Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Gara-Gara Jagung


__ADS_3

Raka masih terdiam. Dia mengetuk-ngetuk meja yang berada dihadapannya. Amrita sudah senang bukan kepayang karena dia sudah berpikir kalau Raka pasti akan menuruti keinginannya itu


"Maaf. Aku tidak bisa menuruti keinginan mu itu. Aku akan membagi dua semua aset ku untuk mereka dengan adil." akhirnya Raka memberikan jawabannya


"Apa? Tidak bisa! Harusnya, harta kekayaan itu hanya bisa diberikan untuk anak laki-laki tunggal saja. Kenapa kamu malah memberikannya juga untuk Pinkan?" Amrita menggebrak meja karena tidak terima


Raka terkejut dengan reaksi Amrita. Sebegitu bencinya kah dia terhadap putrinya itu


"Dia anakku, Verel juga anakku. Mereka berdua berhak. Sudah, jangan ganggu aku lagi. Keputusanku tidak akan berubah." ucap Raka dengan tegas


Amrita menggemeretakkan giginya, tangannya mengepal erat karena menahan amarahnya. Dia berbalik dan pergi. Setelah kepergian Amrita, Raka kembali menghela nafas dan melamun memikirkan nasib putrinya untuk kedepannya


"Maafkan aku, Jessy, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Maafkan ayah, Pinkan, ayah tidak bisa mencarikan ibu sambung yang baik untukmu." gumamnya sambil memijat keningnya


"Kau sudah membantahku, Raka! Lihat saja, sebentar lagi kau akan mati! Lalu, aku akan mengambil semua kekayaan mu dan aku juga akan melakukan hal yang sama pada Pinkan!" ujarnya penuh kebencian


*****


Hari sudah menjelang malam. Mereka semua sedang berada di penginapan. Pinkan sedang duduk bersama teman-temannya sambil memanggang jagung yang mereka dapatkan dari warga sekitar


"Ah, aku tidak sabar untuk memakannya sekarang!" ucap Kiara yang terlihat sudah mengeluarkan air liurnya


"Sabar, nanti aku akan memberikanmu yang paling besar." jawab Patra sambil kembali mengoleskan bumbu pada jagung yang mereka bakar agar terasa lebih nikmat


"Pinkan, kamu tidak mau jagung ini, kan?" tanya Rifqan sambil mengipasi jagungnya. Laki-laki mempunyai peran semua. Sedangkan, yang wanita hanya kebagian menjadi penonton


"Ya, aku tidak mau. Aku tidak punya mulut!" sungut Pinkan sambil menyeruput jusnya


"Aku tahu kamu tidak suka jagung ini, terlalu kecil. Kamu lebih suka jagung milikku, iyakan?" goda Rifqan sambil menaik-turunkan alisnya


Pinkan langsung tersedak dengan jus yang diminumnya. Dia melemparkan Rifqan dengan barang-barang yang berada di sekitarnya. Wajahnya sudah merona karena merasa malu


"Pinkan, kamu sudah melihat miliknya?" tanya Kiara tak percaya sambil menutup mulutnya yang menganga


"Tidak. Dasar keterlaluan!" Pinkan sudah salah tingkah sendiri


TING


Pinkan mengambil ponselnya karena dia tahu itu suara notifikasi yang berasal dari ponselnya. Setelah Pinkan memegang ponselnya, suara notifikasi itu semakin berbunyi dengan sering


TING


TING


TING


Rifqan langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanitanya. Saat membuka pesan yang masuk, Pinkan tersenyum sambil terus memainkan ponselnya. Kemudian Pinkan membalas beberapa kata, dan dibalas lagi oleh seseorang

__ADS_1


TING


TING


Rifqan yang mendengar banyaknya notifikasi itu langsung berjalan cepat dan merebut ponsel yang sedang dipegang oleh Pinkan. Senyum yang mengembang di wajah Pinkan seketika sirna


"Kenapa kamu mengambil ponsel milikku?" tanya Pinkan sedikit berteriak


"Kenapa ponselmu berbunyi sedari tadi? Apakah kamu sedang melakukan jualan online?" tanya Rifqan yang tampak sudah terbakar api cemburu


"Kalau iya, lalu kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang, karena aku bisa menghemat pengeluaran mu?" jawab Pinkan dengan sengit


Rifqan tidak memperdulikan ocehan wanita itu. Dia memeriksa dan mulai membaca pesan masuk


"Nona, renovasi cafenya sudah selesai. Ini aku kirimkan beberapa foto agar anda bisa melihatnya." tertera pesan itu dikirimkan dari Indesign Interior


Tampaklah beberapa buah foto yang menunjukkan sudut-sudut ruangan cafe yang masih terlihat kosong itu


"Baik. Terima kasih. Bisakah anda memfoto kan dapur dan VIP room?" balas Pinkan yang dipenuhi dengan senyuman, karena dia sangat puas dengan hasilnya


"Baik. Tunggu sebentar!" balas perusahaan itu lagi


Kemudian dikirimkan beberapa buah gambar yang kembali menampakkan sudut-sudut ruangan dapur dan VIP room yang terbilang mewah


"Cafe milik siapa?" tanya Rifqan


"Milikmu? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?" Pinkan bertanya balik


"Karena aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Tapi, kamu malah tidak pernah meminta apapun." jawab Rifqan


