Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Mencoba Memberitahu Ayah


__ADS_3

Rifqan yang melihat pemandangan di depan nya pun merasa senang. Dia tersenyum dengan menampakkan deretan gigi nya


"Hem, Apakah kamu memintaku pulang karena gadis kecil ini tuan muda Rifqan?" tanya Xavier dan berdehem


"Tidak juga." ucap Rifqan malu malu


"Memang ada alasan apa lagi yang kau butuhkan untuk memintaku pulang selain untuk gadis kecil mu ini ha?"


"Aku saja baru ini melihat kakak ipar. Dia pelit sekali tidak pernah mau memperlihatkan kakak ipar padaku." sambung Patra dengan memeluk kakak nya seolah meminta perlindungan


"Seperti nya Rifqan kecil kita sudah mulai jatuh cinta ya!" ejek Xavier


Pernyataan Xavier itu sukses membuat pipi Pinkan memerah


Apakah benar dia mencintaiku? Tidak mungkin, dia kan hanya memenuhi janji nya karena aku sudah membantu nya, batin Pinkan yang membantah


"Sudah diam lah!" ucap Rifqan yang tak mau diri nya di bicarakan seperti itu


"Pinkan, besok malam kami akan mengadakan makan malam di villa kami, datang lah bersama Rifqan ya." ucap Alea istri Xavier


"Iya, aku pasti akan datang." ucap Pinkan dengan tersenyum ramah


"Benar, datang lah bersama bocah angkuh ini." ucap Xavier menunjuk pada Rifqan


"Kau juga pikirkan lah harus membawa siapa!" ejek Alea pada adik ipar nya Patra


"Baik lah baik lah " ucap Patra singkat


Kemudian mereka berpisah dan pulang menaiki mobil masing masing. Saat dalam perjalanan, Pinkan hanya diam saja seperti memiliki banyak beban yang di tanggung nya


"Ada apa?" tanya Pinkan karena melihat Pinkan yang tidak seperti biasanya


"Bisakah jika meminta tuan Xavier untuk menyembuhkan ayah ku secepat nya?" tanya Pinkan dengan suara lemah nya


"Tentu saja bisa,"


"Tapi aku bingung, alasan apa yang harus aku gunakan untuk meminta ayah mau ikut dengan ku untuk mengobati penyakit nya? Dia tidak mempercayai perkataan ku Rifqan." ucap Pinkan sambil menangis tersedu sedu


"Tenang saja, kita akan memikirkan nya nanti." ucap Rifqan menenangkan Pinkan sambil mengelus kepala Pinkan dengan sebelah tangan nya


"Iya." ucap Pinkan singkat


Rifqan memberhentikan mobil nya di parkiran cafe ice cream dan mengajak Pinkan untuk turun


"Mengapa kita berhenti disini?" tanya Pinkan yang heran


"Untuk memperbaiki mood mu, ayo pilih saja sesuka mu." ucap Rifqan yang menyodorkan buku menu


"Aku mau ice cream unicorn rasa vanilla dan red Velvet 2 porsi." ucap nya pada pegawai yang berdiri di samping nya


"Sekarang giliran mu untuk memilih." Pinkan menyodorkan buku menu pada Rifqan


"Bukankah kamu sudah memesan dua porsi untuk kita?"


"Itu untuk ku, kamu pesan saja lagi. Mood ku sedang tidak baik jadi pesan nya dua porsi." ucap nya santai


"Hem baiklah, terserah dirimu saja."

__ADS_1


"Aku pesan yang varian coklat saja." ucap nya pada pegawai itu


"Baik, tunggu sebentar ya tuan dan nona pesanan kalian sebentar lagi akan di antar kan." ucap pegawai itu ramah dan berlalu pergi


Tidak lama setelah itu pesanan mereka pun datang ke hadapan mereka


"Silahkan di nikmati tuan dan nona." ucap pegawai cafe itu


"Ahhh enak sekali.." ucap Pinkan yang menikmati ice cream nya sambil memejamkan mata


"Habiskan lah jika kamu suka."


"Jangan minta punya ku." ucap Pinkan sambil menarik ice cream nya mendekat pada nya


Rifqan yang melihat itu hanya menarik nafas pelan, dia senang karena mood Pinkan sudah berubah menjadi lebih baik


Setelah menikmati ice cream mereka pun pulang. Setelah menempuh perjalanan mereka sampai di depan pagar rumah Pinkan


"Terima kasih untuk hari ini." ucap Pinkan dan tersenyum


"Tak apa, ingatlah aku akan menjemput mu besok."


