Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
TRAUMA MENTAL


__ADS_3

Nayla sudah ditangani oleh dokter di rumah sakit terdekat. Bagas juga sudah menghubungi Erlan dan keluarganya untuk menyusulnya ke rumah sakit. 30 menit sudah Nayla diperiksa oleh dokter, Bagas dengan setia menunggu nya di ruang tunggu. Ia juga berharap keadaan Nayla baik-baik saja.


Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Naylaku. Ya Allah tolong selamatkan Nayla. lirih Bagas dalam hati.


Doketr yang menangani Nayla kini terlihat sudah keluar dari ruangan tempat Nayla diperiksa. Bagas segera menghampiri dokter untuk memastikan kondisi Nayla saat ini.


“Dokter bagaimana ? Tidak ada yang serius kan ?”Tanya Bagas khawatir.


Dokter menghela nafas lalu berkata.” Apa pasien mengalami kekerasan Pak sebelumnya ? Atau dia habis mengalami sebuah pelecehan ?”ujar dokter yang melempar pertanyaan pada Bagas.


Bagas mengangguk.”Ia dia baru saja mengalami pelecehan, namun sepertinya hal itu belum terjadi sampai akhir. Dokter paham kan maksudku…”ujar Bagas.


Dokter tersenyum.” Iya Pak.. Begini sebenarnya kondisi dari nona Nayla tidak cukup serius, tidak ada luka luar atau luka dalam yang memerlukan penanganan khusus. Lukanya hanya luka ringan dan tadi kami juga sudah melakukan pertolongan pertama.”jelas dokter.


“Lalu saat pingsan tadi, apa tidak berbahaya dok ?”Tanya Bagas lagi.


“ Pasien pingsan karena terlalu syok Pak. Sebenarnya, begini Pak ada yang saat ini saya khawatirkan mengenai kondisi psikis nona Nayla.”ujar Dokter.


“Psikis Nayla ? Ada apa dok ?” Tanya Bagas.


“Sepertinya nona Nayla akan mengalami trauma berat ke depannya. Kondisi psikisnya saat ini begitu terguncang Pak. Saya mengatakan ini karena beberapa pasien akan cenderung mengalami hal ini ketika ia sudah mengalami sesuatu hal yang melukai harga dirinya atau mentalnya. Nona Nayla tidak mengalami luka serius di tubuhnya, tetapi luka di mentalnya begitu dalam. Ia akan terus mengingat kejadian pilu yang ia alami hari ini.”jelas dokter.


DEG……


“ Separah itukah kondisinya dokter ?” selah mama Shindy.


Bagas tak sadar jika Erlan dan keluarganya sudah tida disana. Semua mendengar penuturan dokter mengenai kondisi Nayla saat ini. Erlan hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar. Ia bahkan tak pernah membayangkan,adik yang selalu ia jaga dan sayangi itu akan mengalami kejadian yang bisa melukai mentalnya begitu dalam.


Mama Shindy yang juga tak kalah terkejutnya saat ini hanya bisa menangis. Anak perempuan satu-satunya itu saat ini justru tengah tersiksa batinnya. Mama Shindy dan yang lain juga sudah tau apa yang dialami Nayla beberapa jam lalu, karena tadi Erlan sempat menceritakan kronologis kejadian itu saat di perjalanan menuju rumah Sakit.


“Erlan.. Papa ingin bertemu dengan orang-orang yang sudah membuat Nayla begini. Papa pastikan mereka tidak akan bisa lolos dengan mudah.”ujar tegas papa Herman.


“Erlan sudah mengurusnya tadi dengan Arkan. Papa tenang saja, Erlan sudah menjamin mereka akan mendekam di penjara selama mungkin.”ujar Erlan sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Mama Shindy hanya menatap sendu pintu kamar rawat Nayla. Ia saat ini hanya ingin anak kesayangannya itu segera sadarkan diri. Ia ingin memeluk dan mencium anaknya untuk membantu menyalurkan ketenangan untuk Nayla.


Bagas juga terlihat begitu sendu. Apalagi saat melihat mama Shindy yang terlihat begitu terpuruk. Bagas kembali menghampiri dokter dan menanyakan bagaimana cara baiknya agar Nayla bisa kembali pulih.


“Lalu tindakan apa yang harus dilakukan agar Nayla bisa sembuh ?”Ujar Bagas kembali bertanya.


“Saya rasa kalian harus membawa nona Nayla ke psikiater. Konsultasikan segala apa yang nona Nayla alami. Saya yakin dengan bantuan psikiater nona Nayla bisa kembali pulih lagi mentalnya.”jelas dokter.


“Dokter nona Nayla sudah sadarkan diri.”ujar salah satu suster yang tadi memang menjaga Nayla di ruangannya.


...…....


Saat ini di sebuah kamar dengan nuansa berwarna putih dengan segala perlengkapan medis,tak lupa bau khas obat-obatan memenuhi satu ruangan itu, seorang gadis tengah diam dengan tatapan yang kosong. Sesekali air matanya jatuh mengenai pipi mulusnya. Gadis itu tak lain adalah Nayla. Ia seperti sudah kehilangan sebagian dari dirinya saat ini.


Ceklek….


