Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Tapi sudah mendengar semua yang aku dan Ayah bicarakan, kan?" tanya Pinkan dengan nada menghardik adiknya itu


"Tidak. Aku hanya mendengar sedikit, Kak." jawab Verel apa adanya


KRING KRING


Ponsel Raka berbunyi, dia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya


"Bagaimana? Apakah ada membuahkan hasil?" tanyanya tanpa basa-basi


"Sudah tuan, kami juga sudah menghubungi pihak berwajib. Anda sudah bisa datang kemari, karena sebentar lagi petugas juga akan sampai." jelas orang di balik telepon


Raka hanya menganggukkan kepalanya, tanpa aba-aba lagi, dia memutuskan sambungan teleponnya dan menyimpannya kembali di saku celananya


"Nak, apakah kalian ingin melihat sesuatu?" tanya Raka pada kedua anaknya


"Melihat sesuatu apa, Yah? Apakah itu sangat penting?" tanya Verel


"Tentu saja, kamu sangat harus melihat ini, Nak." sahut Raka


Pinkan dan Verel masih mengernyit heran. Tapi, Raka kembali mengatakan kalau mereka ingin menghilangkan rasa penasarannya, maka mereka harus ikut dengannya


Di hotel tempat Amrita dan Dharma sedang menikmati suasana romantis mereka. Dua orang yang sedang mengintai mereka di sudut lain mulai mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi petugas


Seperti biasanya, kalau mereka sedang bertemu. Mereka pasti akan berhubungan se*. Kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu sejak tadi oleh dua orang yang sedang bersembunyi


"Ahh, Dharma! Kau selalu saja bisa membuatku puas." ucap Amrita disela-sela goncangan yang menghantam tubuhnya


"Pasti, Sayang. Aku akan selalu membuatmu terasa di atas awan." ucapnya sambil terus membuat guncangan hebat


TOKK TOKK TOKK


Saat mereka hampir saja berada di puncaknya. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang. Dharma dan Amrita sama-sama mengerutkan kening karena bingung


"Siapa sih? Menganggu saja." umpat Amrita kesal


"Biar aku saja yang buka." jawab Dharma. Dia terpaksa mencabut benda pusaka miliknya


Dia mengintip dari lubang pintu, terlihat seorang wanita yang membawakan makan siang untuk mereka. Dharma membuka kunci pintunya hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya


"Jangan bergerak!" ucap beberapa orang polisi sambil menodongkan pistol ke arahnya

__ADS_1


Dharma yang terkejut langsung mengangkat kedua tangannya dengan jantung yang berdegup kencang. Dia melirik ke arah kamar untuk melihat Amrita dan berdoa agar Amrita mendengar kegaduhan ini dan cepat memakai pakaiannya


"Kami menerima laporan bahwa di kamar ini ada pasangan yang sedang berzina!" ucap sang petugas yang masih menodongkan pistolnya


"Tidak ada, Pak! Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman disini. Izinkan saya menjelaskannya." jawab Dharma


"Kamu bisa menjelaskan nanti di kantor polisi. Cepat, cepat! Periksa seluruh kamarnya." titah polisi itu pada rekannya


Mereka menggebrak pintu kamar hotel itu hingga membuat Amrita yang sedang berbaring di dalamnya terkejut. Dia sangat terkejut hingga hampir saja mati di tempat saking terkejutnya


Sedari tadi dia memang menunggu Dharma yang sudah lama keluar namun belum juga kunjung kembali. Amrita sedang berbaring di atas ranjang, tubuh polosnya hanya ditutupi dengan selembar selimut. Semua orang yang melihat juga pasti sudah tahu apa yang telah mereka lakukan di sini


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" teriaknya marah. Dia langsung menarik selimutnya untuk lebih menutupi tubuhnya


"Maaf, Nyonya. Kami menerima laporan bahwa di sini sedang ada pasangan yang melakukan zina." ucap petugas wanita


"Siapa yang melaporkan itu pada kalian?" teriaknya marah


"Aku! Aku yang telah melaporkan perbuatanmu itu." jawab Raka yang tiba-tiba masuk ke kamar tempat dimana Amrita berada. Di belakangnya terdapat Verel dan Pinkan yang berjalan beriringan


"Raka? Kenapa kamu melaporkan istrimu? Aku tidak melakukan seperti yang kamu bayangkan!" pekiknya


Amrita langsung mengalihkan pandangannya ke anaknya. Dia membalut tubuh polosnya dengan selimut itu dan menghampiri Verel. Dia memeluk anaknya dan menangis tersedu-sedu


"Verel, maafkan Ibu, Nak! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ibu tidak melakukan hal-hal yang aneh." jelas Amrita sambil menggenggam tangan anaknya


Verel melepaskan tangan Amrita dan langsung pindah berdiri di samping Ayahnya. Amrita terkejut mendapati sikap anaknya yang berbeda. Dia beralih ke arah Pinkan yang masih berdiri mematung


