Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Penculikan II


__ADS_3

Setelah melewati jalanan yang panjang dan sepi, mobil yang di naikin oleh Pinkan dan Kiara berhenti di sebuah bangunan


Pinkan yang memang sudah sadar sedari tadi mulai membuka mata nya perlahan dan mengintip. Terdapat sebuah bangunan yang sangat kumuh dan kotor di tengah pepohonan yang tinggi dan rimbun


Saat ada dua pria yang membuka pintu mobil, Pinkan kembali berpura-pura pingsan. Dua pria tadi menutup mata Pinkan dan Kiara dengan sebuah kain hitam


"Periksakan dulu, jangan sampai mereka hanya berpura-pura pingsan." perintah salah satu dari mereka


Pinkan langsung menahan nafas nya agar lebih mirip dengan orang yang benar-benar pingsan sungguhan


Semoga Kiara tidak sadar dalam kondisi yang seperti ini, bisa gawat! batin Pinkan


Mereka dibopong dan mulai memasuki ruangan demi ruangan. Sangat jauh masuk ke dalam baru lah mereka berhenti, mereka di letakkan di atas lantai yang dingin. Tangan dan kaki mereka di ikat dengan sebuah tali yang berukuran cukup besar


Setelah mereka di ikat dengan tali yang besar, beberapa pria itu menyiram Pinkan dan Kiara dengan seember air es


"Awww.. Dingin sekali." ucap Kiara yang terkejut


Pinkan hanya membuka mata nya dan menatap tajam pada beberapa orang pria yang masih berdiri di depan mereka sambil tertawa


"Siapa di antara kalian yang bernama Pinkan Cleotra?" tanya salah seorang pria itu


"Orang yang kau culik saja kau tidak dapat mengenali nya, terlihat sangat jelas kalau kalian hanya sekawanan anjing yang takut tidak kebagian tulang" jawab Pinkan masih dengan sorotan mata nya yang tajam


"Jawab saja dengan benar! Jangan banyak omong."


"Cih, dasar sekumpulan pria tidak berguna. Masih saja mau jadi suruhan orang lain." ucap Pinkan lagi


"Ternyata kau! Jadi, kita bisa bermain dengan wanita yang di samping mu itu." ucap mereka dan tertawa


"Bermain dengan ku? Coba saja jika kau mampu." tantang Kiara


"Kau meremehkan kami? Lihat saja nanti, kalian akan merasakan nya sendiri dan meminta ampun." ucap preman itu dan mereka berbalik pergi


"Siapa yang menculik kita, kenapa kita tidak menyadari nya." ucap Kiara yang ketakutan


"Aku juga tidak tahu, tapi sebelum datang ke cafetaria, aku sempat bertengkar dengan Vini."


"Vini? Aktris yang kita temui di mansion nyonya Anya?" tanya Kiara


"Iya. Dan aku juga yakin, makanan yang kita makan di cafetaria tadi, sudah di campurkan dengan obat bius."


"Ahhh ya, aku ingat sekarang. Orang yang mengantar makanan kita tadi juga seperti nya orang baru, aku belum pernah melihat dia bekerja di situ sebelumnya."


"Ya. Dan tadi saat kita di bawa kesini, ada tiga orang pria bertubuh besar yang berkelahi dengan orang yang menculik kita. Aku sangat yakin, tiga orang pria tadi ingin menyelamatkan kita." ucap Pinkan


"Kau sudah sadar sebelumnya?" tanya Kiara antusias


"Benar, pelan kan suara mu itu kia!"


"Maaf, kenapa kau tidak membangunkan aku? Kita bisa melarikan diri."


"Kau pasti akan berisik jika aku membangunkan mu. Jadi, kita tunggu saja orang yang akan menyelamatkan kita."


"Siapa yang akan menyelamatkan kita? Jika tidak ada, kita bisa di permainan oleh mereka sampai mati."

__ADS_1


"Tenang saja, aku yakin pasti akan ada orang yang akan menyelamatkan kita."


Sedangkan Patra sedang dalam perjalanan menuju ke gudang yang lokasi nya sudah di tentukan. Selama perjalanan dia selalu komat-kamit dan berulang kali memarahi para bawahan nya


"Cepat lah sedikit. Jika terjadi pada mereka, maka kalian lah yang akan menerima konsekuensi nya."


"Baik bos." jawab bawahan nya serempak sambil menelan Saliva mereka


Tak lama mereka sampai, terlihat mobil Rifqan juga memasuki kawasan bangunan kumuh tersebut


"Benarkah ini tempat nya?" tanya Rifqan yang masih ragu. Karena jika dilihat dari luar tempat itu seperti tak berpenghuni


"Jika dilihat dari lokasi terakhir nona Pinkan, benar ini tempat nya tuan muda."


"Mari bergegas masuk, jangan sampai kita terlambat."


Di ruangan yang lain, seorang pria yang bertubuh paling tegap sedang menelpon seseorang yang di panggil dengan sebutan bos


"Bos, kami sudah membawa nona keluarga Cleotra kesini. Dan satu wanita lagi, apakah boleh menjadi bonus untuk kami?"


