
"Lalu, bagaimana dengan tanggapan tuan Hartawan, Bu?" tanya Kiara yang semakin penasaran dengan kelanjutannya
Bu Wina hanya tertawa pelan melihat ke-antusiasan mereka dalam mendengar cerita dahulunya. Kemudian dia melanjutkan lagi menceritakan sejarah kanak-kanaknya
"Tuan Hartawan adalah seseorang yang Pistanthrophobia. Beliau sangat sulit untuk percaya kepada orang lain. Jadi, beliau menolak untuk membawa satu teman Jessy lagi. Beliau berjanji, jika Jessy ikut dengannya, maka beliau akan berdonasi ke panti ini dalam jumlah yang besar seumur hidup beliau. Tetapi, jika Jessy menolak, maka keputusannya untuk berdonasi pun dibatalkan." lanjutnya
"Mungkin, alasan beliau ingin mengadopsi Jessy, karena Jessy sudah menolong kakek itu?" Kiara menarik kesimpulan
"Benar sekali!" jawab Bu Wina sambil menjentikkan jarinya
"Jessy adalah orang yang baik. Kami tidak memaksanya untuk ikut jika dia tak ingin. Tetapi, dia mengambil keputusan untuk pergi bersama tuan Hartawan, agar panti ini mendapatkan donasi dan bisa menjadi lebih layak."
"Ibuku tidak mengatakan apapun saat akan pergi, Bu?" tanya Pinkan, dia ingin memastikan kebenaran di buku diary itu
"Seingatku, dia memintaku untuk menemaninya menemui Amrita untuk berbicara empat mata. Dan aku melihat dengan mataku sendiri, belum sempat Jessy mengatakan apapun, Amrita sudah menolaknya dengan perasaan marah. Lalu berlalu pergi" jelasnya lagi
"Tapi Bu Wina, dari mana dia mendapatkan kontak ibuku lagi?" tanya Pinkan dengan penasaran
"Dia memintanya padaku. Dia berpamitan pada kami semua untuk bekerja di kota. Dan, dia meminta alamat beserta nomor ponsel Jessy padaku. Awalnya, aku ragu untuk memberikannya, tapi dia berkata bahwa dia ingin meminta maaf langsung padanya atas sikapnya yang dulu. Tapi, aku tidak mengerti, kenapa Amrita bisa menjadi ibu tirimu?" tanya ibu Wina dengan mengernyit heran
"Aku juga tidak mengerti, Bu. Terima kasih atas penjelasan ibu. Kami permisi." ujar Pinkan dengan sopan. Dia menatap ke arah Verel yang sudah memasang wajah sendunya
Mereka keluar dari ruangan kerja Bu Wina. Saat mereka keluar, Patra, Rifqan, dan Zanna yang hanya menunggu di luar pun langsung memusatkan perhatiannya pada Verel yang terlihat murung
Mereka langsung menatap orang yang keluar bersama Verel dan menaikkan alisnya seolah sedang bertanya perihal yang terjadi. Tapi, yang ditanyai pun kompak untuk bungkam
"Zanna, Ayo bawa kami ke destinasi yang menyenangkan sekarang. Bagaimana, Pinkan? Kamu setuju, kan?" seru Kiara yang memecahkan keheningan
Pinkan hanya mengangguk. Dan dia kembali memperhatikan Verel yang terdiam seperti telah kehilangan ruhnya
Sepanjang perjalanan, mereka tertawa dan mengiringi nyanyian yang diputar pada dashboard mobil
"Zanna, kamu mau membawa kami kemana?" tanya Kiara
"Aku akan membawa kalian ke salah satu air terjun yang terindah dan tertinggi di desa ini, Kak." jawab Zanna
"Wah, pasti indah sekali. Patra, nanti kita live disana, ya?" Kiara terlihat sangat antusias
"Tapi sayangnya, disana tidak ada jaringan internet." jawab Zanna dengan cepat
__ADS_1
Kiara hanya menghela nafasnya. Dia merasa kecewa juga karena rencananya untuk live dan pamer kemesraan pada jagat raya akan gagal
Setelah sampai di destinasi air terjun yang dimaksud. Mereka masuk dan mematuhi aturan-aturan tertulis disana. Meraka terkagum-kagum dengan pemandangan yang disuguhkan oleh alam
"Rifqan, bolehkah kamu meninggalkan aku berdua dengannya sebentar?" pinta Pinkan
Rifqan yang mengerti dengan keadaan disitu pun mengangguk mengiyakan. Sebelum pergi, dia menepuk pundak Verel dan tersenyum seolah-olah pria itu sedang menyalurkan semangatnya
"Verel, kamu kenapa?" tanya Pinkan yang memulai percakapan
"Aku membenci ibuku, Kak. Kenapa dia bisa se egois itu?" ucap Verel lemah
Kamu masih belum tahu semuanya, Verel. Kamu hanya tahu sepertiga dari kejadian yang sebenarnya. Kamu masih belum tahu semua kejahatan yang dilakukan oleh ibumu, batin Pinkan sambil termenung
"Kamu membenci ibumu?" tanya Pinkan sekali lagi
"Ya." jawab Verel singkat
"Aku tahu bagaimana perasaan mu sekarang. Tapi, jika kamu membenci ibumu, itu semua adalah kesalahan besar! Kamu boleh membenci sikap dan tingkah lakunya yang jahat itu. Tapi, dia tetap ibumu. Jadi, kamu tidak boleh membenci orangnya." nasehat Pinkan
"Kenapa kamu masih membelanya, Kak? Jelas-jelas dia sudah berbuat jahat padamu dan ibumu! Dia itu wanita yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri saja." pekik Verel
"Apakah kamu tidak menyadarinya, kenapa ibuku mau menikah dengan ayah karena alasan apa? Bahkan, tanpa diberitahu pun, aku sudah paham!" ucapnya
