
Tak berselang lama setelah orang tua Pinkan pulang, datanglah Kiara dengan membawa beberapa kantong yang berisikan beberapa jenis buah di tangannya
Kiara langsung masuk dan mendapati Pinkan sedang termenung sampai-sampai kehadirannya pun tidak di sadari oleh gadis itu
"Hei, kenapa termenung?" tanya Kiara sambil mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajah Pinkan
"Eh, kapan kau datang?" tanya Pinkan yang mulai sadar
"Baru saja, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak. aku hanya bingung saja, aku akan tinggal dimana setelah keluar dari rumah sakit nanti."
"Kenapa harus bingung? Pintu rumah ku selalu terbuka untuk mu." jawab Kiara dengan tersenyum
"Tadi kedua orang tua Rifqan juga datang." ucap Pinkan
"Ah? Lalu, bagaimana?"
"Mami menawarkan aku untuk tinggal di rumah nya."
"Lalu, apa keputusanmu?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya, tuan Faruq tidak begitu menyukaiku."
"Maksudmu ayah tuan muda Rifqan? Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" tanya Kiara kembali
"Dia menatap ku dengan tajam. Mungkin, dia menilai aku menyelamatkan anaknya demi uang dan berencana melemparkan ku dengan selembar cek." ucap Pinkan dengan suara pelan
TUK
Kiara menyentil dahi Pinkan dengan kuat karena merasa gemas setelah mendengar perkataan sahabat nya itu
"Aw, sakit sekali." ucap Pinkan sambil memegangi dahinya
"Kau terlalu banyak berkhayal!" seru Kiara dengan menekankan kalimatnya
"Terserah kau saja!"
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Aku membawakan mu beberapa denah lokasi yang bagus untuk cafe mu nanti. Coba kau pertimbangkan saja." ucap Kiara sambil menyerahkan ponsel nya yang terdapat beberapa denah yang sudah ia kumpulkan
"Akhirnya. Terima kasih sahabat ku." ucap Pinkan sambil tersenyum manis
"Untuk mu, semua akan aku lakukan." jawab Kiara lebay
"Bagaimana hubungan mu dengan tuan Patra?" tanya Pinkan
"Sangat baik, Minggu depan keluarga nya akan datang kerumah ku." jawab Kiara dengan sedikit tersenyum
"Ah, aku sangat senang mendengar nya. Selamat untuk mu!"
"Kau kapan lagi? Calon suami sudah ada, untuk apa terus menunda."
"Aku tidak merasa punya calon suami, aku masih single dan hanya akan melindungi ayah ku dari nenek sihir kejam itu."
"Sesekali pikirkan juga kebahagiaan mu. Kau kan bisa membalaskan dendam mu sambil mencari jodohmu." saran Kiara
"Kia, bagaimana ya cara mendapatkan bukti perselingkuhan ibuku dan Dharma?" tanya Pinkan untuk mengalihkan perhatian wanita disampingnya
"Apa? Dengan Dharma yang selalu mendekatimu itu? Aku tidak percaya!" Kiara merasa sangat terkejut
"Aku sangat yakin, karena di kehidupan lalu ku mereka lah yang membunuhku dan ayahku." ucap Pinkan dengan tegas
__ADS_1
"Apakah sekarang aku sedang berbicara dengan hantu?" ucap Kiara bergidik ngeri
"Enak saja, aku masih hidup dan ini nyata!" celetuk Pinkan
"Kenapa adikmu tidak datang menjenguk mu lagi?"
"Dia tidak bisa sering kesini dan membuat ibu curiga. Walaupun dia tidak tahu alasan ibu nya dan aku bermusuhan, tapi dia masih mau melindungi ku dengan baik."
"Yasudah tidur lah, besok aku akan datang menjemputmu. Terserah, kamu mau tinggal dimana saja boleh."
