
"Raka, mohon maafkan aku. Aku selama ini khilaf. Aku berjanji, tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama. Bukankah wajar, jika seorang manusia punya kesalahan? Aku mohon maafkan aku, lihatlah anak kita Verel, Raka." ucapnya memelas
Raka menarik kakinya dari pegangan Amrita. Hatinya sekarang sudah keras, dia tidak akan mau kembali lagi dengan seorang wanita yang tega mencelakai suaminya sendiri
"Aku sudah memaafkan kamu." jawab Raka
Amrita terlihat senang, dia langsung berdiri dan memeluk Raka dengan tersenyum menyeringai. Namun, pelukannya dilepaskan oleh Raka perlahan
"Aku memang sudah memaafkan kamu. Tapi, aku tidak bisa untuk kembali bersamamu lagi." jawabnya melengkapi kalimat yang barusan belum sepenuhnya selesai ia ucapkan
"Tidak. Kamu tidak boleh egois seperti ini, Raka. Kamu juga harus memikirkan perasaan Verel kalau kita berpisah. Dia pasti tidak akan setuju." Amrita berusaha untuk memenangkan hati Raka kembali, dia berpikir, jika dengan membawa nama anaknya, maka Raka akan mudah luluh
"Aku setuju dengan perpisahan kalian." jawab Verel yang membuat Amrita menggeleng cepat dan histeris
"Verel, kamu tidak bisa seperti ini. Kamu tidak boleh memisahkan orang tuamu sendiri." seru Amrita
"Ibu sendiri yang membuat perpisahan ini terjadi. Ayo, Yah. Kita pergi dari sini." ucap Verel
Verel keluar dari ruangan itu, dia melihat Dharma dengan ekor matanya. Tangan kanan Verel menarik Ayahnya, tangan kirinya menarik Pinkan. Dia melangkah dengan langkah kaki besar agar secepatnya bisa keluar dari ruangan yang membuatnya kesal
"Verel?" panggil Pinkan
"Sudahlah, Kak. Aku tidak apa-apa, jangan berusaha menghiburku."
"Maaf. Aku tetap akan mengambil jalur hukum untuk menyelesaikan permasalahan antara aku dan ibumu." sebenarnya, Pinkan juga merasa tidak enak hati dengan adiknya itu
"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti perasaanmu. Kalau aku yang berada diposisi mu, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama." ucapnya
Pinkan tersenyum. Ternyata Verel sangat menghargai keputusannya. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah menjelang malam. Sesampainya di rumah, mereka terkejut dengan adanya keluarga Rifqan yang sepertinya sudah menunggu lama di teras rumah mereka
Pinkan buru-buru turun dari mobil untuk menghampiri Rifqan yang sudah duduk menunggu kedatangan mereka sambil memainkan gadget. Di situ, tidak hanya ada Rifqan, tapi juga mami Anya dan Tuan Faruq
"Rifqan?" ucap Pinkan
__ADS_1
"Kamu sudah pulang?" tanya Rifqan
"Aku sudah berdiri dihadapanmu, tentu saja aku sudah pulang." celetuknya
Rifqan hanya tersenyum tak jelas, dia juga mengumpat dirinya sendiri karena pertanyaan bodoh yang terlontar begitu saja dari mulutnya. Mami Anya menghampiri Pinkan dan memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai anaknya itu
"Pinkan, kamu yang sabar, ya!" ucap Anya sambil memeluk Pinkan
Pinkan melihat ke arah Rifqan, dia menaikkan alisnya seolah sedang bertanya 'ada apa ini'. Anya seperti mengerti arti dari kediaman Pinkan, dia pun mengatakan semuanya
"Mami sudah mengetahui semuanya, kamu yang sabar, ya." ucapnya lagi
"Terima kasih, Mami. Mami kenapa tidak menghubungiku dulu? Seharusnya tidak perlu menunggu lama seperti ini."
