Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Menemui Musuh


__ADS_3

"Jadi, kamu minta apa? Cepat beritahu aku!" ujar Pinkan tak sabaran


"Nanti malam, aku langsung saja meminta hak ku sebagai suami, ya! Boleh, kan?" tanya Rifqan setengah memohon


"Hem, baiklah." jawab Pinkan yang terlihat ragu. "Kalau begitu, ayo kita ke kantor polisi sekarang." ucap pinkan yang mulai meletakkan kopernya yang sudah terkemas


Pinkan turun kenbawah bersamaan dengan Rifqan. Pinkan lebih dulu mencari Ayahnya untuk mengatakan kalau dia akan pergi agar Ayahnya tidak mencarinya nanti. Namun, Pinkan tidak sengaja berpapasan dengan adiknya Verel


"Mau kemana pengantin baru?" ucapnya menggoda Kakaknya itu


"Kamu ada lihat, Ayah?" tanyanya celingak-celinguk


"Ayah sedang di luar mengantarkan temannya. Mungkin sebentar lagi masuk." jawab Verel yang memang tadi melihat Ayahnya sedang berada di depan


"Aku akan mencari ke depan." ujarnya sambil menepuk pelan pundak Verel


Pinkan berjalan ke teras rumahnya, dia tidak melihat kalau Verel ternyata juga mengekor di belakang


"Yah!?"


"Kenapa, Nak?" tanya Ayahnya yang masih berdiri sambil melihat mobil teman-temannya yang baru saja meninggalkan rumahnya


"Yah, aku akan pergi ke penjara." ucapnya


"Ya sudah, pergilah. Kamu mau membuat laporan tuntutan?" tanya Raka


"Ya, Yah. Tetapi, setelah dari kantor polisi, aku tidak kembali kesini." jawab Pinkan perlahan


"Kamu mau kemana, Nak?"


"Aku akan ikut dengannya ke apartemen miliknya, Yah." jawab Pinkan sambil melirik Rifqan yang berdiri di belakangnya


"Iya tidak apa-apa. Ayah mengerti, kamu sudah menjadi milik orang lain. Memang sudah seharusnya ikut dengan suamimu." jawab Raka mengelus kepala Pinkan


Pinkan tersenyum, dia menggenggam tangan Ayahnya dan mencium punggung tangan Ayahnya. Ada rasa sedih di hatinya karena akan meninggalkan Ayahnya yang selama ini ia sayangi.


Setelah berpamitan, para asisten rumah tangga membantu mereka membawakan kopernya masuk ke dalam bagasi mobil. Mereka pun pergi ke sesuai tujuan mereka.


Sesampainya mereka di kantor polisi, Pinkan membuat laporan tuntutan untuk Amrita dan Dharma. Dia awalnya meminta bertemu dengan Dharma.

__ADS_1


"Pinkan?" ucap Dharma yang langsung tersenyum senang saat melihat kehadiran Pinkan


"Bagaimana kabarmu?" tanya Pinkan dengan wajah datarnya


"Seperti yang kamu lihat, aku sedang tidak baik." jawabnya.


"Rifqan, bisakah kamu meninggalkan kami berdua saja?" ucap Rifqan pada suaminya


Meski berat hati meninggalkan istri tercintanya berdua dengan laki-laki lain, tapi dia mengerti kalau istrinya sedang ingin berbicara yang penting. "Baik, Sayang." jawabnya kemudian mengecup puncak kepala Pinkan barulah keluar


"Sayang?" Dharma mengulangi ucapan Rifqan. "Pinkan, kenapa dia memanggilmu semesra itu?" tanya Dharma tak terima


"Bukan urusanmu." jawab Pinkan jutek


"Pinkan, kamu kemari karena ingin mengeluarkan aku dari sini, kan?" tanya Dharma penuh harap


"Menurutmu?" tanya Pinkan datar


"Aku tahu, kamu datang kesini pasti karena ingin menjengukku sekalian memberikan kabar bahwa kamu akan segera membebaskan aku, kan. Iya, kan?" Dharma terlihat menggebu-gebu.


"Hahaha." Pinkan malah tertawa kencang melihat kepercayaan diri Dharma


"Aku sangat tidak nyaman disini, aku sangat ingin secepatnya keluar. Tolong bantu aku, Pinkan. Aku yakin, kamu juga pasti masih sangat mencintaiku, kan? Aku berjanji, setelah kamu mengeluarkan aku dari sini, aku pasti akan segera menikahimu." ujar Dharma bersungguh-sungguh.


