Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Maaf untuk apa lagi, Yah? Bukankah barusan aku juga sudah mengatakan kalau Ayah tidak bersalah?" Pinkan dibuat semakin bingung dengan sikap Ayahnya yang tidak seperti biasanya


"Maaf, karena Ayah sudah menyetujui permintaan Amrita untuk memberikan semua harta warisan Ayah untuk Verel." ucapnya dengan kepala menunduk


Pinkan terkejut, dia tidak menyangka kalau Amrita akhirnya berhasil juga merayu Ayahnya untuk memberikan hartanya pada anak laki-laki mereka


Namun, itu semua tidak membuat Pinkan marah. Dia tidak marah karena Verel sudah berubah, walaupun kekayaan Raka sebagian adalah miliknya, tapi dia rela kalau harus diberikan semua untuk adik laki-lakinya itu. Lagipula, dia juga sudah memiliki laki-laki super duper kaya raya yang bisa membiayai hidupnya sampai kapanpun


"Tidak apa-apa, Yah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu kok. Aku tahu, Ayah pasti tidak mempunyai pilihan lain, kan?" jawab Pinkan tulus


Raka mendongak dan menatap wajah Pinkan. Dia tidak percaya kalau Pinkan akan menanggapinya dengan setenang ini. Dia sempat berpikir, kalau Pinkan mungkin akan marah, menyalahkannya bahkan membencinya


Maka, sebelum dia menemui Pinkan untuk memberitahukan tentang ini, dia sudah menyiapkan dirinya dengan pertahanan diri yang teguh


"Kamu tidak marah, Nak?" tanya Raka lagi


"Tidak, Yah. Aku tahu kalau Ayah akan membuat keputusan ini. Maka, dari sekarang aku sudah mulai merintis usahaku sendiri." jawab Pinkan sekenanya


Raka tersenyum, akhirnya kelegaan menghampiri hati dan pikirannya. Dia tersenyum dan meraih kepala Pinkan mengelus kepalanya untuk menyalurkan rasa sayangnya


Kamu memang sangat mirip dengan Ibumu, Nak. Sangat pengertian dengan keadaan orang lain dan juga murah hati


"Tapi, ada suatu hal yang ingin aku tanyakan, Yah." ucap Pinkan


"Pertanyaan apa itu, Nak?" sahutnya sambil menyeruput jus jeruknya


"Apakah ada syarat yang Ayah ajukan kepada Amrita?"


"Kenapa kamu menginginkan syarat? Bukankah tadi kamu mengatakan tidak apa-apa?" Raka sengaja memancing Pinkan, karena dia ingin Pinkan menceritakan semu padanya


"Tidak. Aku hanya tidak ingin kalau Amrita mungkin menyalahgunakannya saja."


Raka kembali menghela nafasnya. Dia pikir, Pinkan akan jujur padanya, tapi ternyata, Pinkan masih saja berusaha untuk menutup-nutupi semua yang sudah ia ketahui

__ADS_1


"Ayah ada mengajukan sebuah syarat padanya. Kamu akan mengetahuinya nanti saat pengacara membacakannya di depan kalian semua." jelasnya


Syarat apa itu, syarat yang menguntungkan bagi Amrita atau sebaliknya


Pinkan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia tidak mengatakan apapun lagi. Namun, tiba-tiba Raka mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman video yang seketika membuat Pinkan melongo. Raka menaruh ponselnya di atas meja dan dia kembali menyandarkan tubuhnya di sofa yang ia duduki


Rekaman itu adalah Vidio yang ia rekam dari flashdisk milik Amrita yang tempo hari masih tertinggal di laptopnya. Pinkan melihat Vidio itu dengan seksama dan sesekali menatap Ayahnya dengan tatapan bingung dan seolah meminta jawaban


"Apa ini, Yah?" tanya Pinkan setelah Vidio itu usai diputar


"Seperti yang sudah kamu lihat." jawabnya


"Dari mana Ayah mendapatkan ini?" tanya Pinkan lagi


"Dari sebuah flashdisk milik Amrita. Dia lupa mengambilnya dari laptop Ayah, jadi Ayah merekamnya untuk diberitahukan padamu." ujarnya


Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Tapi dalam hatinya, dia bersorak kegirangan atas kebodohan Amrita yang akan membawa petaka untuknya sendiri. Siapa suruh kamu jahat, wkwk


"Karena aku tahu, kamu pasti memiliki rencana lain yang kamu jalankan di belakangku." jawab Raka


"Ternyata Ayah sudah tahu, ya! Ayah memang benar sekali." ucapnya sambil menjentikkan jari


"Kenapa kamu tidak memberitahu Ayah tentang rencanamu, Nak?"


