Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Sesuatu Yang Tak Diharapkan


__ADS_3

TOK..TOK..TOK


Pintu Pinkan di ketuk berkali-kali oleh bi Yem yang seperti nya tergesa-gesa saat memanggil Pinkan


"Nona, ada tuan Rifqan di bawah." ucap bi Yem di sela-sela ketukan pintu nya


Pinkan langsung menegakkan kepala nya, dia langsung menghapus air mata nya yang tadi sempat menetes. Dia langsung menyimpan buku diary itu ke tempat yang menurut nya paling aman


"Dimana dia?" tanya Pinkan yang masih berdiri di pintu kamar nya


"Di bawah nona." jawab bi Yem


Pinkan langsung mengunci pintu kamar nya, dia masih merasa tidak aman meninggalkan sesuatu yang penting di dalam kamar nya. Dia sengaja mengunci kamar nya agar tidak ada orang yang bisa masuk sembarangan


Pinkan langsung turun ke bawah, saat menginjak anak tangga yang terkahir, Pinkan sudah melihat tuan muda Rifqan yang tersenyum manis padanya. Namun tidak dengan Pinkan, dia hanya menatap Rifqan dengan datar


"Ada apa?" tanya Pinkan sambil mendudukkan bokong nya di sofa yang berada jauh dari Rifqan


"Kenapa kau duduk nya jauh sekali?"


"Aku sedang flu, takut nanti kau akan tertular." jawab Pinkan cuek dan melihat ke arah lain


"Aku kesini ingin mengunjungi mu, perasaan ku selalu saja tidak enak. Ternyata kamu memang sedang sakit."


"Apa hubungan nya perasaan mu yang tidak enak dengan keadaan ku yang kurang sehat?"


"Kita kan satu hati! Apa pun yang kau alami, pasti aku akan merasakan nya juga." gombal Rifqan


Wajah Pinkan langsung memerah, dia tidak bisa membohongi diri nya sendiri bahwa dia memang sudah jatuh cinta pada pria di depan nya ini


"Sekarang kau kan sudah melihat keadaan ku, jadi kau bisa pulang karena aku ingin istirahat." ketus Pinkan


"Aku membawakan buah segar untuk mu. Aku juga sedang ada pekerjaan di kantor. Jadi, aku akan pulang sekarang."


Rifqan langsung berdiri dan melangkah keluar pintu, namun dia masuk kembali dan hal itu membuat Pinkan menoleh ke arah nya


"Ada apa lagi? Tidak ingin pergi bekerja?" tanya Pinkan


"Kau tidak berniat mengantarkan aku sampai depan?" tanya Rifqan dengan nada sedih yang dibuat buat


"Aku kan bukan istri mu. Hanya seorang istri yang mengantarkan suami nya pergi bekerja."


"Tapi kamu akan menjadi istri ku kelak." sahut Rifqan dengan tersenyum


Pinkan langsung berdiri dan mendorong Rifqan keluar, dia langsung menutup pintu nya hingga bersuara dengan keras


"Tidak ada yang berani bersikap seperti ini padaku kecuali kamu." ucap Rifqan sambil menggosok dada nya karena terkejut


Rifqan langsung mengendarai mobil nya meninggalkan kediaman keluarga Cleotra. Rifqan menuju kantor nya, tapi saat dia membuka pintu dan segera masuk ke ruangan nya. Rifqan begitu malas saat melihat seseorang yang sedang duduk di kursi kebesaran milik nya


"Rifqan..." wanita itu langsung berlari ke arah Rifqan dan memeluk pinggang nya


"Lepas kan! Jangan lancang seperti ini." Rifqan langsung menolak wanita itu seakan dia alergi dengan wanita yang berada di depan nya saat ini


"Aw, sakit sekali Rifqan. Aku hanya rindu padamu."


"Vini! Harus berapa kali ku katakan padamu? Aku hanya menganggap kau sebagai adik ku, jangan melampaui batasan mu." tegas Rifqan


"Tapi aku sangat mencintai mu, tolong mengertilah Rifqan." mohon Vini


"Jangan katakan hal yang tidak ingin ku dengar. Dan sekarang keluar lah dari sini!" Bentak Rifqan


"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kamu menerima cinta ku." kekeh Vini


"Patra!" Rifqan berteriak memanggil bawahan nya


Patra yang sudah dari tadi mendengar keributan di dalam, namun dia tidak mau ikut campur dengan perihal pribadi bos sekaligus sahabat nya itu. Tapi saat nama nya di teriaki dengan keras seperti itu, dia akan selalu siap siaga untuk menerima perintah

