Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Cerita Demi Cerita


__ADS_3

Sontak, Kiara melihat ke arah laki-laki yang dimaksudnya. Sedangkan Pinkan, sudah tahu siapa yang dimaksud. Jadi, dia tidak melihat lagi


Kiara tersenyum saat mengetahui siapa yang dimaksud oleh gadis itu. Dia tidak kenyang, Zanna bisa jatuh hati pada pria seperti dia


"Dia adalah Verel Cleotra. Adiknya, Pinkan. Gadis yang duduk di sebelah mu." ucap Kiara


Zanna tersentak kaget mendengar penuturan Kiara. Dia sama sekali tidak menyangka, bahwa pria yang ia kagumi merupakan adik dari wanita yang duduk di sampingnya


"Kau menyukai adikku?" akhirnya Pinkan turut membuka suaranya


"Tidak, Kak. Maafkan aku yang sudah lancang. Aku, aku hanya kagum padanya." jujur Zanna yang merasa sangat malu saat ini


"Aku sudah menyadarinya. Kalau kau menyukainya, kau harus berhati-hati. Ada seorang wanita gila yang juga menyukainya di kota. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Verel. Semangat!" Pinkan menepuk pundak Zanna untuk menyalurkan semangatnya


"Sudahlah. Lupakan saja dulu, ayo kita kesana dan makan." ajak Kiara untuk memecahkan kecanggungan yang sempat terjadi


Mereka makan dengan diselingi candaan. Tidak pada umumnya, yang hanya makan dengan diam dan hanya mendengar dentingan sendok saja. Kali ini, mereka melepaskan penat yang ditanggung selama ini dan menikmati suasana


******


Pagi menjelang. Zanna sudah menyiapkan sarapan untuk para tamu mereka. Dia adalah gadis yang telaten. Zanna melihat Verel yang kebetulan lewat di are kebun. Dia berusaha mengejarnya dan ingin berbicara dengan pria itu


"Kak!" panggil Zanna berteriak


Verel tidak menoleh. Dia berjalan lurus ke depan seakan tuli dengan suara seorang wanita yang sedang memanggilnya


"Kak, Verel!" teriaknya lagi. Dan kali ini, Verel membalikkan tubuhnya. Verel baru selesai mandi, rambutnya masih basah. Karena orang lain belum bangun, sehabis mandi dia memutuskan untuk pergi berjemur


Saat Verel sudah berhenti, Zanna setengah berlari menghampiri Verel yang masih setia berdiri menunggu gadis itu menghampirinya


"Kak, kamu mau kemana?" tanya Zanna basa-basi. Zanna menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang berterbangan dari tubuh Verel


"Apa urusannya denganmu?" ketus Verel


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya saja." jawab Zanna gugup. Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban ketus dari pria itu


"Minggir! Jangan menghalangi jalanku." ucapnya dan melewati gadis belia itu begitu saja


\*\*\*\*\*\*\*\*


Setelah selesai berjemur. Verel meminta Zanna untuk membangunkan Pinkan dan Kiara. Entah apa yang mereka lakukan hingga bisa telat bangun seperti ini. Dan dia menuju kamar Patra dan Rifqan untuk membangunkan mereka berdua


Setelah semuanya bangun. Mereka langsung sarapan. Dan Zanna juga ikut mereka untuk sarapan bersama. Meski, awalnya sempat menolak

__ADS_1


"Zanna, sesuai janjimu. Ayo, antarkan kamu ke panti itu sekarang!" ucap Pinkan


"Ya, Kak. Aku akan mengambil sepeda motor ku terlebih dahulu." izin Zanna


"Tidak perlu. Kau bisa pergi bersama dengan kami. Sekalian saja, sepulang dari panti nanti, bawa kami ke destinasi menarik disini." seru Kiara dengan semangat


Zanna mengangguk menyetujui dan tersenyum. Sedangkan tiga pria itu, hanya sibuk memainkan gadget nya tanpa memperdulikan keadaan


