
Pinkan langsung menoleh ke arah samping dan melihat pemandangan luar yang awan nya sudah menggelap seperti perasaannya saat ini. Mereka hanya diam seribu bahasa, tidak ada lagi candaan atau suara yang mereka keluarkan seperti biasanya
Setelah kebut-kebutan selama beberapa menit, Rifqan akhirnya sampai di rumah Kiara. Dia baru membuka pintu, tapi laki-laki itu sudah mengeluarkan suara yang menurutnya tidak enak untuk di dengar
"Besok aku akan menjemputmu dan mengantarkanmu ke rumah sakit untuk chek-up." ucap Rifqan
Baru saja Pinkan ingin membantah, tapi Rifqan lagi-lagi mengeluarkan titah nya yang tidak bisa di tolak oleh siapapun
"Jangan membantahku. Ingat kontrak kita, jika bukan aku yang mengantarmu, orang tuaku akan curiga!"
"Baik, terima kasih." jawab Pinkan dengan enggan dan langsung menutup pintu mobil
Tanpa basa-basi lagi, Rifqan langsung melajukan kendaraannya dari sana
Maafkan aku Pinkan, jika dengan cara halus kau malah menjauhiku. Terpaksa, aku harus menggunakan cara seperti ini untuk memilikimu, batin Rifqan
Pinkan berjalan ke arah rumah Kiara. Terlihat Kiara yang sedang duduk di bangku terasnya seperti sedang menunggu kehadiran nya
"Kenapa lambat sekali? Berkencan dulu ya?" goda Kiara
Pinkan enggan menjawabnya, dia hanya menanggapi dengan tersenyum masam. Lalu, Kiara langsung merangkul nya untuk masuk ke dalam
"Dimana paman dan bibi? Apakah mereka tahu aku akan menumpang di sini?" tanya Pinkan celingak-celinguk
"Menumpang? Apa-apaan kau ini? Ini juga adalah rumahmu. Jadi, tidak ada yang namanya menumpang!" dikte Kiara
"Baiklah, terima kasih untuk bantuan mu. Dimana kamar ku?"
"Kamarmu ada di sana. Disebelah kamarku." ucap Kiara sambil berjalan mendahului sahabatnya
"Apakah ada makanan yang bisa aku makan sekarang? Aku sangat lapar sekali." tanya Pinkan
"Kita pesan saja di luar ya. Kalau mama ku pergi, tidak ada yang memasak." ucap Kiara dengan memasang tampang tidak tahu malunya
"Tidak perlu, biar aku saja yang memasak." celetuk Pinkan
"Ah, jangan. Kamu kan masih sakit. Manaada orang sakit yang memasak." cegah Kiara
"Ada. Aku ini yang akan memasak saat sedang sakit."
Pinkan langsung berjalan dan membuka lemari pendingin yang terletak di dapur. Dia mulai memilah bahan-bahan yang akan di jadikan santapan untuk mengisi perutnya
"Kamu mau makan apa?" tanyanya pada Kiara
"Aku? Sebentar aku pikir dulu ya. Sepertinya, aku ingin..."
"Sudahlah, kelamaan kau memikirkannya. Aku akan memasak nasi goreng saja. Perutku sudah terlalu lapar jika harus menunggu mu." sanggah Pinkan
"Untuk apa kau bertanya. Menyebalkan!" gerutu nya sambil duduk di meja makan
Setelah mereka selesai makan. Pinkan langsung merebahkan tubuhnya,. dia menatap langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang di katakan oleh tuan muda itu
"Apa maksudnya tadi, dia mencintaiku atau mendekatiku hanya karena kontrak itu saja." Pinkan berbicara sendiri sambil bertanya-tanya
Dia menepiskan semua pemikirannya itu. Dia kembali turun ke bawah dan mencari Kiara di dalam kamarnya yang sedang membaca buku
"Ada apa?" tanya Kiara saat melihat pintu nya yang di buka dari luar
__ADS_1
"Hem, apakah aku menganggu?" tanya Pinkan basa-basi
"Menurutmu, bagaimana?" tanya Kiara balik
"Aku tahu aku memang sedang menganggu kutu buku. Tapi, ada hal yang lebih penting."
"Hal penting apa? Apakah tidak bisa menunggu besok?" tanya Kiara malas
"Tidak. Aku ingin membahas masalah cafe denganmu, tapi jika kamu terlalu sibuk, tidak masalah juga."
"Pinkan, kau ini sangat pintar mencari alasan."
"Aku belajar banyak darimu." jawab Pinkan dengan enteng
"Kapan kita akan datang untuk melihat lokasinya secara langsung?" tanya Pinkan lagi yang sudah duduk di tepi ranjang
"Santai saja dulu, sekarang kamu masih sakit. Jangan terlalu memaksakan, kita bisa pergi kapan saja kalau kamu sudah sembuh total." ucap Kiara yang sudah menutup bukunya
"Baiklah, apa kamu sudah mendengar rumor tentang ku?" tanya Pinkan sambil menyelidik
"Rumor apa? Aku tidak tahu apapun." bohong Kiara
"Benarkah? Aku kecewa sekali, aku pikir kamu lebih dulu mengetahuinya dari pada aku."
"Maaf... Aku tidak ingin memberitahu mu karena takut kamu terkejut. Kamu kan belum sepenuhnya sembuh." jujur Kiara dan menunduk
"Aku tidak masalah. Aku juga tahu dari Verel, aku memang menunggu mu untuk mengatakannya. Tapi, aku tidak mendengarnya sampai sekarang." ucap Pinkan
"Ya maaf, aku juga sangat terkejut mendengar rumor itu. Aku sedang menyelidiki siapa yang menyebarkannya."