Pinkan tersenyum miring, dia menarik tangannya dan menepuk-nepuk tangannya seperti sedang menghilangkan debu membandel


"Maaf. Aku tidak bisa memenuhi ekspektasimu." ujar Pinkan


"Apa maksudmu?" tanya Dharma tak mengerti


"Aku hanya ingin memberitahumu. Aku datang kemari hanya ingin melihat penderitaanmu. Dan, sekalian memberitahu, aku sudah membuat tuntutan agar kau dipenjara seumur hidup!" ujarnya tanpa perasaan


"Tidak-tidak. Kamu tidak mungkin melakukan itu!" Dharma menggeleng kepalanya berulang kali dengan cepat


BRAK


Pinkan melemparkan beberapa copy-an berkas-berkas yang telah ia ajukan pada polisi, dia melemparkannya ke hadapan Dharma. Dharma terkejut, namun hanya melihat tidak berani mengambil atau menyentuh


"Lihat, itu adalah bukti-bukti yang aku dapatkan! Kau pasti akan berterima kasih padaku. Tadinya, aku ingin bermain-main denganmu sebentar. Namun, karena Ayahku sudah melaporkan kalian ke polisi, mau tidak mau aku harus segera mengakhiri permainan menyenangkanku." ucapnya

__ADS_1


Dharma mengambil beberapa berkas itu dengan gusar, tangannya gemetaran. Dia langsung melihat dan membaca satu persatu isi dari berkas-berkas itu.


"Dari mana kau mendapatkan ini semua?" tanya Dharma yang ketakutan bercampur marah


"Rahasia." jawab Pinkan sambil mengedipkan sebelah matanya


"Keterlaluan kau, Pinkan. Sebenarnya, apa yang sudah kulakukan padamu? Bukankah kita saling mencintai, kenapa kau melakukan ini padaku." ucap Dharma putus asa


"Hahaha. Saling mencintai? Cih, itu dalam mimpimu saja." jawaban Pinkan membuat emosi Dharma semakin memuncak. Dia menggebrak meja dan hendak mencengkram tangan Pinkan


"Cabut tuntutan mu! Aku tidak punya kesalahan apapun padamu. Kenapa kau begitu dendam padaku. Sialan!" pekiknya


"Dikehidupanmu yang sekarang memang tidak ada. Tapi, dikehidupan yang lalu, kau dan wanita tua itu bersalah pada seluruh anggota keluargaku. Bahkan hingga kakek buyutku. Nikmati saja masa-masamu dipenjara, paling hanya seumur hidup." ujarnya santai


Dharma mengamuk, polisi yang sedang berjaga-jaga di dekat mereka langsung datang untuk melihat keributan yang terjadi. Mereka langsung menyeret Dharma kembali ke dalam sel


Setelah Dharma masuk, terlihatlah Amrita yang dibawa oleh beberapa orang polisi. Tangannya diborgol dan penampilannya nampak acak-acakan memang sudah seperti berwujud nenek sihir


"Ada apa kau kemari, Jalan*?" tanya Amrita


"Haha, Bu. Kenapa darah tinggiku semakin parah saja." ujar Pinkan mengejek


"Pergi kau! Aku tidak Sudi kau datang untuk menjengukku." ujarnya memalingkan muka


"Bu, kau jangan salah paham."


"Jangan memanggilku, Ibu. Aku bukanlah Ibumu. Bukankah dulu kau sangat tidak sudi memanggilku, Ibu." tandasnya marah


"Waw, Waw. Tempramenmu semakin menjadi-jadi, ya! Apakah kau kebanyakan makan yang asin-asin, Bu?" Pinkan kembali mengejek


"Diam kau, anak sialan! Pergi kau. Pergi dari sini." usirnya geram


"Kenapa aku harus pergi. Memangnya kantor polisi ini punyamu? Kau hanya numpang disini, sebelum kau di eksekusi." celetuknya tak berperasaan


"Kau jangan senang dulu anak ingusan. Aku hanya sementara disini. Setelah itu, aku akan bebas. Setelah aku bebas aku akan membuatmu mati." ancam Amrita sambil menyeringai


"Teruslah berandai-andai, Amrita. Karena, mungkin sebentar lagi kau tidak akan bisa melakukannya lagi. Sekarang sudah terlihat, kan. Siapa yang menangis diakhir." seru Pinkan


"Hahaha. Jangan seyakin itu, Pinkan. Aku akan segera bebas. Seharusnya, kau lah yang harus mencari tempat persembunyian mulai dari sekarang."

__ADS_1


"Oh, ya? Aduh, aku takut sekali." jawab Pinkan berpura-pura. "Lalu, bagaimana kalau kau tidak akan pernah bisa keluar dan menghirup udara bebas lagi karena laporan tuntutanku?" desis Pinkan sinis


__ADS_2