
"Pacaran diam-diam!" jawab Rifqan enteng
"Pacaran diam-diam katamu? Dasar tidak masuk akal." bantah Pinkan
"Kau bertanya padaku, kan? Aku merasa lebih baik kita berpacaran diam-diam dari pada kamu menjauhi ku seperti yang sudah-sudah." jawab Rifqan jujur
"Tunggu!"
"Ada apa lagi? Apakah ada yang salah'?"
"Bukannya kamu mabuk? Kenapa kamu menjawab semua pertanyaan ku seperti orang normal."
"Ya. Aku menjebakmu." ucap Rifqan
"Dasar penipu. Lepaskan aku!" Pinkan kembali mencoba meronta-ronta minta di lepaskan
"Tidak mau. Jawab dulu pernyataan ku tadi." Bukannya melepaskan, Rifqan malah kembali mengeratkan pelukannya
"Aku tidak menerima pernyataan aneh darimu itu. Dasar gila." Pinkan masih belum menyerah dengan pemberontakannya
"Jadi, coba katakan padaku, kau punya solusi apa untuk hubungan kita berdua?" tanya Rifqan menjebak
Pinkan diam, jujur saja, dia memang tidak memiliki solusi apapun untuk hubungan yang cukup rumit itu. Rasanya, dia ingin melarikan diri saja seperti yang dilakukan kemarin-kemarin
"Kau ingin kembali menjauhi aku seperti yang kau lakukan kemarin-kemarin?"
"Jika itu bisa membantu, akan ku lakukan."
"Kau akan mengubur perasaanmu sendiri? Dan, melupakan aku?"
"Ya, mungkin saja seperti itu." tegas Pinkan
" Ya sudah, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku juga akan mulai mengubur perasaanku dan menikahi Vini!" tukas Rifqan
Rifqan langsung melepaskan pelukannya dan melangkah keluar kamar. Pinkan termenung dengan yang dilakukan pria yang sedetik tadi masih memeluknya. Tapi, dia kembali tersadar saat melihat pintu yang sudah terbuka
Pinkan langsung berlari dan memeluk Rifqan dari arah belakang. Dia menyembunyikan wajahnya di antara punggung kekar pria itu
"Coba saja jika kau berani menikahi wanita lain. Aku akan membunuhmu di saat malam pertamamu!" ucap Pinkan di tengah pelukannya
"Dasar bodoh, mana mungkin aku mau menikahi wanita lain selain kamu."
"Jadi, barusan kamu mengatakan itu, bukankah memang mau meninggalkan aku?"
"Aku hanya bercanda saja, aku tahu kamu pasti tidak akan rela, kan?" ujar Rifqan lalu tertawa. Rifqan berbalik menghadap Pinkan, saat Rifqan berbalik, Pinkan kembali menyembunyikan wajahnya di dada pria yang sedang ia peluk saat ini
"Kenapa bersembunyi? Aku ingin melihat wajah konyol mu itu. Hahaha!" Rifqan terus mengolok-olok wanita yang sedang berada dalam pelukan nya itu
"Kau sangat jahat!" Pinkan memukuli dada bidang pria itu
__ADS_1
"Hahaha, sudah jangan menangis lagi. Aku memang sengaja berpura-pura mabuk dan memancing mu untuk mengatakan semuanya."
"Kenapa kau bisa seperti itu?" Pinkan bertanya dan mendongak menunggu jawaban
"Karena, aku tahu. Kau tidak akan mengatakan permasalahan yang menimpa mu pada orang lain. Makanya, aku sengaja berbuat seperti ini agar kamu bisa berkata dengan jujur,"
"Aku mendengar semua yang kamu katakan tadi. Mulai sekarang, kamu harus jujur padaku apapun yang kamu rasakan dan inginkan. Aku akan menjagamu melebihi apapun. Aku akan membantumu membalaskan dendam mu juga!" bisik Rifqan pada kalimat terakhirnya
"Benarkah? Kamu mau membantuku?" tanya Pinkan seakan tak percaya
"Benar! Apapun untuk sayangku!"
"Sayangku? Sepertinya, aku pernah mendengar panggilan itu." gumam Pinkan
"Kamu, mau?" tanya Rifqan sekali lagi untuk memastikan. Jangan nanti udah Ge-er duluan. Taunya cuma di anggap teman
"Tentu saja aku mau. Tapi, untuk sementara waktu ini. Bisakah kita menyembunyikan hubungan kita dari publik?"
"Yang penting baik untukmu."
Rifqan mengecup bibir Pinkan sekilas. Lalu, dia kembali mengecup bibir mungil yang selalu menggugah selera saat ditatap. Dia memperdalam cium** diantara mereka, Rifqan menjulurkan lidahnya seakan menuntut
Sambil bercium**, Rifqan menuntun Pinkan untuk kembali ke kamar dan menimpanya di atas ranjang. Pinkan merasakan ada yang menusuk-nusuk perutnya. Tangan Rifqan sudah tak terkendali, tangannya yang jahil sudah meraba sana-sini. Habislah kamu Pinkan di *****-*****
"Aku, aku belum siap." ucap Pinkan dengan menggigit bibir bawahnya
Satu kata yang di ucapkan Pinkan. Mampu membuat jiwa Rifqan seakan melayang dan menghilang tidak kembali lagi untuk beberapa hari
"Aku akan siap jika kita sudah menikah!" sungut Pinkan
"Ya sudah, besok kita akan menikah." ucap Rifqan dengan antusias
"Kau ingin melamarku pada siapa?"
