
"Se-sebenarnya yang menghamili aku adalah, Raka. Raka suamimu, Jessy!" ucap Amrita, setelah itu tangisnya pecah
Jessy terhuyung ke belakang. Dia jatuh sambil memegangi dadanya yang teramat sakit. Setelah itu, dia pingsan
Raka syok melihat keadaan istrinya pun langsung menghampiri Jessy yang sudah tergelatak di lantai. Dia buru-buru memerintahkan untuk memanggilkan ambulance
Saat di rumah sakit. Raka memikirkan sebuah kejanggalan yang terjadi, kenapa wanita yang tidak sengaja ditiduri olehnya malam itu bisa begitu kebetulan mengenal istrinya. Bisa mengetahui rumahnya dan langsung menudingnya kalau itu adalah anaknya
Saat dia sedang berpikir, dokter yang memeriksakan Jessy pun keluar dengan raut muka yang takut
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Raka yang langsung menghampirinya
"Maaf, Pak! Nyonya Jessy tidak dapat kami selamatkan." ucap Dokter penuh penyesalan dengan wajah tertunduk
"Apa? Tapi kenapa? Apakah itu karena alat di rumah sakit kalian yang tidak memadai?" tanya Raka dengan rahang mengeras. Emosinya sudah benar-benar tersulut sekarang
"Beliau menderita Hipertensi, Pak! Dan, tekanan pada jantung yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi dapat menyebabkan otot jantung melemah dan bekerja dengan kurang efisien. Akibatnya, Jantung menjadi kewalahan, mulai aus dan gagal" jelas Dokter itu, dia tidak ingin disalahkan, karena keselamatan pasien lah yang sebenarnya paling ia nomor satukan
"Apa? Tapi, setahuku selama ini dia sehat-sehat saja." sahut Raka masih mencerna ucapan Dokter
"Sepertinya, belakangan ini beliau mengalami stres, banyak pikiran dan tekanan. Stres juga dapat menyebabkan dan memperparah Hipertensi." ucap Dokter itu
"Tidak mungkin! Dia selalu terlihat bahagia." sangkal Raka
"Kami tadi sudah melakukan pengecekan sampel darah. Dan di dalam darah beliau ada terkandung obat penenang. Sepertinya, tadi beliau sempat terkejut. Itu tidak baik bagi penderita hipertensi dan gagal jantung, Pak!"
Setelah itu, Dokter itu pun undur diri. Raka merasakan sesak di dadanya. Kakinya terasa lemah dan ia pun luruh ke lantai. Dia merasa belum menjadi suami yang baik, selama ini bahkan ia tidak tahu tentang penyakit yang diderita oleh istrinya
Raka menelepon seseorang. Dia butuh kejelasan sekarang tentang Amrita, apakah anak itu memang anaknya atau bukan
"Segera periksakan wanita bernama, Amrita! Apakah dia benar-benar hamil anakku." titah Raka
Setelah dua jam, bawahan yang ia perintahkan untuk menyelidiki itu sudah memberikan kabar. Memang bawahan yang baik, bisa cepat dan tanggap
"Tuan, anak itu memanglah anak, Anda. Tapi, wanita itu mengira itu bukanlah anak Anda. Karena, seminggu yang lalu dia di perkos* oleh dua orang preman jalanan. Setelah itu dia mengalami pendarahan, dia pergi ke dokter umum dan di nyatakan hamil. Untuk mengetahui usia kandungannya dia dianjurkan datang ke dokter kandungan, namun ia pergi begitu saja." ucap bawahan Raka melaporkan semua hasil pemeriksaan kilatnya
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Raka kembali mencari Amrita dan menikahi wanita itu. Dia juga berpikir, Amrita adalah teman baik dari Jessy, pasti dia juga akan menyayangi Pinkan. Raka pun menikahi Amrita tanpa pikir panjang
FLASHBACK OFF
Pinkan mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya sendiri. Namun, dia juga merasa bersyukur atas kehadiran Verel di dunianya sekarang. Namun, tidak dengan kehadiran ibunya
Pinkan tidak berniat memberitahukan tentang perselingkuhan Amrita. Dia tidak ingin Ayahnya bersedih karena mengetahui istrinya berpaling darinya dengan pria lain yang jauh bukan apa-apa dibandingkan dengannya
"Dasar Babilonia kau, Amrita!" satu kalimat itulah yang terucap dari mulut Pinkan
Raka terlihat mendengar cacian dari anaknya. Tapi Rifqan mendengarnya. Dia menanyakan pada Pinkan dengan berbisik dan sedikit tertawa
"Siapa yang kau maksud Babilonia?" tanyanya
"Kau pasti tahu, yang ku maksud adalah si betina itu. Sungguh kehadiran hidupnya hanya bisa mengacaukan indahnya duniaku." bisik Pinkan dengan menahan suaranya
"Kalian sedang apa? Tidak malu ingin berciuman di depanku? Apakah izin berpacaran nya harus aku cabut kembali?" tegur Raka. Dia sedari tadi memang memperhatikan tingkah laku dua sejoli itu
Pinkan buru-buru menjauhkan wajah mereka. Dia baru tahu, kalau wajah mereka memang sangat dekat. Terlihat seperti orang sedang berciuman kalau di lihat-lihat
"Bukan, Ayah. Kami hanya sedang berdiskusi." sahut Pinkan sambil membenarkan rambutnya
Raka berlalu, Rifqan sedari tadi memperhatikan Pinkan. Tiba-tiba dia malah mencium pipi wanitanya itu. Refleks, Pinkan pun terkejut dan meraba bekas tempelan bibir laki-lakinya
"Apa yang kau lakukan?" tanya Pinkan sambil mengatupkan bibirnya
"Memangnya kau tidak tahu, aku sedang menciu*mu barusan. Kau ingin lagi?" Rifqan menaik-turunkan alisnya
"Diam! Ayo kita pergi sekarang. Kita sudah ada janji dengan Kiara dan Patra. Kau ingat?"