"Kau ingin meninggalkan aku sendirian disini? Bagaimana jika ada yang menjahati ku?" ucap Pinkan pura-pura menyedihkan
"Maaf aku tidak bisa tinggal dan menemanimu. Tidak akan ada yang akan menjahati mu, sebelum masuk pun mereka sudah takut karena melihat bodyguard berbadan besar yang berjaga di depan pintu ruangan mu." ucap Kiara dan menjulurkan lidahnya
Bodyguard? Siapa yang memerintahkan mereka, aku benar-benar tidak tahu karena selalu berdiam diri di kamar ini, batin Pinkan
Lalu, Kiara keluar ruangan dan pergi
meninggalkan Pinkan sendiri. Pinkan pun tidak menyadari kepergian sahabat nya itu. Dan, dia langsung merebahkan tubuhnya untuk mulai beristirahat
Setelah Pinkan terlelap, ada seorang laki-laki datang dan mengelus pucuk kepala Pinkan dengan tangan kekar nya dan dengan perasaannya yang amat sangat dalam. Lama dia menatap wanita yang sedang berselancar di dalam mimpinya itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang
🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Matahari mulai menampakkan sinar nya, suara kicauan cicit burung terdengar bersahutan. Pinkan sudah membuka matanya dari tadi, dia sedang duduk sambil melihat-lihat beberapa lokasi yang diberikan oleh sahabatnya
"Sepertinya disini lumayan bagus, dekat dengan pusat perbelanjaan, berada di tengah kota dan dekat dengan kantor-kantor yang lumayan terkemuka." ucap Pinkan dengan berseri
"Apa yang kakak lihat?" tanya Verel tiba-tiba
"Ahh, tidak. Kapan kamu datang?" jawab Pinkan yang langsung menyembunyikan ponsel nya
"Baru saja. Kenapa menyembunyikan nya dariku?" ucap Verel kecewa
Maafkan kakak Verel, aku belum bisa sepenuhnya percaya padamu, batin Pinkan
"Kak, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Hem, ingin tanya apa?"
"Ayah, dirawat dimana? Aku merindukan nya. Terasa sudah sangat lama sekali, aku ingin mengunjunginya." jelas Verel dengan mata yang sendu
DEG!!
Pinkan merasakan getaran pada hatinya. Namum, dia tidak menunjukkan gelagat aneh yang berlebihan di depan adiknya itu
"Benarkah? Yasudah, nanti setelah aku sudah lebih baik, kita akan datang untuk mengunjungi ayah bersama."
"Baiklah, aku akan menunggu waktu itu kak." ucap Verel dengan tersenyum senang
"Kamu tidak ada kelas? Kenapa malah datang kemari?" selidik Pinkan
"Tidak ada, aku kemari karena ingin menjemput mu. Aku ingat, hari ini kamu akan pulang, kan?"
"Ya, aku memang akan keluar dari rumah sakit. Tapi aku tidak pulang kerumah." Pinkan mengatakan itu dengan pelan karena merasa ada yang tercekat di tenggorokan nya
"Kenapa? Apakah kamu sudah tidak ingin melihat adikmu ini lagi?"
"Bukan. Kau tahu sendiri bagaimana sikap ibu? Aku hanya ingin menyembuhkan lukaku dahulu, jika sudah benar-benar sembuh, aku pasti akan pulang." jelas Pinkan yang tidak ingin ada kesalahpahaman dengan adiknya
"Jadi, kamu akan tinggal dimana nanti?" tanya Verel
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan Verel sukses membuat Pinkan tergagap. Dia sendiri bingung mau tinggal dimana. Jika dia harus menyewa rumah, tentu saja dia tidak yakin. Uang itu akan di pakainya untuk memulai usahanya yang baru, jika harus menyewa rumah lagi dia takut akan tidak cukup
"Mungkin aku akan tinggal bersama Kiara, tidak masalah jika sesekali sedikit merepotkan dia." Pinkan terkikik setelah mengatakan itu
"Yasudah, aku hanya mengikuti apa yang kakak mau. Aku tidak bisa memaksakan kakak agar pulang kerumah."
Pinkan hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya. Namun, setelah adiknya mengatakan sesuatu yang lain lagi, dia merasa terkejut dan mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kuku jari nya memutih
"Kak... aku tidak bermaksud membuatmu sedih, tapi aku juga harus menyampaikan berita ini agar kamu mengetahuinya." Verel berucap sambil terus melihat ke bawah
"Apa? Memang berita apa yang ingin kamu katakan hingga bisa membuatku bersedih?" tanya Pinkan antusias karena penasaran
"Dharma sudah beberapa hari ini mencari mu. Dia terus menanyakan mu padaku, aku sangat risih dengan nya."
