Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Kembali Ke Habitat


__ADS_3

"Aku akan melakukannya malam ini!" ucapnya sambil mendekap kunci yang dipegangnya


Rifqan berjalan mondar-mandir di depan kamar milik Pinkan. Verel tidak sengaja lewat, ternyata Verel belum masuk ke kamarnya. Dia baru saja akan masuk ke kamarnya


"Kak, kenapa kamu bolak-balik di depan kamar, Pinkan? Terlihat mencurigakan!" ucapan Verel mengagetkan Rifqan


"Tidak. Aku hanya belum bisa tidur saja. Ya sudah, kamu masuk sana. Tidak baik tidur terlalu malam." ucap Rifqan


Tumben dia bisa bicara baik-baik. Biasanya pasti akan selalu seperti orang darah tinggi


"Hem baiklah. Kamu juga tidur lah. Besok pagi-pagi kita sudah akan kembali ke kota." ujar Verel sambil berlalu pergi


"Malam inilah kesempatan ku untuk mewujudkan keinginan, Pinkan. Mulai besok, entah kapan kami bisa bertemu lagi, dan pasti tidak akan memiliki kesempatan untuk ini." gumamnya


Merasa sudah tidak ada lagi orang di sekitar situ. Rifqan mulai membuka pintu itu menggunakan kunci cadangan yang dia punya. Lalu, Rifqan memutar kenop pintu


Pinkan selalu tidur dengan lampu yang menyala. Rifqan mulai mematikan lampu kamar itu, kamarnya menjadi gelap gulita. Dia mulai menyusup ke dalam selimut Pinkan dengan sangat berhati-hati


Rifqan memeluk perut Pinkan, namun dia langsung menyibak selimut Pinkan. Dia membulatkan matanya saat melihat Pinkan hanya mengenakan Bandeau (bra berbentuk seperti kemben)


Pinkan langsung terbangun karena ada yang menyibak selimutnya dan membuatnya terkejut. Dia membelalakkan matanya karena melihat sosok pria disisinya. Rifqan yang menyadari hal itu langsung membekap mulut Pinkan dengan kedua tangannya


"Ssstt, jangan berteriak. Ini aku, Rifqan." ucapnya berbisik


Pinkan menggigit tangan Rifqan dengan sangat kuat hingga Rifqan cepat-cepat menarik tangannya dan mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa pedih


"Kenapa kamu menggigitku? Kau ini shio anjin*, ya?" tanya Rifqan yang masih mengibas-ngibaskan tangannya


"Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kamu menyelinap ke kamarku dan mematikan lampunya?" tanya Pinkan yang memasang wajah bengisnya. Tapi tidak terlihat karena lampunya mati


"Memangnya salah? Aku menyelinap ke kamar pacarku. Memang, apa yang salah? Yang salah itu kalau aku menyelinap ke kamar wanita itu." hanya Rifqan yang membenarkan perbuatannya. Wanita yang dimaksud Rifqan adalah, Zanna. Dia tidak tahu nama wanita lain


"Tidak salah katamu? Lagi pula, ada tujuan apa kau menyelinap ke kamarku, bukannya tidur di kamar sendiri." celetuk Pinkan


"Aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu saja. Aku tahu, kamu tidak berani untuk memintanya. Jadi, aku sendiri yang mengambil inisiatif, kamu pasti terharu, kan?" ucap Rifqan sambil mengelus-elus pipi Pinkan


Pinkan langsung menepis tangan laki-laki itu. Rasanya, dia semakin bingung dengan tingkah Rifqan yang berbeda dan membingungkan sejak tadi saat mereka masih di luar


"Kamu kenapa sih? Sedari tadi kamu selalu saja membingungkan. Bisa tidak, kalau berbicara itu yang jelas!" ucap Pinkan dengan nada kesalnya


"Kamu masih tidak mau mengaku? Aku mengerti, kamu pasti masih malu-malu!" Rifqan kembali memegangi leher Pinkan


"Jauhkan tanganmu, Rifqan! Atau aku akan berteriak!" ancam Pinkan


"Tenang, Sayang! Aku akan segera membuat kamu berteriak dengan nikmat. Dan, pengalaman pertamamu ini tidak akan bisa kamu lupakan seumur hidup." ucap Rifqan


Pinkan menjauhkan duduknya dari Rifqan. Dia langsung beringsut mundur dari jangkauan Rifqan


"Apa maksudmu? Kenapa kamu berbicara seperti orang mesum? Nyalakan lampunya. Aku takut."


