
KEESOKAN HARI NYA...
Setelah Pinkan selesai kuliah dia langsung menghubungi Rifqan untuk memberitahukan bahwa diri nya sudah selesai dengan mata kuliah nya hari ini
"Rifqan aku sudah selesai, kamu bisa menjemputku sekarang." Pinkan mengirim pesan
"Aku sudah menunggu mu dari tadi, keluarlah." balas Rifqan dengan cepat
Pinkan membulatkan mata nya saat melihat balasan Rifqan, dia tidak menyangka bahwa seorang tuan muda Rifqan mau menunggu seorang yang tidak penting seperti diri nya. Pinkan langsung berjalan menuju ke parkiran dan setelah melihat mobil Rifqan dia langsung masuk kedalam
"Sudah lama menunggu ku?" tanya Pinkan sambil memasang seat belt nya
"Sudah dari tadi." ucap Rifqan sambil melihat ke arah jam nya
"Kamu itu pengangguran ya?" tanya Pinkan
"Enak saja! Kamu masih belum mengetahui seberapa hebat pria yang berada di depan mu ini?"
"Sombong sekali anda tuan muda Rifqan!" cemooh Pinkan
"Aku bukan sombong! Tapi hanya menunjukkan yang aku punya saja." ucap Rifqan meninggikan diri
Benar juga yang dia katakan, dia kan memang memiliki segala nya. Yang pengangguran itu kan aku, batin Pinkan
"Ayo jalan, aku sudah sangat merindukan ayah ku."
"Baiklah, bagaimana kabar mu hari ini?" tanya Rifqan sambil mengemudikan mobil nya dan sesekali melihat ke arah Pinkan
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik sekali." jawab Pinkan bersemangat
"Bagaimana hari-hari mu? Apakah ada pria yang kau sukai sekarang?" tanya Rifqan penuh selidik
"Kenapa bertanya seperti itu? Memang nya penting untuk mu?" tanya Pinkan yang keheranan
"Jelas sangat penting! Jika ada pria yang kamu sukai, aku akan mematahkan kaki nya sampai menjadi remahan kaki." ucap Rifqan sambil mengepalkan tangan nya
"Kau sangat agresif tuan muda!" ucap Pinkan lagi
"Ya. Aku memang sangat agresif, tapi hanya padamu saja! Seperti lebah afrika yang akan menyengat mangsa nya jika ada yang menganggu nya!" ucap Rifqan dengan sinis dan tatapan tajam
"Kau sangat mengerikan!" ucap Pinkan dan bergidik ngeri
"Maka nya jangan memancing emosi ku ya." ucap Rifqan dengan tersenyum
"Jika pria yang aku sukai adalah kamu, bagaimana?" ucap Pinkan sedikit tersenyum jahil
"Benarkah? Jika begitu, aku akan mengucapkan selamat untuk diriku sendiri."
"Banyak sekali bicara mu tuan muda." sarkas Pinkan
"Kamu mulai memanggilku tuan muda lagi?"
"Tidak. Aku kan barusan hanya bercanda saja." ucap Pinkan sambil tersenyum dibuat-buat
__ADS_1
"Apa yang mau kamu belikan untuk ayah mu?"
Dia perhatian sekali, aku saja tidak ingat karena saking senang nya akan bertemu dengan ayah, batin Pinkan
"Aku tidak tahu yang boleh dimakan oleh ayah." ucap Pinkan sambil melihat ke arah Rifqan
"Ayah mu tidak ada larangan memakan apa pun, jadi beli saja apa yang kamu ingin beli untuk ayah." ucap Rifqan lembut
"Baiklah, kita berhenti di mall dekat situ saja ya.". ucap Pinkan sambil menunjuk ke depan
"Pasti dong."
Mereka sampai di parkiran mall dan segera turun, namun Pinkan terlihat termenung di depan sebuah toko. Rifqan yang seolah mengerti alasan Pinkan termenung langsung menepuk pundak Pinkan
"Beli saja yang kamu inginkan, ada aku yang akan membayar untukmu."
"Aku merasa tidak enak, kamu sudah sangat banyak membantuku." ucap Pinkan tertawa dan menampakkan deretan gigi putih nya
"Tidak masalah, kamu bisa berhutang dulu." ucap Rifqan tanpa rasa bersalah nya
Mereka berjalan memasuki salah satu toko pakaian pria, Pinkan mulai memilih beberapa pakaian yang cocok untuk dikenakan oleh ayah nya
"Seperti nya ini sudah cukup, ayo kita beli beberapa makanan untuk ayah ku." ucap Pinkan sambil menarik lengan Rifqan
"Ayo, kamu mau membeli makanan apa?"
"Aku mau jjamppong dan jiaozi saja, itu makanan kesukaan ku ayah." ucap Pinkan tersenyum sembari mengingat masa kecil
"Ayolah, mari kita pergi restoran Korea-China." ajak Rifqan sambil menarik tangan Pinkan
"Kamu dari tadi menguap terus, tidur saja nanti aku akan membangunkan mu." ucap Pinkan sambil mengelus puncak kepala Pinkan
"Tidak. Aku sangat senang karena akan bertemu ayah, jadi aku tidak akan bisa tidur." ucap nya
Rifqan hanya tersenyum dengan tingkah Pinkan yang menurutnya imut. Sedangkan Pinkan hanya memperhatikan jalanan yang dia lewati, dia memperhatikan jalanan dan kening nya pun berkerut
" Rifqan, inikan bukan jalan ke villa milik tuan Xavier. Kita mau kemana?" tanya Pinkan sambil terus memperhatikan jalanan
"Ayah mu tidak dirawat di Villa, dia dirawat di rumah sakit milik keluarga Novusul."