"Aku juga sangat penasaran, terutama sangat penasaran dengan reaksi seperti apa yang akan di perlihatkan oleh Dharma!"
"Baiklah, aku juga sudah sangat lelah. Besok harus kembali melakukan check-up. Selamat malam." Pinkan berjalan dan mematikan lampu, bertujuan untuk menjahili sahabat nya itu
"Terima kasih sudah membantuku mematikan lampu." ejek Kiara karena sikap jahil Pinkan tidak berefek padanya
Pinkan kembali ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya yang di rasa semua persendiannya sudah mulai patah
"Ah, sangat tidak nyaman seperti ini. Sepertinya, besok aku harus minta diresepkan obat untuk persendian ku juga, agar tidak seperti orang lansia yang sangat mudah lelah."
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Keesokan paginya, Pinkan bangun lebih awal. Dia langsung menuju ke dapur, karena dia tahu, kalau ingin sarapan ya harus memasak sendiri. Bahkan, harus membuat lebih untuk sang empunya rumah
Pinkan membuka lemari pendingin dan tidak melihat sesuatu yang segar. Dia hanya melihat sayuran yang mulai layu dan keriput yang sudah termakan usia
Tanpa berpikir panjang, dia langsung membuat nasi goreng lagi dan menaruh telur berbentuk matahari di atasnya
"Wah, sedap sekali baunya. Sangat menggugah selera." ucap seseorang
Pinkan terkejut mendengar suara itu, karena suara itu bukan berasal dari Kiara. Dan, suara itu juga sangat tidak asing di telinganya
Pinkan langsung berbalik ke belakang dan membulatkan matanya
"Rifqan, sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Pinkan
"Sejak kamu mulai asyik memasak makanan yang membuatku merasakan lapar kembali." jawab Rifqan dan berjalan ke meja makan
__ADS_1
"Jujur sekali." ucap Pinkan
"Ayo, sajikan makanannya untukku. Kamu tunggu apa lagi? Aku sudah lapar." ucapnya tak tahu malu
"Aku tidak memasak lebih, hanya untuk aku dan juga Kiara."
"Untukku saja. Biarkan dia masak yang lain, yang ini untukku." Rifqan menarik piring yang berisi nasi goreng itu ke hadapannya
"Pelan-pelan, tidak ada yang akan merebut makanan mu!"
Uhuk-uhuk...
Rifqan terbatuk-batuk mendengar kalimat yang di lontarkan Pinkan, terlihat sekali dia makan seperti orang rakus yang terlihat sudah tidak makan bertahun-tahun
"Aku ke atas dulu, bersiap-siap."
"Jangan lama. Aku akan menunggu di dalam mobil."
Di dalam kamar, Pinkan mulai memilih pakaian yang akan digunakan. Dan dia memilih untuk hanya mengunakan pakaian santai saja. Dia memakai dress longgar berwarna merah muda dan mengikat rambutnya kuncir kuda. Lalu, dia mengoles lipstik yang tidak terlalu cerah, hanya agar bibirnya tidak terlihat terlalu pucat
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ucap Pinkan setelah turun ke bawah dan langsung masuk ke dalam mobil milik Rifqan
"Mulai besok, kamu harus mengantarkan makan siang ke kantorku!" ucap Rifqan sambil fokus menyetir
"Apa? Aku tidak salah dengar?" teriak Pinkan
"Tidak! Kamu tidak perlu teriak-teriak, telingaku masih bagus." tegur Rifqan
"Kau mau menjadikan aku koki gratis mu?" tanya Pinkan tak terima
"Bukan, aku hanya merasa masakan mu lumayan. Jadi, sangat sayang jika di sia-siakan."
"Lumayan? Apakah kamu sadar, kamu tadi makan seperti orang kesetanan. Tapi, masih mengatakan masakan ku lumayan? Huh!" Pinkan mendengus kesal
"Tadi aku hanya merasa sangat lapar, makanya aku makan dengan terburu-buru seperti itu." alibi Rifqan
"Rifqan, alasan mu itu sangat lucu."
"Terserah kau saja ingin mengatakan apa. Yang terpenting, mulai besok kamu harus menyiapkan makan siang untukku dan kamu sendiri yang harus mengantarkannya ke kantorku!" titah nya
"Kamu ini sangat merepotkan ya! Sangat suka memerintah!" ucap Pinkan merasa sebal
"Jangan membantah, ingat kontrak kita." ucap Rifqan memperingati
"Haruskah kau selalu mengingatkan ku tentang kontrak itu di setiap saat kita bertemu?"
"Aku hanya memperingatkan mu saja, jangan sampai orang tuaku curiga." jawabnya enteng
"Baiklah tuan muda... Tapi, aku mempunyai satu permintaan." jawab Pinkan yang mulai jengah dengan obrolan mereka
"Apa? Katakan saja!"
"Kau harus mengatakan pada sekretaris mu untuk menjemputku di lobi kantor besok, aku tidak ingin menjadi bahan gosip karyawan kantormu yang seakan-akan aku ingin merayu CEO mereka." pinta pinkan
"Itu adalah perihal yang gampang. Dan ingat, kamu harus membawakannya dua porsi!"
"Untuk kau dan Vini?" tanya Pinkan dengan wajah merah karena menahan marah
__ADS_1
"Mungkin saja, kau lihat saja besok." jawab Rifqan sekenanya
Pinkan langsung terdiam dengan perasaan yang rancu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang harus menuruti keinginan tuan muda ini dan tanpa membantah satu kata pun yang keluar dari mulutnya