Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Perjalanan


__ADS_3

"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkannya, tuan muda Rifqan?" tanya Patra dan menyeringai


"Kenapa tidak? Bukankah semakin ramai akan semakin seru nantinya?"


"Sebenarnya, tujuan kami bukanlah ke pantai. Melainkan...." Patra kemudian membisikkan sesuatu pada Rifqan. Rifqan membulatkan matanya dan seakan cemburu


"Kenapa dia tidak memberitahuku. Dia malah mengajak adiknya untuk pergi kesana." ucap Rifqan dengan wajah cemberut


"Kau cemburu dengan adiknya? Lucu sekali, ternyata tuan muda kita juga bisa pacaran diam-diam, ya?" ejek Patra sambil tertawa


"Tertawa lah sepuas mu. Nanti, saat kau berhenti tertawa, kau sudah bisa menerima surat pemindahan kerja ke Afrika. Kau pasti sangat menginginkannya, kan?" Rifqan membungkam Patra. Laki-laki itu langsung berhenti dari tawanya seakan sedang menelan bom waktu


"Haissh, selalu saja. Jadi, apa yang kau inginkan?"


"Bawa aku bersama kalian. Itu sudah cukup." tawar Rifqan


Patra hanya berdehem. Sebenarnya, dia memang berniat mengajak sahabatnya itu. Tapi, dia hanya berniat bermain-main sebentar untuk melihat tingkah Rifqan yang menurutnya menggemaskan


******


Keesokan harinya, Pinkan sudah bersiap-siap dengan barang bawaannya. Dia tidak membawa satupun pakaian renang atau pakaian yang hanya sekedar untuk bermain dipinggir pantai. Berbeda dengan Verel, dia sibuk membeli pakaian pantai yang beraneka ragam. Dia repot sendiri seakan baru pertama kali pergi berlibur


"Kak, yang mana yang lebih bagus? Aku terpaksa membawa salah satunya saja, karena koperku sudah tidak muat." ucap Verel sambil menunjukkan baju bercorak pantai yang sangat nyentrik


"Kau ini! Entah sudah berpuluh kali kau menanyakan hal yang sama, aku sudah bosan memilihkannya untukmu. Kau akan menyesal nanti. Bongkar semua isi tasmu, dan masukkan baju yang biasa saja." titah Pinkan dengan memutar bola matanya karena merasa jengah


"Tapi kak, kita kan mau ke pantai. Hal yang wajar jika aku membawa semua pakaian ini." bantah Verel tak terima sambil menunjukkan isi tasnya


"Cepatlah! Mereka sedang dalam perjalanan menjemput kita. Jika kau yang menghambat dan bisa terlambat, kau tidak usah pergi saja." ancam Pinkan Kemudian


Verel yang mendengar ancaman kakaknya yang menurutnya sangat berbahaya. Langsung menutup tasnya dan duduk di samping kakaknya secepat kilat. Dia tidak ingin ditinggal, karena baru pertama kali dia akan pergi berlibur bersama kakak nya


TIN TIN


Mobil yang akan mereka tumpangi untuk bepergian pun akhirnya tiba. Pinkan dan Verel langsung masuk ke dalam mobilnya. Mereka tidak lagi berpamitan pada ayah dan ibunya. Karena pagi tadi, sebelum ayahnya ke kantor, mereka sudah lebih dulu berpamitan. Sedangkan ibunya, mereka tidak tahu wanita itu entah sudah pergi kemana


Mereka pergi menggunakan mobil Rifqan. Tapi, Pinkan tidak tahu itu. Patra duduk di depan di samping supir. Sedangkan Kiara, Pinkan, dan Verel duduk barisan tengah


"Kalian menyewa supir?" tanya Pinkan yang sudah duduk

__ADS_1


"Hem, tidak. Supir ini memaksa ikut." jawab Patra sekenanya


"Jadi, tidak perlu digaji?" tanya Verel


"Tidak. Dia mengemudi untuk kita dengan sukarela." jawab Patra lagi. Kiara diam saja karena dia tidak ingin mencari masalah


Pinkan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan berniat menghubungi Rifqan. Saat nada tersambung itu berbunyi, suara berdering itu terdengar di dalam mobil. Pinkan mengernyitkan alisnya dan berusaha mencari arah suaranya


Sesaat dia pun tersadar. Ternyata supir yang membawa mereka adalah pacarnya sendiri. Dia memukul bahu Rifqan agar pria itu menoleh ke belakang. Dan, ternyata dugaannya benar


"Kenapa kamu berada disini? Menjadi supir?" tanya Pinkan keheranan


"Ya, Sayang. Kamu pasti senang kan aku bisa pergi bersamamu. Kamu pasti terharu." jawab Rifqan


"Terharu apa? Kenapa kamu tidak mengatakan padaku kalau kamu juga pergi?"


