
Setelah sampai di rumah sakit. Pinkan langsung melakukan pemeriksaan rutin. Dia duduk manis sambil dokter meresepkan obat untuknya
"Nona Pinkan, semuanya baik ya. Hanya saja, anda harus sering beristirahat dan tidak boleh banyak melakukan kegiatan yang terlalu berat dan membuat tubuh Anda kelelahan." ucap dokter wanita itu sambil mengemas obat
"Baik dok, apakah saya bisa minta di resepkan obat untuk persendian?" tanya Pinkan yang terlihat sungkan
"Boleh, anda tidak perlu sungkan seperti itu." jawab dokter dengan tertawa canggung
Siapa yang berani menolak permintaan mu. Pria yang duduk disamping mu itu sudah cukup untuk membuat orang menjadi gemetaran hanya dengan tatapannya
"Ini, semua sudah. Kami menunggu kembali kedatangan anda di poli kandungan." ucap dokter itu dengan senang hati
"Ayo, aku sudah siap." Pinkan langsung menarik tangan Rifqan keluar dari ruangan itu karena merasa sangat malu
Setelah naik kembali ke mobil, Pinkan melihat-lihat jalanan tanpa ada keinginan untuk berbicara
"Bisakah kita berhenti di supermarket terdekat dulu?"
"Bisa. Ingin apa?" tanya Rifqan
"Aku ingin belanja untuk perlengkapan memasak untukmu besok. Kamu mau apa? Biar aku belikan." tanya Pinkan serius
"Ayo!" Rifqan sudah turun dari mobilnya
"Kenapa kamu turun juga? Kamu tidak takut di foto oleh wartawan?" tanya Pinkan khawatir
"Untuk apa aku takut, aku bukan penjahat. Aku orang berpengaruh di sini." ucapnya dengan bangga
"Terserah kau saja, aku malas berdebat denganmu." Pinkan akhirnya ikut turun dan mengambil dua buah troli
"Yang ini, untukmu. Kita akan pergi ke sisi yang berbeda, kamu cari sendiri apa yang ingin kamu beli." ucap Pinkan
"Tidak bisa! Aku ingin menemani berbelanja. Sambil melatih untuk nanti setelah menikah." bantah Rifqan dan meletakkan troli yang diberikan Pinkan ke tempat semula
Dasar laki-laki susah diatur! Aku tidak ingin ada yang melihatku sedang bersamanya. Tidak mengerti sekali
"Biar aku yang pegang, kau cukup mengambil barang-barang yang ingin kau beli saja. Beli saja apa yang kau suka."
"Maaf tuan Rifqan, aku tidak terbiasa membeli yang aku suka. Dari dulu, aku sudah terbiasa membeli apa yang lebih aku butuhkan." sanggah Pinkan sambil memilah sayuran
CUP
Pinkan memelototi Rifqan seolah-olah ingin memakan pria itu. Rifqan lagi-lagi mencium nya di tempat umum seperti itu
"Aku sedang mengingatkanmu! Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Jika kau lupa." jawabnya santai
"Tapi tidak disini juga kan, Rifqan?" tanya nya menahan emosi
"Yasudah, nanti akan kita lanjutkan di mobil lagi." dia masih menjawab dengan enteng
"Kau ini, selalu saja menyebalkan!" potong Pinkan
"Tapi, kau suka kan?" tanya Rifqan kemudian terkekeh pelan
"Tidak tahu." Pinkan langsung menghindar dan berjalan mengambil buah-buahan
"Kau benar-benar calon istri idaman. Sangat hebat dalam memilih barang-barang seperti itu." jujurnya
"Berarti sangat banyak lelaki yang ingin menjadikanku istri? Ah, ternyata aku hanya perlu menunggu di lamar saja, ya?!" Pinkan becanda
"Dan laki-laki pertama yang datang melamar mu adalah aku."
"Jika itu kamu, sudah pasti aku akan menolak nya."