"Ayo!" teriak Kiara yang akan mengeluarkan sikap bar-bar nya pada orang yang sudah akrab


dengannya


Mereka memulai perjalanan ke panti yang di maksudkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, mereka sampai


Saat pertama kali Pinkan melihat panti itu. Hanya satu kata yang langsung bermunculan di kepalanya, yaitu masih kokoh dan asri


Zanna mengatakan maksud kedatangan mereka kepada penjaga yang sedang berjaga di posnya. Penjaga itu seolah sudah mengenal Zanna. Jadi, dapat dengan mudah mereka dipersilahkan masuk


"Sebentar, saya akan memanggilkan ibu Wina." ucap penjaga itu. Zanna hanya mengangguk dan tersenyum


"Zanna, ibu Wina itu siapa?" tanya Kiara sambil menarik ujung baju milik Zanna


"Beliau adalah anak dari pemilik panti ini, Kak. Ibu beliau sudah sakit-sakitan. Jadi, beliau lah yang menggantikan mengurus panti ini agar tetap terjaga." jawab Zanna


Kiara dan Pinkan hanya membulatkan mulutnya. Tidak lama, datang lah ibu Wina. Beliau adalah seorang wanita yang terkesan ramah. Dari wajahnya selalu terpancarkan senyum yang membuat orang betah berlama-lama untuk hanya sekedar melihatnya


"Saya ibu Wina. Ada maksud apa kalian datang kemari?" tanya ibu Wina setelah menjabat tangan mereka


"Saya hanya ingin mengobrol dengan ibu." jawab Pinkan dengan ramah juga


"Kalau begitu, kita bisa mengobrol di ruangan saya saja. Mari, ikuti saya." Ibu Wina memimpin jalan untuk ke ruangannya. Setelah di ruangannya, dia mempersilakan mereka duduk dan menelepon asistennya untuk membuatkan minum untuk tamu


"Verel, apa tidak lebih baik kamu menunggu di luar saja?" tanya Pinkan. Dia takut penjelasan yang mereka dapat akan melukai hati adik laki-lakinya itu


"Tidak, Kak. Aku juga butuh penjelasan seperti kalian ini. Aku ingin tahu, apa yang sudah di perbuat ibuku. Agar nanti, aku bisa menerima jika kalian mau melakukan sesuatu." dia tetap kekeh untuk tinggal


"Bagaimana, apa yang ingin kalian perbincangkan?" tanya ibu Wina setelah meletakkan teleponnya


"Saya akan langsung ke intinya saja. Apakah anda mengenal Jessy Shu?" tanya Pinkan tanpa mau berbasa-basi


"Jessy Shu? Kalau boleh tahu, kamu siapa?" tanya ibu Wina yang senyumannya masih melekat sempurna di wajahnya


"Perkenalkan, saya Pinkan. Anak beliau." ucapnya

__ADS_1


Ibu Wina tampak terkejut. Dia tidak menyangka, anak Jessy sudah sebesar ini dan datang ke tempat ibunya di rawat setelah kehilangan orang tuanya


"Aku mengenalnya. Dia adalah sahabatku. Tapi, karena nasibnya yang beruntung. Dia di adopsi oleh seorang kakek yang baik." ucapnya seakan kembali mengenang masa lalu


"Dan, apakah anda mengenal Amrita?" tanya Pinkan kemudian


Ibu Wina tampak terkejut, mungkin dia penasaran kenapa Pinkan bisa mengenal kedua sahabat masa kecilnya sekaligus


"Kenapa kau bisa mengenal, Amrita?" tanyanya lagi


"Karena dia adalah ibu tiriku." jawab Pinkan lugas


"Ibu tiri? Bagaimana bisa?" tanya Wina tak percaya


"Jadi, bisakah ibu menceritakan bagaimana ibuku bisa diadopsi oleh kakek itu?"