"Kamu juga tidak mengatakan padaku. Jadi, aku buat surprise buat kamu." jawabnya dengan tertawa


"Perhatikan jalan. Jangan seperti orang bodoh. Aku marah padamu." ucap Pinkan kemudian membuang muka dan melipat tangannya di dada


Percuma saja aku merasa bersalah sedari tadi, ternyata rasa bersalahku hanya sia-sia


"Ya. Memang bukan." jawab Pinkan dengan santai


"Tapi, katamu kita mau ke pantai, kak? Rugi saja aku membeli banyak pakaian pantai dan membawanya. Hanya memberatkan tasku saja." tanya Verel yang semakin dibuat bingung


"Itu hanya alasan untuk pengalihan saja. Sebenarnya, kita mau kesini." Pinkan menunjukkan peta yang sedari tadi ia lihat selama perjalanan agar tidak tersesat, karena mereka baru pertama kali kesana


Verel melihat itu dan mengerutkan keningnya, dia mencoba mengingat-ingat nama desa yang tertera itu. Kemudian, dia dengan cepat merebut ponsel milik Pinkan dan melihatnya lagi untuk kembali memastikan


"Kenapa?" tanya Pinkan yang melihat gelagat aneh Verel


"Aku tahu tempat ini, kak!" ucap Verel yang masih terus menatap ponsel milik Pinkan


"Kamu tahu tempat itu?" tanya Pinkan sekali lagi untuk memastikan, takut kalau dia salah dengar


"Ya. Desa ini adalah tempat ibuku dilahirkan, dan dibesarkan. Panti asuhan tempat ibuku dibesarkan juga berada tidak jauh dari desa ini." jelas Verel


Pinkan tercengang. Pikirannya sekarang dipenuhi dengan tanda tanya yang terus berputar-putar di atas kepalanya

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa kamu bisa mengetahuinya?" tanya Kiara yang mulai tertarik dengan topik pembicaraan mereka


"Saat aku masih kecil, ibuku ada beberapa kali membawaku kesini. Dan, tahun lalu dia juga membawaku kesini untuk menemaninya." jelasnya


"Apakah kamu pernah berkunjung ke panti asuhan?" tanya Pinkan lagi


"Kami memang datang ke panti asuhan. Tapi, aku hanya disuruh menunggu di luar. Dan, ibuku hanya masuk seorang diri." jawab Verel


"Kenapa?" tanya Kiara dengan cepat, rasa ingin tahunya sedang memuncak sekarang. Sedangkan dua laki-laki yang duduk di kursi depan hanya diam dan mendengarkan


"Aku juga tidak tahu, kak." jawab Verel sambil mengangkat bahunya


Sepertinya, Verel tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah terjadi antara ibuku dan Amrita. Apakah Amrita tidak menceritakan apapun padanya, ya? batin Pinkan


"Apakah ibumu pernah menceritakan sesuatu tentang masa lalunya saat masih berada di panti asuhan? Seperti ... tentang sahabatnya?" tanya Pinkan yang sedikit menjeda kalimatnya


"Ibu hanya pernah menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya saja. Kalau tentang teman karibnya, ku rasa tidak pernah," ucap Verel mengatakan yang ia tahu


"Dan, apa kalian tahu kalau desa yang akan kita kunjungi ini adalah salah satu tempat yang rawan bencana alam?" tanyanya lagi


"Tahu, kami sudah membuat sebuah persiapan yang matang dan sudah mencari tahu, kalau bulan ini bencana alam tidak akan terjadi." jelas Kiara


"Baguslah. Apakah ada sesuatu yang kakak ingin cari tahu, makanya kita pergi kesini? Tentang ibuku?" tanya Verel


"Tentang ibuku. Ibuku juga terlahir di desa ini." jawab Pinkan


"Ibu mertuaku juga berasal dari sini? Aku akan mengunjungi makamnya nanti." sahut Rifqan tiba-tiba


"Makamnya tidak ada disini. Aku hanya ingin mencari tahu sesuatu saja. Verel, nanti kamu juga akan tahu yang sebenarnya."


"Jadi, kita akan bermalam dimana?" tanya Patra yang akhirnya membuka suara


"Tanyakan saja padanya. Dia kan sudah beberapa kali kesini, pasti tahu, kan?" ujar Kiara


"Cari di internet saja, Kak. Aku tidak tahu. Karena, jika aku datang kesini, aku tidak menyewa penginapan."


"Jadi, jika berkunjung bersama ibumu. Kalian menginap dimana?" tanya Pinkan lagi


"Di rumah kakek, kak." jawab Verel sekenanya

__ADS_1


"Kakek? Kakek siapa maksudmu?"


__ADS_2