Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
MALAM PANJANG


__ADS_3

"Oh ya? Aduh, aku takut sekali." ucap Pinkan berpura-pura takut. "Lalu, bagaimana kalau kau tidak akan pernah bisa keluar lagi dan tidak bisa menghirup udara bebas lagi karena laporan tuntutanku." desis Pinkan sinis.


"Hahaha, memang tuntutan apa yang bisa kau ajukan untuk bisa mengurungku ditempat sial ini." Amrita meremehkan Pinkan.


"Aku tidak sanggup mengatakannya satu persatu karena kejahatanmu terlalu banyak. Jadi, kau bisa melihatnya sendiri." Pinkan kembali melemparkan berkas-berkas laporannya pada Amrita seperti yang dilakukannya pada Dharma.


"Dari mana kau mendapatkan ini semua? Ternyata kau sangat licik, melebihi ibumu." desis Amrita meremas kertas-kertas yang dipegangnya


"Menurutku, untuk melawan nenek tua sepertimu, aku memang harus menjadi siluman rubah." jawab Pinkan santai yang membuat Amrita semakin kesal.


"Sialan kau, Pinkan!" umpat Amrita


"Dan ada satu lagi, kau belum melihat ini, kan? Aku ingin mengirimkan ini ke kamarmu, tapi kau malah lebih dulu mendekam disini."


Pinkan memperlihatkan beberapa foto vulgar Dharma dengan wanita lain. Amrita menggeleng cepat tidak mempercayai apa yang ditunjukkan oleh Pinkan.


"Tidak mungkin. Itu pasti hanya rekayasa, itu pasti editanmu saja." ucap Amrita menyangkal


Pinkan kembali menggeser ke slide berikutnya, dia memperlihatkan Vidio Dharma yang sedang melakukan hubungan se* dengan beberapa orang wanita dengan sangat erotis.


Amrita menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka, laki-laki yang dibelanya selama ini malah melakukan hal sememalukan itu. Padahal, setelah dia keluar dari sini, dia masih berniat untuk ikut membebaskan Dharma juga. Tapi sepertinya kesempatan itu tidak ada lagi, bahkan dia harus mendekam di jeruji besi itu seumur hidupnya.


"Hahahaha. Kau menunjukkan ini ingin membuatku sakit hati, kan? Aku bersumpah, aku akan berdoa, Rifqan akan meninggalkanmu juga. Dia hanya bermain-main saja denganmu." seru Amrita sinis.


"Tapi sayang sekali, kamu sudah menikah. Bayanganmu tidak bisa terwujud." balas Pinkan dengan tawa sinisnya membuat Amrita mengamuk dan langsung diseret oleh beberapa orang polisi yang sedang berjaga.


Pinkan keluar dengan wajah puasnya. Walaupun balas dendamnya tidak sesuai rencana, tapi bisa melihat musuh-musuhnya mendekam dalam penjara dia merasa sangat puas.


"Bagaimana, apakah sudah selesai?" tanya Rifqan yang sedari tadi sudah menanti kehadiran istrinya.


"Sudah." jawab Pinkan dengan senyum manisnya.


"Kita langsung ke apartemen?" tanya Rifqan meminta pendapat.


"Ba-bagaimana, kalau kita mengisi perut terlebih dahulu?" tanya Pinkan gugup karena sudah membayangkan hal yang aneh-aneh.


"Jadi, kita makan dimana?"

__ADS_1


"Bawa pulang saja. Sebenarnya aku ingin makan berdua saja denganmu. Tapi aku tidak sempat masak." ujarnya


"Baiklah." tentu saja Rifqan mengangguk senang. Kalau sudah berduaan dengan Pinkan, bahkan jika di planet mars pun dia akan dengan senang hati mengiyakannya.


Setelah mereka selesai membeli makanan yang Pinkan inginkan, karena Rifqan akan memakan apapun yang diinginkan Pinkan.


Saat Pinkan sedang menata makanan ke atas piring, tiba-tiba Rifqan memeluk pinggangnya dari arah belakang.


"Sayang, tiba-tiba aku mendadak menjadi sangat lapar." bisiknya membuat Pinkan merasa geli.


"Sabar ya, ini aku sedang menyajikannya untukmu juga." jawab Pinkan yang tidak mengerti kalimat ambigu suaminya.


"Aku tidak ingin makan itu."


