Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
MENGEJUTKAN


__ADS_3

Acara pertunangan itu sudah selesai 2 jam yang lalu. Semua keluarga Bagas sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Hanya saat ini Bagas masih berada di Kediaman Nayla untuk berbincang ringan dengan calon mertuanya.


"Om dan Tante tadi ingin membicarakan sesuatu dengan Bagas ? Ada apa ? Apa ada masalah ?"tanya Bagas sedikit khawatir.


Kedua paruh baya itu tersenyum."Tidak nak, semua baik-baik saja."ujar mama Shindy.


"Sebenarnya kami ingin setelah kamu dan Nayla resmi menikah, kamu bersedia untuk bergabung di perusahaan SBS Corp."ujar papa Herman meminta pada Bagas.


Bagas sedikit menimbang."Begini Om, sebenarnya Bagas sudah sangat nyaman dengan pekerjaan Bagas saat ini. Ya meskipun gaji yang diperoleh tidak sebesar yang Om harapkan, tapi Bagas akan berusaha untuk bisa membahagiakan putri Om."ujar Bagas sambil melirik Nayla yang ada di sebelahnya.


"Tidak, bukan maksud saya merendahkan pekerjaanmu saat ini nak. Saya sangat tau kerja kerasmu bekerja di Perusahaan GNW Corp itu cukup lama, tapi begini nak saya sangat membutuhkan seseorang untuk bisa menggantikan saya ke depannya. Saya saat ini ingin menikmati sisa hidup saya hanya dengan istri dan beristirahat 24 jam di rumah. Saya bisa saja mengalihkan semua aset itu pada Erlan, tapi kamu tau sendiri saat ini Erlan sudah mengurusi perusahaannya sendiri. Oleh karena itu saya meminta kamu untuk bisa menggantikan saya di perusahaan. Saya bukannya tidak mau mengalihkan aset itu pada Nayla, tapi kamu tau sendiri sebentar lagi putri saya akan kamu peristri dan pasti Nayla hanya akan fokus pada keluarganya saja."jelas papa Herman.


"Nayla juga bilang sama Mama ko nak kalo setelah dia menikah, Nayla hanya akan fokus sama kamu dan keluarga kecil kalian."tambah mama Shindy.


Nayla menggenggam tangan Bagas."Mas setujui ya permintaan Papa. Nayla mohon please..."pinta Nayla


"Bukan mas menolak sayang, tapi mas belum memiliki cukup kemampuan untuk memegang penuh perusahaan sebesar itu."ujar Bagas sambil menggenggam erat tangan Nayla.


"Jangan khawatir Bagas, gue bakal ajari loe dikit-dikit ko soal mengurus perusahaan. Lagipula gue bisa liat kemampuam Loe cukup besar dan loe berpotensi lebih mengembangkan perusahaan bokap guem"timpal Erlan.


"Bukan cuma mas Erlan yang akan membantu ko Gas, aku nanti minta bang Arkan buat ikut bantu kamu ajari juga ko. Bang Arkan pasti ga menolak."tambah Asyila.


Bagas mengambil nafas dalam."Baiklah saya menerima permintaan Om."ujar Bagas memutuskan.


Nayla memeluk Bagas dengan erat."Makasih mas, karena mau menuruti permintaan kecil dari Nay."ujar Nayla.


"Mas hanya ingin kamu bahagia, kamu senang kan dengan keputusan yang mas ambil sayang ?"tanya Bagas.


Nayla mengangguk mantap."Sangat bahagia. I love you calon suami."ujar Nay sambil tersenyum.


"Bucin terussssss..."goda Erlan yang mengundang tawa semua yang ada disana.

__ADS_1


"Baiklah karena kamu sudah menerima untuk bisa menggantikan saya, secepatnya pemindahan kekuasaan perusahaan akan saya laksanakan. Saya juga sudah membicarakan ini pada Andhika, dia juga setuju dengan saran saya. Secepatnya saya akan meminta Arkan untuk segera mengurus segala kepindahan kamu ke perusahaan saya."ujar papa Herman.


"Biar saya yang mengurus sendiri Om, tidak perlu Om yang turun tangan sendiri."tolak halus Bagas.


"Tidak apa nak, lagipula ini sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah mau menerima permintaan kami. Khususnya Nayla."ujar mama Shindy bijak.


"Iya kan Pa ?"tanya mama Shindy pada suaminya. Dan direspon dengan anggukan dari papa Herman.


