
"Tidak apa-apa, aku tidak ingin dia mati dengan mudah. Akan lebih memuaskan untukku kalau dia bisa merasakan yang lebih menyakitkan dari yang aku rasakan dulu." ucap Pinkan
"Ya sudah, aku akan mendukung semua keputusan mu. Kita kemana sekarang?"
"Aku hanya ingin berkeliling saja."
"Tidak ingin makan sesuatu terlebih dahulu?"
"Aku sudah sangat kenyang. Sebelum bertemu denganmu, aku sudah makan." jujur Pinkan
"Kenapa sekarang kamu tidak pernah mengantarkan makan siang untukku lagi?"
"Maafkan aku ya. Kemarin-kemarin kan aku sedang menghindari mu. Jadi, mulai besok aku akan mulai mengantarnya lagi." jawab Pinkan sembari tersenyum berusaha membujuk
"Benarkah? Aku menunggu janjimu, ya! Awas saja jika kamu tidak mengantarkannya."
Mereka berkeliling kota, sampai jam di pergelangan tangan Pinkan menunjukkan pukul 23:15, mereka memutuskan untuk pulang
Rifqan menurunkan Pinkan sedikit jauh dari area rumahnya atas permintaan wanita itu sendiri
"Dari mana saja, kamu?" tanya Raka dengan wajah sangar
"Aku, aku tadi pergi menemani Kiara. Dia ada keperluan mendesak jadi memintaku untuk menemaninya." bohong Pinkan
"Kenapa tidak meminta izin pada ayah terlebih dahulu? Kenapa dia tidak mengantarkan kamu sampai rumah seperti biasanya?" tanya Raka lagi
"Aku buru-buru, yah! Dia ada keperluan lain, jadi hanya menurunkan aku di situ saja."
"Kamu kan bisa mengatakannya pada ibumu. Kau tadi malah melewatkannya begitu saja." ucap Raka
Sudah ku duga, pasti Amrita yang mengadukan ku. Kalau tidak, mana mungkin ayah mau repot-repot menunggu ku di luar seperti ini
"Ayah, bisakah ayah tidak menyebutkan wanita itu sebagai ibuku? Kenapa ayah masih mempercayai nya, aku tidak habis pikir dengan ayah." ujar Pinkan sembari menggelengkan kepalanya
"Dia memang ibu sambung mu, Pinkan!"
"Ya. Aku tahu, tapi dialah yang sudah..."
"Kak!" teriak Verel yang baru saja pulang entah darimana
"Aku masuk." Pinkan langsung masuk, dia mendapati Amrita yang mengintip dari jendela. Saat melihat Pinkan, dia memandangi Pinkan dengan pandangan meremehkan dan tersenyum smirk
"Kau masih belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk melawanku. Anak kecil!" sinis Amrita
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan tertawa di akhir juga masih belum terlihat. Nenek sihir!" ejek Pinkan balik dan dia langsung meninggalkan ibu tirinya begitu saja
__ADS_1
"Hah! Kita lihat saja, aku sudah mendapatkan kartu As mu Pinkan. kau tidak akan bisa membantah apa yang dikatakan oleh ayahmu. Kalian akan masuk ke dalam genggamanku." gumam Amrita sambil menatap kepergian Pinkan
Raka dan Verel masuk bersamaan. Mereka berbincang-bincang. Amrita yang melihat Verel dan Raka masuk bersamaan pun langsung menghampiri suaminya itu, dia ingin menciptakan kesan yang baik pada kedua pria berbeda usia itu, bahwa Amrita sangat menyayangi Pinkan
"Raka, kau tidak perlu terlalu keras dengan Pinkan. Biarkanlah dia mencari kebahagiaan nya sendiri, aku takut disalahkan lagi." ucap Amrita sambil menangis
"Sudahlah Rita, lebih baik kau masuk dan beristirahat. Aku sudah lelah." Raka meninggalkan Amrita dan Verel berdua
"Bu, aku harap, peduli mu bukan hanya untuk mendapatkan hati ayah belaka. Kak Pinkan itu orang yang baik, hanya saja, ibu belum menyadarinya." ucap Verel kemudian pergi berlalu
Kenapa semua orang mendukung bocah tengil itu, tidak ada gunanya kau berpihak pada dia dan Raka. Karena, kau bukanlah bagian dari mereka, Verel! Harusnya, kau mendukung ku sebagai ibumu. Semua yang kulakukan ini juga untukmu, untuk masa depan kita.
Di kamarnya, Pinkan duduk di balkon kamarnya sambil termenung melihat ke arah bulan purnama yang sedang bersinar. Pikiran nya sedang mengawang-awang
"Sampai kapan aku harus terus menyembunyikan kehadiranmu seperti ini, aku juga ingin menunjukkan mu pada ayahku kalau kamu itu adalah laki-laki yang baik. Kamu tidak seperti yang dipikirkannya." Pinkan berbicara sendiri. Pandangannya masih lurus menatap ke arah bulan yang seakan juga menemaninya
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Pagi datang, sinar yang hangat juga ikut mendampingi aktivitas setiap orang di muka bumi ini. Pinkan sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya. Dia kembali melihat aktivitas kampusnya untuk hari ini
"Sial! Aku lupa hari ini aku ada kelas sampai sore hari. Aku sudah berjanji padanya, bagaimana ini?" Pinkan menepuk dahinya dan merutuki kebodohannya
Dia turun untuk sarapan. Namun, dia tidak mendapati seorang pun di meja makan, dia hanya mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat lalu berjalan sambil menggigiti rotinya
"Pak, antarkan saya ke kampus." ucapnya pada supirnya yang sedang minum kopi
Di dalam mobil, mobil sedang melaju membelah jalanan yang padat, Pinkan mengirimi pesan kepada Rifqan untuk permintaan maafnya
"Rifqan, aku mohon maaf. Hari ini, aku tidak bisa memasak untukmu, aku lupa jadwalku hari ini ada kelas hingga sore hari. Aku akan menggantikannya di lain waktu."
