
Setelah membangunkan Rifqan, Pinkan langsung turun kebawah untuk menemui Anya dan Kiara sahabat nya. Dia mencari-cari Kiara namun tidak menemukan sahabat nya itu dimana pun
Pinkan hanya melihat bi Suti yang sedang menata makanan di atas meja. Bi Suti adalah ART yang bertugas di mansion milik nyonya Anya. Dia lah yang mengurusi semua keperluan tuan nya selama ini, dan bi Suti juga termasuk salah satu orang kepercayaan nyonya Anya dan tuan Faruq, ayah Rifqan Athala Faruq
Pinkan melangkah menemui bi Suti tersebut dan membantu nya menata makanan di atas meja. Bi Suti yang melihat Pinkan membantu nya pun terkejut dan melarang nya
"Aduh, tidak usah nona! Biar bibi saja non." ucap bi Suti sambil mengambil alih piring yang ada ditangan Pinkan
"Tidak papa bi, saya senang kok bisa membantu bibi." ucap Pinkan sambil mengambil piring yang lain dan menaruh di atas meja
"Nona kan tamu disini, jadi nona duduk saja ya. Nanti setelah selesai bibi akan memanggil nona lagi." ucap bi Suti yang merasa tidak enak dengan Pinkan
"Baiklah bi, apa bibi melihat Kiara? Wanita yang datang bersama ku tadi bi." tanya Pinkan sambil melihat kanan kiri
"Oh, tadi sedang bersama tuan Patra nona, mereka duduk di taman belakang." ucap bi Suti menunjuk ke arah taman belakang
"Oh ya? Terima kasih bibi. Saya kesana dulu ya bi." ucap Pinkan tersenyum ramah
Bi Suti hanya mengangguk dan tersenyum untuk mengiyakan perkataan Pinkan. Dia senang melihat Pinkan yang begitu ramah dan ringan tangan. Bi Suti juga senang karena nyonya Anya bisa menerima dan menyayangi Pinkan
Tuan Patra? Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka bisa duduk berdua di taman belakang, batin Pinkan heran
Pinkan langsung menyusuri ruangan untuk mencari Kiara, dan dia samar-samar mendengar Kiara dan Patra sedang berbicara.
Dia pun bersembunyi dibalik tiang rumah yang berukuran besar untuk menguping percakapan mereka
Disini seperti nya pas, aku tidak akan terlihat. Beruntung juga badan ku kecil, maafkan aku Kiara karena penasaran jadi aku menguping sedikit ya! Hehe, batin Pinkan dan tertawa jahil
"Kenapa kamu dari tadi mendiamkan aku?" tanya Patra dengan lembut
Kiara langsung menoleh ke arah Patra dan mengernyitkan alis nya. "Memang nya apa yang harus aku bicarakan dengan mu?" tanya Kiara balik
"Kan kamu bisa menceritakan tentang hari-hari bahagia mu." ucap Patra dengan tersenyum
"Seingat ku kita tidak seakrab itu kan untuk saling bertukar cerita?" sarkas Kiara
"Makanya kita sekarang harus saling akrab! Kenapa kau dingin sekali?" ucap Patra sedikit kesal dan menaruh tangan nya di atas tangan Kiara
Kiara langsung menarik tangan nya dan menaruh tangan nya di pipi, dia merasakan tangan nya sendiri yang ternyata masih hangat
"Masih hangat kok, nih kamu rasakan saja sendiri!" ucap Kiara dan menyodorkan tangan nya ke pipi Patra agar Patra merasakan tangan Kiara masih hangat
"Bukan suhu tubuh mu yang dingin, tapi sikap mu itu!" ucap Patra menepuk jidat nya
"Dasar Kiara, kenapa dia begitu bodoh sih? Aku pun jadi sangat kesal melihat sikap nya yang sok cool itu." gumam Pinkan pada diri sendiri
"Siapa yang kamu sebut sok cool ha?" tanya Rifqan sedikit berbisik yang tiba tiba berdiri di belakang Pinkan
"Apa sih? Geli tahu tidak?" ucap Pinkan sambil menggosok telinga nya
"Aku cari kemana-mana, ternyata disini sedang menguping." ucap Rifqan mengejek
"Terserah kau saja!" ucap Pinkan dan langsung berlalu meninggalkan Rifqan yang tertawa
__ADS_1
Pinkan berjalan ke arah meja makan, dia melihat nyonya Anya Sudah duduk dan memakan sarapan nya sambil termenung. Pinkan langsung menghampiri Anya dan duduk di samping nya
"Mami." panggil Pinkan dengan lembut
"Iya sayang." ucap Anya yang tersadar dari lamunan nya
"Kenapa melamun?" tanya Pinkan lagi
"Mami sedang merindukan papi nya Rifqan." ucap Anya dan berpura pura menangis
"Memang nya om Faruq kemana?" tanya Pinkan
"Papi Rifqan sedang keluar kota. Sudah sebulan tidak pulang, hari Minggu nanti baru akan pulang." jelas Anya
"Kan tidak lama lagi." ucap Pinkan membujuk
"Bagi mami itu masih lama, kamu sih tidak tahu bagaimana rasa sakit nya saat merindukan seseorang." ucap Anya
Pinkan tersentak mendengar perkataan Anya, dia menerawang jauh kehidupan lalu nya saat dia masih mengejar Dharma bagaikan seorang raja
Aku sudah pernah merindukan seseorang, namun akhir nya aku tersakiti. Makanya di kehidupan ku sekarang aku tidak ingin berhubungan dengan pria mana pun termasuk anak mu mam. Aku hanya takut karena kebodohan ku seperti di kehidupan lalu, akan menghancurkan semua yang aku perjuangkan sekarang, batin Pinkan dengan menunduk sedih dan air mata nya menetes