"Dan juga mulai saat ini jangan memanggil kami Om dan Tante lagi, tapi panggil Mama dan Papa sama seperti Nayla."pinta papa Herman


"I-I-Iya Pa.."jawab Bagas terbata.


"Sayang.. hei kenapa ?"tanya Erlan pada Asyila tiba-tiba saat melihat Asyila sedikit meringis sakit.


Asyila membuang nafasnya perlahan."Perutnya kram lagi Mas."keluh Asyila.


"Kak Syil istirahat aja kalo gitu ke kamar."saran Nayla.


"Ayo sayang mas antar kamu ke kamar."ajak Erlan.


"Tapi mas, Syila mau memandikan Vino dulu."tolak Asyila.


Erlan sedikit berdecak kesal."Vino bisa mandi sendiri, dia udah besar dan mandiri juga sekarang. Kamu harus memperhatikan kondisi kamu dan anak kita yang ada di perut kamu."ujar Erlan dengan tegas.


"Istirahatlah nak, jika Vino ingin bermain nanti biar Papa dan Mama yang akan menjaga dan mengajaknya."ujar papa Herman.


Asyila membuang nafas dalam."Baiklah, Asyila ke kamar dulu ya semuanya."pamit Asyila.


"Pa.. Ma.. maaf kalo Asyila merepotkan kalian untuk menjaga Vino ya."ujar Asyila merasa tak enak pada mertuanya.


"Tidak nak, Vino juga cucu kami kan. Kami sangat menyayangi Vino."ujar mama Shindy begitu bijak.

__ADS_1


"Yaudah mas antar kamu ya."pinta Erlan dan Asyila hanya mengangguk


...........


Sementara di lain tempat, Aldo tengah memakirkan mobilnya tepat di depan rumahnya. Di sampingnya ada Sheila yang sedari tadi menahan kegugupannya karena akan bertemu dengan orang tua Aldo untuk pertama kali.


"Ayok kita turun, Sayang."ajak Aldo.


Sheila masih tak bergeming. Ia terlalu gugup saat ini.


Aldo kembali melirik Sheila yang masih belum keluar dari mobil."Loh ko ngelamun sayang ? Kenapa ?"tanya Aldo sambil menangkup pipi Sheila.


"Sheila gugup mas. Ini pertama kalinya Sheila akan bertemu dengan orang tua mas Al."ujar Sheila kembali menunduk.


Aldo menggenggam tangan Sheila."Kamu tenang aja, mereka pasti menyukai kamu sayang. Orang tuaku bukan typical orang pemilih kok."ujar Aldo memberi pengertian.


Sheila tersenyum."Ayok mas."ujar Sheila sedikit malu.


Keduanya keluar dari mobil dan berjalan beriringan dengan saling menautkan jemari mereka masing-masing.


Aldo sudah masuk ke dalam rumahnya, tak lupa ia juga mengucapkan salam tadi. Aldo mencari keberadaan orang tuanya yang tak ia lihat di dalam rumah. Sambil menggenggam tangan Sheila, ia berjalan menuju taman belakang. Dan benar keduanya tengah berada disana. Dilihatnya 2 orang paruh baya itu tengah menikmati secangkir teh di bangku kayu yang cukup nyaman untuk sekedar menikmati angin sore yang begitu menyejukkan.


"Anaknya ngucap salam ga ada yang jawab, eh ternyata lagi mesra-mesraan disini."goda Aldo pada kedua orang tuanya yang saat ini tengah membelakangi Aldo.


"Lagian kamu kemana aja seharian ini, Al. Ibu sama Ayah dari tadi nunggu kamu pulang buat kasih tau berita bahagia."ujar Lita mama Aldo.


Aldo melirik Sheila."Loh memang berita bahagia apa Ma ?"tanya Aldo pada mama Lita.


"Perjodohan kamu dan anak teman lama Ayah. 2 hari yang lalu Ayah bertemu dengannya setelah sekian lama. Dan ya kami membicarakan soal perjodohan anak-anak kami dan dia setuju. Kita diundang oleh mereka untuk makan malam minggu depan"kali ini Dito yang menjawab. Dito adalah Ayah Aldo.


Seketika tautan jemari itu terlepas. Sesak langsung dirasaka oleh Sheila. Aldo pria yang ia cintai akan dijodohkan ?

__ADS_1


mas Aldo akan dijodohkan. Ya Allah ujian apa lagi ini. ujar Sheila dalam hati.


__ADS_2