
Setelah mengakhiri panggilan itu. Pinkan langsung memesan taxi online, tidak lama, ponsel nya kembali bergetar. Tidak melihat pun Pinkan sudah tahu kalau itu adalah Patra yang sudah mengirimkan alamat Club yang akan didatangi Pinkan untuk menjemput tuan muda yang menurutnya menyusahkan
Setelah taxi yang di pesan berada di depan. Pinkan meraih jaket tebal miliknya dan langsung pergi
"Kemana, kak?" tanya Verel yang tidak sengaja berpapasan
"Keluar. Aku ada keperluan!" jawab Pinkan singkat dan langsung pergi
"Mau ku antarkan? Bahaya kakak pergi sendiri sudah larut malam begini."
"Tidak perlu, aku sudah memesan taxi. Kamu beristirahat lah, ya,?" teriak Pinkan yang sudah memegang handle pintu rumahnya
Aku tahu kemana tujuanmu. Semoga saja rencana ku berjalan dengan lancar
"Ke jalan xxx, pak!" ucap Pinkan yang sudah duduk di kursi penumpang taxi
"Baik." supir itu menjawab dan langsung melajukan mobil taxi miliknya
Dasar, entah masalah apa yang menimpamu sampai kau harus datang ke Club dan mabuk-mabukan seperti itu. Lalu, menyusahkan aku, batin Pinkan mengeram
"Nona, kita sudah sampai." ujar supir taxi
"Oh, iya. Apakah anda bisa menunggu sebentar? Saya menjemput teman saya di dalam, takut nanti susah untuk mendapatkan taxi lagi." pinta Pinkan
"Baiklah, saya akan menunggu."
Tanpa basa-basi lagi, Pinkan langsung masuk ke dalam ruangan yang terdengar musik berdegum-degum, lampu yang remang-remang dan banyak terlihat anak insan yang sedang di mabuk cinta sambil menautkan bibir mereka di keramaian tanpa rasa malu
"Dimana, Rifqan? Pusing aku mencarinya. Aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini." ucapnya pelan, matanya menerawang kemana-mana
"Coba lihat itu, bukankah itu tuan muda, Rifqan?" ucap seseorang di tengah keramaian
Pinkan mengikuti telunjuk orang yang berbicara itu. Dan langsung menghampiri orang yang akhirnya di temukan dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri
"Rifqan... Sadarlah, ayo kita pulang!" Pinkan berusaha menepuk-nepuk pelan pipi pria itu
"Aku mau minum, berikan aku satu gelas lagi."
"Hey, sudah cukup! Jangan lagi meracau."
__ADS_1
"Pinkan? Apakah itu kau? Ayo, kita minum sama-sama di sini, hahaha!" Rifqan malah bertingkah seperti orang tidak waras
"Ayo! Aku tidak sanggup membopongmu. Kau itu berat, cepat berdiri!" titah Pinkan dengan kesal
Rifqan langsung berdiri. Pinkan langsung memapahnya menuju taxi yang memang sudah menunggu mereka di luar. Ketika mereka masuk ke dalam taxi, supir itu tampak terkejut setelah melihat wajah Rifqan
"Nona, bukankah itu adalah tuan muda dari Faruq Company?"
"Ya. Kemudikan mobilnya pak, ke jalan Kendari, ya!"
Selama perjalanan, Rifqan hanya tertidur pulas saja. Dia tidak meracau dan juga tidak berbuat tingkah yang aneh-aneh. Sesekali, supir itu melirik ke arah belakang untuk mencuri pandang melihat wajah Rifqan
Ada kebanggaan dalam hatinya, karena pewaris perusahaan terbesar itu malam ini sudah menaiki taxi nya
"Berhenti. Pak, bisakah anda membantu saya untuk memapahnya sampai ke depan teras saja?"
"Tentu saja, dengan senang hati, Nona." jawab supir itu dengan gembira
Supir itu langsung memapah Rifqan. Tapi, menurutnya, tidak ada aroma alkohol yang tercium dari tubuh tuan muda tersebut
"Disini saja, terima kasih. Ini tips anda karena sudah membantu saya."
"Maaf pak, anda kan juga sudah melihat sendiri, sekarang dia sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Jika tanda tangan tentu saja tidak bisa. Tapi, kalau sekedar cap jempol, masih bisa."