"Tentu saja aku ingat. Tapi, aku harus kembali bekerja." celetuk Rifqan
"Ya sudah, aku bisa pergi bersama Dharma saja." ucap Pinkan dengan tersenyum cengir kuda
*********
__ADS_1
Di kediaman keluarga Cleotra, Amrita baru saja pulang bertemu dengan Dharma. Dia baru saja ingin membuka handle pintu kamarnya. Bi Yem memanggilnya dan menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dengan aksen pita besar bewarna merah juga di atasnya
"Apa ini, Bi?" tanya Amrita sambil menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak menerima kotak itu, hanya melihatnya saja
"Saat Anda pergi tadi, ada yang mengirimkan ini, Nyonya." ujar Bi Yem
"Buang saja! Aku tidak akan melihatnya." Amrita berbalik badan dan kembali ingin masuk ke dalam kamarnya
"Tapi, Nya. Kata si pengirim, kalau Anda tidak melihatnya, Anda akan menyesal." ucap bi Yem yang sukses membuat langkah Amrita berhenti
"Sial! Kau mengancam ku?" tanya Amrita yang mulai tersulut emosi
"Bukan. Itu adalah perkataan orang yang mengirim paket." jelas bi Yem
Amrita langsung menarik paksa kotak merah yang masih di pegang bi Yem. Dari raut wajahnya, sangat terlihat dia sangat kesal
Pasalnya, baru beberapa hari lalu dia mendapatkan sebuah paket yang berisi seperti ancaman untuknya. Sekarang, malah ada sebuah kotak, yang menurutnya isinya pasti bukanlah hal yang bagus untuknya
"Kok malah marah sama saya, aneh!" umpat bi Yem
Di dalam kamarnya, Amrita membuka kotak merah itu dengan perasaan kesal bercampur was-was. Tapi, mau tidak mau dia tetap harus membuka kotak itu
Terdapat sebuah flashdisk dan selembar surat yang tertulis dengan tinta merah di dalam kotak merah itu. Amrita lebih memilih membuka suratnya terlebih dahulu
"Bagus sekali! Kamu tidak memilih untuk membuang hadiah yang ku kirimkan untukmu. Jika kau membuangnya, aku pastikan kau akan menyesal. Selamat menonton, kau pasti akan sangat senang!" ternyata surat itu bertuliskan ancaman'
"Sialan! Sebenarnya, siapa yang mengirimkan teror seperti ini untukku. Seperti anak-anak!" umpatnya kesal
Amrita mengambil flashdisk itu dan mengambil laptop kerja milik suaminya. Dia mulai memulai rekaman suara antara dirinya dan Amrita
Rekaman suara itu adalah percakapan dirinya dan Dharma saat di cafe dulu. Percakapan yang direkam oleh Kiara yang tidak sengaja bertemu mereka berdua. Tapi, Amrita tidak mengetahui itu
Setelah rekaman itu selesai diputar, muncul lah slide-slide foto saat dimana rekaman itu di ambil, foto saat dirinya dan Dharma berbincang. Kemudian, juga terdapat foto mereka berdua melakukan hubungan se* di sebuah hotel di hari yang sama
Amrita mengepalkan tangannya erat. Sekarang, dia merasa terancam. Sudah ada orang yang mengetahui tentang hubungannya dan rencana liciknya itu
__ADS_1
"Siapa sebenarnya orang ini. Aku harus segera menangkapnya dan mengungkapkan dirinya. Kalau tidak, semua rencana ku akan ketahuan. Aku pasti akan menghabisinya!" ucapnya geram
Lalu, Amrita pun pergi tanpa mencabut flashdisk yang masih tertancap dengan setia di laptop Raka