
"Hey, jangan terlalu keras suaramu. Nanti orang yang mendengar aku tengah melakukan yang tidak-tidak padamu." Rifqan berbisik di telinga Pinkan. Kemudian dia menghidupkan lampu untuk menerangi ruangan itu
"Kau! Kenapa kau seperti seorang pedofil yang sedang menculik anak? Kenapa kau di sini, Rifqan?" tanya Pinkan yang memasang wajah cemberut karena marah pada Rifqan yang sudah membuatnya terkejut dan takut
"Jangan terlalu serius, aku hanya sedang bercanda denganmu saja." ucap Rifqan sambil memeluk Pinkan dari belakang
"Bercanda mu tidak lucu tuan muda Rifqan!" sungut Pinkan dengan kesal
"Sudah-sudah, jangan marah. Kamu sangat cantik malam ini Pinkan." ucap Rifqan kembali berbisik
"Jadi, menurutmu, lain kali aku tidak cantik, begitu?" tanyanya yang mungkin bertambah kesal
"Haha. Kenapa kau marah pada orang yang memujimu, Sayang? Kamu sangat wangi, rasanya aku ingin..." bisik Rifqan yang mulai menciumi tengkuk Pinkan
"Hey! Jangan begitu, aku geli." Pinkan berusaha melapaskan pelukan mereka
"Geli? Aku sangat ingin membuatmu merasakan geli yang melebihi dari ini, sayangku." ucap Rifqan yang masih mengendus-endus sambil menggesek hidungnya di leher jenjang Pinkan
"Cukup Rifqan, kita sedang berada di acara penting Kiara dan sahabatmu. Disini ada orang tuamu dan orang tuaku. Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak jika melihat kita berduaan disini, Rifqan!" pekik Pinkan
"Hem baiklah. Sekarang, aku akan memberikan hukuman untukmu, karena kamu berani-beraninya memakai baju yang seksi di depan pria lain!" ucap Rifqan, kemudian dia membalikkan tubuh Pinkan dan langsung ******* bibir ranum itu dengan rakus. Sampai Pinkan memukul pelan dada bidangnya, barulah ia berhenti
"Kamu sudah paham, kan? Aku tidak suka kamu berpenampilan seperti itu di depan pria lain." kata Rifqan sambil menatap manik hitam bola mata Pinkan
"Aku mengerti!" jawab Pinkan tersenyum. Dia merasa senang, karena laki-laki yang sedang memeluknya saat ini merasakan cemburu
Rifqan kembali mencium Pinkan, dia memeluk pinggang ramping itu dan juga menekan tengkuk wanita itu. Dia menciumnya dengan lembut dan seperti sedang menikmati hangatnya bibir wanitanya
"Dan, ini untuk menyembuhkan rasa rinduku." ujarnya setelah melepaskan ciuman mereka
"Sekarang, ayo kita keluar. Aku takut nanti ayah akan mencariku."
"Tidak. Kita disini saja, ya? Aku tidak ingin keluar dan harus berpura-pura tidak mengenalmu." pinta Rifqan
"Oh ayolah, Rifqan! Kita harus keluar dari sini sekarang. Jangan buat temanmu kecewa dihari pentingnya karena kau tidak menampakkan dirimu." bujuk Pinkan
"Baiklah. Tapi, cium aku disini dan disini, lalu disini, kemudian disini." pinta Rifqan sambil menunjukkan seluruh bagian wajahnya
"Kau memintaku untuk mencium semua bagian wajahmu, kan?" tanya Pinkan dengan jengah
"Kau memang sangat pintar, calon istriku!" jawab Rifqan dan tersenyum malu-malu
"Dasar pria tua yang kekanak-kanakan!"
Pinkan menuruti keinginan Rifqan. Dia berpikir lebih baik menuruti keinginan pria ini dari pada harus bermalam di ruangan itu dan mungkin akan ketahuan oleh ayahnya nanti
"Sudah, dan ini bonus." dan Pinkan mengecup bibir Pinkan sekali dan langsung berlari keluar dari ruangan itu
"Kau sangat nakal kelinci kecilku. Aku akan menerkam mu bagaikan serigala." ucap Rifqan dan menggosok bibirnya dengan ibu jarinya
"Pinkan, kamu kemana saja?" tanya Raka yang sedari tadi sudah mencari Pinkan keliling-keliling
"Tuan Raka, bisakah aku meminjam putri anda untuk menemani putriku?" seru nyonya Admaja
"Tentu saja, itu memang sudah tugasnya sebagai sahabatnya." jawab Raka sembari tersenyum
Pinkan pergi bersama Nyonya Admaja. Pinkan menghela nafas lega karena tak perlu menjawab pertanyaan ayahnya. Dia takut salah saat menjawabnya dan akan membuat ayahnya curiga nantinya
"Tenang saja, aku sudah menyelamatkanmu, Pinkan." ucap Nyonya Admaja yang seakan mengerti kegundahan hati Pinkan
__ADS_1
"Hehe, terima kasih Nyonya. Jujur saja, aku sangat gugup tadi."