"Terserah kau saja, sebentar lagi aku akan datang kesana."


"Baiklah bos, terima kasih."


Setelah menelepon bos nya, pria itu kembali ke ruangan tempat dia mengurung Pinkan dan Kiara


"Siapa nama mu gadis manis." tanya seorang pria sambil mencubit dagu Kiara


"Jangan memegang ku, aku tidak Sudi!" Kiara mencoba meronta tapi hanya sia-sia karena tangan dan kaki nya diikat


"Aku sudah mempunyai calon suami. Jadi, lepaskan tangan mu, atau tangan mu akan hilang nanti."


"Ohh, aku sangat takut sekali ... bagaimana jika aku saja yang lebih dulu menikmati tubuh mu?" tanya pria itu sambil memainkan alis nya


Kiara yang mendengar itu sangat ketakutan. Rasanya, dia sangat ingin menangis sekarang. Dia belum pernah berada di posisi seperti sekarang ini


Pinkan tentu saja juga sangat ketakutan, di dalam hati nya, ia terus saja berdoa agar pertolongan segera datang dan dia selalu menyebutkan nama Rifqan


"Sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian menculik kami?" tanya Pinkan


"Kau akan tahu sebentar lagi, bos kami akan datang dan bermain dengan mu! Hahaha."


Mereka mulai membuka ikatan tali Kiara, Kiara meronta sebisa mungkin agar terlepas dari cengkeraman preman tersebut. Tapi, tenaga nya tentu kalah kuat dari mereka


Pinkan yang melihat sahabat nya di perlakuan seperti itu pun juga berusaha melepaskan diri nya untuk membantu sahabat baik nya itu. Tapi, kedua tangan nya di pegangi oleh seorang pria


"Pinkan, tolong ... aku!?" teriak Kiara sambil menangis


"Kiara...! Jangan sakiti dia!" teriak Pinkan


"Lepaskan aku preman sialan." Pinkan berusaha meronta


BRAK!!


Tiba-tiba ada suara keras dobrakan pintu, membuat yang di dalam juga terdiam dan melihat ke arah pintu

__ADS_1


"Rifqan..!" ucap Pinkan


Dari arah belakang pria yang membekap Kiara, muncul beberapa orang anak buah Patra. Mereka langsung melumpuhkan pria gendut berperawakan tinggi itu dengan membidikkan pistol di kepala pria tersebut


Setelah terlepas dari bekapan pria gendut tersebut, Kiara langsung berlari ke arah Patra dan memeluk Patra. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan calon suami nya itu


"Patra..."


"Sudah, tidak apa-apa lagi. Kamu sudah selamat." ucap Patra berusaha menenangkan


"Lepaskan dia!" teriak Rifqan


Pinkan masih berada di tangan pria yang memegangi nya tadi. Dan sekarang dia di sandera dengan sebilah pisau yang sangat tajam


"Majulah! Jika, kau mau kekasih mu terluka." ucap pria itu dengan tersenyum licik


"Lepaskan dia atau kau akan menyesal."


"Tidak ada guna nya mengancam ku. Nyawa kekasih mu sekarang bergantung padaku."


Pinkan tidak sengaja melihat ke arah sudut ruangan. Ada seorang pria yang sedang menarik pelatuk senjata yang di pegang nya dan membidikkan pistol nya ke arah Rifqan


Pinkan langsung menggigit tangan orang yang menyandera nya dan langsung berlari ke arah Rifqan dan memeluk pria yang sudah dia cintai selama ini dengan sangat kuat


DORR !!


"Pinkan..!" teriakan Rifqan menggema di seluruh ruangan


"Bunuh mereka semua!" perintah Rifqan dengan wajah memerah


"Bertahan lah sebentar lagi, aku tidak ingin kehilanganmu." Rifqan mengucapkan itu sambil menangis


"Cepatlah!!"


"Baik tuan, saya sudah semaksimal mungkin." jawab supir nya dan langsung mengendarai mobil nya secepat mungkin


Setelah tiba dirumah sakit, Rifqan langsung membuat keributan sambil membopong Pinkan yang sudah terkulai lemas dan tidak sadarkan diri


"Tungu lah di luar tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin."


Rifqan langsung keluar dan lampu operasi pun hidup menandakan mereka sedang melaksanakan tugas menyelamatkan nyawa seorang insan


Sekitar tiga puluh menit berlalu, datang lah Patra dan Kiara. Kiara masih terlihat dalam keadaan yang kacau dan selalu berada dalam dekapan calon suami nya


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Kiara


"Dia masih ditangani di dalam." jawab Rifqan putus asa


"Apakah kamu sudah membereskan mereka semua?" tanya Rifqan pada Patra


"Sudah, aku membawa dua orang untuk mendapatkan informasi."


"Baguslah jika begitu. Aku terlalu gegabah tadi."


"Tidak masalah, aku mengerti kepanikan mu."

__ADS_1


__ADS_2