"Baiklah, aku masuk dulu." Pinkan pun langsung melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah


Dia melangkah kan kaki nya menuju dapur, namun saat dia sedang menuangkan air ke dalam gelas dia di kaget kan oleh asisten rumah tangga nya


"Nona Pinkan, saya mau bicara sesuatu dengan anda."


"Ada apa bi? Katakan saja langsung." ucap Pinkan mengernyitkan alis nya


"Dengarkan lah ini nona." ucap bi Yem lalu mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku dan memutar sebuah rekaman percakapan


Terdengar lah percakapan antar Amrita dan Verel beberapa hari lalu saat mereka berada di dapur. Pinkan tersenyum puas dalam hati nya, namun tangan nya mengepal kuat


Akhirnya ada sebuah bukti yang bisa aku tunjukkan pada ayah, agar aku bisa mengajak ayah ikut dengan ku, batin Pinkan


"Terima kasih bi sudah membantu ku, bolehkah aku meminjam hp bibi sebentar saja?"


"Boleh nona, Pakai saja."


"Dimana ibuku?" tanya Pinkan memastikan keadaan sebelum bertindak


"Nyonya sudah keluar dari siang tadi dan belum kembali nona."


Pinkan mengambil ponsel bi Yem dan masuk ke kamar ayah nya


TOK TOK TOK


Pinkan mengetuk pintu kamar ayah nya


"Ayah ini Pinkan, apakah Pinkan boleh masuk ke dalam?"


"Masuk lah nak," ucap ayah nya


Pinkan membuka handle pintu kamar ayah nya perlahan, dia menatap ayah nya yang sedang terbaring lemah itu dengan tatapan sendu


"Ayah, Pinkan ingin menunjukkan sesuatu. Tapi ayah harus berjanji sehabis mendengar ini ayah tidak boleh marah ya."

__ADS_1


"Memang nya apa yang mau kamu beritahukan pada ayah nak?" tanya Raka dengan lemah


"Ayah dengar kan saja ya agar ayah percaya apa yang Pinkan katakan."


Pinkan langsung menghidupkan rekaman yang ada di ponsel bi Yem. Raka mendengar kan nya dengan seksama, tangan Raka terkepal kuat sampai kuku kuku nya pun ikut memutih


Setelah rekaman itu selesai, Pinkan langsung mematikan ponsel nya


"Ayah sudah dengar kan?"


Ayah nya masih diam karena merasa syok dengan apa yang baru saja ia dengar


"Ayah seperti ini sekarang karena perbuatan Amrita, dia memberikan racun mematikan untuk ayah. Selama ini Ayah tidak merasakan efek nya karena racun itu memang belum memunculkan efek nya." ucap Pinkan menjelaskan


"Maaf kan ayah karena tidak mendengar kan perkataan mu dari awal." ucap ayah nya sedih karena menyesal


"Tak apa ayah, kita akan mengobati penyakit ayah sama sama," ucap Pinkan tersenyum


"Siapa yang bisa mengobati orang yang sudah sekarat ini nak?" tanya Raka sedikit meninggikan suara nya


"Ayah tenang saja, yang perlu ayah lakukan hanya istirahat dengan baik dan mendengarkan perkataan Pinkan"


"Terima kasih nak, dan maafkan ayah."


"Ayah tidak salah, Pinkan yang salah karena tidak bisa menjaga ayah dengan benar. Istirahat lah besok kita akan pergi untuk menemui seseorang."


Pinkan membetulkan selimut ayah nya dan berlalu dari kamar itu


Saat waktu makan malam hanya ada Verel, Amrita,dan Pinkan


Pinkan membuka suara nya untuk menyampaikan sesuatu pada Amrita


"Besok aku akan membawa ayah ku, tadi ayah ku mengeluh jantung nya sakit." ucap nya tanpa melihat satu pun manusia disana


"Kemana kau akan membawa nya?" tanya Verel


"Aku tidak memberikan izin!" ucap Amrita


"Aku bukan sedang meminta persetujuan mu! Aku tidak butuh izin mu untuk membawa ayah ku. Aku hanya sedang memberitahu mu." ucap Pinkan dingin


"Keterlaluan sekali kau bicara pada ibuku?" ucap Verel marah yang membanting sendok nya


"Memang ada yang salah dengan yang ku katakan barusan?" ucap Pinkan santai


"Kau!"


"Sudahlah Verel, biarkan saja kakak mu membawa ayah mu, ibu tidak papa." ucap Amrita sendu


"Baguslah jika kau tahu itu. Aku sudah kenyang." ucap Pinkan dan berlalu masuk ke dalam kamar nya


...Hai reader terus dukung karya aku ya agar author lebih semangat untuk segera UP kembali...


...Jangan lupa tinggalkan like, vote, dan berikan komentar...


...Tambahkan juga ke daftar favorit kamu ya...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2