Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Kedatangan Dharma


__ADS_3

"Ternyata dia melakukan ini semua hanya karena merasa ter-khianati dan juga serakah dengan kekayaan." ucap Kiara yang tak habis


Pinkan tidak menjawab, dia masih terisak karena sudah terbukti bahwa Amrita lah yang memang memicu adanya penyakit dari ibunya yang membuat ibunya meninggalkan dia. Padahal, setahunya, ibunya adalah orang yang sangat sehat. Tapi, kenapa sewaktu ibunya meninggal dunia, malah mempunyai banyak riwayat penyakit. Ternyata, itulah penyebabnya


"Kita harus menemukan bukti lebih. Jika kita bisa menemukan bukti yang lebih banyak lagi. Lebih mudah untuk kita membuat dia membusuk di penjara!" ucap Pinkan dengan matanya yang memerah


"Ya, kau benar. Kita bisa mulai mencarinya dari panti yang membesarkan mereka." usul Kiara


"Tapi, kita tidak tahu dimana panti itu, kan?"


"Coba cari dibuku ini. Mungkin ada petunjuk, yang bisa memberitahu kita keberadaan panti itu menjadi lebih mudah." seru Kiara


Pinkan kembali membalikan halaman bukunya. Banyak terdapat foto-foto kenangan Amrita, termasuk foto beberapa jenis obat yang dapat memicu penyakit Jessy Shu


"Coba perhatikan yang ini. Sepertinya, ini mereka sedang berfoto di depan panti itu." ucap Pinkan


"Sini biar aku foto kan dan akan aku perjelas tulisan panti itu. Agar lebih mudah untuk melihatnya."


Kiara memotret foto yang di maksud, dia memperjelas dengan menjernihkan gambar. Dan akhirnya mereka dapat membaca tulisan yang awalnya terlihat buram


Setelah bisa melihat nama dan alamat panti, Kiara mencari alamat itu di internet


"Apakah sudah dapat?" tanya Pinkan tak sabaran


"Sudah. Butuh waktu sekitar lima jam untuk sampai di desa itu. Dan lagi, menurut info yang aku baca, kita harus memilih waktu yang sangat pas untuk pergi kesana. Karena, desa itu sangar rawan dengan terjadinya banjir atau longsor." jelas Kiara


"Terdengar sangat horor, ya?" tanya Pinkan


"Hem. Tapi, dibalik itu, desa itu sangat asri. Masih sangat alami dan juga sangat indah. Jika kita kesana di waktu yang pas. Kita bisa menikmati kesejukan dan keindahan desa itu, Pinkan!" ujar Kiara sambil menutup mata seakan telah dapat merasakan hawa sejuk dari desa yang diceritakannya


"Woah, aku ingin sekali mengunjungi kampung halaman ibuku. Tapi, bagaimana cara aku mendapatkan izin dari ayahku tanpa kecurigaannya?" ucap Pinkan kebingungan


"Kamu tenang saja, bagaimana jika seperti ini?" lalu Kiara membisikkan sesuatu ditelinga Pinkan. Akhirnya mereka tertawa dan ber-tos ria tanda setuju


****


Setelah dari rumah Kiara. Pinkan pulang ke rumahnya. Di sana, saat dihadapkan dengan Amrita seolah-olah dia langsung ingin mencekiknya hingga mati saat itu juga


Terdapat Verel, Amrita dan juga Raka di sana yang sedang menonton tv bersama. Pinkan juga ikut duduk bergabung, dia duduk di samping Raka dan mengambil beberapa camilan dan mengunyahnya sambil menyandarkan tubuhnya


"Ayah, Minggu ini tuan Admaja mengundang kita ke rumahnya. Kiara akan bertunangan." ucap Pinkan sambil memakan camilannya


"Sudah akan bertunangan? Dengan siapa?" tanya Raka yang tampak antusias


"Dengan, dengan Patra Novusul." jawab Pinkan sedikit gugup


Raka tahu siapa itu Patra Novusul. Tentu saja itu adalah adik dari dokter yang sudah mengobatinya. Jadi dia diam saja dan melanjutkan menonton tv

__ADS_1


Sedangkan Pinkan, dia menghela nafas lega karena Raka tidak bertanya lebih jauh tentang apa yang sudah ia cemaskan dari awal


"Oh iya, Raka! Sebelum kita pergi ke rumah tuan Admaja. Dharma akan datang kesini." ucap Amrita memberitahu


"Siapa itu, Dharma?" tanya Raka yang menghentikan aktivitas menontonnya sejenak


"Laki-laki yang akan aku kenalkan pada, Pinkan. Bukankah kamu memintanya untuk datang ke rumah segera?"


"Ya sudah, besok aku akan menunggunya di rumah." jawab Raka


Amrita tersenyum senang. Dia melirik ke arah Pinkan seakan ingin mengatakan bahwa gadis itu tidak akan menang melawan orang yang sudah lebih dulu makan asam garam sepertinya


"Bagaimana kalau kita juga membawa Dharma ke acara keluarga Admaja?" usul Amrita


"Tidak. Bagaimana mungkin dengan tidak tahu malunya kita membawa orang yang tidak diundang?" bantah Pinkan dengan cepat


"Kita yang diundang. Jadi, kalau kita membawa pacarmu juga tidak apa-apa, kan? sahut Amrita dengan sewot


"Maaf Bu. Aku baru akan berkenalan dengannya. Belum berpacaran!" tegas Pinkan


"Sudah, sudahlah. Jangan ribut lagi. Kita hanya pergi berempat saja. Tidak ada orang luar!" ucap Raka menengahi


Pinkan kembali masuk ke kamarnya. Dia menutup pintu rapat-rapat kemudian memutuskan untuk merilekskan dirinya dengan berendam di bathtub, dengan mencampurkan sabun mandi yang beraroma bunga yang menenangkan