__ADS_1
"Aku akan menculik mu sampai kamu mau menerima lamaran ku."
"Hem, kamu suka seafood?" tanya Pinkan mengalihkan gugup di hatinya
"Aku tidak pemilih, tapi aku alergi dengan udang. Belikan aku beberapa tuan crab saja."
"Baiklah, kamu ma apa lagi? Aku datang kesini hanya untuk membuat persiapan untukmu besok." jujur Pinkan
"Berarti aku spesial? Hanya makan siang saja, harus disiapkan sebegitu rupa." pancing Rifqan
"Tidak juga, aku hanya senang melakukannya. Dari dulu, aku selalu melakukan hal semacam ini, berbelanja, memasak dan melakukan semuanya aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga pada umumnya. Entah karena aku suka, atau terbiasa." ucapnya dengan suara sendu
"Apakah dirumah keluarga Cleotra tidak ada pembantu?" tanya Rifqan
"Ada, tapi tidak banyak. Dan tugas mereka hanya melayani ibuku. Sedangkan, untuk urusan dapur, aku yang mengerjakan nya." Pinkan kembali angkat suara
"Kenapa kamu mau? Kamu kan seorang nona di kediaman mu."
"Mungkin, dulu aku sangat polos hingga dapat di bohongi dengan mudah. Tapi, sekarang sudah tidak sama." ucapnya sungguh-sungguh
Sebenarnya apa yang kamu alami selama ini, seperti terlalu banyak rahasia diantara kita. Dan sialnya, aku tidak bisa menemukan apapun tentangmu yang memberikan jawaban yang puas untukku
Rifqan masih saja memandangi Pinkan yang kini sudah beralih sedang memilih beberapa cemilan sehat untuknya. Dia memilih dengan senang hati karena dia memang suka mengemil makanan ringan tapi sehat
"Pinkan!"
Merasa ada yang memanggil, Rifqan dan Pinkan langsung menoleh ke arah sumber suara. Pinkan langsung membulatkan matanya karena tahu situasi nya akan sedikit sulit. Sedangkan Rifqan, dia mulai mengerutkan alisnya dan penuh tanda tanya
Ah sial! Kenapa aku harus bertemu dengan buaya Amazon itu sekarang, batin Pinkan yang sudah memberikan tanda-tanda sinyal bahaya
Pria itu langsung berjalan menghampiri Pinkan tanpa memperdulikan pria yang berada tepat di samping wanita tersebut
"Kenapa kamu ada disini? Kamu kemana saja selama beberapa hari ini, kenapa tidak ke kampus?" tanyanya beruntun
Dharma? Siapa sebenarnya laki-laki ini, kenapa dia bisa seenaknya saja menyebutkan nama Pinkan, batin Rifqan yang sudah bersiap untuk meninju pria di depannya
Pinkan beralih ke Rifqan, dia sedikit menarik Rifqan menjauh dari Dharma agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan, karena dia tahu seperti apa pria itu
"Rifqan, bisakah kamu menungguku di mobil?" tanya Pinkan penuh harap
"Tidak bisa!" tegasnya
"Ku mohon, kamu tunggu di mobil saja, ya?" Pinkan memohon
"Kenapa? Kamu ingin berbincang dengan kekasih mu jadi aku harus pergi?" tanya nya sarkastik
"Bukan, bukan begitu. Yang kau pikirkan itu semuanya tidak benar sedikit pun." jawab Pinkan berusaha cepat-cepat menjelaskan
"Jadi? Aku tetap bisa mendengar perbincangan kalian kan?" tanyanya sedikit mengejek
"Ku mohon, sekali ini saja. Aku tidak ingin terlalu menarik perhatian disini. Segeralah menunggu di mobil saja."
"Sejak kau datang bersamaku, kau sudah menyita banyak perhatian semua orang!" ucapnya
"Iya aku tahu, nanti aku akan memberikanmu hadiah. Aku janji tidak akan lama." bujuk Pinkan
"Baiklah, aku memberimu waktu 3 menit!"