"Aku mengerti, anak muda memang harus terus memperjuangkan cintanya." nasihat ibu Kiara
"Ah, aku takut tak bisa terlalu lama memperjuangkannya jika tak ada perubahan sama sekali." jujur Pinkan
"Kau tahu? Sebenarnya, aku sudah tahu dari awal kalau Kiara dan Patra itu memang bukanlah sepasang kekasih. Tapi, Patra sudah lebih awal berbicara dengan papanya Kiara, dia berjanji untuk memperjuangkan hati anak nakal itu. Dan sekarang, mereka sudah bersatu, kan?"
"Anda dan tuan Admaja sudah tahu dari awal?" tanya Pinkan tak percaya
"Ya. Dan, kejadian hari itu juga sebenarnya rencana kami juga." ucapnya yang terasa canggung karena merasa jahat pada anaknya sendiri
"Hahaha, kalian sungguh orang tua yang bijak." Pinkan tertawa, dia juga menantikan perubahan sikap ayahnya yang juga akan menyukai pria pilihannya
"Masuklah, Kiara sedang menunggumu di dalam." ucap ibu Kiara sambil mengelus punggung Pinkan
Pinkan hanya membalasnya dengan tersenyum, dia masuk dan melihat Kiara yang sedang duduk sambil meremas jari-jarinya. Setelah melihat Pinkan yang melangkah masuk, Kiara langsung berhamburan ke pelukan Pinkan
"Pinkan, aku sangat gugup. Bagaimana ini?" ucap Kiara sambil memeluk sahabatnya
"Aduh kau ini, lepaskan aku. Kau sangat berat tahu?" Pinkan malah menanggapinya dengan candaan
"Kau ini. Aku serius, aku sangat gugup Pinkan!" pekiknya
"Lalu, aku harus bagaimana? Harus menggantikan mu?" tanya Pinkan pura-pura
"Tidak. Patra adalah milikku. Rifqan, barulah milikmu." jawab Kiara sambil tertawa
"Kau sangat cantik Kiara. Ternyata, wajah yang tidak pernah dipoles make-up ini, bisa menjadi peri yang sangat cantik seperti ini juga, ya!"
"Kau mengejekku?" tanya Kiara dan berpura-pura bersungut-sungut
TOK TOK TOK
"Baik, aku akan segera turun." jawab Kiara dari dalam
Kiara memegangi tangan Pinkan untuk menemaninya. Tangannya sudah berkeringat dingin sekarang. Dia sangat gugup karena akan segera menjadi perhatian para tamu di bawah
"Tidak perlu se gugup itu, kan? Rileks kan dirimu, Kiara!" ujar Pinkan yang merasakan keringat menetes dari telapak tangan Kiara
Mereka mulai melangkah kakinya. Saat menuruni anak tangga, semua orang menatap ke arah mereka berdua. Setelah mengantarkan Kiara untuk naik ke panggung, Pinkan kembali berdiri di samping ayahnya
Sepanjang jalannya acara lamaran Kiara. Pinkan tidak memperhatikan dan juga tak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh MC. Dia sibuk dengan dunianya sendiri yang tengah saling menatap dengan laki-laki yang dicintainya
Meskipun mereka saling menatap dari kejauhan. Tapi, jantung Pinkan tetap berdebar-debar kencang. Hingga, setelah acara pertukaran cincin sudah usai dan tamu undangan juga bertepuk tangan. Hal itulah yang menyadarkan dua insan itu, dan mereka juga menyudahi acara tatap-tatapan dari kejauhan
"Pinkan, siapa yang kamu lihat sedari tadi?" tanya Raka tiba-tiba yang membuat Pinkan terpaksa mengalihkan pandangannya
"Tidak, yah. Aku hanya tidak sengaja melihat ke arah sana." jawab Pinkan
Untung saja Rifqan sudah pergi dari situ. Jadi, ayah tidak akan curiga, batin Pinkan
"Pinkan, ayah juga sangat ingin melihatmu seperti itu. Ayah takut tidak sempat melihatmu cucu darimu." ucap Raka sambil menunjuk dagu ke arah panggung yang terlihat Kiara sedang melakukan sesi foto bersama keluarganya