"Pinkan?" panggil Anya dan menyadarkan Pinkan dari lamunan nya
"Iya mam, kenapa?" tanya Pinkan karena masih terkejut
"Kamu kenapa? Kamu menangis?" tanya Anya dan menghapus air mata Pinkan
Tanpa mereka sadari, dari tadi Rifqan sudah berdiri di sudut dan mendengarkan pembicaraan mereka. Rifqan juga melihat Pinkan yang menangis dan dia semakin penasaran tentang masa lalu Pinkan
Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku? Apakah kamu belum cukup percaya dan mengatakan semua masalah mu padaku?, batin Rifqan sendu
Rifqan berjalan ke arah meja makan untuk sarapan, dan di susul dengan kedatangan Kiara dan juga Patra. Mereka mulai makan bersama tanpa ada yang mengeluarkan suara apa pun
Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring
Setelah selesai makan, mereka bersantai di taman belakang untuk berbincang-bincang. Anya sedang memperhatikan Patra yang selalu menatap ke arah Kiara dan tersenyum
Ada apa dengan Patra? Apa dia juga sudah mulai jatuh cinta pada sahabat Pinkan ini? Bagus jika begitu aku bisa mencomblang mereka sekaligus, batin Anya yang sudah penuh dengan rencana
"Kalian tidak pergi ke kantor?" tanya Anya pada kedua pria yang sedang berdiri berdampingan itu
"Tidak!" jawab kedua pria itu secara bersamaan
"Kompak sekali ya kalau masalah cinta!" ucap Anya mengejek dan menutup mulut nya
"Seperti tidak pernah muda saja!" ucap Rifqan pelan
Rifqan sedang memperhatikan Pinkan yang sedang tertawa bersama Anya dan Kiara. Namun Rifqan tahu, dibalik tawa nya pasti tersimpan banyak luka dan rahasia yang tidak satu pun orang mengetahui nya
"Patra, cari tahu semua tentang Pinkan! Jangan ada satu pun yang terlewatkan!" perintah Rifqan dengan sedikit berbisik
"Tapi kan aku sudah pernah mencari tahu Rifqan, tapi hasil nya nihil." ucap Patra dengan mengendikkan bahu nya
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan, jangan banyak menjawab. Jika kau menjawab ku sekali lagi, akan ku kirim kau ke Antartika!" Ancam Rifqan
"Iya tuan muda Rifqan!" ucap Patra sedikit mengejek
Tidak terasa waktu terus berputar, dan hari sudah petang. Pinkan dan Kiara berpamitan untuk pulang
Namun Rifqan meminta untuk mengantar Pinkan. Pinkan agak malu karena dia masih mengingat perihal yang tadi pagi, jadi dia berusaha untuk menolak tawaran tersebut
"Aku pulang bersama Kiara saja Rifqan, tidak perlu repot-repot untuk mengantar kami." tolak Pinkan halus
"Kiara akan pulang bersama ku nona Pinkan, jadi kamu tenang saja." ucap Patra
"Aku belum menyetujui nya kan?" ucap Kiara berbisik pada Patra
"Dengarkan saja aku." ucap Patra berbisik dan mengedipkan sebelah mata nya
"Terserah kau saja!" sahut Kiara pasrah
"Bagaimana? Tidak ada lagi alasan mu untuk menolak tawaran ku kan?" ucap Rifqan penuh kemenangan
"Baiklah, ayo kita pulang sekarang." ucap Pinkan dan langsung menyalami Anya
Mereka sekarang berada di dalam mobil, Rifqan menyetir sendiri untuk mengantar pujaan hati nya, dia dari tadi memperhatikan Pinkan yang terlihat diam saja sambil melihat jalanan
"Kenapa kamu tidak mau aku antar kan pulang?"
"Aku hanya takut pulang bersama orang mesum seperti mu!" sahut Pinkan tanpa menoleh
"Aku tidak mesum! Tetapi jika kamu menginginkan aku menjadi mesum, aku ku kabulkan segera." ucap Rifqan bercanda
Pinkan langsung menoleh ke arah lawan bicara nya. "Kamu mau menjadi mesum? Maka selama nya jangan pernah temui aku lagi." Ancam Pinkan
"Kejam sekali ancaman mu nona Pinkan Cleotra!" ejek Rifqan
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Pinkan
"Tanyakan saja, jika hanya bertanya aku tidak akan meminta tips." sahut Rifqan
Lelaki ini sangat menyebalkan! Jika ini mobil milikku, aku pasti akan menurunkan nya di tengah jalan sekarang juga, batin Pinkan menggeram
"Aku ingin menemui ayah ku, apakah boleh?"
"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarang kamu menemui ayahmu kan?" tanya Rifqan menaikkan sebelah alisnya
"Tidak. Apakah kamu mau mengantarkan aku kesana?" tanya Pinkan takut-takut
"Dengan senang hati, besok pagi aku akan menjemput mu." ucap Rifqan yang tampak senang
"Besok pagi aku harus kuliah dulu, jam 10 aku sudah selesai. Kamu bisa menjemputku di cafetaria dekat situ." ucap Pinkan
"Kenapa tidak jemput di kampus mu saja?"
"Aku masih sayang dengan nyawaku." ucap Pinkan dan membuang muka menatap ke jalan yang tampak ramai
__ADS_1