
"Siapa pria tadi?" tanya Rifqan dengan sinis
"Hanya teman sekampus ku saja. Tidak ada yang lebih."
"Mana janjimu? Aku menagihnya sekarang!"
"Janji apa? Aku tidak merasa ada menjanjikan apapun padamu." jawab Pinkan berpura-pura
CUP
Rifqan mulai menciu* Pinkan, melihat tidak ada penolakan yang dilakukan Pinkan, Rifqan mulai memperdalam cium** nya dan seakan semakin menuntut. Dia sedikit menggigit bibir Pinkan agar wanita itu mau membuka mulutnya
Setelah melepas pangutan mereka, Rifqan terlihat menyeringai sambil menyapu bibirnya dengan ibu jarinya
"Aku sudah menagih nya. Kau sudah tidak punya hutang apapun. Sekarang kita pergi makan."
"Kau memang benar-benar ya, selalu mencari kesempatan dan mencium orang sesukamu saja." sindir Pinkan
"Aku hanya menagih janji sambil melanjutkan yang tertunda di dalam supermarket tadi saja."
"Kau mau makan di mana? Ada pendapat?" sambungnya lagi
"Tidak ada, dimana saja aku mau."
"Asalkan bersamaku? Benarkan?" tanya Rifqan tak tahu malu
"Habis makan, bisakah kita pergi ke suatu tempat?" tanya Pinkan penuh harap
"Tentu saja, kemana pun keinginanmu aku akan mengantar."
"Baiklah, kita makan makanan Jepang, ya?" tanya Rifqan
"Tidak!"
"Jadi, kamu ingin makan apa? Katakan saja."
"Terserah kamu saja."
"Makanan dari negeri ginseng?"
"Tidak berselera."
"Makanan dari negeri perak? Kamu mau?"
"Tidak berselera juga, Bagaimana?"
"Jadi, kau mau apa? Kenapa jawaban mu sangat menjengkelkan?"
"Mau menguji kesabaran mu!" Jawab Pinkan dan langsung tertawa keras
"Ayo, kita makan di sini saja. Aku ingin makan sesuatu yang tidak biasa."
"Kau tidak salah, Rifqan?" tanya Pinkan tak percaya
"Kenapa? Kau tidak mau makan di pinggir jalan seperti ini?"
"Bukan, seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau tidak masalah kita makan di sini?" tanya Pinkan sambil menunjuk ke tempat itu
"Tidak, aku juga ingin merasakan makan di tempat seperti ini denganmu."
"Baiklah. Ayo, kita masuk sekarang, aku sudah sangat lapar." Pinkan mendahului Rifqan
__ADS_1
"Tuan, aku pesan semua menu yang ada di sini dan masing-masing satu porsi, ya!" teriak Rifqan
"Wah, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu? Perutku terbuat dari apa?" Pinkan sampai geleng-geleng kepala
"Makan saja. Jangan banyak tanya." sungut Rifqan
Setelah mereka makan, Pinkan langsung meminta pria itu mengantarkannya pulang ke rumah Kiara. Dia sudah merasa sangat lelah, jadi pergi ke suatu tempatnya di tunda dulu
"Ingat, besok harus tepat saat jam makan siang. Kalau telat, aku bisa mati."
Tanpa menghiraukan ucapan pria itu, Pinkan langsung masuk dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya dan berniat untuk menghubungi adiknya
"Halo, kak?"
"Kamu sedang dimana?"
"Aku sedang di perpustakaan kota. Kenapa, apakah kamu membutuhkan sesuatu kak?" tanya adiknya
" Tidak, hanya saja aku ingin kau menjadi mata-mata ku di rumah."
"Mata-mata mu? Memangnya aku harus memata-matai siapa di rumah itu?" tanya Verel heran
"Tentu saja ibumu, Memangnya kau pikir siapa lagi yang harus kau mata-matai?"
Verel tercengang mendengar siapa yang harus dia awasi di rumah. Merasa ada yang tidak beres dengan adiknya, dia langsung menjelaskan maksudnya agar tidak ada kesalahpahaman
"Maksudku, jika ibu keluar rumah. Kau harus memberitahuku, aku ingin pulang dan mengambil beberapa barang di rumah." alibi Pinkan
"Oh, baiklah. Kakak tenang saja."
"Ingatlah untuk selalu jaga kesehatan mu. Dan, jangan pernah sesekali kamu bergaul dengan orang yang menjerumuskan mu ke hal yang tidak baik. Ingatlah, ayah mempunyai harapan besar padamu." nasihat Pinkan
"Siap kak. Kamu tidak perlu khawatir."
Entah kamu adik kandung ku atau bukan, selama kamu bersikap baik dengan tulus padaku dan ayah, itu semua sudah cukup, batinnya
Setelah beberapa saat beristirahat, dia terjaga karena ada yang mengetuk pintu kamarnya berulang-ulang
"Pinkan, bangunlah. Apa kamu tidak lapar?"
