Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
NASIHAT ALDO


__ADS_3

“KAU ????” ujar Sheila.


Lelaki itu tersenyum.”Tidak bosankah anda mengejarnya Nona ? Sudah keberapa kali anda ditolak olehnya ?”ujar lelaki itu dengan nada mengejek.


Sheila menatap sinis.” Tak usah ikut campur dengan urusanku. Dasar asisten sialan.”makinya kasar pada lelaki itu yang tak lain adalah Aldo.


Aldo nampak berpikir.”Ini ke 15 kalinya anda ditolak oleh pak Erlan nona.”ujar Aldo sambil menahan tawanya.


“Sudah aku bilang kau…”ujar Sheila tertahan karena tiba-tiba Aldo menarik tangannya.


“Kau terlalu cengeng nona. Kantor bukan tempat yang pas untuk dirimu melampiaskan kesedihanmu.”ujarnya sambil terus menarik tangan Sheila.


Sheila berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Aldo.”Lepaskan tanganku asisten sialan…”bentaknya pada Aldo.


“DIAM….”bentak Aldo kembali.


Sheila terkejut. Aldo yang ia kenal sebagai orang yang paling ramah, santai dan tak banyak bicara, saat ini berani membentaknya. Ia menundukkan wajahnya dan tak berani memberontak.


Sesaat mereka telah sampai di depan mobil Aldo.”Ayo nona silahkan masuk.”pintanya dengan lembut yang sudah membukakan pintu untuk Sheila.


Sheila menoleh sejenak.”Te-te-terimakasih.”ucapnya yang sedikit terbata.


Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan Ibukota. Sheila sedari tadi hanya diam menatap ke luar jendela. Hening dan tak ada perbincangan sama sekali.


“Nona tenang saja, saya tidak akan menculik anda. Tidak usah takut nona, saya buka slaah satu pria bajingan yang akan memanfaatkan kesempatan.”ujar Aldo memulai perbincangan.


Sheila menoleh.”Sudah diamlah, kau fokuslah membawa mobilmu. Aku tak ingin mati konyol hanya karena dirimu yang lalai berkendara.”ujar Sheila dengan nada yang malas.

__ADS_1


Akhirnya setelah 1 jam menempuh perjalanan, mereka sampai di sebuah Danau yang begitu indah. Danau itu di kelilingi dengan pepohonan yang rindanng, tamna yang begiru asri dan tentunya udara yang begitu sejuk. Jika dibandingkan dengan suasana Ibukita, rasanya akan jauh berbeda.


Aldo sudah menepikan mobilnya. Ia turun lalu sedikit berlari untuk membukakan pintu bagi Sheila.


“Kita sudah sampai Nona. Ayo…”ajak Aldo sambil mengulurkan tangannya.


Sheila menoleh.”Kita ada dimana ?”Tanya Sheila yang begitu asing dengan tempat itu.


“Nona akan merasakan kedamaian disini. Ayo…”ujar Aldo sambil menarik Sheila untuk keluar dari mobil.


Sheila begitu terpana dengan keindahan tempat itu. Bahkan ia sampai memejamkan matanya dan tak lupa ia rentangkan kedua tangannya agar hembusan angin menghampiri seluruh tubuhnya.


“Indah dan damai sekali disini…”gumam Sheila sambil memejamkan matanya.


Aldo tersenyum.”Saya tidak salah kan mengajak anda kesini Nona ?”Tanya Aldo.


“Jika Nona masih ingin disini silahkan, saya akan duduk di bangku sebelah sana.”ujar Aldo sambil tangannya menunjuk kea rah bangku di ujung tepi danau.


“Aku juga mau duduk Aldo, hmm kakiku sedikit pegal berdiri seperti ini terus.”kilah Sheila.


Mereka berdua tengah duduk berdampingan. Mata mereka tengah melihat ke depan, menyaksikan sebuah danau yang begitu tenang.


“Minumnya Nona..”tawar Aldo sambil menyodorkan sebotol minuman.


Sheila menerima minuman itu.”Terimakasih Aldo..”ucapnya. Ia meneguk minuman itu sebentar, lalu ia kembali menoleh pada Aldo.”Hmm aku ingin bertanya boleh ?”Tanya Sheila.


“Tentu saja Nona, apa yang ingin anda tanyakan ?”Tanya Aldo.

