
Asyila kini tengah bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun Bagas sahabatnya. Ia tengah bercermin sambil memperhatikan bentuk tubuhnya yang sudah jauh berbeda sebelum hamil dulu. Ia masih memutar tubuhnya, sesekali ia pegang pipinya yang kini sudah jauh lebih bulat dari sebelumnya. Ia tengah asik memperlihatkan baby bump nya di depan cermin, namun seketika ia terlonjak saat merasakan tangan kekar yang mendekapnya dari belakang.
“Ishh mas ngagetin aja deh bisanya.”gerutu Asyila sambil memukul pelan lengan Erlan.
“Aw..."ringis Erlan."Lagian kamu lagi apa sih sayang, mas perhatikan dari tadi muter-muter sambil liatin perut kamu.”ujar Erlan yang masih setia mendekap istrinya.
“Mas lihat deh, Asyila jadi gendut ya ? Badan Asyila melar gini deh ?”ujarnya sambil menunjuk cermin.
Satu kecupan Erlan layangkan di pipi istrinya.”Gak apa-apa gendut, mas tetep cinta kok.”goda Erlan.
“Ishh gombal nih mas nya..”ujar Asyila sambil bergidik ngeri.
“Siapa yang gombal ? Mas bakal tetep cinta meskipun badan kamu mau gendut kaya badut sekalipun.”ujar Erlan sekenanya.
“Jadi Asyila mirip badut gitu ? Hikss mas Erlan jahat, mas udah gak cinta sama Asyila.”ujar Asyila yang tiba-tiba terisak.
Erlan gelagapan, ia segera menghadapkan tubuhnya ke depan Asyila dan langsung mendekap erat istrinya.”Eh mas gak maksud gitu kok, kamu ga gendut sayang, Cuma emang kamu sekarang mengalami perubahan sedikit di tubuh kamu. Kan lagian kamu lagi hamil anak kita. Iya kan ?”ujar Erlan sambil memikirkan kata-kata agar istrinya tak merajuk.
“Mas ga akan tinggalkan Asyila kan meskipun nantinya Syila ga cantik dan ga menarik lagi ?’tanya Asyila dengan pupply eyes nya.
“Ga akan pernah sayang, mas akan bahagia jika ada kamu, Vino dan dia di hidup mas.”ujar Erlan sambil melabuhkan kecupan di dahi Asyila, tak lupa tangannya mengelus perut buncit Asyila.
“Yaudah kita pergi sekarang mas ?”Tanya Asyila
“Sebentar..”ujar Erlan tertahan, lalu ia condongkan wajahnya ke perut buncit Asyila. Ia labuhkan satu kecupan disana, tak lupa ia mengusap lembut dan mengajak bicara calon buah hati mereka.”Adek lagi apa disana hmm ? Anteng ya nak di perut Mama,jangan buat Mama kesusahan.
__ADS_1
Saat ia sedang asik berbicara dengan calon anaknya, pintu terbuka menampilkan Vino yang sudah tampan dengan pakaian yang dipilihkan oleh Asyila tadi.
“Mama… Papa… Abang udah siap.”ujar Vino antusias.
Erlan menoleh.”Sini nak, Papa lagi bicara sama adek nih.”ajak Erlan sambil melambaikan tangannya pada Vino.
Vino ikut mengelus perut buncit Asyila.”Hai adek,,, ini Abang… jangan nakal ya nanti di pesta. Jangan buat mama kesusahan. Abang sayang adek.”ujar Vino sambil mengecup perut buncit Asyila.
Asyila tersenyum, lalu tangannya terangkat mengusap puncak kepala suami dan anaknya.”Mama juga sayang sama kalian. “ujar Asyila sedikit menitihkan air mata.
Erlan bangkit lalu ia ulurkan tangannya pada Asyila dan Vino.”Kita berangkat sekarang Mama ? Abang ?”Tanya Erlan.
“Ayo Papa BERANGKATTTTTTT”ujar Vino antusias.