Mendengar itu Pinkan mulai merasa lega, dia hanya membulatkan mulut nya menandakan bahwa dia mengerti. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar
Namun sepertinya rumah sakit itu tidak memiliki banyak pasien, rumah sakit itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang penjaga yang juga membantu membersihkan rumah sakit tersebut
"Kenapa rasanya sepi sekali?" tanya Pinkan
"Iya. Inikan rumah sakit pribadi milik keluarga mereka. Ayo, tuan Raka pasti senang melihat kedatangan mu." ucap Rifqan tersenyum hangat
"Kalian! Tolong turunkan barang yang berada di bagasi dan bawa ke ruangan tuan Raka Cleotra." ucap Rifqan yang sudah merubah raut wajah nya menjadi tegas dan datar
"Siap tuan." ucap para pengawal itu kompak dan menunduk hormat
Pinkan dan Rifqan langsung berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mereka menaiki lift untuk bisa mencapai lantai 4, tempat dimana ayah Pinkan di rawat
__ADS_1
Pinkan mengintip ayah nya dari celah pintu, dia melihat ayah nya yang sedang bersandar dan menonton televisi. Pinkan senang melihat perkembangan ayah nya yang sudah pesat. Wajah ayah nya tampak segar dibandingkan dengan yang dulu. Pinkan membuka pintu dengan perlahan membuat orang yang berada di dalam menoleh ke arah pintu yang terbuka
"Ayah!" teriak Pinkan dan menghamburkan diri nya dalam pelukan ayah nya
"Pinkan, kenapa kamu bisa kemari?" tanya ayah nya yang sudah meneteskan air mata
"Tentu saja karena merindukan ayah."
"Kamu kemari sama siapa nak?" tanya Raka dan melihat ke arah pintu, namun tidak menemukan siapa pun
"Bersama dengan saya tuan Raka." ucap Rifqan yang tiba-tiba masuk
Raka yang melihat Rifqan pun sedikit terkejut. Dia tahu kenapa dia berada disini sekarang, tentu saja itu semua karena tuan muda yang sedang berdiri di depan nya sekarang
Namun dia juga masih takut, kalau tuan muda Rifqan mendekati Pinkan hanya untuk mempermainkan nya. Dia masih terpengaruh oleh hasutan Amrita yang sebenarnya sama sekali tidak benar
"Maafkan saya tuan muda Rifqan, saya tidak bisa menyambut secara langsung." ucap Raka merasa tidak enak
"Tidak papa tuan, saya mengerti." Rifqan tersenyum ramah
Apa aku yang terlalu berlebihan ya? Apa memang benar yang di katakan Amrita? Aku jadi serba salah begini, batin Raka
"Ayah? Ayah tidak papa kan?" tanya Pinkan yang melihat ayah nya melamun
"Ayah baik sayang, terima kasih tuan muda Rifqan sudah mau membantu Pinkan untuk menyembuhkan saya."
"Tidak perlu berterima kasih tuan, sudah seharusnya saya membantu Pinkan." ucap Rifqan lagi tersenyum ramah
"Ayah, tadi tuan muda Rifqan juga membelikan beberapa pakaian dan makanan untuk ayah. Ayo kita makan bersama." ucap Pinkan sambil memegang tangan ayah nya
Saat Pinkan ingin mengambil beberapa makanan, Rifqan langsung menawarkan diri nya untuk membantu. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Raka
"Sini biar aku bantu." tawar Rifqan
"Tidak usah Rifqan, aku bisa sendiri." ucap nya lagi
Pinkan langsung mengambil kotak yang berisi makanan dan menyuapi nya untuk ayah nya. Tapi pandangan mata Raka selalu tertuju pada Rifqan
"Sudah cukup nak, ayah sudah kenyang. Boleh kah ayah berbicara berdua dengan mu?"
Pinkan melihat ke arah Rifqan untuk meminta persetujuan. Rifqan pun mengangguk mengiyakan dan dia langsung keluar
"Boleh yah, apa yang ingin ayah bicarakan?"
"Apa hubungan mu dengan tuan muda Rifqan nak?" tanya Raka
Kenapa ayah bertanya masalah ini? Aku sendiri bingung dengan hubungan ku dengan nya, batin Pinkan
"Aku dan dia hanya sebatas teman saja yah." ucap Pinkan
"Bagus jika begitu, ayah harap kamu jangan sampai jatuh hati dengan nya ya."
Pinkan kaget mendengar perkataan ayah nya. "Baik yah, tapi apa Pinkan boleh tau alasan nya?"
__ADS_1
"Ayah takut kamu di permainkan nak, kasta kita sangat berbeda jauh dengan nya. Sudah cukup ayah yang tidak bisa menjaga mu, jangan sampai ada yang mengecewakan dan menyakiti mu lagi." ucap ayah nya dengan raut sedih
"Iya. Ayah tenang saja." ucap Pinkan dengan tersenyum yang di paksakan