"Jadi, kamu ingin makan apa? Harusnya sekalian membelinya tadi. Kalau tidak, katakan saja apa yang kamu inginkan agar aku memasaknya untukmu." ujar Pinkan


"Aku tidak mau. Aku ingin ini." Rifqan membalikkan tubuh istrinya dan menciu* bibir mungil istrinya itu.


HMPH HPPMH


"Ternyata kamu memang tidak pandai, ya? Aku sangat suka kelinci kecil sepertimu, Sayang. Aku akan mengajarimu baik-baik." tak sempat menjawab, Rifqan langsung kembali menyerang bibir ranum istrinya dengan rakus.


Tanpa aba-aba, Rifqan mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, membawanya untuk masuk ke dalam kamar mereka yang ternyata sudah dihias dengan suasana pengantin baru.


Mereka sempat terpaku di tempat, mereka sama-sama saling menatap dan sama-sama menggeleng cepat. Merasa tahu siapa dalang dibalik ini, mereka sama-sama tersenyum.


BRUKK


Rifqan menidurkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dia menindih tubuh istrinya dan kembali memulai ciuma* hangat mereka. Meskipun Pinkan tidak ahli dalam bidang itu, tapi Pinkan tetap berusaha menyesuaikan permainan suaminya. Membuat Rifqan semakin senang bukan kepalang


Rifqan mulai menyusupkan tangannya ke dalam pakaian istrinya, dia mulai memainkan bukit kembar istrinya sambil sesekali mengecupnya dan memilin puncak gunung itu dengan jarinya.


"Ahh...." setelah mengeluarkan suara erotis itu, Pinkan langsung menutup mulutnya karena malu.


"Jangan ditahan, Sayang. Lepaskan saja agar semua terasa lebih nikmat." bisik Rifqan


Rifqan juga mulai menanggalkan pakaiannya dan Pinkan. Karena belum terbiasa, Pinkan menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Rifqan tertawa melihat keimutan istrinya dan wajahnya yang tampak merona

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah menjadi suamimu. Tidak perlu malu." ucapnya sambil menarik perlahan tangan Pinkan.


Rifqan kembali menyerang Pinkan dengan ciuma* menggebunya, dia menyelipkan jarinya diantara pangkal paha Pinkan dan memainkan jarinya di lembah itu dengan gerakan maju mundur berirama.


"Rifqan ... ahh ... geli sekali, Rifqan." lenguhan Pinkan satu persatu lolos juga, membuat kejantanan pria itu semakin mengacung.


"Nikmati saja, Sayang. Sebentar lagi kamu juga akan merasakan yang lebih menggelikan dari ini." bisik Rifqan


Rifqan mempercepat ritme jarinya. Merasa sudah tidak tahan lagi, Rifqan mulai membuka paha Pinkan dan mengarahkan kejantanannya ke lubang kenikmatan milik istrinya.


"Ahhh sakit, Rifqan! Hentikan, ini sangat menyakitkan." pekik Pinkan sambil mencakar punggung suaminya.


Rifqan langsung menyumbat mulut Pinkan dengan bibirnya. Dia mengehentikan sejenak permainannya agar Pinkan lebih rileks, setelah merasa cukup, Rifqan kembali menggoyangkan pinggulnya seirama.


"HM ahh, Rifqan."


"Sebentar lagi, Sayang." Rifqan kembali mempercepat ritme permainannya karena dia sudah mau keluar


"Hm ahh." akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama-sama. Rifqan langsung ambruk di samping tubuh Pinkan yang juga terlihat sangat kelelahan.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjaganya untukku." ucap Rifqan mengecup puncak kepala Pinkan dengan lembut.


"Sama-sama. Aku mencintaimu." ucap Pinkan.


"Aku juga sangat-sangat sangat-sangat mencintaimu." jawab Rifqan.


"Banyak sekali. Apakah kamu tidak lapar, kamu belum makan." tanya Pinkan sambil memainkan jarinya di ****** dada Rifqan.


"Aku sudah kenyang karena makan istriku ini." jawab Rifqan dengan candaan.


"Hahaha. Kamu berbohong."


"Ya, karena sekarang aku mulai lapar lagi." Rifqan kembali menerkam tubuh polos istrinya lagi dan lagi. Mereka pun melewati malam panjang itu entah sampai jam berapa.


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2