"Tidak apa-apa. Mami tidak mau menganggu kamu yang sedang mengurus urusan pentingmu. Biarkan saja mereka berdua sesekali merasakan bagaimana rasanya menunggu." ucapnya sambil menunjuk dagu ke arah suami dan anaknya
Raka dan Verel yang baru saja keluar dari mobil pun ikut menghampiri mereka. Dia berjabat tangan dengan Tuan Faruq yang sedari tadi hanya memperhatikan istri dan calon menantunya itu
"Maafkan kehadiran kami yang mendadak ini. Anak kami sudah sangat tidak sabaran." ucap Tuan Faruq yang menjelaskan maksud dari kedatangan mereka
Lagi-lagi, keluarga Pinkan dibuat tidak mengerti dengan kalimat ambigu Tuan Faruq. Mereka hanya diam sambil menunggu kalimat selanjutnya dan berharap akan mengerti dengan kalimat selanjutnya yang diucapkan oleh Tuan Faruq
"Kami sudah mendengar kabar tentang keluarga kalian yang terjadi hari ini." ucapnya
Cepat sekali? Memang pantas sebagai keluarga terpandang dan terhormat nomor satu di negeri ini, batin Pinkan dan Ayahnya
"Tadi, saat baru mendengar kabar itu, putra kami sudah seperti orang kerasukan. Dia segera ingin datang ke lokasi dan menghabisi si buaya Amazon." ucapnya Anya yang juga ikut menyela
"Buaya Amazon? Siapa itu?" tanya Raka yang akhirnya memilih membuka suara karena penasaran
"Kami juga tidak mengerti. Tapi, yang kami tahu, dia bersikap seperti itu karena dia ingin melindungi orang yang dia sayangi. Yaitu Pinkan, putri Anda." jawab Anya
Wajah Pinkan langsung memerah tanpa permisi. Dia malu sekaligus senang mendengar pernyataan Anya tentang perasaan Rifqan
__ADS_1
"Jadi, maksud kami datang ke sini, adalah untuk melamar putri Anda untuk anak saya." seru Tuan Faruq
"Apa?" pekik Raka masih merasa tak percaya. Bagaimana bisa, orang besar seperti mereka datang melamar putrinya, seperti mimpi dalam dongeng saja
"Iya, tuan Raka. Bagaimana menurut Anda? Kami tahu, mereka sudah saling menyayangi. Jadi, biarkan saja mereka untuk saling melengkapi." jelas Anya yang penuh harap. Dia belum tahu kalau sebenarnya Raka sudah menyetujui hubungan Pinkan dan anaknya
"Tapi, kami masih dalam keadaan seperti ini. Kalian tahu sendiri, keluarga kami pasti akan diterpa dengan rumor buruk karena ulah dari salah satu anggota keluarga kami." jabar Raka. Dia hanya ingin berterus terang
"Tidak apa-apa. Kami juga sudah tahu itu. Jika kami sudah datang ke sini, berarti kami menerima keluarga kalian apa adanya. Jadi, biarkan mereka untuk saling mendukung." jawab Tuan Faruq mengatasi kegundahan Raka
"Kalau saya pasti menerima maksud baik seorang pria. Tapi, semua juga tergantung dari Pinkan langsung. Saya tidak bisa mendahului dia mengambil keputusan."
"Bagaimana, Pinkan? Apakah kamu menerima lamaran mendadak ini?" tanya Anya yang sudah mengalihkan perhatiannya pada Pinkan
"A,aku bersedia, Mami." jawab Pinkan malu-malu
"Ya sudah, bagus kalau kamu mau menerimanya. Jadi, Mami tidak akan khawatir kalau-kalau Rifqan akan menjadi gila karena cintanya kau tolak." ucap Anya sambil tertawa
"Jadi, kita bisa menentukan tanggal sekarang." ujar Tuan Faruq
"Secepat ini?" tanya Raka
"Ya, Tuan. Apakah Anda keberatan?" tanya Anya yang terlihat cemas kalau Raka akan menolak maksud mereka
"Tidak. Lebih cepat lebih baik kan? Jadi, menurut kalian, kapan kita bisa melaksanakan pertunangan mereka?" jawab Raka sambil tersenyum canggung
"Sepertinya sudah terjadi kesalahpahaman lagi di sini. Ada yang perlu diluruskan. Tuan, kami tidak berniat membuat acara pertunangan mereka." ujar Tuan Faruq
"Lalu?" tanya Raka yang bergantian memasang wajah cemas. Dia takut kalau dia sudah salah paham dengan maksud dari kedatangan mereka
"Kami ingin mereka segera menikah, besok!" ujar Anya totalitas
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, gift dan vote ya❤️❤️❤️
__ADS_1