"Apa? Tiga menit katamu? Kau berjalan dari sini sampai ke mobil saja sudah menghabiskan waktu tiga menit itu." ucap Pinkan tak terima
"Yasudah, aku akan menunggu disini."
"Baiklah, tidak akan lebih dari tiga menit." Pinkan berusaha bernegosiasi dan berhasil
__ADS_1
Pinkan langsung kembali untuk menuruti permintaan wanita yang di cintai nya itu. Sebenarnya, dia sama sekali tidak suka harus membiarkan Pinkan berduaan dengan pria lain
Saat dia sedang membuka pintu mobilnya, tiba-tiba ada yang menarik ujung kemeja nya
"Hay.. Aku Lucy. Bukankah, anda tuan Rifqan?" ucap Lucy genit
"Lepaskan!"
"Ah, maafkan aku tuan. Aku sangat mengagumi anda hingga tidak sadar sudah menarik baju anda. Bagaimana, kalau kita beli baju lain di sekitar sini, dan biarkan baju ini aku yang mencucinya?" ucapnya mencoba merayu
"Tidak perlu, baju ini akan aku buang. Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu." tegasnya
"Tapi tuan, aku hanya..."
"Pergi! Dasar wanita gila!" Rifqan langsung menutup pintu mobilnya dengan kuat hingga wanita yang bernama Lucy itu terkejut
"Pria tadi siapa? Kenapa kalian berbisik-bisik?" tanya Dharma
"Pria tadi? Bukan siapa-siapa."
Pria tadi? Tentu saja dia tuan muda Rifqan yang lebih segalanya darimu. Tuan muda Rifqan saja kau tidak mengenalinya, lucu sekali
"Kamu kemana saja beberapa hari ini? Kenapa tidak pergi ke kampus? Apakah kamu sakit?" Dharma mengajukan pertanyaan beruntun
"Tidak, aku hanya berlibur keluar negeri saja beberapa hari lalu."
"Benarkah? Kenapa tidak pergi denganku? Kau sudah tidak menyukaiku kah?"
"Kita akan pergi lain kali, kamu kenapa bisa disini?" tanya balik Pinkan
"Aku hanya kebetulan beli air saja. Ternyata, beruntung bisa bertemu kamu."
"Ada rumor di kampus tentang mu. Sebaiknya kamu tidak perlu ke kampus terlebih dahulu untuk sementara waktu ini." ucap Dharma mencoba perhatian
Dasar laki-laki sialan, jika aku tidak pergi ke kampus, bukankah secara tidak langsung aku mengakui rumor itu semua
"Rumor apa? Aku tidak tahu apa pun sama sekali."
"Dharma, kenapa lama sekali?" ucap Lucy yang langsung datang dan bergelayut manja
"Lucy?" Dharma menjadi kikuk karena kehadiran Lucy sekarang
Wanita lain? Oh Amrita, kasihan sekali nasibmu, batin Pinkan tertawa puas dalam hati
"Kenapa? Kamu tidak ingin aku menganggu percakapan mu dengan ****** kecil ini?" ucap Lucy sambil melihat sinis ke arah Pinkan
"Ah, aku kira siapa. Ternyata, ****** senior. Kalau begitu, aku permisi dulu." balas Pinkan meledek
"Kau! Apa katamu?"
Lucy ingin mengejar Pinkan, Tapi, tangannya sudah di tahan oleh Dharma
Hallo, readers...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ya
Dengan cara like, dan berikan komentar kamu ya..
Dukungan kamu sangat berharga untuk author, loh!!
Tambahkan juga ke daftar favorit❤️ kamu, agar kamu mendapatkan pemberitahuan update
Dukung juga dengan cara berikan vote dan poin
__ADS_1
Terima kasih, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ❤️❤️❤️