
Rifqan pulang dari rumah sakit dengan keadaan hati yang gusar. Dia tidak menyangka atas perlakuan Pinkan padanya, dia sungguh heran apa salah nya hingga membuat wanita yang di cintai nya itu berubah menjadi diam seribu bahasa
Dia mengemudikan mobil nya ke arah yang memang sudah dia rencanakan. Meskipun dalam benaknya dia di perlakukan seperti itu oleh Pinkan, tapi dia tetap harus mencari tahu tentang penculikan ini
Rifqan melewati jalan yang sunyi dan hanya terdengar suara burung-burung yang bersahutan sana-sini. Dalam bayangan orang lain, tempat itu indah. Tapi, sebenarnya itu adalah tempat terakhir yang dikunjungi oleh orang-orang yang bermasalah dengan tuan muda tersebut
"Selamat malam, tuan!" ucap salah seorang bawahan nya
"Parkir kan mobil ku, Boy!" ucap Rifqan sambil melemparkan kunci mobil nya ke arah bawahan nya
"Siap!" jawab Boy dengan penuh rasa hormat
Rifqan tidak menjawab, dia hanya berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan yang ramai dengan bawahan nya. Tempat itu berbentuk seperti sebuah rumah mewah, suasana nya sangat asri
Tapi, jika di masuki lebih dalam, ada sebuah ruangan rahasia yang tidak akan ada orang yang ingin masuk ke situ. Ruangan itulah yang menahan dan menyiksa orang-orang yang bermasalah dengan tuan muda tempat itu
"Dimana dia?" tanya Rifqan
"Di ruang darah, tuan!" jawab anak buah nya yang sedang berjaga
Tidak lama, masuk lah boy dengan wajah nya yang kaku. Dia adalah salah satu bawahan Rifqan yang sangat di percayai oleh nya di tempat itu. Wajah nya beringas dan dingin. Namun, jika sudah berhadapan dengan tuan nya, sifat nya akan sangat ceria
"Bawa aku ke hadapan mereka, Boy!"
"Baik tuan."
Mereka terus berjalan hingga masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap dan bau dengan amis darah yang sangat menyengat. Di ruangan itulah para penculik Pinkan di tahan
"Ternyata keadaan mereka masih sangat baik." ucap Rifqan tersenyum sinis
"Sesuai dari arahan tuan Patra bahwa tuan sendiri lah yang akan menemui mereka. Jadi, kami tidak berani berbuat apapun pada mereka." jawab Boy
"Kerja bagus, keluarkan mereka dari ruangan itu dan bawa ke hadapan ku!" ucap Rifqan dengan wajah datar nya
Bawahan nya langsung mengeluarkan dua orang pria yang wajah nya di tutup dengan kain hitam dan tangan nya diikat dengan rantai berukuran besar
"Siapa diantara kalian yang akan mengaku?" ucap Rifqan sambil duduk di kursi kebesarannya
"Mengakui apa, maksud anda?" ucap salah satu dari tahanan itu dengan gugup
"Mengakui, siapa majikan kalian?"
"Kami tidak tahu, tuan." jawab mereka serempak
"Jangan berbohong! Aku sudah lama berada di dunia hitam ini. Jadi, jangan mencoba untuk mengelabuhi ku!" tegas Rifqan dengan suara dingin nya
"Kami... kami sungguh tidak tahu, tuan." ucap preman satu
"Benar, kami hanya di perintahkan untuk menculik nona Pinkan." jawab preman dua
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Tuan yu, tuan. Ya, benar."
__ADS_1
"Tapi, kami tidak tahu siapa yang orang besar yang memerintahkan tuan yu." ucap preman itu dengan ketakutan
"Tolong ampuni kami, tuan. Kami berjanji akan bekerja sama dengan kalian dan akan mencari tahu siapa dalang dibalik ini semua." sambung preman satu
"Siapa yang berani menjamin kalian tidak akan mengkhianati ku seperti kalian mengkhianati tuan kalian?" jawab Rifqan sambil terkekeh pelan
"Kami tidak akan..." jawab mereka serempak
"Suasana hatiku sedang tidak baik! Jangan bermain-main dengan ku!" ucap nya
"Maafkan kami tuan, kami sangat menyesal." ucap preman dua dengan mengatupkan kedua tangan nya
"Boy, habisi mereka!" ucap nya dan berlalu dari sana
Rifqan langsung keluar dari ruangan yang sangat mencekam itu, terdengar suara teriakan-teriakan yang memekakkan telinga dari dalam. Saat dia masuk ke ruangan kerja nya yang berada di rumah itu, dia melihat Patra sudah duduk dengan santai di dalam
"Sejak kapan kau berada di sini?"
"Sejak kau meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hati yang rancu." jawab Patra dengan mengejek
"Tidak penting! Ada maksud apa kau datang ke sini?" tanya Rifqan lagi
"Hanya ingin melihat situasi."
"Patra, aku ingin kau menyelidiki kenapa sikap Pinkan berubah padaku, dan aku ingin besok kau menyerahkan hasil nya." seru Rifqan sambil menatap foto nya dan Pinkan
Patra yang mendengar itu langsung tersedak dengan air yang sedang dia minum
"Apakah kau tidak salah? Aku ini sekretaris mu, bukan pakar cinta. Mana bisa menyalahgunakan wewenang seperti ini."
"Harusnya kau yang mencaritahu sendiri. Bukan malah memerintahkan orang lain untuk menyelidiki nya. Aku mana tahu apa yang telah kalian lalui." jawab Patra dengan jengkel
"Masalahnya, aku tidak tahu dimana letak kesalahanku." jawab Rifqan pasrah
"Itulah kesalahanmu. Harusnya, kau bicara baik-baik dengan nya agar dia bisa mengutarakan isi hati nya."
