
Saat sudah berada di luar rumah sakit, Pinkan terkejut melihat ada begitu banyak wartawan yang memotret ke arah mereka. Flash kamera bersahutan sana sini seakan mereka sedang tersambar petir berulang
"Itu mereka, cepat ambil gambar mereka sebanyak-banyaknya!" ucap wartawan-wartawan itu dan berlari menyerbu Pinkan dan ayahnya
"Ada apa ini, yah? Kenapa bisa ada wartawan di sini?" tanya Pinkan dengan raut wajah bingungnya
Jadi ini, rencana yang ayah maksudkan. Apakah ayah akan mengumumkan pada media langsung? Verel terlihat termenung sambil membatin
Perbuatan para wartawan itu pun turut menyita perhatian satpam yang sedang berjaga. Satpam itu segera menghampiri Pinkan dan ayahnya dan berusaha menghadang para wartawan yang sedari tadi tak henti-hentinya mengambil gambar serta melindungi mereka
"Tolong tenang! Ini rumah sakit, kalian yang tidak tahu aturan seperti ini sangat menganggu kenyamanan rumah sakit. Jika ingin mewawancarai, tetap jaga ketertiban." ucap pak satpam yang terlihat kesal
"Semuanya tenang. Saya turut berterima kasih atas partisipasi kalian yang sudah hadir. Di sini, saya di dampingi oleh kedua anak saya."
"Tuan, apakah rumor yang sedang beredar itu memang benar?"
"Tentu saja tidak, anak saya yang bernama Pinkan, memang anak kandung saya dari istri pertama saya yang sudah meninggal dunia."
"Benarkah? Tidak ada yang anda tutup-tutupi?"
"Jika kamu meragukannya. Bisa kita buktikan melalui akta nikah saya."
"Lalu, kenapa dia baru hadir ke publik belakangan ini? Bukan karena dia di sembunyikan?"
"Sepertinya kalian tahu lebih banyak, ya! Dia tidak muncul ke publik karena dia anak yang tidak terlalu suka menonjol. Dia lebih suka berdiam diri di rumah."
"Terima kasih atas klarifikasi anda, tuan!" Wartawan itu pun mulai bubar
Setelah para wartawan itu bubar. Pinkan langsung berhambur ke pelukan ayahnya, dia menangis dan mengucapkan rasa terima kasihnya
"Terima kasih, ayah. Kamu sudah mengumumkan pada publik, bahwa aku bukanlah anak haram." ucapnya di pelukan ayahnya
"Ini memang hal yang sepatutnya aku lakukan dalam upaya melindungi kamu, maafkan ayah Pinkan, ayah belum bisa menjagamu dengan baik." ucap ayah nya sambil mengusap-usap pucuk kepala Pinkan
"Terima kasih ayah, aku sangat terharu. terima kasih karena sudah membersihkan nama ku dari sebutan anak haram."
Apakah sebutan anak haram selanjutnya akan di layangkan padaku. Aku tidak siap menerima hal itu, aku tidak siap menerima kalau aku bukanlah anak dari seorang Raka Cleotra, batin Verel yang terus memandangi keharuan di depannya
"Sudah, sudah, kapan kita akan pulang? Sebentar lagi sudah jam makan siang. Ayo kita makan siang di rumah bersama untuk merayakan kepulangan ayah." seru Verel membubarkan pelukan ayah dan anak itu
"Hahaha, maafkan kami. Aku terlalu senang malah melupakan adik kecil ku yang sedari tadi berdiri termenung di sini." ucap Pinkan sambil mengejek
"Aku sudah besar, kak! Lihat! Aku lebih tinggi dari mu." bantah Verel lalu berdiri di samping Pinkan untuk mensejajarkan tingginya
__ADS_1
"Itu karena kau laki-laki!" sungut Pinkan
"Sudah, ayo kita pulang sekarang." ujar Raka menengahi dan berjalan sambil menggandeng kedua tangan anak-anaknya
*******
Sesampainya mereka di rumah, Amrita menyambut kedatangan Raka dengan pelukan hangat. Orang yang tidak mengetahui niat Amrita yang sesungguhnya pasti akan mengira kalau mereka adalah pasangan yang saling mencintai
"Maafkan aku karena tidak pernah melihatmu saat kau di rawat." ucap Amrita yang memasang wajah sendunya
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku sudah baik-baik saja dan pulang ke rumah untuk berkumpul kembali, kan?" balas Raka
Mereka langsung menuju meja makan dan mulai makan siang bersama. Diam-diam, Pinkan selalu memperhatikan gerak-gerik Amrita yang sok perhatian. Menurutnya, itu sangat menjijikkan
"Pinkan, sudah waktunya kamu mencari pacar. Ayah sudah tua, agar nanti ada yang menjaga mu dengan baik." ucap Raka di sela-sela makan nya
Pinkan hanya diam saja dan menikmati makan nya. Dia tidak terlalu menanggapi ucapan ayahnya karena dia sendiri memang sudah memiliki tuan muda Rifqan sebagai tambatan hatinya
"Aku punya kenalan, dia pria yang baik. Dia satu kampus dengan Pinkan, Pinkan pasti juga sudah mengenalnya. Aku rasa, mereka sangat cocok." sahut Amrita yang tidak ingin kehilangan kesempatannya
"Siapa dia?" tanya Raka
"Namanya Dharma. Dia pria yang sangat bertanggung jawab. Aku yakin, dia memang sangat cocok di jadikan menantu keluarga Cleotra."
