
"Dia adalah, ibuku!" ucap Pinkan terbata-bata
"Apa? Mungkin kah kamu salah mengenali orang?"
"Tidak, aku sangat yakin bahwa ini adalah ibuku kia." bantah Pinkan
"Tapi, bagaiman mungkin? Kenapa mereka bisa terlihat sangat akrab seperti itu?"
"Aku juga tidak mengerti. Tapi, aku yakin semua jawabannya akan segera aku dapatkan." yakin Pinkan
"Aku akan membantumu dalam segala kesusahan mu." ucap Kiara menggenggam tangan Pinkan
"Terma kasih, besok aku akan kembali ke kampus" ucap Pinkan
"Apakah kamu yakin? Sepertinya, ini bukan saat yang tepat." Kiara merasa khawatir
"Aku tidak papa, jika aku terus bersembunyi seperti ini, itu sama saja aku mengakui apa yang mereka fitnah kan itu."
"Aku mengerti, aku akan selalu ada di sampingmu."
"Jika, besok kita melihat cafe yang akan kita renovasi, apakah bisa?" tanya nya
"Bisa. Lebih cepat lebih baik kan?"
KEESOKAN HARINYA
Keesokan harinya, Pinkan sudah bersiap untuk pergi ke kampus bersama Kiara. Kiara berkali-kali menanyakan keadaan Pinkan karena dia merasa sangat khawatir dengan sahabat nya itu
"Pinkan, apakah kamu tidak apa-apa dengan yang dikatakan oleh orang-orang tidak jelas itu nantinya?"
"Kiara, aku baik-baik saja. Kamu juga tidak mempercayaiku?"
"Aku bukan tidak mempercayai kamu, tapi aku hanya khawatir kamu tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh mereka." jelas Kiara
"Sudahlah, aku memang harus menghadapi ini semua cepat atau lambat, tidak peduli bagaimana mereka mengatakannya, aku tetap harus mendengarnya, kan?"
"Baiklah. Ayo, kita berangkat sekarang!"
Mereka berangkat ke kampus. Jujur saja, sepanjang perjalanan, Pinkan sangat bingung dengan apa yang akan terjadi nanti
Dia memang terlihat kuat di luar, namun belum tentu dia kuat di dalam. Terkadang, dia meremas jari-jemarinya untuk menghilangkan kekhwatiran nya yang di anggap berlebihan
Sesampainya mereka di parkiran kampus, sebelum turun, Pinkan menarik nafas panjang nan berat sebelum turun. Setelah turun dari mobil ini, pasti akan banyak yang mengatai dan mencacinya dengan kata-kata yang tidak enak di dengar
"Lihat itu, setelah lama bersembunyi, akhirnya dia keluar juga dari tempat persembunyiannya." cemoohan mereka mulai terdengar di telinga Pinkan
"Ya, dia selalu berlindung di belakang Kiara."
"Dulunya saja berlagak seperti dia paling cantik dan kaya, ternyata hanya anak haram saja!" cibir mereka sepanjang koridor saat Pinkan ingin masuk ke kampus
Aku tidak mengerti, kenapa rumor ini tidak surut. Biasanya, rumor seperti ini tidak akan bertahan lama dan akan langsung menghilang, batinnya
"Pinkan!"
Pinkan menoleh ke arah samping karena mendengar namanya di panggil oleh seorang wanita yang sudah sangat ia kenal
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Pinkan jengah
"Kau! Masih saja berputar menjadi primadona kampus? Memang aku akui sih, kamu itu cantik! Tapi sayang, ternyata hanya seorang anak haram!" cibir Erika lalu tertawa
"Lalu?" tanya Pinkan memasang wajah santai
"Lalu? Kamu tidak malu datang ke kampus setelah sekian lama kamu bersembunyi dalam cangkang mu?"