PLAKK


Amrita malah menampar Pinkan, Pinkan tidak dapat menghindar karena dia tidak menduga dengan sikap Amrita yang tiba-tiba seperti itu. Pinkan memegangi pipinya yang terasa perih sekaligus panas


"Pasti kau! Pasti kau yang telah mengatakan yang tidak-tidak pada anakku, kan?" ucap Amrita menggebu-gebu dengan nafas naik turun


"Apa maksudmu?" tanya Pinkan dengan tatapan kesalnya


"Sudahlah, jangan berdalih. Aku tahu, memang kamu yang sudah menghasut putraku agar dia membenciku." pekiknya sambil memelototi Pinkan


"Maaf. Tapi, Anda bisa menanyakannya langsung pada putra Anda. Kapan saya ada menghasutnya untuk membenci ibunya sendiri, atau dia membencimu, karena tingkah laku yang dia lihat sendiri!" balas Pinkan


"Cukup, Bu! Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu. Ibu sendiri yang melukiskan kekecewaan dihatiku. Tanpa sengaja, sedikit banyaknya kamu sudah menorehkan luka pada hati anakmu ini, Bu!" pekik Verel yang akhirnya buka suara

__ADS_1


"Tidak. Aku melakukan ini semua hanya untukmu, Nak. Jangan menyalahkanku." Amrita tetap berusaha membuat pembelaan diri


"Ibu tidur dengan pria lain, bahkan yang seumuran denganku. Mengkhianati Ayah, itu semua demi aku? Aku tidak butuh itu, Bu! Aku hanya butuh kasih sayang darimu." ucapnya


Raka memeluk anaknya itu, dia membiarkan Verel meluapkan semua kegelisahan yang bersarang di hatinya. Karena, jika ada sesuatu yang salah dan di pendam sendiri, tentu saja itu tidak akan baik untuk kesehatan. Bisa-bisa stres karena terbebani pikiran loh


Saat mereka sedang berdebat, masuklah Dharma dengan tangannya yang sudah diborgol


"Amrita, bukankah dia akan menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk putranya? Sudah, tidak perlu berkata apapun lagi." ucap Dharma dengan tak tahu malu


"Aku tidak butuh itu, Yah. Ayah tidak perlu memberikan aku apapun. Asalkan kita bisa selalu bersama-sama, aku sudah tidak menginginkan apapun lagi." ucap Verel


"Jangan bodoh kamu, Verel! Kamu bukanlah anak kandungnya. Jadi, biarkan saja dia memberikan seluruh harta kekayaannya untukmu. Anggap saja itu semua adalah kompensasi karena selama ini dia sudah menganggapmu sebagai anaknya." ucap Amrita sambil tersenyum sinis


"Kenapa? Kalian pasti terkejut kan mendengar kalau Verel bukanlah anaknya?" ujar Amrita dengan tersenyum menang


Namun, hal itu tidaklah seperti yang dia pikirkan. Wajah Pinkan, Raka maupun Verel tidak ada yang terkejut seperti yang dia harapkan. Mereka tampak santai, bahkan mereka juga memasang senyum sinis


"Sayang sekali kenyataan yang kau ketahui tidak sesuai dengan harapanmu." ucap Pinkan


"Apa, apa maksudmu?" tanya Amrita gemetar


Pinkan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti tes DNA antara Raka dan Verel dan menunjukkan kalau mereka memang positif memiliki hubungan darah Ayah dan anak


Setelah melihat itu, Amrita menggeleng tak percaya. Dia menggenggam ponsel milik Pinkan erat, namun langsung direbut oleh Pinkan


"Tidak mungkin! Itu semua pasti bohong! Aku tidak percaya!" teriaknya sambil tertawa menyangkal


"Terserah saja kau mau percaya atau tidak. Yang terpenting, itu memanglah kenyataan yang ada." jawab Pinkan sambil mengangkat bahu


"Hahaha. Percuma saja. Raka, kau tetap harus memberikan seluruh harta kekayaanmu pada anakmu sendiri. Karena sebentar lagi kau akan mati!" ucap Amrita


"Oh, ternyata aku lupa memberitahumu satu fakta lagi. Ayahku sudah bersih dari racun yang kau berikan." ucap Pinkan sambil mengejek


Amrita menggeleng cepat. Dia beringsut mundur beberapa langkah karena tidak percaya rencana yang dia lakukan selama ini hancur sia-sia seperti ini tanpa membuahkan hasil sedikitpun


Amrita berlari ke kaki Raka. Dia bersujud di kaki suaminya itu sambil memohon maaf dan menangis


"Raka, mohon maafkan aku. Aku selama ini khilaf. Aku berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukankah wajar, jika seorang manusia punya kesalahan? Aku mohon maafkan aku, lihatlah Verel anak kita, Raka!" ucapnya sambil terus menangis


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar,gift, dan favorit ya

__ADS_1


__ADS_2