Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
Makin berisi


__ADS_3

Saat Erlan akan memejamkan matanya, terdengar isakan tangis dari Asyila. Tentunya ia menangis karena kejadian tadi, perkataan Sheila yang kasar sungguh melukai hati Asyila. Erlan beranjak dari baringnya, ia dekati istrinya itu lalu dibawanya Asyila ke dalam dekapannya.


"Sutt... udah sayang jangan nangis lagi please"ujarnya seraya mengelus punggung Asyila


"Benarkah Syila ini mandul mas ?"tanya Asyila


"Enggak sayang, kamu jangan hiraukan perkataan Sheila tadi ya. Udah jangan nangis ya.."bujuk Erlan


"Kalo mas emang mau meninggalkan bahkan menceraikan Syila, insyaallah Syila ikhlas mas. Mas bisa menikah dengan wanita yang sempurna"ujar Syila tanpa sadar.


"SYILA..."teriak Erlan lalu melepaskan pelukannya pada Asyila dan memegang bahu Asyila dengan kuat


"Sampai kapanpun mas tidak ingin mendengar perkataan soal meninggalkan atau menceraikan. Sampai mas berhenti bernafas hanya kamu yang akan jadi istri mas, jika Allah memang tidak menghendaki kita memiliki keturunan, mas ikhlas. Jangan pernah mengungkit soal perceraian lagi atau soal menikahi wanita lain lagi. Mas tidak suka."ujar Erlan sedikit emosi bahkan membuat istrinya menunduk.


"Hiks..Hikss..Hikss maafkan Syila mas."ujar Asyila yang kembali terisak


Erlan dengan segera memeluk istrinya dengan erat. Entahlah semakin hari rasa cintanya pada Asyila semakin bertambah besar. Ia tak rela jika sampai wanitanya ini pergi jauh dari sisinya.


"Maaf Sayang, mas tidak bermaksud bentak kamu. Mas tidak suka jika kamu berkata seperti tadi."ujar Erlan seraya mengelus punggung Asyila tak lupa ia cium puncak kepala Asyila.


"Tapi kalo ternyata Asyila benar..."ucap Asyila tertahan.


"Sutt udah jangan diterusin Sayang, mas tau apa yang mau kamu ucapkan. mas yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Ada tidaknya anak, mas tetap bahagia sama kamu."ujar Erlan


"Syila cinta sama mas, sangat mencintai mas."ujar Asyila dalam pelukan Erlan


Erlan mengeluarkan Asyila dalam dekapannya, lalu mengecup sekilas bibir mungil istrinya."Mas lebih mencintaimu istriku,wanitaku,Asyilaku,mamanya Vino."ujar Erlan seraya mengelus lembut bibir Asyila.


Asyila tersenyum. Wajah mereka semakin dekat satu sama lain, Asyila sudah memejamkan matanya dan siap menerima apa yang akan suaminya lakukan. Namun saat bibir itu akan menyatu, suara yang dihasilkan oleh perut Asyila membuyarkan semuanya.


Krukk..Krukk..Krukk


Erlan tersenyum lalu menatap istrinya."Laper ya Sayang ?"tanya Erlan lembut.


"I-Iya mas.. maaf ya kita jadinya enggak.."ujar Asyila menunduk malu.

__ADS_1


"Yaudah yuk ke bawah kamu makan dulu ,setelah itu kita istirahat. Besok pagi mas ada meeting dengan papa dan papa mertua."ujar Erlan namun direspon dengan gelengan kepala Asyila


"Gamau ke bawah, pengen makan disini aja."ujar Asyila dengan manja.


"Yaudah mah dibikinin apa hmm ?"tanya Erlan


"Mau martabak yang tadi, terus maunya disuapin sama mas."pinta Asyila


"Istriku manja banget sih.. makin gemes deh.."ujarnya sambil mencubit pipi Asyila


"Biarin manja sama kamu doang kok, kamu suami aku ini."ujar Asyila.


"Makin berisi aja kamu sayang, enak banget deh cubitnya."goda Erlan


"Ih mas..."ujar Asyila sambil cemberut.


"Bibirnya jangan dimanyunin gitu, mas nanti malah gajadi ke bawah nih."goda Erlan lagi.


"Iya enggak enggak, sana mas ambilin martabaknya."titah Asyila


"Iya sayangku..."ujar Erlan sambil mencium kening Asyila laou berlalu ke luar kamar mereka.


Sementara saat ini Nayla tengah dilanda kecanggungan. Pasalnya ia hanya berdua bersama Bagas dalam mobil. Ajeng sudah Bagas antarkan sampai ke depan apartemennya 15 menit lalu. Hanya keheningan yang ada di mobil itu, hingga Bagas mulai membuka obrolan.


"Nay.."panggil Bagas yang melirik Nayla tengah melihat ke luar jendela mobil.


Nayla menoleh."Iya kak kenapa ?"tanya Nayla


"Maaf soal perkataan Ajeng tadi."ujar Bagas


"Gak apa kok Kak."ujar Nayla sambil tersenyum


Cantiknya dia, senyumnya manis sekali.gumam Bagas.


"Kenapa Kak ? Kakak tadi mengatakan sesuatu ?"tanya Nayla

__ADS_1


"Oh enggak Nay, gak ada apa apa."ujar Bagas.


Haduh loe apaan sih Bagas ? Untung ga kedenger sama si Nayla.umpat Bagas dalam hati.


"Aduh..."ujar Nayla membuat Bagas seketika menoleh dan meminggirkan mobilnya.


"Loh kenapa Nay ?"tanya Bagas khawatir.


"Ini Kak perut aku tiba-tiba sakit, kayanya maag ku kambuh."ujar Nayla sambil meringis.


"Apa perlu ke rumah sakit ? Biar aku antar"ajak Bagas


"Enggak Kak, aku mau pulang aja. Istirahat bisa meredakan sakitnya kok."ujar Nayla


"Yakin gak apa ?"tanya Bagas sambil memegang perut Nayla.


Deg


Ya Allah Kak Bagas, please jangan membuat aku semakin menaruh hati sama kamu kak.ucap Nayla dalam hati.


Mereka saling menatap satu sama lain. Bagas mulai mendekatkan wajahnya ke arah Nayla. Nayla semakin merasakan deru nafas Bagas mengenai wajahnya.


"Kak jangan seperti ini, apa yang akan kakak lakukan ?"ujar Nayla gugup lalu memejamkan matanya.


"Aku hanya ingin..."ucap Bagas menggantung.


Nayla memejamkan matanya saat Bagas mendekatkan kembali wajahnya, bahkan ia meremas ujung gaun yang ia pakai dan..


"Ada sesuatu di rambutmu, aku sudah mengambilnya."ujar Bagas seraya menunjukkan sebuah daun yang terselip di rambut Nayla.


"O-o-oh makasih ya kak." ujar Nayla sedikit gugup


"Yaudah kita lanjutin perjalanan ya, malam sudah sedikit larut sepertinya."ujar Bagas


"Iya Kak Ayo.."ujar Nayla

__ADS_1


*Ya Allah Nayla apa si yang ada dipikiranmu tadi ? kamu mengkhayal kalo kak Bagas akan menciummu ? Aduh Nayla sadar jangan halu.umpat Nayla dalam hati


Ada apa sama gue sih ? Tadi gue malah tergoda sama bibir mungil Nayla dan berniat buat cium dia. Sadar Bagas lu udah ada Ajeng.umpat Bagas dalam hati*


__ADS_2