"Aku tidak ingin Ayah terbebani dengan masalahku. Aku hanya ingin kita menjadi pemenang diakhir. Tapi, karena Ayah sudah mengetahuinya lebih dulu, aku akan memberitahukan semua pada Ayah sekarang." jawab Pinkan


Pinkan berdiri dari duduknya. Dia mengambil sebuah buku yang dia letakkan di dalam brankas uang cafe muliknya. Lihatlah, betapa berharganya buku itu untuknya


Dia membuka kunci buku itu dengan sidik jarinya, dan menyerahkan pada Ayahnya untuk dibaca


Raka mengambil buku itu sambil membolak-balik bukunya. Mungkin, dalam hatinya, buku lusuh begini, kenapa bisa memakai pengaman secanggih itu. Tanpa banyak bertanya apapun lagi, dia membaca kata perkata buku itu


Sebenarnya, tujuan Pinkan bukanlah seperti ini. Dia hanya ingin menjalankan rencananya sendiri tanpa diketahui oleh Ayahnya. Ayahnya sudah cukup tua dan sakit-sakitan, jika ia membebani Ayahnya, bukankah sama saja dengan ia sedang memainkan nyawa Ayahnya?

__ADS_1


Namun, sekarang semua berjalan di luar kendalinya sendiri. Sekarang saja, sambil dia menunggu Ayahnya membaca buku diary itu, tangannya menggenggam ponsel untuk bersiap-siap menghubungkan ambulance kalau-kalau Ayahnya mengalami serangan jantung mendadak setelah membaca buku itu


"Apa semua ini benar, Pinkan?" tanya Ayahnya setelah menutup buku diary yang telah usai dibacanya


"Benar, Yah. Bahkan aku sudah mencari jawabannya ke narasumbernya langsung." jawab Pinkan


Raka meletakkan buku diary di atas meja. Dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Sungguh, dia menyesali perbuatannya sekarang


"Ini semua memang salahku. Jika aku tidak masuk ke dalam perangkap yang dibuat oleh Rita, pasti semua tidak akan berakhir seperti ini. Ibumu masih hidup dan kita bisa hidup bahagia dan tenteram." ucap Raka sambil menangis. Sekarang sudah tahu, kan? Sikap mellow yang dimiliki Verel adalah warisan dari Raka, wkwk


Pinkan menggeser duduknya ke sebelah Ayahnya. Dia memeluk tubuh yang mulai ringkih karena dimakan usia itu dan mencoba menguatkannya sebisa mungkin


"Sudahlah, Yah. Jangan lagi ingat-ingat masa lalu. Yang lalu, biarkan lah berlalu. Bukankah, buah dari masa lalu sekarang adalah adanya kehadiran, Verel? Anak yang sangat Ayah sayangi." ucap Pinkan berusaha menenangkan Ayahnya dan menghapus rasa penyesalannya


"Ayah...?" ucap seorang pria muda yang baru saja berdiri diambang pintu tapi telah mendengar semua yang baru saja mereka katakan


"Verel?" ucap Raka dan Pinkan bersamaan


Verel melangkah kakinya menuju Ayahnya. Dia juga ikut memeluk Ayahnya. Pinkan melepaskan pelukan mereka dan membiarkan Ayah dan adiknya berpelukan


"Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?" tanya Pinkan dengan wajah datarnya


"Aku baru saja datang, Kak." jawabnya


"Tapi sudah berhasil mendengar semua yang aku dan Ayah bicarakan, Kan?" ucap Pinkan dengan nada menghardik adiknya itu


Terima kasih karena sudah mau membaca karya author remahan kerupuk sepertiku ini


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like, komentar dan rate 5 ya


Jika berkenan berikan gift dan vote agar author bisa lebih semangat lagi 😁


Jangan lupa masukkan ke dalam daftar favorit kalian, ya!

__ADS_1


__ADS_2