Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Terkuaknya Dendam Lama


__ADS_3

Setelah kepergian dua sejoli berbeda usia itu. Kiara memutuskan untuk menelepon sahabatnya untuk memberitahukan apa yang sudah ia dapatkan sekarang


"Pinkan, bisakah kita bertemu di taman nanti sore?"


"Tentu saja, memangnya ada apa?" tanya Pinkan


"Aku ingin menunjukkan bukti percakapan Amrita dan Dharma. Bawa juga buku diary itu, aku tidak sabar untuk membacanya." ucap Kiara. Rasanya, dia sudah berapi-api karena mendengar hal yang menyakitkan tadi


"Baiklah." Pinkan memutuskan sambungan telepon itu. Dia berpikir sejenak, lalu mengambil buku diary yang selama ini dia simpan dan memasukkan ke dalam tasnya agar tidak tertinggal


******


Saat sudah sore hari, seperti janji mereka, Pinkan datang dengan membawa buku diary yang memang dia sendiri juga sangat ingin tahu apa isinya. Kenapa bisa susah sekali untuk dibuka gemboknya


"Pinkan, aku sudah merekam percakapan mereka. Rencana mereka sangat mengerikan!" ucap Kiara sambil menggoyangkan bahu Pinkan


Kiara memutar rekaman audio yang dia maksud. Pinkan mendengar dengan seksama, sesekali ia nampak mengepalkan tangan, namun diakhir dia tampak menyeringai


"Mereka itu sangat bodoh, tetapi masih berani merencanakan hal segila itu untuk mencari kemewahan dengan cara cepat." ucap Kiara


"Tolong simpankan rekaman audio itu untukku. Jika, kau tidak keberatan, tolong sertakan dengan rekaman cctv-nya juga. Jadi, terlihat jelas kalau suara ini memang bersumber dari mereka." pinta Pinkan


"Tenang saja, aku pasti akan segera mendapatkannya untukmu."


"Sekarang, ayo kita cari tukang kunci. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui isi dari buku jelek ini."


Mereka menuju parkiran untuk pergi dari sana menggunakan mobil milik Kiara. Sesampainya mereka di tempat tempah kunci, mereka langsung menemui salah satu pegawai disana


"Ada yang bisa kami bantu, nona?"


"Kami ingin membuat kunci baru untuk gembok ini, bisakah?" tanya Kiara

__ADS_1


Kiara menunjukkan buku diary yang dipegang Pinkan. Pegawai itu melihat dan menatap gembok itu lumayan lama


"Wah, sepertinya gembok ini memang sudah sangat lama, ya! Di dalamnya juga sudah berkarat jadi susah untuk terbuka. Kalau kita buatkan kunci baru juga tidak berguna, nona!" ucap pegawai itu lalu mengembalikan diary itu pada Kiara


"Jadi, bagaimana solusi yang anda punya, tuan?" tanya Pinkan kemudian


"Kita hanya bisa membuka paksa gembok itu. Kemudian, barulah buatkan sepasang gembok yang baru untuk buku itu." jelasnya


"Begitu juga lebih baik. Lalu, buatkan gembok yang hanya mempunyai satu kunci saja, dan tidak bisa dibuka dengan senjata tajam lainnya. Biasakan?" tanya Pinkan


"Tentu bisa. Tunggu sebentar. Pengerjaan ini sedikit membutuhkan waktu. Karena, untuk membuat gembok yang hanya mempunyai satu kunci, kami menggunakan sebuah sistem khusus kami." jelas pegawai itu


"Baik, kami akan menunggu disini saja." sahut Kiara


Setelah menunggu kurang lebih sekitar tiga puluh menit, akhirnya gembok itu selesai. pegawai itu mengembalikan gembok yang lama, dan juga untuk gembok yang baru, harus dibuka menggunakan kata sandi


"Terima kasih, tuan! Ini sesuai apa yang aku harapkan." ucap Pinkan kemudian pergi dari sana


Sesampainya di rumah, Kiara langsung mengunci pintu kamarnya, sudah seperti ingin membuka rahasia negara saja kamu Kiara dan Pinkan


"Pinkan, cepat buka! Aku sudah sangat penasaran."


Pinkan mulai membuka diary itu, karena yang mengetahui sandi diary usang itu hanyalah Pinkan. Pinkan membolak-balikkan halaman buku itu. Tapi, dia tidak menemukan sesuatu apapun yang membuatnya bisa menemukan jawaban atas kecurigaannya selama ini


"Tidak ada yang spesial, Pinkan. Hanya kisah sehari-hari Amrita saja." ucap Kiara yang ikut membaca dan merasa kecewa


"Tidak. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai petunjuk. Tidak mungkin foto waktu itu ada dibuku ini kalau tidak ada sesuatu."