"Hanya itu? Bukankah bagus jika kakakmu di cari oleh seorang pria? Berarti kakakmu tidak akan disebut tidak laku,kan?" Pinkan tertawa renyah setelah mengatakan itu
"Dan, lagi..." Verel terlihat menggantung kalimat nya karena takut untuk melanjutkan
"Dan, apa? Jangan membuatku mati penasaran karena ucapan mu. Aku akan menghantui mu nanti." ucap Pinkan yang hanya bercanda. Kemudian, dia mengambil sebuah jeruk yang menggugah seleranya dan mulai mengupas kulit jeruk tersebut
"Dan di kampus sudah beredar isu tentang mu, kalau kamu hanyalah anak haram dari keluarga Cleotra!" seru Verel yang langsung menyelesaikan kalimatnya
"Apa?" Pinkan terperangah mendengar hal yang barusan di ucapkan oleh adiknya. Jeruk yang baru saja dikupas nya pun jatuh ke lantai dengan eloknya
"Kamu juga tidak datang ke kampus beberapa hari ini karena malu, karena identitas tentang mu sudah diketahui oleh publik." sambung Verel
"Sudah berapa hari isu ini tersebar?" tanya Pinkan dengan dingin
"Tiga hari, selama kamu tidak ke kampus."
"Kenapa baru memberitahu ku sekarang?" tanya Pinkan lagi
"Kamu kan sedang sakit dan sekarat. Mana berani aku mengatakannya padamu." Verel merasa bersalah
Sontak, Pinkan langsung melempar adiknya dengan sebuah apel yang berukuran besar karena marah
"Kau mendoakan aku benar-benar sekarat? Lalu, kenapa sekarang kau berani mengatakannya?"
"Karena aku terpaksa, aku memang harus memberitahukan kabar ini padamu kan? Aku tidak ingin nanti, saat kau datang ke kampus kau akan dihina sampai sakit jantung" jawab Verel yang sepertinya sudah serba salah
Siapa sebenarnya yang menyebarkan rumor aneh ini? Tempo hari, Vini juga mengatakan hal yang sama. Dia tidak mungkin asal berbicara jika tidak ada yang mengatakannya, batin Pinkan yang menduga-duga
"Apakah ibu tahu tentang rumor sialan ini?"
"Tahu, aku juga tidak tahu dia mengetahuinya darimana. Aku tidak merasa pernah memberitahu nya masalah ini." Verel pun merasa bingung
Jelas saja, dia tahu walaupun kamu tidak mengatakannya, dia punya pria kecil nya sendiri untuk mengatakan informasi ini padanya. batin Pinkan
"Sudah, kamu tidak perlu memikirkan masalah ini lagi. Yang penting kau belajar dengan giat dan tekun saja." nasehat Pinkan
"Ya aku tahu, tapi aku bingung juga. Kenapa ibu sepertinya sangat membencimu sampai-sampai dia selalu mengatakan yang tidak-tidak tentang mu. Padahal, kamu sangat baik."
"Ada beberapa hal yang belum saatnya kamu ketahui." jawab Pinkan dengan senyumannya yang tulus
"Sudah lama? Sepertinya serius sekali?" tanya Kiara yang tiba-tiba masuk
"Tidak terlalu, hanya berbicara tentang kakak dan adik."
Mendengar itu Verel merasa senang, dia merasa Pinkan sudah memaafkan nya dan juga sudah menganggap nya sebagai seorang adik. Dia tahu, Pinkan memang wanita yang baik
Hanya saja, dia selalu saja bingung kenapa ibunya tidak menyukai anak sebaik Pinkan, dan Pinkan juga tidak memberitahu nya. Bukankah, dia sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal yang menyangkut tentang keluarga nya sendiri
__ADS_1
Dia hanya belum mengetahui ambisi ibunya, ambisi itulah yang membuat Amrita sangat ingin melenyapkan Pinkan dan ayah nya