
"Perjodohan apa yang ibu dan Ayah maksud ?"sentak Aldo.
Kedua paruh baya itu pun menoleh."Turunkan nada bicara..."ucapan Ayah Dito terpotong kala melihat seorang gadis di samping Aldo.
"Ayah perjodohan apa yang kalian maksudkan tadi ?"ulang Aldo bertanya.
"Siapa wanita di sebelahmu itu Al ?" tanya ibu Lita terkesan datar.
Aldo menggenggam erat tangan Sheila."Dia wanita pilihanku, bu."jawab Aldo dengan tegas.
"Apa maksudmu itu Al ?"tanya Ayah Dito.
"Ini wanita pilihanku, Ayah. Dia Sheila."ujar Aldo sambil menatap Sheila."Aku sangat mencintainya dan segera akan melamarnya menjadi istriku."tambahnya lagi.
"Kamu jangan buat kami marah,Al. Perjodohanmu baru saja diputuskan,dan Ayah tidak ingin membatalkannya." sentak Ayah Dito yang terlihat sedikit marah.
"Ayah memutuskan perjodohan itu tanpa bicara dulu padaku. Lagipula Aldo tidak akan menerima perjodohan ini,Yah."ujar Aldo tak kalah keras.
"Turunkan nada bicaramu itu nak, ingat dia Ayahmu Al."ujar ibu Lita sambil mengelus pundak putranya.
"Ayah tidak akan membatalkan perjodohan itu,Al. Turuti keinginan kecil orang tuamu ini,Al. Selama ini kami tidak pernah meminta apapun yang akan membuatmu sulit kan ?"ujar Ayah Dito.
"Permintaan kecil ? Ayah tau perjodohan ini begitu berdampak pada kehidupanku ke depannya, Yah."tolak Aldo. "Aku akan tetap menolak perjodohan ini,Yah. Lagipula aku tidak mengenal siapa wanita yang akan dijodohkan denganku. Bahkan jika kami sudah bertemu pun itu tidak akan mengubah diriku bisa mencintainya, karena hanya Sheila nama wanita yang sudah tertaut di hatiku."jelas Aldo sambil merangkul pundak Sheila.
Ibu Lita melirik Sheila lalu perlahan menghampirinya."Namamu Sheila, nak ?"tanya ibu Lita begitu lembut.
Sheila tersenyum."Iya tante, kenalkan saya Sheila."ujar Sheila dengan sopan.
"Sudah berapa lama kamu mengenal Aldo, nak ?"tanya ibu Lita kembali sambil memegang tangan Sheila.
"Tidak begitu lama tante. Aku mengenalnya saat mas Al bekerja di perusahaan bang Erlan."tutur Sheila.
__ADS_1
"Kamu mencintainya, nak ?"tanya ibu Lita menatap dalam manik mata Sheila.
Sheila menunduk."Sheila sangat mencintainya tante."ujarnya sambil menahan setetes bulir air mata."Tapi jika memang Sheila perlu melepaskan mas Al, Insyaallah Sheila ikhlas tante."tambahnya lagi dan membuat pria di sebelahnya begitu terkejut.
"Sayang.. tunggu dulu. Kamu bilang apa tadi ? Ikhlas untuk melepaskanku ? Kamu tidak mencintai mas ?"ujar Aldo sambil memegang pipi Sheila.
"Kamu sudah dengar sendiri kan, Al. Dia bahkan mau merelakan hubungan kalian. Lagipula hubungan kalian baru saja dimulai kan ? Tidak sulit untuk kalian saling melepaskan dan melupakan."tutur Ayah Dito dengan angkuh.
"Ayah, jangan berbicara terlalu angkuh seperti itu."ujar ibu Lita menenangkan suaminya.
"Sudahlah bu, Ayah perlu tegas untuk kali ini pada anakmu. Ayah sudah cukup memberinya waktu untuk mencari wanita pilihannya sendiri, tapi sampai saat ini dia bahkan belum mengenalkan satu gadis pun pada kita kan ?"ujar Ayah Dito dengan tegas.
"Aku membawa gadis pilihanku hari ini ke hadapan Ayah. Dia Sheila gadis pilihanku. Aku mohon sekali lagi Yah, tolong batalkan perjodohan itu. Aku sangat mencintai Sheila, Yah."ujar Aldo memohon pada ayahnya.
Sambil bersidakep dada,Ayah Dito memandang tajam pada Aldo."Ayah memberimu waktu hingga besok untuk memutuskan, Al. Terima perjodohan ini atau putuskan hubungan antara dirimu dan kami. Silahkan pertimbangkan ucapan Ayah ini."ujar Ayah Dito sambil melangkah pergi dari tempat itu.
Aldo menangkupkan kedua tangannya dan memohon pada ibunya."Ibu, tolong bujuk Ayah. Jangan memberikanku pilihan sesulit ini, bu. Aku begitu mencintai kalian dan juga Sheila, bu. Kalian hidupku. Tolong bu beri ayah pengertian."ujarnya memohon dan tak terasa sebulir air mata ikut turun dari pipi Aldo.