"Aku hanya mengenalnya saja, yah! Tidak bermaksud untuk menjalin hubungan yang lebih dengannya." jawab Pinkan sekenanya
"Aturkan jadwal pertemuan mereka. Aku juga ingin melihat seperti apa rupa pria yang kamu maksud." ucap Raka pada istrinya
"Tapi ayah, aku belum ingin memikirkan masalah pernikahan. Aku masih ingin bermain-main!" sanggah Pinkan
"Jangan membantah Pinkan! Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Lagipula, kau tidak akan langsung menikah, kamu bisa berkenalan terlebih dahulu dengan pria itu." ucap Raka sambil mengangkat tangannya seolah tidak ingin dibantah
"Baik, aku akan segera menghubungi Dharma agar bisa segera datang kemari." jawab Amrita antusias
"Sepertinya, ibu sangat kenal dengan Dharma, ya? Bisa langsung menghubungi nya." sindir Pinkan
"Tidak. Kebetulan aku kenal dengan ibunya saja." alibi Amrita
Verel hanya menonton pertunjukan yang tersaji di meja makan. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan perbuatan ibunya
"Aku kenyang! Ayah, aku kembali ke kamar." Pinkan langsung beranjak dan naik ke lantai atas tempat dimana kamarnya berada
Dia merebahkan tubuhnya, air matanya ikut mengalir tanpa izin darinya. Jujur saja, sebenarnya dia lelah dengan apa yang sedang ia jalani sekarang. Namun, suka atau tidak, dia tetap harus menjalani semuanya dengan suka rela
__ADS_1
Tidak terasa, Pinkan tertidur karena dia juga memang sedang butuh istirahat. Dia terbangun di waktu matahari mulai terbenam
Pinkan mulai membersihkan dirinya dan turun untuk makan malam bersama
Selama makan malam. Pinkan tak banyak bicara, dia hanya fokus untuk menghabiskan makanannya karena merasa sangat malas bisa satu meja makan bersama musuhnya
Setelah menyelesaikan makan malamnya, dia kembali ke kamar tanpa basa-basi
DRRT DRRT
"Halo?" sapa Pinkan yang tersenyum sumringah
"Kamu dimana?" tanya Rifqan
"Aku di kamar, sedang memikirkan mu dan sedang merindukanmu." jawab Pinkan sambil memainkan kukunya
"Benarkah? Bisakah kamu menemuiku sekarang? Aku sudah berada di kawasan rumahmu."
"Yang benar saja? Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, sih? Tunggu sebentar, aku akan keluar sekarang." Pinkan langsung mematikan sambungan telepon nya dan meraih jaketnya lalu keluar dengan terburu-buru
Sambil menuruni anak tangga, dia berusaha mengikat rambutnya, dia langsung keluar tanpa memperdulikan Amrita yang sedang duduk memperhatikannya
"Rifqan! Kenapa kamu tidak mengatakannya sedari tadi?" tanya Pinkan yang sudah berada di dalam mobil
"Tidak apa-apa, aku sanggup menunggumu."
"Ayo jalan, aku ingin menenangkan pikiran ku sebentar." ujar Pinkan
"Kenapa? Apakah ada masalah yang tidak sanggup kamu atasi?" tanya Rifqan
"Hem, sudahlah. Aku ingin melupakan sejenak masalah ku dan menikmati waktu kita berdua." ujar Pinkan dan tersenyum senang
"Baiklah, aku tidak akan bertanya apapun lagi tentang itu."
Pinkan terdiam, dia terus menerus menatap laki-laki sempurna yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Bahkan, dia yakin bahwa cinta yang diberikan laki-laki itu padanya adalah sungguhan, bukan main-main
"Rifqan, bagaimana jika aku dijodohkan?" tanya Pinkan
"Mengapa bertanya seperti itu? Karena ayahmu lagi?"
"Ya. Aku dijodohkan dengan Dharma, laki-laki yang aku tuju untuk pembalasan dendam ku."
"Apakah perlu aku membunuh laki-laki itu agar dendam mu terbalaskan, lalu kita segera menikah dan hidup bahagia? Aku sangat kasihan denganmu yang harus lelah menghadapi semuanya sendirian." jujur Rifqan
__ADS_1