
Asyila menatap dari kejauhan seorang gadis yang sedang duduk termenung di dekat pohon di ujung jalan. Ya dia Nayla adik dari suaminya. Ia hampiri adik iparnya itu, lalu dengan kelembutan Asyila mengelus puncak kepala dari adik iparnya itu.
"Nay.."panggilnya lembut sambil memegang pundak adik iparnya.
Nayla mendongakkan kepalanya."Hmm Kak Syila "ucapnya sedikit gelagapan lalu segera menghapur sisa air mata di pipinya.
Asyila menahan tangan Nayla dan berkata."Jika dengan menangis bisa membuat hatimu damai dan lebih tenang maka menangislah, keluarkan segala kesedihanmu Nay."ucap lembut Asyila
Nayla kembali menangis. Dadanya terasa sesak karena seharian ini melihat orang yang ia sukai bermesraan dengan wanita lain. Entahlah ia pun tak paham mengapa perasaannya sensitif.
"Ada apa Nay ?"tanya Asyila dengan nada lembut.
"Maaf Kak jika Nay masih kekanakan."ujarnya masih terisak.
"Harusnya kakak yang minta maaf sama kamu, hmm atas kejadian tadi. Kakak minta maaf atas nama kakakmu ya Nay. Dia sebenarnya hanya berniat untuk bercanda tadi."ucap Asyila
Nayla mengusap kasar sisa air mata di pipinya, lalu ia tatap kakak iparnya."Nay tidak marah sama Abang kok Kak. Tadi Nay hanya ingin menjauh dari kalian aja."ucap Nayla
"Ada apa ? Apa ada masalah ?"Tanya Asyila dengan lembut.
Nayla menggeleng lalu menundukkan kepalanya."Tidak ada apapun Kak, mungkin Nay sedang sensitif saja."ucap Nayla bohong.
"Nay meskipun kita tidak memiliki ikatan darah, tapi Kakak sudah menganggapmu sebagai adikku. Dan aku tau saat ini kamu sedang menyembunyikan kesedihan begitu dalam. Kaka bisa melihat dari matamu Nay."ucap Asyila.
__ADS_1
Nay menatap kakak iparnya itu lalu memeluk Asyila dengan erat dan diiringi dengan isak tangisnya."Kakak.. Aku.."ucapnya terbata karena masih menangis di pelukan Asyila.
"Ada apa Nay ? Jika kamu tidak keberatan, kamu bisa berbagi pada Kakak."saran Asyila
"Kak sebenarnya aku sedang menyukai seseorang."ucapnya setelah melepaskan pelukannya pada Asyila
Asyila tersenyum."Biar Kakak tebak, kamu menyukainya namun dia sudah bersama dengan orang lain. Benar ?"tebakan Asyila yang direspon anggukan oleh adik iparnya.
"Nay serahkan semua pada Allah, jika memang orang itu sudah ditakdirkan oleh-Nya maka dia pun akan didekatkan sama kamu."ujar Asyila
"Apa salah Kak jika aku memiliki perasaan ini ."tanya Nayla
"Tentu tidak Nay, lagipula dulu sebelum Abangmu menikah dengan Kakak kami sempat salah paham sebelumnya. Kakakmu menganggap jika aku sudah melupakan janji kami begitu sebaliknya aku menganggap Abangmu sudah melupakan janji kami dengan menikah bersama wanita lain. Bahkan Kakak pernah berpikir jika Vino itu anak dari Abangmu."jelas Asyila sambil tersenyum mengingat hubungannya dengan Erlan dulu.
Asyila tersenyum."Aku juga selalu menunggunya untuk menepati janji kami dulu. Kamu tau, di setiap aku solat pasti namanya yang selalu aku sebut dalam doaku. Aku sempat berpikir jika aku terlalu egois karena hanya ingin Mas Erlan yang menjadi pendampingku, tapi ternyata Allah justru mendengar semua doaku."ujar Asyila
"Aku selalu memuji hubungan kalian Kak, meskipun ada sedikit kendala saat itu, tapi akhirnya kalian menikah dan bahagia."ujar Nayla
"Percayalah Nay Allah selalu mendengar setiap doa hamba-Nya."ujar Asyila
"Terimakasih Kak karena sudah memberikan pelajaran berharga untuk Nay. Nay akan ikuti saran kakak."ujar Nayla sambil kembali memeluk Asyila
"Lalu apa kamu memaafkan Abangmu itu ? Sepertinya dia merasa tidak enak saat tadi menyinggung perasaanmu."tanya Asyila
__ADS_1
Nayla tersenyum."Aku tidak tersinggung dengan candaan Abang tadi kok Kak. Aku tadi hanya mencoba menghindar daripada dadaku semakin sesak."ujar Nayla
"Maksudmu ?"tanya Asyila sedikit bingung.
"Dadaku akan terasa sesak jika terus disana Kak, melihat dia dengan wanitanya begitu membuatku sakit. Sepertinya perasaanku sudah terlanjur dalam padanya."ujar Nayla sedikit bersedih
"Jadi orang yang kamu sukai ada disana ? Siapa Nay ?"Tanya Asyila sedikit terkejut.
"Dia.. Dia.. Dia.. Sahabat Kakak sekaligus anak buah dari Bang Arkan." ujarnya sedikit menunduk
"Bagas maksudnya ? Ya Ampun kenapa aku gabisa menduga itu."ujarnya sambil memukul dahinya pelan.
"Sudahlah Kak, sepertinya saat ini aku harus belajar ikhlas melepaskan Kak Bagas."ujar Nayla
"Kakak yakin kamu akan menemukan seseorang yang akan tulus mencintai kamu Nay."ujar Asyila sedikit lembut
"Aamiin semoga saja Kak. Sudahlah skip obrolan ini, dadaku makin terasa sesak saja."ujar Nayla
"Baiklah Nay.. Bagaimana jika kita kembali kesana ? Kakak takut jika Mas Erlan akan merindukan Kakak walau sebentar."ujar Asyila dengan percaya diri
"Abang aja yang manja Kak, lagian dia kaya gitu semenjak dia menikah. Kadang aku heran dia yang dulunya sedingin es di kulkas sekarang manjanya ya ampun.. bahkan dia lengket terus sama istrinya."ujar Nayla yang mengundang tawa Asyila
Lalu mereka berjalan bersama untuk kembali menemui keluarganya disana.
__ADS_1