Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Kecemasan


__ADS_3

Saat mereka sedang menunggu kabar dengan penuh kegelisahan yang terlukis jelas di raut wajah mereka. Ada, seorang suster yang keluar dan menemui mereka


"Tuan, nona Pinkan kehilangan banyak darah. Stok kantong darah di rumah sakit kami sedang habis. Adakah kerabat nona Pinkan yang siap dipanggil untuk bisa mendonorkan darah nya sesegera mungkin?"


Rifqan tampak diam, dia juga kebingungan tentang siapa kerabat Pinkan yang akan dia mintai tolong. Saat dia diam, Kiara langsung menyuarakan pendapat nya


"Ada, bisakah menunggu sebentar sus?"


"Diharapkan jangan lama, karena pasien tidak bisa menunggu terlalu lama."


Kiara langsung sedikit menjauh dari sana dan mencoba menghubungi Verel. Tidak lama, panggilan langsung tersambung dengan orang yang di tuju


"Verel... kamu dimana?"


"Aku sedang berkumpul bersama teman-teman ku. Ini siapa?"


"Bisakah kamu menolong Pinkan? Dia saat ini sedang kritis dan sangat membutuhkan transfusi darah."


"Kirimkan alamat nya, aku akan segera datang sekarang juga."


Verel segera mematikan sambungan telepon itu dan mengambil kunci mobil nya. Semua teman-teman nya bertanya tujuan nya. Tapi, dia tidak menghiraukan sedikit pun karena hati dan pikiran nya sudah di penuhi dengan kepanikan


Dia langsung menuju ke rumah sakit yang alamat nya sudah dikirim oleh Kiara. Ternyata, rumah sakit itu lumayan jauh dari jangkauan nya saat ini


"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Rifqan


"Adik nya Pinkan. Kita hanya bisa berharap bahwa dia benar-benar mau menolong Pinkan saat ini."


"Ya, aku sangat berharap." jawab Rifqan yang sedari tadi menggenggam tangan nya sendiri dan berulang kali berjalan mondar-mandir di sisi ruangan tunggu


Mereka terus saja menunggu kedatangan Verel dengan harap-harap cemas. Sedangkan Verel, dia melajukan mobil nya dengan sangat cepat. Dia berdoa dalam hati nya agar mobil nya bisa terbang dan langsung membawa nya ke tempat dimana Pinkan berada saat ini


"Apakah kerabat nona Pinkan sudah datang?" tanya suster itu yang sudah terlihat cemas


"Tunggu sebentar lagi sus, adik nya sedang menuju kemari." jawab Kiara sambil meremas ponsel milik nya


"Keadaan pasien semakin melemah. Kita hanya bisa menunggu sebentar lagi."


Rifqan langsung terduduk lemas, dia mulai meneteskan air mata nya.


"Kenapa dia mencoba melindungi ku. Harusnya, biarkan aku saja yang terkena tembakan itu dan menggantikan posisi nya sekarang."


"Ini sudah takdir Rifqan, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun." ucap Patra


"Kak Kiara...!"


"Verel ... untung saja kamu benar-benar datang." ucap Kiara dengan senang


Mereka langsung menghubungi salah satu suster dan Verel langsung melakukan serangkaian tes untuk memulai transfusi darah nya untuk Pinkan

__ADS_1


Setelah Verel mendonorkan darah nya. Dia kembali dan menemui Kiara untuk meminta penjelasan atas peristiwa yang terjadi sekarang ini


"Kak, kenapa kak Pinkan bisa seperti ini?" tanya Verel


"Kami diculik Verel!"


"Diculik? Mengapa bisa?" tanya nya balik


Kiara pun mulai menjelaskan semua nya hingga peristiwa Pinkan menghadang bidikan pistol yang seharusnya tidak mengenai nya. Setelah membutuhkan waktu dua jam, akhir nya dokter yang melakukan operasi Pinkan pun keluar dari ruangan yang terasa mencekam itu


"Bagaimana, dokter?" tanya Rifqan


"Nona Pinkan sudah melewati masa kritis nya, nanti akan di pindahkan ke ruangan perawatan dan hanya tinggal menunggu waktu agar dia sadar."


Mereka semua melepaskan nafas kelegaan. Dan tak lama, tampak Pinkan yang masih berada di atas brankar rumah sakit dalam keadaan yang belum sadar akan di pindahkan ke ruangan yang lain


"Kamu istirahat saja, biar Rifqan yang menjaga nya." ucap Patra pada Kiara


"Tapi kan..."


"Jika kamu tidak istirahat, nanti kamu juga akan sakit. Besok kita akan kembali lagi untuk menjenguk nya, orang tua mu juga pasti sudah khawatir sekarang."


"Baiklah, aku akan mendengar perkataan mu." jawab Kiara tersenyum


"Aku akan mengantar mu pulang." ucap Patra sambil mencubit pipi Kiara


Selama perjalanan, Kiara hanya diam saja. Dia kembali mengingat peristiwa yang hampir saja merugikan nya tadi, rasanya dia masih sangat takut jika tiba-tiba kembali mengingat hal itu


"Aku masih syok dan takut jika hal seperti tadi terulang kembali." jawab Kiara yang menatap ke luar jendela


"Aku bisa pastikan, hal seperti tadi tidak akan pernah terjadi lagi."