TING


Ponsel Pinkan kembali mendapatkan notifikasi pesan. Tapi, kali ini bukanlah dari Indesign Interior. Melainkan dari Mr. Spy


Rifqan yang penasaran dengan nama yang tertera itu langsung memencet icon berwarna hijau itu untuk melihat dan membuka pesan yang dikirimkan oleh si Mr. Spy


Mata pria itu langsung membulat seperti ingin keluar dari tempatnya. Karena foto yang dikirimkan oleh Mr. Spy adalah foto syur adegan sepasang kekasih yang sedang beradegan ranjang. Terdapat dua foto dan satu buah Vidio berdurasi sepuluh menit disaat yang sama


"Siapa Mr. Spy ini Pinkan?" tanya Rifqan yang wajahnya sudah merah padam


Mendengar nama Mr. Spy, Pinkan kembali merebut ponsel miliknya dan melihat pesan yang dikirimkan kepadanya. Melihat itu, Pinkan tersenyum puas. Rifqan yang memperhatikan itu seakan tak percaya dengan yang dilihatnya


Dia tersenyum? Kenapa dia berusaha mencari gambar-gambar pornografi itu? Apakah dia menginginkan sesuatu?


Ternyata, Mr. Spy mengirimkan foto Dharma yang sedang berhubungan se* dengan beberapa wanita sekaligus. Tapi, tidak ada Amrita di dalamnya

__ADS_1


Pinkan menelpon Mr. Spy untuk memuji hasil kerjanya. Dia tidak memperhatikan pria yang sedang berdiri di sampingnya yang sedang menatap cengo padanya


"Mr, Spy, kerjamu sangat hebat!" puji Pinkan


"..........." jawab orang dibalik telepon yang sama sekali tidak terdengar oleh Rifqan


"Ya. Aku ingin anda melanjutkannya. Cari sebanyak-banyaknya, yang seperti itu juga lebih baik." jawab Pinkan kemudian mematikan sambungan teleponnya


Melanjutkan? Apakah dia benar-benar sedang menginginkan sesuatu? Inikah yang dia inginkan, makanya dia tidak berani memintanya padaku. Apakah aku yang harus mengambil inisiatif?


Rifqan sudah menerka-nerka seperti orang gila. Sesekali dia juga mengangguk seperti orang gila. Semua orang memperhatikannya dengan heran. Kiara yang juga mengenal Mr. Spy, sudah tidak heran lagi. Jadi dia hanya diam. Tidak seperti orang-orang disitu yang bertanya-tanya dihati mereka apa yang sedang terjadi


Setelah selesai menelpon, Pinkan kembali menatap ke arah Rifqan. Dia juga heran dengan tingkah laki-laki itu kenapa seperti orang yang dilanda banyak pikiran


"Rifqan, aku ingin jagung." pinta Pinkan


"Jagung? Kamu ingin jagung?" pikiran Rifqan sudah melayang-layang ke awan, planet mars, lalu terbakar di matahari. Barulah dia tersadar dan mengambil dua buah jagung untuknya dan untuk Pinkan


"Rifqan, kamu kenapa?" tanya Pinkan


"Aku tidak apa-apa. Pinkan, aku akan mengabulkan keinginan mu." ucap Rifqan


"Keinginan apa? Memangnya, aku pernah meminta apa padamu?"


"Sudahlah. Tidak perlu menutupinya lagi. Jangan malu, seorang wanita pantas jika menginginkan hal yang seperti itu." jawaban Rifqan malah memberikan teka-teki untuk Pinkan


"Hal yang seperti itu, apa? Aku semakin tidak mengerti!"


Rifqan hanya menjawab dengan senyuman mesumnya. Tapi, Pinkan memang tidak mengerti dengan maksudnya jadi dia hanya melanjutkan memakan jagungnya


Setelah jagung yang dipegangnya habis. Pinkan kembali meminta jagung pada Rifqan. Sudah lama dia tidak makan jagung. Apa lagi, mereka membakarnya dengan teman-teman, akan lebih terasa nikmat dari pada dimakan sendirian


Setelah selesai makan dan membereskan sampah-sampah yang berserakan karena ulah mereka. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Sebelum masuk ke kamarnya, Rifqan menemui Zanna terlebih dahulu yang sedang berada di dapur


"Hey, kau!" panggilnya yang memang tidak tahu dan tidak ingin tahu nama wanita lain selain Pinkan


Zanna yang sedang membuatkan kopi untuk ayahnya pun berbalik dan melihat Rifqan yang sudah berdiri berjarak dua meter dengannya


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Zanna. Karena dia yakin bahwa laki-laki songong didepannya memang sedang berbicara padanya


"Bisakah aku meminta kunci cadangan kamar milik Pinkan?" tanyanya yang memaksa


"Untuk apa?" tanya Zanna spontan


"Hanya untuk bersiap-siap saja. Dia sering bermimpi buruk. Kamarku berada tepat di sebelah nya. Jadi, kalau dia sedang mimpi buruk dan berteriak, aku bisa langsung masuk tanpa menganggu ayahmu yang sedang beristirahat." bohongnya


Meski masih ragu. Zanna berusaha percaya dan memberikannya pada Rifqan. Rifqan mendapatkan kunci itu dengan perasaan senang dan berjalan kembali ke kamarnya sendiri

__ADS_1


"Aku akan melakukannya malam ini!" ucapnya sambil mendekap kunci yang dipegangnya


__ADS_2