__ADS_1


"Ya, tuan?" ucap Patra yang sudah ada di depan pintu


"Usir tamu tak di undang ini keluar, lain kali jangan ada yang masuk ke ruangan ku lagi jika tidak ada kepentingan." tegas Rifqan


"Baik tuan." Patra langsung menarik tangan Vini dan menyeret nya keluar. Namun Vini malah memberontak


"Lepaskan tangan ku! Aku ini seorang artis terkenal. Bahkan agensi ku adalah Faruq Company." teriak nya


"Lepaskan dia Patra." perintah Rifqan kembali


"Aku tahu, kau tidak akan benar benar mengusirku." Vini tersenyum dan berjalan ke arah Rifqan dengan maksud ingin memeluk tuan muda tersebut


"Berhenti disitu! Jika kau merasa kalau kau adalah artis terkenal sehingga kau tidak boleh di perlakuan semena-mena, tapi kau selalu berlaku semau mu sendiri. Yasudah, apa boleh buat." ucap Rifqan yang menatap ke arah Vini dengan tajam


"Patra, keluarkan saja dia dari agensi kita." perintah Rifqan


Vini yang tadi nya tersenyum karena mengira Rifqan akan membela nya, mengubah wajah nya menjadi masam. Dia sangat tidak menyangka dengan apa yang dia alami sekarang


"Kau..!" Vini menghentakkan kaki nya dengan kuat dan langsung melenggang pergi dari sana


"Kau bisa kembali bekerja." ucap Rifqan pada bawahan nya


Patra hanya mengangguk dan langsung menutup kembali pintu ruangan atasan nya


"Siapa yang memberikan nya kebebasan seperti itu, sampai dia berani masuk ke ruangan ku."


Rifqan memutuskan untuk menelpon ibu nya untuk memberi tahu yang baru saja terjadi. Dia mengira, ibu nya lah yang memberi kebebasan hingga memunculkan keberanian Vini


Setelah menunggu beberapa detik, telpon nya langsung di jawab oleh mami Anya


"Ya, Rifqan?"


"Mami, Vini sudah terlalu berani. Bahkan hari ini dia masuk ke ruangan ku tanpa izin dan bersikap kurang ajar padaku. Apakah mami yang memberikan nya keberanian untuk berbuat seperti itu?"


"Tidak, mami tidak tahu apa yang sudah Vini lakukan padamu. Tapi semua yang di lakukan Vini, tidak ada hubungan nya dengan mami." jawab Anya


"Ya. Mami juga tidak menyukai sifat angkuh nya itu. Tentu saja, mami lebih menyukai Pinkan."


Rifqan yang mendengar pernyataan mami nya langsung tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa hati mami nya memang sudah sangat lengket dengan wanita yang juga sedang mengaduk-ngadukkan perasaan nya


"Maafkan Rifqan mi, tidak bertanya terlebih dahulu. Yasudah, Rifqan akan lanjut bekerja, Rifqan tutup dulu ya mi."


"Iya, jangan lupa untuk bawa calon menantu mami pulang ya." ucap Anya di sela-sela telpon nya dan langsung mematikan sambungan telepon nya


Sedangkan Kiara sudah duduk bersama kedua orang tua nya, dia di sidang habis-habisan oleh kedua orang tua nya karena masalah yang di timbulkan oleh Patra kemarin


Sebenar nya, orang tua Kiara sudah tahu kalau Patra memang bukan calon suami Kiara, tapi menurut mereka ini lah saat yang tepat untuk menikahkan anak nya dengan laki-laki baik seperti Patra. Ayah Kiara juga merasa kalau Patra mempunyai perasaan pada putri nya


Kalau tidak punya perasaan yang lebih, laki-laki mana yang mau ikut campur urusan orang lain dan mengaku sebagai calon suami nya pula


"Jadi, kapan kamu akan membawa calon suami mu kesini?" tanya ayah nya otoriter


"Ayah, dia bukan lah calon suami ku."


"Ayah tidak ingin mendengar pengakuan mu yang lain, ayah hanya akan mendengar pengakuan mu di depan umum kemarin."


Kiara menghela nafas nya dengan kuat, dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada kedua orang tua nya sekarang ini.