"Maaf nona Erika yang terhormat, aku sedang malas untuk berdebat dengan mu. Tolong minggir, kamu menghalangi jalanku!" sinis nya dengan suara dingin
"Kau! Kau tidak perlu lagi berwujud seolah kau paling sempurna. Karena, kau hanya anak haram!" ejeknya dengan suara lantang
Pinkan dan Kiara sudah sangat geram mendengar hal itu, kini mereka tahu siapa yang membuat rumor seperti ini. Kiara tidak ingin membalas karena dia tahu Pinkan pasti bisa menjawab nya
Sedangkan Pinkan, otaknya mulai mendidih tapi dia berusaha tetap berada dalam keadaan santainya saat menghadapi lawan
"Terlepas dari aku anak haram atau bukan, kamu tidak berhak mencampuri urusan keluargaku! Semua ini hal ini tidak merugikan mu, kan? Urusan pribadiku, belum sampai harus kamu yang mengurusnya," ucap Pinkan dingin
Lalu dia maju beberapa langkah untuk mensejajarkan posisinya dengan Erika, dia berbisik dengan lembut di telinga Erika dengan lembut tapi penuh penekanan dan aura dingin
"Aku tahu, kamu yang menyebarkan rumor tak berdasar ini, kalau kamu tidak memberitahuku siapa yang mengatakannya padamu, tunggu saja pembalasanku!" bisik nya
"Ayo Kiara!" ajak Pinkan dan mereka langsung pergi dari sana
Setalah beberapa saat mematung, Erika tersadar dan melihat Pinkan dan Kiara sudah menjauh
"Aku tidak takut dengan mu! Dasar wanita ******, anak haram!" teriak nya
Sampainya mereka di kelas, banyak pasang mata yang menyoroti mereka dengan tatapan meremehkan. Tak sedikit mereka yang mencibir dan berbisik-bisik dengan sinis nya
"Kenapa sih, aku ingin memberikan oleh-oleh tangan untuk mereka." ketus Kiara
"Sudahlah, nanti Patra akan marah padaku karena tidak bisa menjaga calon istrinya."
"Kau ini, selalu membuatku malu!?"
Setelah kuliahnya selesai, Kiara membawa Pinkan menuju tempat dimana lokasi cafe yang sudah di pilih Pinkan
"Apakah ini tempatnya?" tanya pinkan sambil melihat-lihat sekitar
"Ya, apakah kamu suka? Jika tidak, aku bisa membawamu ke tempat yang lain."
"Aku suka, disini sangat pas dan lumayan. Tinggal kita dekorasi sedikit saja, bisa langsung menarik pelanggan."
"Ya, kau sangat benar. Tapi, kita memang harus mencari perusahaan yang benar-benar bertanggung jawab."
"Aku sudah menemukannya. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu."
"Yasudah, ayo kita pulang sekarang. Nanti malam Patra mengajakku berkencan." ucap Kiara sambil menahan senyum
"Wah, ayo! Aku akan membantumu bersiap agar kamu terlihat sangat cantik."
DRRT DRRT
Ponsel Pinkan juga bergetar, karena tadi saat dia masih ada mata kuliah, dia hanya menggetarkan ponselnya dan lupa untuk mengembalikan ke mode biasa
__ADS_1
"Siapa?" tanya Kiara penasaran
"Hah! Tuan muda manja!" celetuk Pinkan
"Kau dimana?" tanya orang dibalik telepon
"Kenapa? Cepat katakan!"
"Nanti malam, aku akan menjemputmu, kau harus bersiap-siap."
"Memangnya mau kemana?"
"Kemana? Bukankah kita akan menjenguk ayahmu? Tidak jadi?" tanya Rifqan
"Tentu saja, aku akan menunggumu segera."
Setelah mengakhiri panggilan itu, Pinkan dan Kiara juga memutuskan untuk pulang
Setelah malam tiba, Pinkan yang sudah bersiap-siap sedang duduk di taman rumah sambil menunggu tuan rumah yang akan menjemputnya
TIN TIN
Setelah mendengar suara klakson mobil milik Rifqan, Pinkan sengaja berpura-pura masih memainkan ponselnya dengan santai. Dia ingin membuat pria itu jengkel dengan sendirinya
Tapi, ternyata dia salah, pria itu malah turun dari mobil dan menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil dan mencium Pinkan dengan lembut
"Kau! Kenapa selalu menciumi aku?"
"Untuk membuatmu jera! Aku tahu kau hanya berpura-pura."
"Kau menuduhku? Ucapanmu tidak berdasar." bantah Pinkan
"Tidak berdasar? Haruskah aku menciummu lagi, agar ucapanmu menjadi berdasar menurutmu, hem?" Rifqan mulai maju mendekati Pinkan
"Sana! Ayo, nanti adikku menunggu lama."
Aku tahu kau menyukaiku Pinkan, wajah mu memerah!
"Kau ingin membawa apa untuk ayahmu?"
"Tidak ada, melihat kedatangan ku dan adikku saja dia pasti sudah sangat senang."
"Tapi, aku sebagai calon menantunya tetap harus menghormati nya, kan?"
"Kau juga akan menemui ayahku?"
"Iya, memang nya ada yang salah dengan itu?" tanya Rifqan
"Tidak. Kamu menungguku di luar saja."
"Kenapa, begitu?" tanya Rifqan seakan tak terima
"Hem, aku hanya ingin berbincang-bincang lebih lama bersama ayah dan adikku." alibinya
Aduh, aku harus bagaimana, jika dia tidak mempercayai perkataan ku lalu meninggalkan aku sendirian disini, bagaimana, batin Pinkan
__ADS_1
Sepertinya, ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku tentang ayahnya, aku harus mulai mencari tahu, Rifqan juga membatin