"Terima kasih, sudah memberikan rasa aman untukku." seru Kiara sambil tersenyum tulus


"Aku berharap ini bukan mimpi."


"Aku juga, berharap ini bukan mimpi." ucap Kiara malu-malu


Sedangkan di ruangan rumah sakit yang bertuliskan VVIP, ada seorang pria yang sedari tadi terus megengam tangan wanita nya


"Maaf sebelumnya, apa hubungan kalian?" tanya Verel yang mulai membuka suara nya


"Apa urusannya dengan mu?" ucap Rifqan yang masih belum mengalihkan pandangan nya


"Tidak, aku hanya ingin memastikan kakak ku berhubungan dengan lelaki yang baik." ucap Verel santai


"Sejak kapan kau berniat baik pada kakakmu?"


"Sudah lama, mungkin aku memang telat menyadari kebaikan nya. Sekarang, aku sudah menyesali perbuatan ku sebelumnya dan akan memperbaiki semua kesalahan ku yang dulu."

__ADS_1


"Bagus jika begitu, aku harap kau benar-benar ingin memperbaiki kesalahan mu. Jika tidak, aku yang akan meniadakan mu dari muka bumi ini!" tegas Rifqan


Mengerikan sekali! Kedepannya, aku harus baik-baik untuk tidak membuat masalah yang harus berurusan dengan nya, batin Verel


"Hem, tuan tidak pulang? Biar aku yang menjaga kakakku."


"Tidak! Aku sendiri yang akan menjaga nya. Kau masih kecil, jadi pulang saja dan belajar." seru Rifqan dengan otoriter


"Aku juga akan disini, menemani kakakku."


Sambil berjaga-jaga agar tuan muda satu ini tidak mengambil kesempatan saat kakakku belum sadar, batin Verel


"Aku tidak akan melakukan apa pun yang akan merugikan kakak mu, lebih baik kau pulang dan minum susu. Berlama-lama disini tidak akan baik untuk kesehatan mu."


"Sebenarnya, kau mengira aku umur berapa? Aku jadi malas berbicara dengan mu!" Verel merajuk


Pulang lah sana! Inilah waktu nya untuk ku menebus kelalaian ku yang mengakibatkan Pinkan menjadi seperti ini, ucap Rifqan dalam hati dengan sendu


"Baiklah, aku akan pulang. Besok aku akan kembali lagi untuk melihat kondisi kakakku!" ucap Verel dengan berpura-pura mengancam


Rifqan hanya berdehem menanggapi perkataan pria yang di anggap nya bocah di depan nya itu. Dia kembali fokus pada Pinkan dan genggaman nya juga tidak pernah lepas untuk selalu menghangatkan Pinkan


"Kenapa, kamu belum sadar? Sadarlah Pinkan, aku sangat merindukan mu." gumam Rifqan


"Aku berjanji akan menjaga mu, dan kelalaian yang membuat mu sakit seperti ini tidak akan terulang kembali lagi."


"Bahkan aku sudah membuatkan sebuah tempat tinggal di pedesaan untuk kita dan anak kita kelak. Jadi, kau harus kuat dan mewujudkan mimpi indah itu, sayang!" Rifqan terus saja mengoceh di samping Pinkan. Tapi, tidak ada satu tanggapan pun dari Pinkan dan membuat pria itu tertidur karena kelelahan dalam keadaan duduk


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, Verel sampai di rumah nya. Baru saja dia membuka pintu, ternyata ibu nya sudah menunggu nya untuk interogasi


"Kenapa baru pulang?" tanya Amrita


Aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya pada ibu, meskipun aku tidak tahu siapa yang menculik kakak. Tapi, mungkin saja itu ibu, batin Verel


"Aku tadi habis berkumpul bersama teman-teman ku."


"Jangan berbohong!"


"Terserah ibu saja, aku lelah." jawab Verel ingin menghindari ibu nya


"Kau jangan menjadi seperti kakak mu! Lihat saja, sudah tengah malam seperti ini tapi dia belum juga pulang."


"Ibu jangan selalu berprasangka buruk terhadap Pinkan. Mungkin, dia sedang mempunyai kesibukan nya sendiri." bantah Verel


Amrita langsung melangkah maju untuk mendekati anak nya yang sedang berdiri di tangga


"Kenapa kau selalu saja membela nya? Apa yang sudah dia berikan untuk menutup mulut mu itu, Verel?" tanya Amrita


"Aku bukan membela nya. Aku hanya... sudahlah, aku ingin istirahat."

__ADS_1


Amrita melihat anak laki-laki nya itu berjalan menjauh membelakanginya nya. Dia merasa kesal dan mengepalkan tangannya


"Aku tidak bisa membiarkan dia seperti ini terus, dia mulai selalu membela anak sialan itu! Dan, aku tidak ingin dia berjalan menjauhi ku seperti ini suatu saat nanti. Aku harus melakukan sesuatu agar Verel kembali membenci Pinkan." ucap nya pelan pada diri nya sendiri


__ADS_2