
Erlan tengah mengurus administrasi mengenai kepulangan Nayla. Nayla yang sedari tadi terus saja memohon agar bisa pulang hari ini juga. Beberapa menit lalu, Nayla bahkan sempat kembali histeris saat Erlan dan keluarganya mengatakan jika ia harus menginap selama 1-2 hari ke depan agar kondisinya segera pulih. Erlan yang tak tega pun akhirnya mengalah dan mencoba membujuk dokter untuk bisa mengizinkan membawa Nayla saat ini. Perdebatan bahkan terjadi sebelumnya, mengingat kekhawatiran dokter saat ini mengenai psikis Nayla yang bisa saja dalam satu waktu berubah-ubah. Namun Erlan tak menyerah, ia kembali meyakinkan dokter jika keluarga akan menjaga dan merawat Nayla hingga pulih.
Setelah berdebat dengan dokter, akhirnya mereka bisa membawa Nayla pulang ke rumah. Dengan syarat kondisi dari diri Nayla harus selalu dipantau oleh dokter dan memeriksakan mengenai psikis Nayla ke psikiater.
Bagas sedari tadi memeluk Nayla dengan erat. Ia bahkan tak berniat sedikitpun melepaskan pelukannya walau sejenak. Nayla yang merasa nyaman berada di dekapan Bagas pun enggan untuk melepaskan diri. Saat ini ia begitu nyaman dengan aroma tubub dari Bagas, bahkan ia sedari tadi hanya terpejam di dalam dekapan itu.Sedari tadi mama Shindy memperhatikan bagaimana Bagas begitu menjaga Nayla. Bahkan dalam dekapan Bagas terlihat jika Nayla begitu tenang. Mama Shindy berjalan untuk menghampiri keduanya.
Mama Shindy memegang bahu Bagas.“Nak..”panggilnya pada Bagas.
Bagas mendongakkan kepalanya.”Iya tante..”ujarnya sambil terus mendekap Nayla.
“Terimakasih karena sudah membuat Nayla sedikit tenang.”lirih mama Shindy sambil mengelus kepala Nayla.
“Tante tidak perlu berterimakasih. Aku juga turut andil untuk kondisi Nayla saat ini. Jika saja aku tidak berhubungan dengan wanita yang salah mungkin Nayla tidak akan menjadi korbannya. Aku harusnya minta maaf pada Tante.”ujar Bagas sambil menatap sendu Nayla yang ada di dekapannya.
“Tidak Nak. Kamu sudah menyelamatkan Nayla bahkan saat ini pun kamu yang bisa menenangkan Nayla. Hmm tante berhutang banyak padamu, Nak.”ujar mama Shindy sambil tersenyum.
Beberapaa menit berlalu...
Erlan kini sudah selesai menyelesaikan segala administrasi kepulangan Nayla. Saat ini ia hanya memfokuskan untuk kepulihan Nayla. Erlan juga sudah menyewa suster untuk bisa menjaga dan memantau keadaan Nayla saat di rumah nanti. Ya meskipun ada Mama dan Papa nya tapi tetap Erlan hanya ingin yang terbaik untuk Nayla.
__ADS_1
Pemandangan yang ia lihat pertama kali saat sampai di depan kamar rawat itu sungguh membuatnya kembali sendu. Adiknya seperti begitu nyaman berada dalam dekapan Bagas. Kenyamanan bisa Bagas berikan untuk Nayla, namun Erlan belum sepenuhnya bisa melepaskan adiknya mengingat sebelumnya Bagas juga yang membuat Nayla begitu down.
Erlan menghampiri semua yang ada disana. Pandangannya tertuju pada Bagas yang sedang mendekap erat Nayla.“ Gue mau bawa Nay balik ke rumah dulu Gas. Thanks karena lo udah nyelametin dan ikut jaga Nay juga. Gue berhutang sama lo“ujar Erlan sambil tersenyum.
“ Ga masalah Bang, sekarang focus gue juga buat Nay”ujar Bagas sambil melirik Nayla.
Nayla melepaskan dekapan itu.”Nay harus pulang sekarang ya Bang ?”Tanya Nayla pada Erlan.
Erlan mengangguk.”Bukannya tadi Nay yang minta pulang cepet-cepet hmm ? Abang sampe harus debat sama dokter loh tadi.”ujar Erlan sambil mengelus kepala Nayla.