"Hem, ya sudah nona. Saya permisi." ucap supir itu dengan raut wajah kecewa
Selepas kepergian supir tadi, Pinkan memencet bel yang ada di apartemen milik Rifqan yang pernah di tempati oleh nya dulu
"Nona Pinkan?" seru bi Leta
"Ya, bi. Bisakah anda membantu saya memapah orang yang sudah tidak sadarkan diri ini?" tanya Pinkan dan menghembuskan nafas kasar
"Ayo, saya bantu nona." Mereka langsung memapah Rifqan menuju kamar yang terletak di lantai atas
"Bi, saya harus pulang sekarang."
"Maaf sudah merepotkan Anda nona Pinkan."
Rifqan tiba-tiba menarik tangan Pinkan dengan erat, dia kembali meracau dalam keadaan mata yang tertutup
__ADS_1
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Pinkan! Ku mohon."
Apalagi ini, kenapa pria ini sangat menyusahkan hari-hari ku, sih?
Pinkan mencoba melepaskan pegangan tangan itu. Tapi, secepat kilat Rifqan malah memegangnya kembali dan malah menarik Pinkan hingga wanita itu terjatuh ke atas tubuhnya
Pinkan yang menyadari masih ada be Leta di situ, langsung tersenyum kikuk ke arah wanita paruh baya itu. Dan, di balas senyuman juga oleh bi Leta
"Bi, sepertinya aku harus menginap. Anda bisa turun dan istirahat saja." ucap Pinkan dengan wajah malu
"Baik, jika memerlukan sesuatu anda bisa memanggil saya kapan pun." Setelah mengatakan itu, wanita paruh baya itu keluar sambil tersenyum-senyum tak jelas
Pinkan yang melihat bi Leta sudah keluar, dia menghela nafas lega. Kemudian, memukul dada bidang pria itu meminta di lepaskan
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan? Aku sangat malu, tuan muda!" teriaknya sambil terus memukul dada bidang itu
"Pinkan! Kenapa kau selalu mengacuhkan aku? Apa salahku padamu? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memperlakukan aku selayaknya orang yang mencintaimu," Rifqan kembali mengatakan hal-hal aneh
"Kau tahu? Mungkin, aku sudah tak bisa hidup tanpamu. Aku sudah terlalu tergila-gila padamu. Aku sudah jatuh terlalu dalam saat mencintaimu. Tapi, kenapa kau mengabaikan aku?"
"Maaf!" hanya satu kata itu yang lolos dari bibir mungil Pinkan
"Kau tidak mengerti, aku tidak pernah menyukai siapapun. Sekarang aku sangat mencintaimu. Semua yang kulakukan adalah bentuk cintaku padamu. Satu langkah aku berusaha mengejarmu, seribu langkah kau pergi menjauhi aku."
"Apa yang harus ku lakukan, Rifqan? Kau pikir, hanya kau yang mencintai aku? Aku juga, aku juga sangat menyukaimu," Pinkan bertanya dengan suara pelan
"Aku ingin mensejajarkan langkahku agar bisa bersamamu, tapi aku merasa aku tidak pantas untukmu yang paling bersinar di antara bulan dan bintang." Pinkan kembali melanjutkan kalimatnya dengan suara sendu
"Pinkan...!" Rifqan berucap pelan
"Ya? Kau pasti mabuk kan, jadi aku bebas bercerita apa saja, dan kau pasti tidak akan mendengarkannya,"
Rifqan terdiam, dia berusaha mendengarkan dengan seksama. Mungkin, inilah saatnya dia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pinkan menarik nafasnya, kemudian melanjutkan perkataannya
"Aku tidak tahu, aku beruntung atau tidak. Aku ini pernah terlahir kembali, dulu aku adalah orang yang sangat bodoh. Selalu di tipu oleh orang terdekatku. Bahkan, ayahku sendiri menjauh dariku. Aku berusaha mendapatkan cinta semua orang, hingga aku mengenal pria yang paling ku anggap baik di seluruh jagat raya ini. Tapi, kepercayaan ku dihancurkan oleh nya. Aku dan ayahku dibunuh olehnya yang bekerja sama dengan ibu tiriku," Pinkan menjeda setiap kalimatnya dan menertawakan dirinya sendiri
"Aku tidak menduga, aku bisa terlahir kembali. Setelah terlahir kembali pun aku malah bertemu denganmu, pria yang selama ini sangat agresif dalam mengaturku. Aku jatuh hati padamu, aku ingin bersamamu dalam setiap langkahku. Menempel bagai kuman kemana pun kamu pergi. Aku ingin itu,"
"Tapi, ayahku tidak menyetujuinya. Kau dan aku memang bagaikan langit dan bumi, sangat-sangat jauh sekali perbedaannya. Jadi, coba katakan padaku, apa yang harus aku lakukan selain mencoba menjauhimu?"
__ADS_1