanya Pinkan dengan nada mengejek.
"Ti-tidak, Nona. Justru kami merasa sangat berterima kasih karena Anda sudah mau membantu dan meringankan tugas kami." Jawab sang polisi dengan menelan saliva-nya susah payah.
"Aku kira, kalian akan menentangku karena aku melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum. Baiklah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya. Aku harap, kalian bisa menjaga Amrita dengan baik. Jangan sampai kalian meneleponku lagi dan memberi kabar kalau Amrita juga ikut kabur. Kalau sampai seperti itu, kalian pasti tahu kan apa akibatnya?" Ancam Pinkan dengan nada dinginnya.
"I-iya, Nona. Sekali lagi maafkan kami." Ucapnya.
Pinkan tak ingin mendengar terlalu banyak basa-basi. Dia langsung menutup panggilan itu dan meremas ponselnya karena merasa geram dengan ketidak becusan orang-orang itu. Jika saja tadi petugas itu tidak setuju dengan usulannya, dia pasti akan datang ke kantor polisi itu dan langsung membunuhnya saat itu juga. Untung saja, orang-orang itu masih cukup tahu diri.
Dharma! Berani sekali kau melarikan diri dari tanggung jawabmu. Berlari lah sejauh mungkin. Jangan sampai aku menemukanmu! Jika sampai aku bisa menemukanmu, aku pasti akan langsung mencabut nyawamu!
Setelah memesan makanan, Rifqan masuk bermaksud untuk mandi. Tapi dia kaget karena mendapati Pinkan yang terduduk dengan wajah muram sambil meremas ponselnya kuat.
Rifqan ikut duduk di sampingnya dan bertanya kenapa Pinkan tidak jadi tidur.
"Sayang, kenapa kamu terbangun? Apakah kamu mimpi buruk?" Tanya Rifqan sambil menggosok rambut Pinkan.
Dia memang tidak mendengar obrolan Pinkan dengan petugas polisi itu karena dia sendiri sibuk memesan banyak makanan untuk mereka berdua.
"Bukan mimpi buruk, tapi tepatnya kabar buruk." Ketusnya karena masih merasa kesal.
"Kenapa, Sayang? Kamu bisa menceritakannya padaku." Ujar Rifqan lembut.
Pinkan mulai menceritakan semuanya pada suaminya itu. Rifqan juga terlihat mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan kelalaian orang-orang itu.
"Rifqan, tolong cari laki-laki itu. Aku ingin segera menemukannya dan menghabisinya!" Tegasnya dengan wajah datar.
"Tenang saja. Aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mencarinya. Sekarang, tidurlah Sayang." Jawab Rifqan menenangkan. Pinkan menurut saja, karena rasa lelahnya belum hilang. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya
Terima kasih ❤️❤️❤️❤️