Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
Usaha Melupakan


__ADS_3

Siang ini Nayla dan Bagas tengah berasa di salah satu Restoran yang ada di Jakarta. 1 jam yang lalu Bagas menjemput Nayla di Butik tempat ia melakukan fitting gaun pengantin.


"Kok cemberut gitu sih sayang ?"tanya Bagas yang sedari tadi berusaha membujuk Nayla yang tampak sedang kesal.


"Dasar cowo gak peka."keluh Nayla sambil memutar matanya dengan malas.


Bagas tersenyum."Aku bukan gak peka sayang. Tadi beneran deh ada meeting dadakan sama investor. Bang Arkan lagi keluar untuk mengecek salah satu proyek di Bogor. Dan dia mempercayakan meeting itu aku yang mewakilkan. Tolong ngertiin ya sayang."tutur Bagas menjelaskan.


"Tapi kan hari ini tuh kita udah sepakat buat fitting baju pernikahan kita. Aku jadi gaenak sama Sheila, tiba-tiba aku minta dia buat temenin aku."keluh Nayla yang masih kesal.


"Yaudah maafin aku ya sayang, ini di luar rencana kita loh. Maaf ya sayangku, Naylaku, calon istriku..."ujar Bagas sambil merayu Nayla.


"Apaan sih rayuan kuno tuh yang kaya gitu.."ujar Nayla sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bibirnya gausah kaya gitu, ga tahan pengen cium deh."goda Bagas.


"Ish mas mesum ih.."ujar Nayla sambil mencubit perut Bagas.


"Awhhh.. makanya jangan ngambek gitu, aku suka bingung harus gimana kalo kamu udah ngambek."tutur Bagas sambil mengelus kepala Nayla.


Nayla tersenyum."Makanya jangan bikin aku bete kalo gitu. Janji ya akhir pekan ini kamu jadi buat fitting, mas."ancam Nayla.


"Iya sayang... mas janji deh akhir pekan ini jadi buat fitting bajunya."ujar Bagas sambil mencubit pipi Nayla.


Pesanan keduanya sudah tersaji di atas meja. Nayla yang memang sedari tadi sudah menahan lapar langsung saja mengeksekusi segala hidangan disana.


"Makanya pelan-pelan sayang, kamu nih ga akan aku ambil juga makanan kamu."ujar Bagas sambil menyeka noda makanan di sudut bibir Nayla.


Nayla tersenyum."Laper banget mas.."keluh Nayla.


Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari calon istrinya itu.


...........


Sheila tengah termenung sendirian di sudut salah satu Cafe di Jakarta. Saat ini ia tengah menatap sendu ke luar jendela yang saat itu hujan sedang membasahi tanah yang cukup kering.

__ADS_1


Rasanya hujan mewakili perasaannya yang saat itu tengah dirundung kesedihan. Bagaimana tidak, baru tadi siang Sheila diajak oleh Nayla untuk menemaninya fitting gaun pengantin. Seperti yang diketahui, Nayla akan melangsungkan pernikahannya dengan Bagas dalam waktu dekat ini.


Kapan aku bisa seperti Nayla, Tuhan. Bahagia bersama orang yang dia cintai dan juga mencintainya dengan tulus. gumam Sheila dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


"Satu cokelat panas dengan gula rendah, mbak."ujar pelayan Cafe sambil menaruh minuman itu di meja Sheila.


Seketika lamunannya buyar."Oh terimakasih ya mbak."ujar Sheila sambil tersenyum.


Pelayan cafe mengangguk lalu segera pergi dari meja Sheila.


Kau ini Sheila.. ayo lupakan mas Al. Dia bukanlah pria yang Tuhan takdirkan untukmu. Lupakanlah dia Sheila. gumam Sheila dengan kesal karena sedari tadi hanya Aldo yang ada di pikirannya.


"Sheila..."panggil seorang wanita pada Sheila.


Sheila menoleh."Mbak Syila ??"sapa Sheila pada wanita itu yang ternyata adalah Asyila.


"Loh bukannya tadi kamu temenin Nayla untuk fitting gaun pengantin ya ?"tanya Syila terheran.


"Mbak boleh bergabung disini ?"ujar Syila meminta izin.