"Aku sudah bangun, jangan berisik. Aku masih pusing." jawabnya
"Cepatlah buka pintunya. Kau ini tidur atau hibernasi?" kesal Kiara
"Kau ini membangunkan ku untuk makan atau untuk jaga malam? Sangat tidak sabaran!" ketusnya
"Aku tunggu di bawah, dalam lima menit kau tidak turun. Kau hanya tinggal mencuci piringnya saja." ancam Kiara dan langsung turun
Pinkan langsung turun setelah mendengar ancaman yang ia yakini itu tidak benar. Namun, dia juga takut kalau hal itu akan terjadi. Jujur saja, kalau tidak lapar, dia tidak ingin keluar dari zona nyamannya
"Banyak sekali makanan, dari mana?" tanya Pinkan sambil mengambil paha ayam
"Di antar Patra." jawab Kiara santai sambil mengunyah salad
"Ah, kalau tahu begitu, aku pasti akan ikut memesan sesuatu tadi."
"Mintalah pada tuan Rifqan mu sendiri, jangan menghabiskan uang calon suamiku. Nanti, tidak cukup untuk membeli berlian." jawab Kiara bercanda
"Calon suami? Siapa dulu, yang menemui ku sambil menangis di cafetaria karena merasa marah telah di jodohkan?" goda Pinkan
"Jangan menggodaku, tidak perlu mengungkit masa lalu. Makan saja paha ayam mu dengan khidmat."
__ADS_1
"Aku sudah selesai. Jangan lupa mencuci piring." teriak pinkan yang berlari masuk ke kamarnya
"Dasar tak tahu diri kau, ya!" teriak Kiara
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Keesokan paginya, saat sedang menonton TV. Ada panggilan masuk dari Rifqan, Pinkan merasa jengkel tapi segera menjawab panggilan itu
"Ada apa? Dasar pegangggu."
"Aku ingin bilang padamu, nanti kau harus masak untuk tiga orang. Dan masaklah yang banyak dan enak, ya!"
"Aku hanya masak untukmu dan Vini saja, memangnya kenapa harus tambah lagi? Apa akan ada acara keluarga di kantormu?" ucap Pinkan, dia menekankan nama Vini dengan sangat jelas
"Jangan banyak membantah, lakukan saja seperti yang ku ucapkan. Jangan telat!" Rifqan langsung memutuskan sambungan telepon nya
"Dasar sialan! Dia pikir dirinya siapa. Apa bagusnya artis wanita itu. Jelas-jelas hanya mengandalkan wajahnya saja." racau nya tak jelas
"Hah! Lebih baik aku mulai memasak sekarang. Kalau nanti aku telat, bisa-bisa darah ku dihisap habis oleh Lamprey laut itu."
Pinkan mulai memasak beberapa makanan. Karena dia belum tahu makanan apa yang menjadi kesukaan tuan muda itu, Jadi dia hanya memasak makanan kesukaannya sendiri saja. Dia mulai membuat Ayam kung Pao, Ikan kukus ala Katon, dan capcay
"Sepertinya, aku harus menambahkan beberapa buah-buahan lagi dan beberapa jenis Snack ringan agar makan siang romantis mereka berjalan dengan lancar." Dia berbicara dengan manis tapi hatinya bergetar sakit
Setelah semuanya siap, dia mulai menyiapkan dirinya sendiri. Tidak mungkin dia pergi ke perusahaan besar dengan tubuh yang berbau bawang dan amis ikan
Dia juga memesan taxi online, tidak lupa dia berdandan lebih baik dari biasanya. Karena dia yakin, disana nanti pasti akan berjumpa dengan Vini, dan dia tidak ingin di rendahkan karena penampilan nya
"Pak, kita ke Faruq Company!"
"Baik. Mau mengantar makan siang untuk suami ya?" tanya supir itu
Ah, menyebalkan sekali. Kenapa supir ini sangat ingin tahu sekali urusan orang lain
Pinkan tidak berniat menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak perlu. Setelah sampai dia langsung membayar dan cepat-cepat pergi
Setalah masuk ke lobi, semua pasang mata yang berada disana menuju ke arahnya. Melihat dirinya yang begitu cantik dan menenteng makanan yang wanginya sudah tersebar ke seluruh ruangan
"Saya ingin bertemu dengan tuan Rifqan." ucap Pinkan sopan
"Maaf, apakah sebelumnya sudah membuat janji?" tanya resepsionis dengan sopan pula
"Dia tidak perlu buat janji. Kapan saja nona ini datang, langsung mengantarkannya ke ruangan tuan Rifqan!" jawab seseorang dari arah samping
"Tuan Patra! Maaf... Maafkan saya, ini sungguh kelalaian saya." jawab resepsionis itu gemetar
"Ah, kakak ipar! Ayo, kita langsung ke ruangan Rifqan." ucap Patra tersenyum bahagia
Saat mereka ingin menaiki lift, ponsel Pinkan berbunyi. Dia melihat nama Verel yang tertera di layar benda pipihnya
"Patra, lebih baik kamu duluan saja. Aku akan mengangkat panggilan ini sebentar."
"Baiklah, nanti jika sudah selesai. Resepsionis itu yang akan mengantar kakak ipar." Patra menunjuk ke arah resepsionis tadi dan Pinkan hanya mengangguk
"Kenapa, Verel?"
"Kak, ibu sedang tidak di rumah. Dia baru saja pergi."
"Terima kasih atas info mu, nanti aku akan pulang."
"Jangan lupa membawakan ku jajan." seru Verel dan langsung mematikan sambungan telepon nya karena takut di omeli kakaknya
__ADS_1
"Bukankah ini nona Pinkan Cleotra?" ucap seseorang dari arah belakang