
Selama dalam perjalanan pulang, Vino tak sama sekali berbicara atau mengoceh seperti yang sering ia lakukan. Vino sepertinya masih merasa ketakutan pada kejadian di Mall tadi. Erlan sedikit bingung mengapa anaknya ini lebih banyak diam setelah kembali dari Mall.
"Vino sayang.." panggil Erlan seraya melihat dari kaca spion mobil
Namun panggilannya tak dihiraukan oleh Vino, dia masih terus saja melihat ke luar jendela.
"Vino..."panggil Erlan lagi
"Ya Papa ?"Vino menyahut pelan
"Anak Papa ingin sesuatu atau ingi mampir untuk membeli sesuatu ?"tanya Erlan
"Tidak Papa, Vino ingin pulang" ucap Vino sedikit pelan
"Mas sepertinya Vino lelah, makanya dia lebih banyak diam."Melanie menimpali
"Sepertinya kamu benar Mel"timpal Erlan
Tak lama mereka telah sampai di rumah, Vino segera keluar dari mobil tanpa bicara sepatah katapun
"Cucu oma sudah pulang ?" Shindy menyambutnya dengan sebuah pelukan dan ciuman di pipi Vino
"Sudah oma"ucap Vino pelan
"Loh cucu oma ko murung ? Vino tidak puasa hari ini berjalan-jalan di Mall bersama Papa dan Tante Melanie"tanya Shindy
Vino hanya menjawab dengan gelengan kepala, sepertinya sikap Melanie yang meninggalkannya di Mall tadi membuatnya sedikit takut dan tertekan.
"Mama sepertinya Vino kelelahan seharian sudah bermain bersamaku dan Melanie di Mall tadi biarkan dia ke kamarnya Ma."pinta Erlan
"Baiklah cucu oma yang pintar sekarang Vino istirahat ya ke kamar. Bi Tuti tolong bawa cucu saya ke kamar, mandikan dia setelah itu suruh dia untuk beristirahat " pinta Shindy
"Baik Nyonya."Bi Tuti berucap
"Ayo den Vino kita ke kamar dengan bibi." ajak Bi Tuti
"Iya bi"ucap Vino
__ADS_1
Mereka berdua berlalu, Erlan masih berada di ruang tamu begitupun Mama Shindy dan Melanie.
"Nak bagaimana seharian ini kamu nyaman kan jalan bersama Melani ?" tanya Mama Shindy
"Cukup nyaman Ma."timpal Erlan
"Bagus kalo gitu, lebih baik dalam waktu dekat ini bagaimana kalo kalian meresmikan hubungan kalian ke arah lebih serius ? ya misalnya bertunangan gitu ?"Tanya mama Shindy
"Ma kami ini baru satu minggu saling mengenal, Erlan tidak mau terburu-buru mengambil keputusan untuk hidup Erlan."tolak Erlan
"Erlan, mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan juga cucu Mama. Vino juga butuh sosok seorang ibu untuk dia ke depannya. Kamu tidak bisa egois dengan lebih mementingkan diri kamu sekarang. Pokonya mama tidak ingin tau, kamu dan Melanie secepatnya harus bertunangan."tegas Mama Shindy
"Tapi Ma ini.."ucap Erlan tertahan setelah...
"Aaa Papa...."teriak Vino
Vino jatuh terpeleset dari tangga, sebenarnya tadi Vino berniat untuk ke ruang keluarga mengambil buku dongengnya yang tertinggal disana semalam. Namun Vino tak sengaja mendengar jika Oma nya berencana menjadikan Melanie menjadi ibu sambungnya. Vino takut jika wanita jahat itu menjadi ibunya. Vino sedikit terisak dan tanpa dia sadari kakinya sudah berada di ujung tangga. Vino berniat untuk kembali ke kamarnya namun entah apa yang terjadi Vino hilang keseimbangan dan justru jatuh dari sana.
"Ya Allah Vino" teriak Erlan segera menghampiri anaknya
"Astagfirullah Erlan, kepala Vino berdarah. Sebaiknya kita cepat bawa dia ke Rumah Sakit."ucap Mama Shindy
Ishh ni anak nyusahin aja si.Batin Melanie
Dengan terburu-buru Erlan menggendong Vino dan dibawanya ke mobil. Erlan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu 15 menit dia sudah sampai di Rumah Sakit Medika. Erlan segera menggendong Vino dan berlari menuju lobby rumah sakit.