"Tidak. Jadi, apa maksudmu meminta Mr. Spy itu untuk mencari gambar-gambar pornografi seperti itu? Bukan karena kamu menginginkan itu?" tanya Rifqan menyelidik


"Gambar pornografi apa maksudmu?" Pinkan seperti telah melupakan hal-hal tadi

__ADS_1


"Yang tadi, jangan berpura-pura lupa." ucap Rifqan


"Aku ingat sekarang. Itu bukan gambar pornografi seperti yang kamu maksud. Itu adalah bukti untukku membalas dendamku." jelas Pinkan


"Jadi, aku yang salah paham? Kamu tidak menginginkan itu?" tanya Rifqan memastikan


"Tidak, kamu salah paham."


"Pinkan, tapi aku ingin."


Rifqan berdiri dan menghidupkan lampunya. Seketika, kamar itu pun menjadi terang. Pinkan masih tidak sadar kalau dia sedang memakai Bandeau berwarna hitam. Itu semakin membuat sesuatu yang terletak di bawah pusar Rifqan menjadi berdiri tegak


"Kamu sangat cantik mengenakan itu, Pinkan. Aku tambah bersemangat melihatmu seperti itu." ujar Rifqan yang mulai berjalan dan kembali menghampiri Pinkan


Pinkan melihat ke arah dadanya. Dia baru sadar kalau dia mengenakan pakaian minim sepertinya itu. Dia menutup dadanya dengan cara menyilang kan kedua tangannya


"Kamu mau apa? Jika kamu berbuat macam-macam, aku akan menendang jagung mu itu!" ancam Pinkan sambil melotot


"Izinkan aku tidur disini. Sambil memelukmu." pinta Rifqan sambil mengayunkan kedua tangannya


Pinkan tampak berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Rifqan tampak senang, dia langsung melompat ke atas ranjang seperti anak kecil


"Awas saja jika kamu melakukan sesuatu yang aneh. Laki-laki dan wanita tidak boleh bersentuhan. Jadi, menjauhlah dariku sedikit." ucap Pinkan sambil membatasi jarak mereka dengan guling


"Bagaimana kalau aku mengatakan tidak?"


"Maka aku akan menendang jagung milikmu, lalu menggantung mu di bawah matahari. Tidurlah, aku sudah sangat mengantuk." ujar Pinkan


******


"Zanna, terima kasih atas jamuan kalian. Kami sangat senang bisa menginap di penginapan ini. Kami akan berkunjung lain kali." ucap Pinkan


"Kami juga berterima kasih kepada kalian, Kak. Karena kalian memperlakukan aku seperti keluarga." ujar Zanna


"Bukankah memang akan menjadi keluarga, jadi sudah sepantaran bersikap seperti itu." pekik Kiara mengejek


Zanna hanya tersenyum malu-malu menanggapi ucapan Kiara. Dia menatap Verel yang tampak membuang muka dan memilih menatap ke arah lain, Zanna terlihat kecewa


" Baiklah. Kami permisi dulu, sampaikan salam kami pada keluargamu." Pinkan menepuk bahu Zanna pelan


Di perjalanan, Pinkan dan Rifqan tertidur. mereka kurang tidur semalam. Jadi Rifqan meminta Patra untuk mengemudi


"Pinkan, bagaimana kalau kita berkunjung ke cafe mu terlebih dahulu? Untuk melihat keadaannya yang baru saja di renovasi." usul Kiara


"Aku setuju!" ucap Rifqan yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya


"Aku juga setuju. Aku juga ingin melihat cafe milik kakak." ujar Verel


"Terserah kalian saja. Aku mengantuk, bangunkan saja aku nanti jika kita sudah sampai." ucap Pinkan masih dengan memejamkan matanya