"Aku akan menelpon tuan Patra, agar dia menjelaskan yang sebenarnya pada ayah." sahut Kiara


"Silahkan, akan ayah tunggu." kemudian, ayah nya berdiri dan pergi dari persidangan anak nya itu


Kiara mencoba menelepon ke nomor yang mengirimi nya pesan tempo hari, dia yakin kalau itu memang lah nomor Patra


Baru satu detik dia mencoba panggilan itu, ternyata sudah terhubung


Cepat sekali, batin Kiara

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Patra di balik layar dengan wajah memerah dan jantung berdetak kencang


"Hem, boleh kah aku meminta waktu mu sebentar?" tanya Kiara perlahan takut menganggu pekerjaan pria itu


"Tentu saja, aku sedang tidak sibuk." padahal, ada setumpuk dokumen di depan nya yang harus di selesaikan empat jam lagi


"Bisakah kamu datang ke rumah ku sekarang, dan menjelaskan yang terjadi sebenar nya pada ayah ku?"


"Kirimkan saja alamat nya, aku akan segera datang kesana."


"Ya, baiklah..." Kiara langsung mematikan sambungan telepon nya dan mengirim alamat rumah nya


Tidak membutuhkan waktu lama, Patra sudah sampai di rumah Kiara. Kiara langsung menyambut Patra karena sedari tadi Kiara memang sudah menunggu di teras rumah nya sambil mondar-mandir cemas takut Patra tidak akan datang


"Ayo..." Kiara langsung menggandeng tangan Patra masuk ke dalam rumah nya


Patra langsung melihat ke arah tangan nya yang di gandeng Patra dan tersenyum tipis. Jujur saja, dia sangat senang


"Tunggu sebentar disini, aku akan memanggil orang tua ku." ucap Kiara dan Patra hanya mengangguk


Terlihat lah orang tua Kiara yang turun bersama dengan anak nya, Kiara tampak menunduk. Sedangkan kedua orang tua Kiara sudah memasang wajah datar nya yang membuat Patra menelan Saliva nya


"Tuan Admaja, perkenalkan saya Patra." Patra mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan tuan Admaja


"Ya, duduk lah." seru tuan Admaja


Mereka duduk dalam keadaan sunyi, tidak ada orang yang mengatakan sepatah kata pun disitu. Patra berulang kali menggosok kedua tangan nya, dan menelan Saliva nya. Tenggorokan nya terasa tercekat karena menurut nya orang tua Kiara sangat seram


Kenapa dia tidak mengatakan apa pun, apa guna nya dia disini jika hanya diam saja, batin Kiara


"Ayah dia..." lagi-lagi perkataan Kiara langsung di potong ayah nya


"Kau calon suami Kiara, tuan Patra?" tanya Admaja


"Benar tuan, aku memang calon suami Kiara."


Mata Kiara langsung membulat sempurna seakan keluar dari tempat nya, dia tidak percaya dengan keadaan yang berbalik seperti ini. Kenapa ini berbeda seperti yang dia harapkan


"Kau..?!"


"Jika memang benar kau calon suami anak ku, untuk apa memanggil tuan. Panggil saja aku Ayah."


Raut wajah Admaja seketika menjadi tersenyum puas, begitu pula dengan istri nya yang memang sudah menanti momen ini begitu lama. Tapi berbeda dengan orang di sekeliling nya, wajah Kiara malah berubah menjadi pias


"Jadi, kapan kakak mu akan datang kesini? menentukan tanggal." ibu Kiara akhir nya membuka suara


"Secepat nya..." jawab Patra yang sudah sangat antusias


"Bagaimana kalau Minggu depan?" tanya tuan Admaja lagi


"Sebentar, aku perlu berbicara dengan nya." Kiara langsung menarik tangan Patra dan membawa nya ke halaman belakang


"Kenapa kau malah mengakui bahwa kamu adalah calon suami ku?" tanya Kiara dan menatap Patra dengan tajam


"Karena aku memang ingin menjadi suami mu!" tegas Patra


Mata Kiara kembali membulat, dia masih sulit untuk percaya dengan keadaan yang dia hadapi sekarang


"Tolong mengerti lah tuan Patra. Aku tidak menyukai mu!" tegas Kiara


"Terserah, rasa cinta mu akan timbul seiring waktu berjalan. Dan aku akan menunggu waktu itu sampai kapan pun."


"Tapi aku…"


"Maaf, karena aku sudah memaksa mu." ucap Patra dan langsung pergi dari hadapan Kiara begitu saja


"Bagaimana bisa jadi seperti ini? Bukan ini yang aku inginkan." Kiara menangis hingga terduduk lemas di lantai

__ADS_1


__ADS_2