"Lalu, kau mau bagaimana? Kau mau pulang dan menuding ibumu dengan semua pertanyaan yang berseliweran di kepalamu itu? Jika dia tidak mengaku, kau akan langsung membunuhnya?" tanya Pinkan dengan intonasi tinggi
Verel hanya diam. Dia juga bingung, harus bagaimana mengambil sikap. Dia hanya merasakan kecewa
"Kita hanya perlu mencari bukti yang sebanyak-banyaknya tentang apa yang sudah ibumu lakukan. Dan maaf, aku tetap akan mengambil jalur hukum untuk membayar semua yang sudah dia lakukan!" seru Verel
"Aku mengerti. Aku minta maaf." Verel pergi dari hadapan Pinkan
Harusnya aku tidak membawamu dan mengetahui semua ini. Aku tahu, ini adalah pukulan terbesar untukmu. Bahkan, aku pun sekarang sedang dilema saat ini. Aku tidak ingin membuatmu terpuruk. Tapi maaf, aku harus egois agar semua rasa sakitku terbalaskan. Aku tidak bisa berpura-pura menjadi dewa dan memaafkan semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Amrita, batin Pinkan. Dia menatap punggung Verel yang pelan-pelan mulai menghilang
"Pinkan!" ucap Rifqan
"Kenapa kamu kesini?" tanyanya dengan tatapan menyelidik
"Kau pasti sedang berpikiran mesum?" ujar Rifqan sambil menyentil dahi wanitanya
__ADS_1
"Memangnya bukan? Kau datang kesini karena ingin mencari kesempatan, kan?" selidik Pinkan
"Dasar wanita mesum. Aku datang kemari karena melihat Verel yang sudah pergi. Aku pikir kau akan tersesat. Jadi, aku menemui mu disini. Tapi, kalau kamu ingin berbuat mesum padaku juga tidak apa-apa. Aku tidak akan melawan dan menahannya dengan sukarela."
"Dasar pria mesum!" pekik Pinkan gantian
******
Di rumah keluarga Cleotra. Raka sedang duduk di taman belakang sambil membaca koran dan sesekali menyeruput teh hijau miliknya. Dia sedang membaca koran khusus bisnis, dia sedang fokus melihat harga pasar saham yang sedang melonjak saat ini
"Faruq Company semakin berkembang hebat. Tidak ada apa-apanya dengan perusahaan ku yang hanya ternilai seujung kuku. Semakin tidak bisa membiarkan Pinkan dekat dengan tuan muda pewaris perusahaan itu. Aku takut dia dipermainkan nantinya." gumamnya kemudian kembali menyeruput tehnya
"Raka, aku ingin berbicara." ucap Amrita yang duduk berhadapan dengan Raka di taman
"Katakan saja! Aku selalu mendengarkan." sahut Raka
"Sebentar lagi kan anak-anak sudah akan wisuda. Verel adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Kau juga sudah tua, tidak akan sanggup mengurus perusahaan lagi. Jadi, aku ingin kamu membalikkan nama perusahaan dan rumah ini atas namanya." pinta Amrita
Dia sengaja memilih waktu ini. Karena saat ini Pinkan dan Verel sedang tidak ada di rumah. Jadi, dia akan lebih leluasa untuk merayu laki-laki itu
"Rumah ini hadiah pernikahan dari keluarga mantan istriku. Jadi, ini adalah milik Pinkan. Aku tidak bisa mengubahnya menjadi milik Verel." bantah Raka
"Tapi kan tidak ada yang tahu. Mereka juga kan adik kakak. Tidak ada salahnya jika harus memberikannya pada Verel. Pinkan itu juga seorang wanita, dia pasti akan menikah dan pergi ke rumah suaminya kelak." Amrita berusaha menghasut Raka sekuat tenaganya
"Tapi itu sama saja berbuat tidak adil. Rumah ini jelas-jelas harus diberikan pada Pinkan. Jika keluarga Jessy tahu, mereka pasti akan marah!"
"Mereka tidak akan tahu. Kamu harus mewariskan semuanya pada anak laki-laki satu-satunya keluarga kita. Jika bukan untuknya, lalu kamu akan mewariskannya pada siapa? Lagi pula, Pinkan seorang wanita, dia tidak akan terlalu memikirkan tentang harta dan rumah ini. Dia akan mendapatkannya dari suaminya nanti. Kita bisa memberikannya villa kecil yang berada di bukit sana. Pasti dia menerima dengan sukarela pemberianmu." bujuk Amrita
Raka hanya diam, dia menelaah setiap kata-kata yang diucapkan oleh Amrita
"Kita harus menanyakan pendapat Pinkan terlebih dahulu." ujar Raka. Jujur saja, dia tidak ingin bersikap tidak adil pada salah satu anaknya
"Jangan! Jika kau berdiskusi dengannya. Yang ada, dia hanya akan marah padamu, dan membencimu. Dia akan berpikir kamu bersikap hanya memihak pada Verel yang statusnya pewaris yang sesungguhnya. Jadi, karena dia tidak tahu tentang rumah ini. Lebih baik jangan memberitahukan padanya." ucap Amrita
"Bagaimana jika suatu saat nanti dia tahu?" tanya Raka kemudian
"Dia tidak akan tahu kalau kamu tidak mengatakannya."
Apakah dia akan setuju? Baguslah, Raka! Setelah semua aset berubah menjadi nama Verel. Aku akan mengubahnya kembali menjadi namaku dan Dharma. Lalu, aku akan menendangmu dari sini, batin Amrita yang sudah membayangkan semuanya secara sempurna
__ADS_1