"Suster... Dokter..."teriak Erlan
Tak lama suster di rumah sakit itu membawa brankar menuju Erlan
"Tolong anak saya Sus, dia jatuh dari tangga. Tolong tangani dengan cepat. Saya mohon"pinta Erlan
"Baik Pa kami akan lakukan tindakan segera."ucap salah satu suster
Brankar yang membawa Vino segera menuju ruang IGD, Erlan tak henti menggenggam erat tangan Vino.
"Anak Papa harus bertahan, kamu anak Papa yang kuat nak."ucap Erlan sedikit terisak
__ADS_1
Sampai di Ruang IGD semua diperintahkan menunggu, sementara di dalam Vino sedang ditangani oleh Dokter.
"Mama yakin cucu mama itu anak kuat Erlan,kamu tak perlu khawatir pasti Vino akan baik-baik saja."ucap mama Shindy seraya mengelus bahu Erlan
"Anakku Ma... Vino Ma... jika terjadi sesuatu padanya bagaimana ? Aku bukanlah Papa yang baik untuk Vino."ucap Erlan sambil sedikit terisak
"Tidak nak, jangan berkata seperti itu. Kuatkan hatimu Lan, mama yakin Vino akan baik-baik saja."ucap Mama Shindy.
Huh membosankan sekali disini, tu bocah semoga ga selamet deh biar gak gangguin aku sama mas Erlan nanti kalo kita udah nikah. Batin Melanie
"Tante maaf sebelumnya Melan harus segera kembali ke rumah, Mama barusan mengabari jika Papa harus keluar kota dan Mama sendirian di rumah."ucap Melanie berbohong
"Baiklah Mel, kamu diantar oleh Erlan ya.."ucap Mama Shindy
"Tidak usah tante biar Mel naik taxi saja, hmm kalo begitu Mel pamit ya."ucap Melan
"Baiklah hati-hati nak."ucap mama Shindy serasa mengelus bahu Melanie
"Aku pulang ya mas, semoga Vino cepat sembuh."ucap Melanie yang direspon anggukan oleh Erlan.
2 jam berlalu
Erlan dan mama Shindy masih menunggu di koridor rumah sakit. Tak lama dokter dan suster keluar dari ruang IGD tempat Vino ditangani.
"Dokter bagaimana anak saya ?"tanya Erlan
"Kami mohon maaf Pak, kondisi anak pak Erlan saat ini masih kritis,pasien kekurangan banyak darah mengingat kejadian jatuh dari tangga itu membuat luka cukup serius di kepalanya. Tulang di tangan kanan dan Kaki kirinya mengalami keretakan. Tapi kami sudah melakukan tindakan sebaik mungkin. Namun kami perlu melihat dulu kondisi perkembangannya, jika sampai besok pasien tidak kunjung sadar, maka kami perlu tindakan operasi. Dan lagi dimohon untuk keluarga pasien segera menyiapkan transfusi darah untuk pasien. Golongan darah pasien AB rhesus negatif, sementara tidak stok darah itu di rumah sakit ini. Jadi segera cari orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk pasien. Untuk saat ini jika keluarga pasien ingin melihat, diusahakan hanya 1 orang yang masuk ke dalam ya Pak. Itu saja dulu yang bisa saya sampaikan. Saya permisi.."ucap dokter seraya berlalu meninggalkan mereka
"Ya Allah anakku Ma, mama dengar tadi ? anakku kritis ma, aku harus bagaimana ?"ucap Erlan
"Sabar nak, Mama akan menghubungi Papa untuk menugaskan orang-orangnya untuk mencarikan pendonor ya. Jangan Khawatir nak."ucap mama Shindy sambil terus menenangkan Erlan
Erlan kini menghampiri Vino yang sedang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, Vino masih memejamkan mata. Jarum infus tertancap di tangan kanannya, sementara ada gif di tangan kiri lalu kaki kanannya dan perban yang membalut kepalanya. Kondisi Vino saat ini membuat Erlan hancur, bagaimana tidak Vino adalah separuh nyawa Erlan saat ini.
"Sayang... Ini Papa nak, Vino bangun sayang buka matanya nak, Papa disini" ucap Erlan sambil memegang tangan Vino dan sesekali menciumnya.
Vino tidak bergeming dan tidak memberi respon. Namun tak lama terdengar gumaman dari Vino.
__ADS_1
"Bunda..."lirih Vino