Tanpa menunggu balasan, Pinkan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing yang dipakainya. Setelah sampai di kampus tempat dia mengenyam pendidikan, yang dulu nya dia hanya tahu mengejar cinta Dharma saja. Sekarang, dia sudah benar-benar fokus pada apa yang dilakukannya agar lebih mudah untuk balas dendam
Sepanjang dia berjalan di koridor kampus, semua mata tertuju padanya. Mereka tidak berkata apapun. Meskipun begitu, Pinkan paham, mereka sedang menatapnya karena ayahnya sudah mengklarifikasi statusnya bukanlah anak haram
"Wah, ini dia pemeran utama kita." ejek Erika
"Sepertinya sangat senang, ya? Apakah kamu pikir, setelah ayahmu mengklarifikasi tentang statusmu yang bukan anak haram, kami semua akan percaya begitu saja?" sambung Silvy
"Ya, kita tidak bisa percaya begitu saja."
"Benar, mungkin itu ada yang di tutupi."
Para penggosip mulai berbicara sahut-sahutan, seakan spekulasi yang mereka ucapkan semuanya benar
"Lalu, kalian percaya atau tidak percaya, apakah ada hubungannya denganku?" ucap Pinkan mengejek
__ADS_1
"Dasar tidak tahu malu! Tuan Raka mengatakan itu ke publik hanya agar keluarga Cleotra tidak terpengaruh akibat rumor buruk yang kau bawa!" ucap Erika dengan lantang seakan ingin semua orang yang berada di situ harus mendengar apa yang baru saja ia ucapkan
"Jadi, aku harus memohon pada kalian untuk percaya bahwa yang dikatakan oleh ayahku itu benar adanya? Aku tidak peduli dengan pendapat para Anji** seperti kalian, yang hanya berani menggonggong di belakang tanpa berani langsung menggigit." ucap Pinkan dengan sinis
Mereka semua terdiam. Tidak berani berkutik atau membantah dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Pinkan. Mereka tertunduk tidak berani mengangkat kepala seperti tadi
"Kau, jangan keterlaluan! Dasar jala**!" ucap Silvy
"Oh, maaf kalau aku keterlaluan. Tapi, aku merasa aku masih kalah keterlaluan darimu. Orang yang beberapa hari lalu masih memintaku untuk menjodohkan dirinya dengan adikku, tapi sore harinya langsung memfitnah kakaknya. Ckck!" dengus Pinkan
"Dan, yang satu nya lagi, merasa aku merebut pria tidak bergunanya. Setiap hari mencari masalah denganku lalu ikut-ikutan memfitnahku. Jika kau berpikir aku akan merampas Dharma darimu, akan kulakukan!" ancam Pinkan pada Erika
"Jangan sesekali kau berniat untuk merebut Dharma dariku, kau tidak pantas!" jawab Erika yang merasa takut
"Kau selalu memfitnahku atas perbuatan yang tidak kulakukan. Jadi, sekalian saja aku melakukannya. Bukankah hasilnya akan sama saja?" ucap Pinkan dengan santai
"Dasar tidak tahu malu! Kau sama saja seperti ibumu. Perusak hubungan orang lain. Aku menyumpahi mu dan ibumu tidak tenang di manapun termasuk di akhirat sekalipun."
PLAKK
Pinkan menampar Erika dengan kuat hingga di sudut bibirnya mengeluarkan darah. Kepalanya sedang mendidih sekarang, matanya memerah karena marah atas apa yang telah dikatakan wanita di depannya sekarang
"Kau berani menghina ibuku, sekarang? Katakan sekali lagi!" teriak Pinkan
"Kau sama seperti ibumu! Kalian, ibu dan anak sama-sama pelac**." teriak Erika menggema di seluruh koridor
PLAKK
PLAKK
PLAKK
Pinkan menampar Erika berulang kali hingga wajah Erika membengkak. Dia sungguh marah sekarang. Erika memegangi wajahnya yang sakit, dia menangis karena menahan sakit dan perih sekaligus
Pinkan mendekati Erika dan menarik rambut wanita itu hingga kepala erika tertarik ke belakang
"Kau! Sekali lagi kau berani mengatai ibuku. Akan ku pastikan, kau tidak akan bisa berbicara untuk selamanya!" ancam Pinkan
"Hey, apa yang kalian lakukan?" teriak seseorang diujung koridor. Suaranya menggema di seluruh koridor membuat Pinkan melepaskan genggaman rambut Erika dan menghempaskan nya
Hallo, teman-teman...
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan cara like, dan komentar ya. Berikan vote dan hadiah lainnya agar author lebih semangat
Jika suka, langsung tambahkan ke daftar favorit ya, berikan juga bintang 5
__ADS_1
Jangan lupa tekan tanda cinta nya, ya!? ❤️🤗
Terima kasih