"Kalau sampai Dharma ikut kesana. Bisa-bisa aku tidak ada kesempatan untuk berduaan bersama, Rifqan. Dan, mami Anya pasti akan salah paham denganku nanti." gumamnya sambil memainkan busa yang sudah bertumpuk di dalam bathtub


🌞🌞🌞🌞


Pagi hari, matahari baru samar-samar menampakkan dirinya pada penduduk bumi yang membutuhkan sinarnya. Pinkan terbangun, bukan karena tidurnya sudah cukup. Tapi karena perutnya yang sudah perih dan tidak berhenti berbunyi sedari tadi


Dia turun ke dapur, membuka tudung sajim Tapi belum menemukan apapun dibawah tudung saji itu. Saat dia sedang berjalan menuju lemari pendinginnya, bi Yem datang sambil membawa sapu dan beberapa baju kotor yang siap dicuci


"Kenapa, nona? Apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya bi Yem. Dia juga penasaran kenapa nona nya sekarang berada di dapur sepagi ini


"Kamu belum membuat sarapan ya?" tanya Pinkan


"Belum. Sebentar lagi saya akan membuatnya, nona. Tapi, kalau anda butuh sekarang, saya akan segera menyiapkannya." ujar bi Yem kemudian


"Memangnya terlihat jelas ya kalau aku sedang kelaparan? Sudahlah, aku sudah tidak sanggup menahan laparku. Kamu lanjutkan saja pekerjaan sana!" ucap Pinkan sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanda mengusir


"Baik, nona. Saya permisi." Bi Yem berlalu sambil menahan tawanya. Menurutnya, tingkah Pinkan memang sungguh lucu


Pinkan membuka lemari pendingin, dia mencari-cari roti dan selai kacang. Pagi-pagi seperti ini, dia tidak ingin makan cokelat karena akan membuatnya merasakan sakit gigi


"Nona, anda sedang apa?" tanya asisten rumahnya yang lain


"Huh! Kau tidak lihat aku sedang memegang roti dan selai ini? Tandanya aku sedang kelaparan lalu mencari makanan yang bisa aku makan!" ucap Pinkan seraya mendengus seperti banteng

__ADS_1


"Ah maaf, aku pikir anda sedang mencari bahan makanan karena ingin memasak." sahut asisten itu sambil tersenyum malu


"Sudahlah, pergi sana! Aku ingin menikmati makanan ku."


Tidak lama asisten itu pergi, turunlah Amrita dan juga Verel secara bersamaan. Walaupun mereka turun bersamaan, tapi jarak mereka berjalan bisa dikatakan lumayan jauh


Amrita menyadari hal itu. Dia merasa anaknya seperti sengaja semakin menjauhinya. Tapi, dia kembali ingat kata-kata Dharma untuk tidak ambil pusing dengan yang dilakukan Verel sekarang


"Pinkan, nanti kamu pakai gaun yang sudah ku siapkan, ya!" ucap Amrita yang sudah berdiri dihadapan Pinkan


"Kenapa banyak sekali pengganggu di rumah ini? Aku ingin makan dengan tenang saja sangat susah!" ucapnya. Dia tidak jadi memasukkan sisa roti yang sedang dia pegang ke dalam mulutnya


"Aku tidak berniat mengganggumu. Aku hanya ingin mengatakan itu saja agar kamu terlihat cantik."


"Ya, ya, ya! Apakah kamu sudah puas? Kalau sudah, silahkan pergi dari hadapanku, sekarang!" teriak Pinkan yang sudah jengah


Amrita hanya mengerutkan alisnya kemudian pergi dari sana tanpa berkata apa-apa. Dia melenggang dengan penuh percaya diri


********


Pinkan masuk ke kamarnya. Dia melihat gaun yang sudah tergolek di atas ranjangnya. Dia melihat gaun itu dengan tatapan heran


"Apakah ini yang di inginkan Amrita untuk aku pakai? Sudahlah, pakai saja sesuai keinginan wanita tua itu?"


Setelah dia pakai, pintu kamarnya sudah diketuk oleh bi Yem


"Nona, tuan Dharma sudah berada di bawah. Nyonya meminta anda untuk segera turun sekarang."


Begitu Pinkan turun, Raka menatap tajam ke arah Pinkan. Tampak Raka tidak suka dengan penampilan Pinkan sekarang


"Pinkan, kenapa kamu memakai gaun yang sangat seksi seperti itu? Kamu ingin menggoda siapa?" tanya Raka dengan geram


"Maaf ayah. Aku hanya memakai gaun yang diberikan oleh ibu. Menurut ibu, jika aku memakai gaun seperti ini, tuan Dharma pasti akan langsung menyukaiku. Dan, ibu juga memberitahuku untuk bersikap sedikit genit" ucap Pinkan sambil mengedipkan matanya pada Dharma


"Seperti ini kan, Bu? Aku sudah melakukannya dengan benar, kan?" Pinkan melakukan fitnah secara terang-terangan


"Benar begitu, Amrita? Bagaimana kamu bisa sememalukan itu?" tanya Raka yang kini sudah mengalihkan perhatiannya pada Amrita


"Aku, aku tidak." sangkal Amrita dengan terbata-bata


Pinkan hanya tersenyum pada Amrita. Kemudian dia melirik Dharma dengan tatapan sinis


"Tuan Dharma, sepertinya anda tidak bekerja, ya? Itulah kenapa anda bisa datang kesini di pagi hari? Atau, sudah ada orang yang menghidupi anda, jadi anda juga sudah tidak perlu bekerja lagi?"


Dharma dan Amrita sama-sama terkejut mendengar ucapan Pinkan


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, hadiah dan vote. Terima kasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2