Ibu Lita berniat untuk meninggalkan keduanya di tempat itu, namun suara lembut yang memanggilnya membuat ia mengurungkan langkah kakinya untuk pergi.
"Ibu...."ujar Sheila dengan lembut sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah ibu Lita.
Ibu Lita menoleh sambil tersenyum."ada apa nak ?"tanya ibu Lita.
Sheila memberanikan diri menggenggam tangan ibu dari kekasihnya itu."Ibu tidak usah khawatir, karena mas Al akan menerima perjodohan ini. Aku akan melepaskan mas Al demi kebahagiaannya, Bu. Aku akan menjelaskan perlahan kepada mas Al, Bu."tutur Sheila.
Ibu Lita seketika memeluk Sheila."Terimakasih nak, kamu wanita yang begitu baik dan bijak. Pantas saja Aldo begitu mencintai kamu, kamu wanita luar biasa. Ibu berdoa jika tidak sekarang maka di kehidupan berikutnya kamu dan Aldo akan bersama. Ibu pun berharap memiliki menantu yang sifatnya bijak sepertimu,nak. Terimakasih."ujar ibu Lita terharu.
"Ibu tenang saja, serahkan pada Sheila ya. Sheila akan membujuk mas Al agar mau menerima perjodohan ini."ujar Sheila berjanji.
Ibu Lita mengangguk dan kembali memeluk Sheila. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah untuk menemui suaminya.
__ADS_1
Sementara Sheila kini sudah berhadapan dengan Aldo. Aldo terlihat bingung dengan sikap Sheila dan ibunya beberapa menit lalu. Apa yang sebenarnya kedua wanita beda usia itu bicarakan ? Bahkan tadi Aldo melihat jika keduanya pun saling berpelukan dengan erat.
"Apa yang kamu bicarakan pada Ibu tadi ?"tanya Aldo dengan nada datar.
Sheila menggengam tangan Aldo."Aku bilang kalo kamu menerima perjodohan ini."ujarnya dengan enteng.
"Sayang apa yang kamu lakukan ?"sentak Aldo sambil menghempaskan tangan Sheila dengan keras.
"Mas Al denger dulu..."ujar Sheila sambil berusaha menggengam kembali tangan Aldo, namun nihil.
Aldo membelakangi Sheila."Kamu menganggap hubungan kita ini main-main ? Hingga dengan mudahnya kamu berucap jika aku mau menerima perjodohan ini. Kamu meragukan mas, begitu ?"ujar Aldo sambil mengepalkan tangannya.
Sheila membalik tubuh Aldo."Aku bukan meremehkan atau menganggap hubungan kita main-main mas. Tadi kamu dengar sendiri kan, jika Ayah memberimu pilihan begitu sulit. Aku tanya sama kamu, emangnya kamu siap jika harus memutuskan hubungan kamu dengan orang tuamu begitu saja ? Tidak kan. Mas aku sangat tau jika kamu begitu mencintaiku, tapi aku juga gamau egois. Aku memilikimu sementara aku juga menyakiti hati orang tuamu."ujar Sheila menjelaskan dengan detail.
Aldo menangkup pipi Sheila."Kita bisa berjuang lebih keras untuk meyakinkan ayah, Sayang. Mas yakin Ayah akan mempertimbangkan kembali perjodohan itu."ujar Aldo memelas.
"Mas, untuk kali ini turuti keinginan orang tuamu ya. Aku mohon banget sama kamu."pinta Sheila.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita ? Secepat inikah berakhir ?"tanya Aldo tak terima.
"Jika Allah mentakdirkan hamba-Nya untuk bersama dengan pasangannya, Allah akan mempermudah jalan kita."tutur Sheila sambil mengenggam tangan Aldo.
Aldo memeluk Sheila."Tolong jangan lakukan ini, sayang. Jangan mengorbankan lagi perasaanmu. Mas begitu mencintaimu."ujar Aldo begitu lirih.
"Turuti keinginan Ayahmu, mas. Aku ikhlas untuk itu. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua. Aku ikhlas jika jalan cinta dan hidupku seperti ini. Aku mohon ya mas, kamu jangan mengkhawatirkan soal perasaanku. Walaupun sakit menerima ini, tapi yakinlah aku bisa dan kuat menghadapinya." ujar Sheila dengan yakin.
Kuatkan aku Ya Allah...lirih Sheila dalam hati.
Pelukan keduanya terlepas."Maafkan mas karena tidak bisa meyakinkan Ayah tadi. Tapi mas janji akan bicarakan ini lagi dengan Ayah. Semoga Ayah bisa mengerti jika perasaan seseorang tidaklah dapat dipaksakan."ujar Aldo sambil menangkup pipi Sheila.
Sheila menggeleng."Tidak mas jangan lakukan hal yang membuat Ayah akan semakin marah sama kamu. Kamu turuti keinginan Ayah ya."ujar Sheila sambil menghapus sedikit air mata di pelupuk matanya.
__ADS_1