
“APA ???”ujar Bagas dan Arkan bersamaan.
Sementara Ajeng yang sedari tadi masih dipegangi tangannya oleh Bagas langsung tertawa.”HAHAHAHAAHAHHAH”tawa jahat Ajeng.
Ketiga lelaki itu menoleh. “Ini rencanamu Ajeng ?”Tanya Bagas dengan emosi.
Ajeng tersenyum sinis.”Aku ? Kau mencoba menuduhku ? “ujar Ajeng dengan nada meremehkan.
“Katakan dimana adikku Ajeng, jangan sampai tanganku ini bertindak kasar padamu."ujar Erlan yang geram akan kejahatan Ajeng.
“Oh hello kak Erlan, dia itu adikmu kan. Lalu kenapa kau menanyakan keberadaannya padaku. Mungkin dia sedang bersenang-senang. Sudahlah kalian biarkan saja dia, lagipula dia bukan anak kecil lagi kan yang harus selalu kalian jaga.”ujar Ajeng yang terus berkilah.
Bagas tak tahan lagi. Ia cekik leher Ajeng dengan kedua tangannya.”Katakan dimana Nayla saat ini Ajeng.Katakan dimana wanitaku kau sembunyikan Ajeng, atau tanganku ini akan terus mencekikmu hingga kau sulit bernafas.”teriak Bagas.
Arkan mencoba melepaskan tangan Bagas dari leher Ajeng.”Lo apa-apaan Bagas ? dia bisa meninggal disini juga. Kita ga bakal dapet info apapun kalo dia sampe terluka.”ujar Arkan menyadarkan Bagas.
“Uhuk..Uhuk..Uhuk…”nafas Ajeng sedikit tersenggal.
Bagas lepaskan cekikan itu dan memukul tangannya ke udara. Ia frustasi. Apakah Nayla baik-baik saja saat ini ?
“Sekarang katakan dimana adikku, Ajeng ?”Tanya Erlan lagi.
Ajeng menoleh pada Erlan.”Dia pasti sudah lenyap sekarang. HAHAHAHAHAHAH”ujar Ajeng sambil tertawa jahat.
“Jangan bicara omong kosong Ajeng.”ancam Bagas yang masih mencengkram kuat lengan Ajeng.
“Kau pikir aku bodoh Bagas ? Aku ini wanita cerdik, aku sudah memikirkan matang-matang soal rencanaku.”ujar Ajeng dengan sombong.”Aku tak akan terpaku hanya pada satu rencana Bagas. Aku pasti punya rencana lainnya untuk mendapatkan segala tujuanku.”tambahnya lagi.
“ Kau benar- benar wanita jahat Ajeng.”teriak Bagas sambil mengangkat tangannya untuk menampar Ajeng.
“Silahkan kau tampar atau bunuh aku Bagas. Tapi setelah itu mungkin kau tidak akan bertemu dengan Nayla. Wanita yang kau cintai itu mungkin tidak akan pernah bisa kau temui lagi.”ancam Ajeng yang seketika menghentikan Bagas untuk menamparnya.
Erlan menatap tajam pada Nayla.”Apa yang kau inginkan Ajeng ?”Tanya Erlan dengan nada datar.
Ajeng tersenyum sinis.”Sepertinya kau sangat menyayangi adikmu itu ya kak Erlan.”ujar Nayla sambil menarik nafas dalam.”Hufftt baiklah aku hanya ingin uang 1 miliar. Maka akan aku bebaskan adikmu”pinta Ajeng.
__ADS_1
"Kau gila Ajeng.. kau ingin memeras kami hah ?"ujar Bagas sambil berteriak.
Ajeng tertawa sinis."Jika memang kalian sayang pada wanita itu, aku rasa uang 1 miliar tidak akan berarti bagi kalian. Dan ya apalagi aku tahu jika kak Erlan begitu sangat menjaga dan menyayangi adiknya itu."ujar Ajeng.
Erlan tampak menimbang permintaan Ajeng.”Baiklah uang itu akan aku siapkan. Bebaskan adikku sekarang.”ujar Erlan dengan nada datar.
"Loh bang.. tapi...."ujar Bagas tertahan karena Erlan menghentikan Bagas untuk tidak membuka suara.
“ Baiklah.. ayo kita ke tempat Nayla sekarang berada.Kita lihat apa yang sedang terjadi disana.”ujar Ajeng dengan semangat.
“ Jangan kau mencoba menipuku Ajeng. Jika sampai kau bermain-main maka aku tidak akan segan untuk melukaimu dengan tanganku sendiri.”ancam Erlan.
“Kak Erlan tenang saja, aku tidak akan melukai adikmu selama kalian menuruti semua intruksiku.”ujar Ajeng dengan nada liciknya.
“Aku ingin Bagas saja yang pergi untuk menyelamatkan adikmu. “tambah Ajeng mengajukan syarat.
“ Baiklah. “ujar Erlan pasrah. Lalu ia menatap Bagas.” Selamatkan adikku Bagas, kau harapan kami saat ini. Aku dan bang Arkan akan mengambil cek dulu dan menyiapkan uangnya. “ujar Erlan lalu berlalu pergi bersama Arkan.
Kakak akan menyelamatkanmu Nay. Ujar Bagas dalam hati.