Rifqan terdiam, dia menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Patra. Dia berpikir dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya di atas meja
Sepertinya, benar juga apa yang dikatakan oleh nya. Aku harus mencaritahu sendiri alasan dia seperti ini, tapi bagaimana caranya, batin Rifqan kembali bimbang
"Hem, baiklah. Terima kasih atas saran mu."
"Jangan lupa, tugas di kantor sudah menumpuk." ucap Patra kemudian berlalu pergi dari sana
******************
Sementara itu, di rumah sakit Pinkan kedatangan tamu tak di undang. Dia begitu merasa tertekan saat melihat kedatangan kedua orang tua Rifqan yang membawakannya banyak sekali kantong yang berisi bermacam-macam makanan dan buah-buahan
"Pinkan..." ucap Anya yang langsung memeluk calon menantu nya itu
"Aduh," Pinkan sedikit meringis
"Ah, terkena luka mu ya sayang. Maafkan mami ya karena kami baru mendapatkan kabar tentang mu. Jadi, kami baru datang sekarang." ucap Anya merasa bersalah
__ADS_1
"Ah iya tidak masalah mi." jawab Pinkan dengan wajah pias
"Terima kasih kamu sudah melindungi anak mami. Sepertinya, kamu sangat menyukai Rifqan. Sepulang kamu dari rumah sakit nanti mami akan segera melamar kamu untuk anak mami ya, sayang?" ucap Anya dengan cerewet nya
"Mami... jaga sikap mu, dia baru saja sembuh. Jangan buat dia tertekan dengan perkataan mu!" ucap tuan Faruq memperingati
"Memang nya ada yang salah dengan perkataan ku? Aku yakin, Pinkan juga senang mendengar perkataan ku barusan. Ya kan, sayang?"
"Huh? Hehe." Pinkan bingung harus menjawab apa dan dia hanya tertawa dengan wajah tertekan
Kenapa tidak ada orang yang datang untuk menyelamatkan aku dari cercaan pertanyaan yang membuatku bingung ini,sih! Aku akan sangat berterima kasih jika ada yang datang sekarang, batin Pinkan
"Biarkan dia istirahat dengan tenang, jangan bebankan dia dengan keinginan mu sendiri." seru tuan Faruq
"Ini bukan hanya keinginan ku sendiri, aku yakin Rifqan juga akan senang dengan hal ini, dan tentu nya kamu juga kan, Pinkan?" ucap Anya dengan girang
"Mami, membawa apa? Kenapa, sepertinya banyak sekali mam?" tanya Pinkan untuk mengalihkan
"Ini mami bawakan makanan yang sehat dan enak untukmu. Kamu pasti bosan kan dengan makanan rumah sakit?" ucap Anya sambil mengeluarkan beberapa macam makanan enak
"Sayang, mau mami suapi?" tanya Anya lagi
"Boleh mi, aku sangat ingin." ucap Pinkan dengan tersenyum
Sepertinya, dia anak yang baik dan tidak mendekati anakku karena uang. Benar yang di katakan oleh istri tercinta ku, dia orang yang pantas untuk di jadikan pendamping hidup Rifqan, batin tuan Faruq sambil memperhatikan Pinkan dengan seksama
Kenapa tuan Faruq selalu menatapku dengan intens seperti itu? Aku kan jadi kurang nyaman. Apa dia berpikir aku menyelamatkan anaknya karena ingin uang ya, batin Pinkan sambil mengunyah makanan nya
"Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Anya sambil menyuapkan makanan ke mulut Pinkan
"Mungkin, besok sudah bisa mi. Aku hanya perlu rawat jalan saja." jawab Pinkan sembari tersenyum
"Biar mami saja yang menjemputmu ya. Kamu tinggal di rumah mami saja, biar mami yang mengurus semua keperluan kamu. Hitung-hitung sambil kamu menemani mami." pinta Anya
"Dia kan mempunyai keluarga nya sendiri yang akan mengurusnya, sayang. Tidak baik kalau kita mendahului keluarga nya." Jawab tuan Faruq yang sedari tadi masih setia berdiri di dekat istri nya
"Kamu ini kenapa, sih? Dari tadi selalu menentang kemauan ku?! Lihat saja, nanti malam tidur jangan memelukku!" ancam Anya
"Jangan seperti itu, sayang! Aku kan hanya menyuarakan pendapat ku saja." ucap tuan Faruq dengan mata berbinar-binar
Pinkan mencoba menahan tawa nya melihat tingkah kedua orang tua di depan nya sekarang ini. Dia merindukan ayah dan ibu nya yang sudah lama tidak ia kunjungi
"Huh! Jangan mendekat! Aku sedang marah padamu." ucap Anya sambil membuang muka
Benar juga, aku belum memikirkan kemana aku akan tinggal setelah keluar dari rumah sakit. Aku tidak bisa tinggal di rumah untuk sementara waktu dengan keadaan ku yang seperti ini, batin Pinkan
"Bagaimana? Apa kamu mau tinggal bersama mami?" tanya Anya lagi yang tidak sabaran dengan jawaban Pinkan
"Aku tidak ingin merepotkan mami."
"Tidak. Kamu sama sekali tidak merepotkan. Tapi, mami tidak mau memaksa kamu, besok saat kamu keluar dari rumah sakit, kamu bisa memberi jawabannya." ucap Anya lagi
Pinkan semakin dibuat bingung dengan kenyataan yang sedang dia hadapi. Dia juga bimbang untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan Anya padanya
__ADS_1
Apakah aku terima saja ya, ajakan mami? , batin Pinkan kembali gundah