"Tentu saja, Nak. Kamu sudah jauh-jauh datang kesini untuk mengenali ibumu. Aku akan mengatakannya semua padamu." jawab Wina masih dengan tersenyum


Pinkan hanya diam. Dia berusaha untuk fokus dan memusatkan pikirannya pada ibu Wina saat ini. Ibu Wina mulai bercerita sambil sesekali dia tersenyum karena mengenang masa kanak-kanaknya


"Aku, Jessy, dan Amrita adalah tema saat kami masih berada di panti. Kami adalah teman yang sangat baik, kemana pergi, kami bertiga akan selalu bergandengan tangan. Walaupun, yang Peking menonjol kecantikannya adalah Jessy, tapi dia tidak sombong. Dia selalu senang berbagi," ucapnya terputus


"Hingga suatu saat, saat dia ditugaskan untuk membeli bubuk teh oleh ibuku. Pada saat itu, dia sangat lama kembali, tidak seperti biasanya. Ternyata, dia telat kembali karena dia menolong seorang kakek tua yang kebetulan penyakit asmanya kambuh. Kakek itu kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar sini, tanpa membawa pengawalnya. Dia pikir dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar."


"Kenapa kakek itu bisa ada di desa ini, Bu?" tanya Pinkan


"Kakek itu hanya kebetulan datang ke desa kita, karena desa kita sangat asri. Dia menyukai kehijauan. Cuaca pagi yang sangat dingin membuat asmanya kambuh. Beruntung, saat asmanya kambuh, Jessy lewat dan mau menolong kakek itu. Dia mengambilkan Nebulizer milik kakek itu yang berada di mobil yang terletak tidak jauh dari sana."


"Tapi, aku sangat penasaran, kenapa kakek itu mau mengadopsi ibuku? Apakah dia tidak mempunyai cucu kandungnya sendiri?" tanya Pinkan


"Namanya tuan Hartawan, dia tidak mau berkomitmen untuk menikah. Makanya, dia mencari seorang anak yang baik. Yang tidak memanfaatkan kekayaannya dan bisa menemaninya dihari tuanya." jelas ibu Wina


Kiara dan Pinkan hanya mengangguk saja. Tapi, Verel sudah cemas. Dia sangat menanti ibu Wina dapat bercerita tentang kekejian ibunya


"Setelah dua hari dari kejadian itu. Tuan Hartawan datang ke panti kami. Dia mengutarakan maksudnya untuk mengadopsi Jessy sebagai cucunya. Amrita yang mendengar kabar itu, dia merasa marah."


"Marah? Lalu, apa yang dilakukanya?" tanya Verel yang menyela ucapan ibu Wina


"Pernah dulu. Saat aku ingin memanggil mereka untuk bermain. Aku tidak sengaja mendengar Amrita sedang marah-marah pada Jessy. Dia ingin Jessy menolak untuk diadopsi. Kalaupun Jessy mau, dia harus mengikutsertakan Amrita bersamanya."


"Sungguh orang yang egois!" cibir Kiara


"Jessy hanya diam saja. Dia tidak membantah apapun. Amrita sangat kesal dengan tindakan Jessy yang hanya diam saja. Dia menuding Jessy tidak setia kawan, mata duitan, ingin merebut harta sang kakek. Aku mendengarnya sangat kesal. Kenapa Amrita bisa menuduh temannya seperti itu. Tapi, karena Jessy tidak mengatakan apapun, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa,"

__ADS_1


"Setelah Amrita pergi, Jessy berlari sambil menangis. Dia pergi ke ruangan ibuku. Kebetulan, sedang ada tuan Hartawan disana. aku mengikuti Jessy pergi, dia sedang menangis. Jadi, aku takut dia kenapa-kenapa. Ternyata dia di dalam sudah berhenti menangis dan berbicara pada tuan Hartawan untuk membawa satu temannya lagi, atau dia tidak ingin pergi. Dia mengancam tuan Hartawan!" ucap ibu Wina sambil tersenyum


"Lalu, bagaimana tanggapan tuan Hartawan, Bu?" tanya Kiara yang semakin penasaran dengan kelanjutannya


__ADS_2