Sementara di sebuah Gudang tua Nayla kini berada. Mulut Nayla dibekap. Begitu pun tangan dan kakinya yang diikat di sebuah Kursi. Nayla begitu ketakutan. Sedari tadi ia hanya terisak dan berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya.
Rian mendekatkan wajahnya di depan Nayla.”Sungguh malang sekali nasibmu Nayla.”ujarnya dengan tertawa jahat."Jika saja kau tidak ikut campur mungkin saat ini kau tidak akan mengalami hal ini."tambahnya lagi sambil mengelus pipi Nayla.
“Bos nih kita enaknya ngapain ya ?”Tanya salah satu anak buah dari Rian.
Rian tersenyum licik.” Aku rasa bermain sebentar dengannya akan membuatku senang. HAHAHAHAHA”ujar Rian sambil melepaskan kain dari bekapan mulut Nayla.
“LEPASKAN AKU….”teriak Nayla.
PLAK….
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nayla.
“BRENGSEK…bisa kah kau tidak berteriak ?”Tanya Rian dengan keras.
__ADS_1
“ Aku mohon lepaskan aku…”lirih Nayla sambil terisak.
Rian mencengkram dagu Nayla dengan keras.” Aku akan melepaskanmu jika Ajeng sudah berhasil melakukan rencananya. Dan ya akupun ingin bermain sebentar dulu denganmu.”ujar Bagas sambil mengelus pipi mulus Nayla.
“Tidak.. aku mohon jangan sakiti aku.”ujar Nayla dengan nada ketakutan.
Rian melepaskan ikatan Nayla, lalu ia tarik tangan Nayla menuju sofa. Ia hempaskan dengan kasar tubuh Nayla hingga gadis itu terlentang di sofa. Ia dekati Nayla dan mengkungkung tubuh Nayla.
“Ayo kita bersenang-senang dulu sayang…”ujar rian yang kian mendekatkan wajahnya pada Nayla."Kalian ksluar dari sini sekarang. Pastikan kondisi di sekitar gudang ini aman. Sementara aku akan bermain sebentar dengannya."titahnya pada kedua anak buah itu.
Kedua anak buah itu menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari sana. Kini hanya ada Rian dan Nayla disana. Rian menatap Nayla begitu damba. Fantasi liarnya memang sedari tadi sudah mengelilingi pikirannya.
Nayla mencoba untuk berontak. “Aku mohon jangan lakukan ini.. jangan….”lirih Nayla dengan takut.
Rian mengelus bibir Nayla.”Aku tidak akan menyakitimu sayang. Aku justru akan membuatmu nikmat nanti.”ujarnya lalu menyatukan bibirnya denga Nayla.
Nayla membelalakkan matanya. Ciuman pertamanya sudah dicuri oleh lelaki brengsek seperti Rian. Nayla tak bisa berbuat apapun. Pasrah hanya itulah yang bisa ia lakukan. Tenaganya tak bisa mengimbangi tenaga lekaki yang sedang berada di atasnya. Ia terus mengeluarkan air matanya. Nayla berharap ada yang bisa menyelamatkannya saat ini.
Rian terus mencumbu Nayla tanpa henti. Ia bahkan menggoda Nayla dengan ciuman di leher Nayla. Tanda merah telah Rian sematkan di leher mulus Nayla. Nayla mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tak ingin mengeluarkan suara lenguhan yang akan membuat Rian semakin berhasrat.
“Aku mohon jangan lakukan ini… aku mohon.”lirih Nayla memohon agar Rian menghentikan semuanya.
“Relax sayang…. “ujar Rian dengan tawa jahat.
Rian merobek paksa baju Nayla. Nayla hanya bisa menangis dengan semua perlakuan itu. Ingin sekali Nayla kabur dari sana, namun apa daya Nayla.
Rian sudah membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Saat ini ia sudah kembali mengkungkung Nayla yang masih saja menangis. Rian melepaskan sesuatu yang menghalangi di bawah sana. Naya terus memohon untuk dilepaskan, namun tak ditanggapi sama sekali oleh Rian. Rian hanya inin menuntaskan hasratnya yang sudah berkumpul untuk diselesaikan bersama dengan Nayla.
Persetan dengan dosa, sepertinya Rian sudah tidak menghiraukan itu. Ia hanya ingin menuntaskan hasratnya untuk saat ini. Sebenarnya ia pun tak ingin melakukan hal seperti ini, namun entahlah melihat Nayla yang tidak berdaya seperti itu justu membangkitkan gelora hasrat dalan dirinya.
Nayla masih saja menangis, bahkan untuk melawan pun tak berdaya. Saat ini bahkan ia sudah merasa jijik dengan tubuhnya. Tubuhnya dengan mudah disentuh oleh lelaki yang bukan pasangan halalnya. Ia sudah pasrah jika masa depannya akan hancur malam ini.
Rian sudah bersiap melakukan penyatuan. Ia kembali mencium bibir Nayla agar gadis itu tak menangis lagi. Penyatuan akan terjadi, namun seketika pintu ruangan itu ditendang keras oleh seseorang.
“BRENGSEK… ”umpat lelaki yang telah mendobrak pintu tadi.
__ADS_1