"Sabar ayah. Aku pasti akan memberikan cucu yang lucu untukmu, segera!" jawab Pinkan sambil tersenyum manis. Dia sedang membayangkan wajah anak-anaknya dengan Rifqan
"Tapi, kapan? Apakah kamu tidak lihat, ayah sudah setua ini." kata Raka dengan tatapan sendu
Aku sudah punya pilihan hati, yah. Jika ayah juga menyetujuinya, aku pasti sudah lebih dulu memberikan cucu yang lucu untukmu, ayah! Tapi, sayangnya ayah tidak menyetujui pilihan hatiku ini, batin Pinkan
__ADS_1
"Pinkan!" panggil seseorang dari kejauhan. Lebih tepatnya orang itu memanggil dengan berteriak
"Mami? Kenapa lari-lari?" tanya Pinkan yang heran melihat tingkah Anya
"Mami sudah mencari kamu sedari tadi, baru ini kelihatan, jadi mami berlari agar tidak kehilangan mu kembali." ucap Anya yang sibuk berbicara dengan Pinkan
"Mami, perkenalkan, ini adalah ayahku, adikku, dan ibuku." ucap Pinkan memperkenalkan satu-satu keluarganya
"Perkanal kan, saya Anya, maminya Rifqan." ucap Anya berusaha ramah dengan menjabat tangan Raka
Raka hanya tersenyum, dia tidak menunjukkan raut wajah ketidaksukaannya sedikitpun. Pinkan yang melihat raut wajah ayahnya pun bersyukur karena masih bersikap normal pada Anya
Setelah mereka berbincang-bincang sebentar, Anya memutuskan untuk kembali mencari keberadaan suaminya yang ternyata lagi enak-enaknya makan
Ponsel Pinkan berdering, setelah melihat siapa yang menghubunginya, Pinkan berjalan sedikit menjauh dari jangkauan ayahnya
"Halo?"
"Lihat ke depan!" titah orang dibalik telpon
Pinkan melihat ke depan, dan terlihatlah Rifqan yang tengah berdiri dan tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya
"Kenapa?" tanya Pinkan kembali fokus pada ponselnya
"Ayo bertemu kembali di ruangan yang tadi." ajak Rifqan
"Tidak. Lain kali saja kita bertemu di luar." tolak Pinkan dengan tegas
"Kalau kamu tidak mau. Aku akan mendatangi mu sekarang. Kemudian, menarik taganmu di depan ayahmu!" ancam Rifqan sambil menyeringai
"Kau ini! Hanya tahu mengancam saja. Baiklah, masuklah terlebih dahulu."
"Aku menunggumu." Rifqan langsung mematikan sambungan telepon nya dan memasukkan kembali teleponnya ke dalam sakunya
Pinkan yang sudah melihat Rifqan masuk ke dalam ruangan itu juga pelan-pelan jalan menuju kesana. Dia mengendap-endap seperti orang yang akan berbuat mesum
Setelah berhasil masuk. Pinkan langsung mengunci pintu ruangan itu cepat-cepat. Dia duduk di samping Rifqan yang terlihat tersenyum puas
"Kenapa kau suka kali bermesraan diam-diam di acara orang lain?" tanya Pinkan sambil mengerutkan keningnya
"Aku hanya ingin berduaan denganmu. Berlama-lama, bermanja padamu. Apakah tidak boleh?"
"Boleh, tapi tidak sekarang, kan? Kamu tahu situasi kita seperti apa." bantah Pinkan cepat
"Aku tahu! Makanya aku selalu mencari kesempatan agar kita bisa berduaan seperti ini denganmu." jujur Rifqan
"Sudahlah. Aku lelah, berikan bahumu. Aku ingin bersandar sebentar."
Pinkan menepuk-nepuk bahunya tanda setuju dan tersenyum. Dia juga merebahkan kepalanya di atas kepala Pinkan sambil mengelus-elus wajah wanitanya
TOK TOK TOK
Pinkan langsung menegakkan kepalanya dan berusaha menajamkan pendengarannya
"Rifqan, ada yang datang, bagaimana ini, apakah ayahku?" Pinkan sudah ketar-ketir sendiri
TOK TOK TOK
Pintu itu terdengar kembali diketuk oleh orang di luar
__ADS_1