“Iya Bang, udah ga betah disini. Mau pulang ke rumah aja.”ujar Nayla sambil tersenyum.
Nayla hanya mengangguk. Ia lalu menoleh ke sampingnya dimana saat itu masih ada Bagas yang tengah menatapnya begitu dalam.”Kakak terimakasih ya sudah menyelamatkan Nayla. Terimakasih juga sudah mau Nayla dan keluarga repotkan. Maaf kak jika Nay masih saja mengganggu kakak sampai saat ini. Nayla janji setelah ini tidak akan mengganggu kakak lagi. Nayla akan pergi dari hidup kakak. Maaf dan terimakasih sekali lagi” ujar Nayla dengan tatapan sendu.
Nayla segera bangkit dari sana dan menuju ke mobil Erlan yang sudah menunggunya di depan lobby. Dengan dipapah oleh mama Shindy, Nayla menangis dalam diam. Ia sebenarnya senang Bagas bisa menemaninya begitu lama. Hatinya damai dan begitu nyaman saat Bagas berada di dekatnya. Namun Nayla harus kembali pada kenyataan, dia bukan wanita yang tepat untuk Bagas. Kejadian beberapa jam lalu membuatnya sadar jika saat ini ia hanya wanita rendahan. Ia tak punya muka jika berharap lebih pada Bagas.
Kak Bagas pasti akan menemukan wanita yang sempurna untuk kakak. Bukan wanita sepertiku yang sudah dilecehkan bahkan wanita rendahan yang tubuhnya sudah disentuh oleh lelaki lain. Ujar Nayla dalam hati sambil menangis.
"Mama tau ko, adek pasti merasa berat kan untuk berpisah dengan Bagas ? Kamu begitu mencintainya ya Nay ?"tanya mama Shindy membuat lamunan Nayla buyar seketika.
__ADS_1
Nayla tersenyum."Mama ini bicara apa sih, justru mulai sekarang Nay harus belajar untuk ikhlas dan rela. Kak Bagas bukanlah orang yang tepat untuk Nay, Ma."ujar Nayla lirih."Eh tidak deh, Nayla lah yang tidak pantas bersanding dengannya."tambahnya lagi.
"Apa kamu akan bahagia dengan keputusan ini ??"tanya mama Shindy yang sebenarnya tahu jika Nayla sedang menyembunyikan kesedihan itu di dalam hatinya.
Nayla terdiam sejenak."Nayla harus bisa Ma, Nayla harus belajar."ujarnya sambil menghela nafas.
"Apapun keputusan kamu, Mama harap itu yang terbaik."ujar mama Shindy bijak.
Sejujurnya aku tak mampu Ma, menghilangkan rasa yang sudah aku rasakan begitu dalam untuk kak Bagas . Tapi apa daya aku bukanlah wanita suci lagi saat ini. Aku enggan jika kak Bagas harus malu karena bersanding dengan wanita yang sudah ternoda. Meskipun aku tau jika tidak sepenuhnya aku dilecehkan, namun tetap saja itu akan selalu berbekas di ingatan. lirih Nayla dalam hati.
Keduanya pun lambat laun berlalu dari lorong rumah sakit, meninggalkan Bagas yang masih berdiri mematung disana. Bagas dilanda perasaan membingungkan. Apa maksud ucapan Nayla padanya barusan ? Apa Nayla ingin menjauhinya setelah ini ? Tapi kenapa ? Bagas saat ini baru saja ingin memulai hubungannya dengan Nayla, tapi apa yang dikatakan gadis itu ? Dia akan pergi ? Masih banyak pertanyaan yang menyelimuti pikiran Bagas saat ini.
Tak ingin larut dalam pikiran apapun saat ini, Bagas bergegas meninggalkan area rumah sakit. Ia masuk ke dalam mobil, lalu melajukan roda empat itu untuk bergabung bersama kendaraan lain di jalan. Sepanjang perjalanan, Bagas terus saja menyemangati dirinya agar tak menyerah untuk bisa mendapatkan hati Nayla.
Jika kamu ingin menjauh maka aku akan berusaha terus mendekat Nay. Kamu pergi ke ujung dunia pun akan aku kejar. Kamu harus bertanggung jawab Nay. Kamu sudah membawa hatiku terlalu dalam untuk bisa memilikimu. Aku memang egois Nay, aku tak akan membiarkan kamu pergi Nay. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali. Aku mencintaimu Nayla…ujar Bagas dalam hati.
__ADS_1