"Mungkin hanya kebetulan tersangkut saat dia menaruhnya secara bersamaan, Pinkan."


"Sebentar, coba kamu lihat ini. Lembaran ditengah buku tidak rapat." ucap Pinkan, dia membalikkan halaman buku itu

__ADS_1


Terdapat banyak catatan yang tertulis dengan tinta merah. Pinkan mulai membacanya dengan perlahan sambil memahami tulisan-tulisan kecil itu


POV Amrita dalam buku diary nya


Aku adalah Amrita, aku sudah lama tidak menulis dibuku ini. Aku baru mulai menulis karena sekarang hatiku sedang tidak baik-baik saja.


Aku mempunyai sahabat yang bernama Jessy Shu, kami sama-sama berasal dari desa sebelah. Orang tua kami meninggal dunia karena menjadi korban Bencana alam gempa, yang menewaskan hampir seisi desa. Sekarang, kami dititipkan di panti asuhan ini


Awalnya, aku mengira semua berjalan baik-baik saja. Tapi, aku tidak mengira, orang yang aku kira sahabat itu malah mengkhianati ku dengan pergi dariku. Ya, dia di adopsi, tepat saat kami berumur empat belas tahun, dia di adopsi oleh seorang kakek tua yang kaya raya


Aku berulang kali membujuknya untuk menolak. Namun, dia hanya diam saja, aku juga berkata padanya, kalau dia tidak ingin menolak, maka bawalah aku bersamanya. Karena aku selalu ingin bersamanya dan sama-sama menikmati kehidupan yang layak di kota


Tapi, hari itu tiba juga, dia pergi bersama kakek itu. Dia berpamitan padaku. Tapi, karena aku merasa marah dan benci padanya, aku menolaknya hingga dia terjatuh, aku berlari ke dalam kamar dan menangis. Aku tidak mengetahui alasan dia pergi dariku


Sejak hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi atau sekedar menukar kabar. Aku hanya mendengar kabar burung dari teman-temanku di panti kalau dia hidup dengan sangat baik. Aku merasa kecewa, sakit hati, dan mendendaminya dengan penuh kemarahan


Atas dasar apa dia hidup lebih baik dariku, kami sama-sama berasal dari desa dan juga sama-sama anak yang tidak punya ayah dan ibu. Tapi, kenapa hanya dia? Kenapa hanya dia yang merasakan hidup dengan baik di kota


*Setelah beberapa tahun berlalu, a*ku memutuskan untuk menyusulnya ke kota. Aku ingin memelas padanya untuk menerimaku menumpang hidup degannya, walaupun itu menjatuhkan harga diriku. Aku rela, agar hidupku menjadi lebih baik


Sesampainya di kota, aku mendatangi rumah kakek tua itu. Aku sangat terkesima, rumahnya sangat megah dan mewah. Dendam ku semakin membara. Saat aku mencarinya, asisten rumah tangga di rumah itu mengatakan kalau Jessy Shu sudah menikah. Karena aku mengaku sebagai sahabatnya dari panti, asisten itu memberikan alamatnya padaku


Aku berusaha mencarinya, tapi saat aku sampai disana. Mataku sakit melihat pemandangan dia yang sangat bahagia dengan suaminya dan juga sudah mempunyai seorang anak perempuan yang cantik


Aku pergi dari sana, aku mencari nomor ponselnya dari teman-temanku yang berada di panti. Aku menghubunginya dan sesekali mengajaknya bertemu dengan alasan aku sedang bekerja di kota itu jadi sekalian untuk bertemu saja


Saat kami bertemu, aku menatapnya dari atas ke bawah. Jujur saja, dia terlihat sangat cantik sekarang. Dia tetaplah Jessy yang cantik, hangat, baik, ramah dan juga dermawan. Dia menawarkan aku untuk tinggal di rumahnya, tapi aku menolak karena aku memang sudah memiliki rencana lain


Kami kerap bertemu, saat bertemu, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku selalu menaruh obat yang dapat memicu serangan jantung dan memicu stress ke dalam minumannya.


Karena, sejak saat dia meninggalkanku sendiri di panti itu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk kembali membuatnya menderita dan merasakan apa yang namanya dikhianati oleh orang terdekatmu

__ADS_1


__ADS_2