Sementara berbeda dengan Amanda yang saat ini masih merasakan mual yang begitu menyiksanya. Trimester pertama ini sungguh membuat dirinya tersiksa. Mual yang ia rasakan jauh lebih parah dibandingkan dengan Asyila. Ia hanya akan berhenti mual jika Arkan mengelus lembut perutnya.
Saat ini Amanda tengah terduduk di closet kamar mandi. Wajahnya begitu pucat karena sedari tadi ia memuntahkan cairan berwarna kekuningan saja. Arkan baru saja pulang dari Kantor, saat mendengar suara di kamar mandir ia segera menghampiri Amanda.
“Sayang…..”panggilnya saat melihat Amanda tengah terduduk di closet.
Amanda mendongakkan kepalanya.“Abang….”balasnya memanggil Arkan sambil menyeka sisa air di mulutnya.
Arkan berlutut di hadapan istrinya.” Masih mual hmm ?”Tanya Arkan perhatian. Amanda hanya menganggukan kepalanya dengan lemah.
“Kita gausah datang aja ke pesta Bagas kalo gitu, kamu istirahat aja ya biar abang temani juga.”saran Arkan.
__ADS_1
Amanda menggeleng.” Manda mau ke pesta juga Bang, please…”mohon Manda.
“Tapi keadaan kamu kaya gini sayang, Abang khawatir loh. Tuh lihat wajah kamu aja pucat gitu.”ujar Arkan khawatir.
“Please ya Bang kita pergi aja, Manda gak enak kalo gak datang. Bagas udah undang Manda secara pribadi. Ayolah bang.. Yaa…”ujar Manda masih memohon.
Arkan menghela nafasnya.”Yaudah ayo, tapi disana kamu jangan terlalu kelelahan. Jangan banyak bergerak, jangan kecapean, pokoknya harus tetep duduk dan ga boleh jauh dari Abang.”ujar Arkan dengan tegas.
“SIAP LAKSANAKAN KOMANDAN”ujar Amanda sambil memberi hormat.
Arkan lalu mengelus lembut perut istrinya.”Anak ayah jangan buat Bunda mual ya di pesta nanti, anteng di dalam nak. Ayah sama Bunda sayang kamu dear…”ujar Arkan.
“Asal Ayah selalu elus perut Bunda pasti aku gak nakal.”ujar Amanda menirukan suara anak kecil.
Arkan hanya tertawa melihat sikap manja istrinya.
...…....
Sementara Nayla kini tengah duduk di depan cermin. Ia sudah selesai bersiap sejak 10 menit yang lalu. Ia sedang menunggu Erlan dan istrinya untuk menjemput Nayla agar bersama-sama pergi ke acara pesta itu. Sebenarnya Nayla berniat tidak akan hadir, namun Asyila menyarankan jika ia tetap harus bersikap biasa saja dan tak perlu memperlihatkan jika ia masih merasa bersedih jika berhadapan dengan Bagas.
Ia tatap kado yang ia genggam sedari tadi. Dompet dengan merk ternama ia beli sebagai hadiah untuk hari jadi Bagas yang ke 23 Tahun. Senyum seketika terbit saat membayangkan Bagas akan semangat dan menyukai kado pemberiannya. Namun saat ia mengingat perkataan Bagas waktu itu senyumnya seketika memudar, digantikan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca dan bersiap untuk kembali mengeluarkan air mata.
Kisah cintamu sungguh miris ya Nay. Kamu baru saja mengenal yang namanya cinta tapi justru cinta juga yang menyakiti hatimu. Ayolah Nay lupakan kak Bagas mu itu, buang segala hal yang berkaitan dengannya. Hilangkan namanya di hati dan pikiranmu. Ayolah Nay semangat untuk pergi menjauh dari hidup Bagas. Berjanjilah Nay ini yang terakhir kamu akan menemui Bagas, setelahnya lupakan dia.lirih Nayla sambil menatap cermin.
Deru mesin mobil menghentikan lamunan Nayla, ia yakin jika itu adalah suara mobil dari kakaknya. Ia segera memperbaiki sedikit riasan wajahnya dan bergegas keluar dari kamar untuk pergi ke acara ulang tahun Bagas.
__ADS_1