Kiara bertanya-tanya dibenaknya. Kenapa Pinkan terlihat begitu mengantuk. Bukannya Pinkan yang terlebih dahulu tidur dibandingkan dengan dia. Tapi, kenapa sekarang dia seperti orang yang tidak tidur sama sekali. Dia tidak tahu kalau tadi malam kamar Pinkan kemasukan pencuri


Setibanya mereka di kota. Patra mengemudikan mobilnya ke arah cafe Pinkan, yang alamatnya sudah diberikan oleh Kiara. Setelah sampai, Kiara berusaha membangunkan Pinkan dengan menepuk-nepuk pelan pipi Pinkan

__ADS_1


"Pinkan, ayo bangun."


"Ya. Aku sudah bangun. Jangan memukulku." jawab Pinkan yang masih juga memejamkan matanya


"Kalau kamu tidak bangun sekarang, aku benar-benar akan memukulku!" sungut Kiara


"Lihat! Aku sudah bangun, kan?" Pinkan membulatkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kiara


"Apa kau ini. Lagi pula, aku heran denganmu. Bukankah semalam kau tidur cepat? Kenapa sekarang terlihat sangat mengantuk begitu?"


"Aku tidak tidur dengan nyenyak! Sudah, sana masuklah dulu, aku akan membereskan diriku terlebih dahulu." Pinkan mengambil kunci cadangan cafe yang ada di dalam tasnya dan menyerahkan pada Kiara untuk membukanya agar mereka bisa masuk


Sedangkan kunci yang satunya lagi, masih berada di tangan perusahaan yang merenovasi cafe Pinkan


"Letaknya bagus, ya. Sangat strategis." ucap Patra sambil melihat kesana-kesini


"Ya. Dia sangat pintar memilih dan memperkirakan." sahut Rifqan


Verel hanya bungkam. Dia hanya melihat-lihat saja. Keluarlah Kiara dari dalam mobil dan menuju ke cafe Pinkan. Dia membuka pintu itu


"Kemana Pinkan?" tanya Rifqan


"Dia meminta kita untuk masuk duluan. Dia ingin membenahi dirinya terlebih dahulu." jawab Kiara tanpa melihat


Pinkan sudah membenahi dirinya. Saat dia akan masuk ke dalam cafenya, tidak sengaja dia berpapasan dengan Dharma yang sedang berjalan sendirian


"Pinkan!" panggilnya


"Ada apa?" tanya Pinkan dengan malas


"Kenapa kamu ada disini? Sangat kebetulan."


"Ya. Aku mengunjungi cafe milik Kiara." jawabnya sangat malas


Rifqan yang sedari tadi menunggu kehadiran Pinkan dengan tidak sabaran, dia memutuskan untuk menghampiri Pinkan ke mobil, tapi dia malah melihat Pinkan sedang berbincang dengan seorang pria yang pernah beberapa kali dia temui


"Kenapa mereka bisa bertemu." gumamnya


"Huh! Ternyata ada buaya Amazon!" celetuk Kiara yang tiba-tiba berdiri di samping Rifqan


"Siapa yang kau maksud buaya Amazon?" tanya Rifqan heran


"Laki-laki yang berada di samping Pinkan itu, Pinkan memanggil nya buaya Amazon!" jelas Kiara


Rifqan langsung berjalan cepat menuju Pinkan dan Dharma. Dia menatap laki-laki itu dengan bengis yang penuh dengan aura permusuhan


"Tuan, kenapa anda juga berada disini?" tanya Dharma


"Aku ingin mengajukan suatu pertanyaan padamu. Bolehkah aku bertanya?" ucap Rifqan


Dharma hanya mengangguk. Dia masih menganggap Rifqan sebagai wali Pinkan. Jadi, dia masih menghormati Rifqan agar pria itu bisa menyetujui hubungan mereka


"Dari mana buaya Amazon berasal?" tanya Rifqan

__ADS_1


"Tentu saja dari sungai Amazon, tuan! Seperti nama nya." jawab Dharma dengan bangga seolah dia sudah bisa mendapatkan hati Rifqan


"Jadi, kenapa kau masih berada disini? Kembalilah ke habitat mu!" pekik Rifqan dengan wajah tak bersahabat


__ADS_2