Sheila mengangguk."Tentu boleh mbak, sini duduk."ajak Sheila seraya menarik kursi untuk Asyila.


"Oh iya bukannya tadi kamu temenin Nayla untuk fitting gaun pengantinnya ?"tanya Asyila lagi.


"Aku tadi temenin ko mbak. Cuma tadi Nayla ada janji katanya mau makan siang bareng sama kak Bagas, jadi aku pergi duluan dari butik."tutur Sheila.


"Hmm gitu.. mbak kira kamu lagi sama Nayla loh."ujar Asyila.


"Engga mbak, setelah dari butik aku mampir kesini dulu. Cokelat disini salah satu minuman yang favorit banget di kalangan anak muda kaya kita."tutur Sheila.


Ekhemmm


Suara deheman seorang laki-laki memecahkan obrolan dari kedua wanita itu.


"Sayang.. mas cari kamu loh."ujar Erlan dengan kesal.

__ADS_1


Asyila tersenyum."Maaf mas, tadi aku gak sengaja liat Sheila disini makanya langsung nyamperin dia."ujar Syila dengan polos.


" Aku sama Aldo cari kamu loh Yank. Mas kira kamu masih ada di toko perlengkapan bayi tadi."ujar Erlan sambil mencubit pipi Asyila.


Asyila memejamkan matanya."Maaf ya mas.."ujar Asyila.


Aldo ada disini juga ? Engga aku ga mungkin ketemu lagi sama dia. Aku mau lupain dia mulai sekarang. gumam Sheila dengan cemas.


"Mbak Syila, mas Erlan kalo gitu aku permisi ya. Papa udah telfonin aku terus nih."pamit Sheila.


"Loh Sheila ko buru-buru, kita ngobrol sebentar dulu yuk."ujar Asyila


"Iya Sheila, lagipula ada Aldo juga kok nanti kamu bisa diantarkan pulang sama Aldo."tutur Erlan.


"Maaf ya mbak, mas hmm Sheila bener-bener harus pulang sekarang."ujar Sheila kekeh.


Asyila dan Erlan saling menatap lalu keduanya mengangguk bersamaan."Yaudah kalo gitu kamu hati-hati ya, Sheila."ujar Asyila sambil tersenyum.


Sheila mengangguk."Iya mbak, Sheila pamit ya Assalamu'alaikum."pamit Sheila sambil beranjak meninggalkan cafe itu.


"Walaikumsalam.."ujar Asyila dan Erlan bersamaan.


Sheila sedikit tergesa saat itu. Langkahnya bahkan tak beraturan. Perasaan cemas masih ia rasakan saat ini. Erlan bilang jika Aldo juga ada di tempat yang sama dengannya saat ini. Ia tak mau jika harus bertemu dengan Aldo.


Beberapa minggu ini ia sudah susah payah untuk menghindari Aldo. Sheila bahkan saat itu sudah memblokir segala yang berkaitan dengan Aldo. Ia bertekad untuk melupakan dan mengubur segala perasaannya pada Aldo. Ia ingin Aldo bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya itu.


Aku harus sedikit demi sedikit melupakanmu mas Al. Walaupun sulit tapi harus. Ini demi kebahagiaanmu dan kedua orangtuamu.gumam Sheila sambil terus berjalan menundukkan kepalanya.


Sheila berjalan dengan gontai. Pikirannya masih saja tertuju pada Aldo saat ini. Apa keputusannya untuk menghindar dari Aldo sudah benar dan tepat ? Tapi Sheila ingin Aldo bahagia dengan hidup barunya.


Sheila terus melamun dengan kaki yang masih melangkah untuk pergi dari sana. Hingga ia tak sengaja menabrak seseorang.


Brukkkk


"Maafkan saya mas. Tadi saya tidak melihat jalan dengan baik maaf ya."ujar Sheila sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sampai kapan kau menghindariku ? Sampai kapan kau menyiksa dirimu sendiri untuk bisa melihatku bahagia ? Kau tau aku merindukanmu beberapa hari ini."ujar seseorang itu tiba-tiba.


Sheila mendongak."Mas Aldo ???"ujar Sheila dengan pelan.


__ADS_2