__ADS_1


Sheila sedikit ragu, namun setelah itu ia kembali berbicara.”Hmm sebenarnya aku igin bertanya, kenapa kamu mengajakku kesini ?”Tanya Sheila.


“Saya tahu saat ini perasaan anda sedang kacau, apalagi sudah kesekian kalinya Nona ditolak oleh pak Erlan.”jawab Aldo.


Sheila menatap ke depan.”Apa salah jika aku menyimpan perasaan untuk mas Erlan ?”Tanya Sheila.


“Setiap orang punya hak untuk menyukai atu menyimpan perasaan pada seseorang Nona, itu bukan sebuah kesalahan. Tuhan menghadiahi kita sebuah hati juga memang untuk menyimpan segala perasaan kan ?”jawab Aldo yang juga menatap ke arah Danau.


“Kau benar Aldo, tapi apa yang kurang dalam diriku hingga mas Erlan bahkan tak sama sekali tertarik untuk memberikan hatinya untukku.”ujarnya dengan sedikit terisak.


Aldo menoleh pada Sheila, lalu ia bawa kepala Sheila bersandar di bahunya.”Jangan bersedih Nona, memiliki perasaan pada orang lain memang hak semua orang Nona, tapi kembali lagi orang yang kita sukai juga berhak untuk menentukan pilihannya. Cinta tak bisa dipaksakan Nona, jika kita memaksa seseorang mencintaimu maka sebenarnya lambat laun tanpa kita sadari, hatimu sendirilah yang akan perlahan merasakan sakit yang teramat.”ujar Aldo.


Sheila menegakkan badannya, lalu ia tatap dalam manik mata Aldo.”Apa aku salah jika mencintai mas Erlan ? memperjuangkan cintaku padanya ? Melakukan apapun agar mas Erlan bisa menjadi milikku ? “Tanya Sheila bertubi-tubi.


Aldo tersenyum.”Perasaan tak bisa disalahkan Nona, namun jika kita melakukan sesuatu hanya agar keinginan kita tercapai itu hanya obsesi belaka. Bahkan jika sampai kita menghancurkan kebahagiaan seseorang, kita termasuk orang yang begitu jahat dan tak punya perasaan.”jawab Aldo.


“Aku jahat kalau begitu Aldo ?”tanyanya lagi sambil meneteskan air mata.


Aldo memberanikan diri menangkup wajah Sheila.”Nona tidaklah jahat, hanya saja karena obsesi ingin memiliki pak Erlan, Nona seketika menjadi orang yang ambisius dan mungkin egois. Tapi Nona bisa mengubah itu semua jika Nona menghentikan obsesi Nona. Nona harus bisa keluar dari obsesi itu, karena jika Nona terus saja bergelut dengan obsesi ingin memiliki pak Erlan, lambat laun Nona lah yang kecewa pada diri Nona sendiri. Bahkan mungkin perasaan Nona akan jauh lebih sakit.”ujar Aldo yang kemudian menghapus sisa air mata Sheila dengan ibu jarinya.


“Apa aku bisa bahagia Aldo ?”Tanya Sheila lagi.


“Percayalah Nona, jika anda menikmati hidup dan tak pernah berniat untuk menyakiti orang lain atau menghancurkan kebahagiaan orang lain, maka pasti kebahagiaan itu akan datang bertubi-tubi tanpa anda sadari.”ujar Aldo.


Sheila sekejap terdiam. Ia larut dengan pikirannya sendiri. Benar yang dikatakan Aldo, selama ini apa yang sebenarnya ingin ia dapat jika Erlan sudah menjadi miliknya. Apa dia akan bahagia ? Atau justru dia akan tersakiti. Sheila tak berpikir sejauh itu. Ia dikalahkan dengan obsesinya yang besar selama ini. Erlan sudah bahagia dengan istri dan anak-anaknya, lalu apa dia tega menghancurkan kebahagiaan Erlan hanya demi obsesinya. Hatinya mulai goyah dan rasa penyesalan itu menghantuinya saat ini.


Ya Tuhan aku begitu menyesal. Maafkan segala keegoisanku selama ini Tuhan. Dan ya mas Erlan maafkan aku karena selalu memaksakan dirimu untuk mencintaiku. Mbak Syila.. aku begitu menyakiti perasaanmu bahkan hampir ingin menghancurkan pernikahan kalian. Apa kalian akan memaafkanku ???. lirih Sheila dalam hati sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2