"Aku lupa! Kenapa ayahmu tidak menyukaiku? Apakah aku mempunyai kesalahan yang fatal dengannya?" tanya Rifqan hati-hati
"Tidak. Alasannya, karena kita berbeda. Kamu orang nomor satu di kota ini. Sedangkan kami, bahkan tidak berhak untuk mengikuti bayanganmu,"
"Ayah juga takut jika kamu akan mempermainkan aku dan akhirnya mencampakkan ku. Dan itu, membuatnya sedih dan kecewa karena dia merasa gagal menjadi seorang ayah." sambung Pinkan
"Lalu, bagaimana aku harus membuktikan pada ayahmu bahwa aku benar-benar mencintai anaknya, sedangkan kita saja harus sembunyi-sembunyi?"
"Bersabarlah. Aku yakin, suatu saat nanti pasti hati ayah akan terbuka untukmu. Tapi, aku membalaskan dendam ku dengan cara mendekati seorang laki-laki, apakah kamu tidak cemburu?"
"Jangan memprovokasi ku Pinkan Cleotra! Atau aku akan memakan habis dirimu sekarang juga!" tegas Rifqan
"Hahaha! Aku tidak sedang memprovokasi mu tuan muda. Tapi, apa yang aku katakan memang benar adanya seperti itu." Pinkan tertawa mendengar jawaban Rifqan yang mengiranya bercanda
"Apakah tidak bisa jika tidak mendekati laki-laki lain?" pandangan mata Rifqan tampak sendu
__ADS_1
"Katamu kamu akan mendukungku? Sekarang kenapa berubah?"
"Aku tidak berubah, aku pasti mendukung mu. Tapi, aku tidak rela kamu didekati oleh pria bajingan lain."
"Tenang saja. Aku tetap milikmu." Pinkan mengucapkan itu dengan senyuman tertulusnya kemudian memeluk tubuh pria yang berada di hadapannya
Akhirnya, aku mendapatkan kesempatan untuk menjagamu, dan sekarang kamu tersenyum tulus padaku, Rifqan mengelus-elus kepala Pinkan dengan senang
"Sudahlah, Ayo tidur, bukankah besok kamu akan menjemput ayahmu?" ucap Rifqan dan menyentuh hidung mancung milik Pinkan
"Apakah besok kamu akan hadir di sana?"
"Tidak. Besok aku ada meeting penting para petinggi perusahaan, tapi kamu tenang saja, aku akan selalu mengawasi kamu dari jarak jauh. Ayo, lekas lah tidur!"
Pinkan kemudian langsung terlelap. Sebelum tidur, Rifqan memandangi wajah cantik Pinkan lama. Dia sangat-sangat bersyukur karena sudah mendapat kesempatan yang selama ini ia inginkan
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Ketika fajar mulai menyingsing. Terdengar suara alarm yang berbunyi cukup kuat. Alarm itu sengaja di atur oleh Rifqan agar Pinkan tidak telat untuk pergi menjemput ayahnya. Karena, dia tahu bahwa hari ini adalah hari yang penting untuk wanitanya itu
Pinkan mulai mengerjapkan matanya dan mencari sumber bunyi alarm yang membangunkannya. Ketika dia mendapati ponsel Rifqan lah yang menjadi sumbernya, dia pun tersenyum
"Apakah dia sengaja mengatur alarm agar aku bangun lebih cepat. Sangat pengertian." ucapnya lirih
Setelah mencuci mukanya. Pinkan segera turun dan menjumpai bi Leta yang sedang memasak sarapan untuk tuannya yang jarang berada di sana
"Bi, aku akan pulang sekarang. Nanti tolong bangunkan Rifqan agar dia tidak terlambat ke kantornya, ya?" pesannya
"Baik nona. Apakah anda mau sarapan terlebih dahulu?"
"Tidak, aku sedang buru-buru sekarang. Aku pergi!" jawab Pinkan sambil berlalu
Pinkan menyetop taxi yang sedang melintas, dia langsung mengatakan alamat rumahnya. Dia tahu, sesampainya di rumah, pasti Amrita akan mengomelinya dan menyindirnya habis-habisan
Pinkan masuk ke dalam rumahnya. Terdapat Verel dan Amrita yang sedang sarapan. Melihat Pinkan yang baru pulang, Amrita langsung menyunggingkan senyum sinisnya
"Hebat sekali anak zaman sekarang, ya! Ayahnya tidak ada, dia malah keluyuran dan pulang pagi."
Pinkan tidak mempedulikan ocehan Amrita. Dia terus berjalan dan saat di atas tangga, Amrita kembali mengeluarkan suaranya karena kesal tidak dipedulikan oleh Pinkan
"Memang sangat mirip seperti ibunya. Sama-sama jala**." ucapnya kemudian kembali menyuapkan roti ke dalam mulutnya dengan santai
"Ibuku? Sepertinya, kamu sangat mengenal baik ibuku ya, Amrita?" sindir Pinkan kemudian
"Tidak. Bagaimana, bagaimana mungkin?" Amrita gelagapan menanggapinya
"Benarkah? Tapi, kenapa sepertinya kamu terlihat sangat mengenal karakter ibuku? Seperti sangat akrab!?" ucapnya lalu menyeringai
"Aku sudah kenyang!" Amrita langsung masuk ke kamarnya
__ADS_1
Pinkan yang menangkap sikap Amrita yang gelagapan, dia menyeringai. Merasa berhasil sedikit memprovokasi ibunya yang sangat menyebalkan itu
Kena kau, Amrita! Jika aku mengetahui kau yang menyebabkan ibuku menderita dan membuatku harus kehilangannya untuk selama-lamanya. Maka, berhati-hatilah untuk kedepannya!