Pintu terbuka menampilkan seorang pria yang seketika berubah sendu saat melihat kondisi Nayla yang begitu meprihatinkan. Nayla seakan kehilangan harapan untuk kembali menata hidupnya dan dirinya sendiri. Pria itu mendekat lalu duduk di samping ranjang Nayla. Ia elus kepala Nayla dengan sayang, bahkan satu kecupan ia labuhkan di dahi Nayla.


Nayla menatap Erlan dengan sendu.”Abang….” panggilnya begitu lirih dan diselingi dengan senyum tipis di bibirnya.


“Gimana kondisi kamu dek ? Apa yang sakit ?”Tanya Erlan sambil terus mengelus kepala Nayla.


Seketika Nayla diam. Ia kembali menitihkan air matanya. Ingatan mengenai kejadian itu kembali mengusik pikirannya. Nayla kembali gelisah, ia cengkram bajunya kuat-kuat. Bibirnya sudah bergetar bahkan saat ini perasaannya kembali cemas. Nayla berteriak histeris tiba-tiba.


“Pergi… Pergi… aku mohon jangan mendekat… jangan sentuh aku… jangan sakiti aku… aku mohon pergi kau pria brengsek… pergi..”teriak Nayla sambil terus memudurkan tubuhnya.


“Nayla tenang sayang.. ini Abang… bang Erlan Nay… kamu tenang.. jangan takut….”ujar Erlan dengan sendu saat melihat Nayla tiba-tiba histeris.


“Jangan mendekat… jangan sentuh aku… pergi…”Nayla terus saja berteriak histeris. Ia ketakutan dan merasakan kecemasan. Bahkan keringat sudah membanjiri wajah cantiknya.


Erlan sedikit terisak melihat Nayla yang histeris. Erlan meraih pergelangan tangan Nayla. Namun justru Nayla berontak dan menodongkan pisau ke arah Erlan.


“Jangan mendekat… pergi dari sini… jangan sentuh aku… pergi…”ancam Nayla dengan tangan yang masih memegang benda tajam itu.

__ADS_1


Erlan mundur lalu berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.


“DOKTER…”teriak Erlan.


“Nak ada apa ?”Tanya mama Shindy yang juga khawatir karena tiba-tiba Erlan berteriak setelah melihat Nayla.


“Ma, Nayla histeris Ma… bahkan dia ingin melukai dirinya sendiri.”ujar Erlan.


Bagas yang mendengar itu seketika membelalakkan matanya. Ia lalu masuk untuk menemui Nayla. Saat masuk yang ia lihat adalah Nayla yang sedang memejamkan matanya dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup kedua telinganya. Ia segera hampiri Nayla dan memeluknya begitu erat.


Nayla yang merasakan hangat tubuhnya saat ini langsung mendongakkan kepalanya. Seketika ia kembali menangis dan berteriak histeris.


“Aku mohon lepaskan aku… Jangan sentuh aku… Jangan lakukan itu.. jangan sakiti aku.. aku mohon…”teriak Nayla sambil berontak untuk melepaskan dekapan Bagas.


Bagas terus memeluknya erat. Ia pun sama bersedihnya dengan Erlan saat ini. Ia lalu tangkup kedua pipi Nayla dengan tangannya.”Sayang lihat ini aku.. Bagas. Jangan takut aku ga akan sakiti kamu.”ujar Bagas sambil menatap dalam manik mata Nayla. Bagas bahkan kini memanggil Nayla dengans ebutan ‘sayang’.


Nayla masih memejamkan matanya.”Aku mohon lepaskan aku… jangan berani menyentuhku.. pergi dari sini aku mohon…”lirihnya sambil terisak.


“Buka mata kamu.. lihatlah ini aku Bagas.. aku bukan penjahat itu.. aku tidak akan menyakitimu.. aku akan menjagamu..”ujar Bagas sambil terus mencoba menenangkan Nayla.


Nayla membuka matanya. Ia tatap lelaki yang saat ini ada di hadapannya. Seketika ia menangis lalu memeluk erat tubuh kekar Bagas.”Kak Bagas.. tolong Nayla kak… dia.. dia… dia ingin….Nayla takut kak… Nayla….”lirih Nayla.


“Sutttt…. Ada kakak… kamu gausah takut.. penjahat itu ga ada disini. Mereka sudah berada di tempat yang seharusnya sayang. kakak akan jaga kamu.. kakak janji..”ujar Bagas sambil tersenyum.


“Nayla ingin pulang.. Nayla ingin berada di rumah… Nayla tidak mau disini…”pinta Nayla.


"Nay akan pulang jika kondisi Nay sudah membaik. Berhenti untuk melukai diri sendiri. Jangan takut karena kakak dan keluarga Nay yang lain akan selalu menjagamu, kamu paham sayang ?"ujar Bagas.


“ Nay janji tidak akan melukai diri sendiri lagi. Nay mau pulang kak.Kakak akan membawaku pulang kan ?” Tanya Nayla dengan mata berbinar.


Bagas mengangguk.” Kakak akan menjaga kamu mulai sekarang. Ke depannya kakak janji tidak akan membiarkan orang jahat sekalipun menyentuh atau menyakiti kamu.”ujar Bagas berjanji. Lalu ia kembali membawa Nayla ke dekapannya.


Aku akan selalu menjagamu mulai saat ini, Sayang. Aku berjanji kejadian pilu ini tidak akan lagi terjadi. Aku mencintaimu Nay.lirih Bagas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2