
Setelah kejadian di café beberapa hari yang lalu, Bagas merasa dirinya aneh. Entahlah dadanya terasa sesak jika mengingat kata-kata kasar yang ia lontarkan pada adik ipar dari sahabatnya itu. Sebenarnya Bagas ingin sekali menghubungi Nayla untuk sekedar memohon maaf. Namun selalu ia urungkan.
Hari ini Bagas berniat untuk memohon maaf secara langsung pada Nayla. Ia sudah menunggu di Lobby kantor milik Erlan sejak 30 menit yang lalu.
“Apa Nayla tidak ke Kantor hari ini ?”ujarnya bermonolog.
Saat ia sedang focus dengan pikirannya sendiri, seketika matanya berbinar karena seseorang yang ia tunggu akhirnya muncul.”Nayla…”panggilnya.
Nayla yang saat itu tengah focus dengan gawainya seketika menoleh ke asal suara.”Kak Bagas, mau apa lagi dia ?”gumam Nayla.
Bagas berjalan menghampiri Nayla.”Nayla aku udah nunggu kamu dari tadi. Aku kira kamu ga ke Kantor.”ujar Bagas.
Nayla menatap dengan malas.”Ada keperluan apa Kak ?”tanyanya dengan nada datar.
“Aku ingin membicarakan sesuatu Nay. Bisakah kau luangkan waktu sebentar.”pinta Bagas.
“Maaf kak tapi aku sedang sibuk saat ini. Dan ya ada meeting dengan klien 1 jam lagi, aku harus mewakili bang Erlan karena ia juga harus memantau proyeknya di luar Kantor.”tolak Nayla.
__ADS_1
“Kakak mohon Nay hanya sebentar. Ayolah Nay, hanya sebentar aku mohon.”pinta Bagas yang tak sadar memegang tangan Nayla.
Nayla segera menepis lengan Bagas. Nayla menarik nafasnya dalam.”Baiklah hanya sebentar. Kita bicara disana saja.”ujar Nayla dengan malas sambil menunjuk satu tempat di luar gedung kantor.
Saat ini mereka tengah berada di bawah pohon rindang. Angin siang itu berhembus begitu kencang. Keduanya sama-sama menatap ke depan. Sesekali Bagas memperhatikan wajah Nayla. Entahlah ia selalu damai jika melihat wajah dari adik ipar sahabatnya itu.
Memperhatikan daun yang melambai di terpa oleh angin. Sesekali Nayla merapikan anak rambutnya yang tadi sempat disapa secara halus oleh angin. Perasaannya saat ini tak karuan, dadanya mendadak berdegup kencang. Jantungnya pun berdetak tak sesuai iramanya. Pasalnya sedari tadi Nayla menyadari jika Bagas terus melihatnya.
“Sebenarnya ada apa kak ? Aku tidak punya banyak waktu.”ujar Nayla dengan nada datar.
“Aku ingin memohon maaf atas perkataanku tempo hari Nay.”ujar Bagas to the point.
Bagas memegang lengan Nayla.“Aku begitu menyakiti hatimu saat itu Nay. Aku benar- benar merasa pikiranku terganggu karena rasa bersalahku padamu.”uajr Bagas.
“Sudahlah Kak, aku juga sudah melupakan itu. Mungkin memang aku yang salah karena sudah lancang untuk mencampuri urusanmu.”ujar Nayla yang sedikit menahan sesak di dadanya.
“Bisakah kau kembali bersikap seperti Nayla yang dulu aku kenal ?”pinta Bagas.
__ADS_1
“Aku masih Nayla yang sama kak, Kau saja yang terlalu berlebihan.”ujar Nayla dengan nada datar.
Bagas tak sengaja menarik tangan Nayla hingga wajah keduanya saling berdekatan..”Ini bukan Nayla yang aku kenal. Ini Nayla yang berbeda. Tolong Nay jangan acuhkan dan bersikap dingin padaku.”pinta Bagas sambil menatap dalam Nayla.
Nayla tepis tangan Bagas yang menggenggamnya, menjauhkan wajahnya dari lelaki yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih kencang.”Sudahlak kak, aku tidak ada waktu untuk melayani pembicaraan tak pentingmu itu. Lagipula apa urusanmu dengan perubahan sikapku ? ini tidak aka nada pengaruhnya untukmu kan ? Oh ya satu lagi, kau lebih baik focus saja pada hubungan percintaanmu dengan kak Ajeng. Semoga kalian selalu bahagia ya. Nayla harus kembali kak”ujar Nayla sambil bangkit dan berniat pergi.
Bagas memegang lengan Nayla.”Nay jangan seperti ini aku mohon. Tolong kembalilah seperti Nayla yang aku kenal dulu.”pinta Bagas.
Nayla menangis dalam diam.”Sudahlah kak lupakan saja Nayla yang kamu kenal dulu. Nayla yang selalu menganggumu dan mencampuri urusanmu saja. Aku sudah tidak ingin menjadi penganggu untuk hidupmu kak. Lebih baik kamu pergi sekarang.”pinta Nayla yang membelakangi Bagas.
GREP..
Seketika Bagas memeluk Nayla dari belakang.”Jangan buat dadaku semakin sesak Nay dengan sikapmu ini. Aku mohon Nay. Hatiku sakit melihatmu berubah seperti ini, aku memang bersalah karena tak sengaja sudah memakimu waktu itu. Aku menyesalinya Nay, aku mohon maafkan aku. Maafkan kak Bagas, please Nay”pinta Bagas sambil mengeratkan pelukannya.
Nayla menyerah. Air matanya seketika jatuh. “ Tolong kak jangan seperti ini. Jangan buat aku semakin tidak bisa melupakanmu. Jangan buat rasa cinta ini semakin dalam kak.Aku tidak ingin terjebak dengan perasaan ini. Aku tidak ingin perasaan cinta ini terlalu jauh. Aku tidak ingin kecewa lebih dalam lagi saat cintaku tak kau balas. Aku mohon jangan menumbuhkan lagi cinta yang ingin Nay kubur dalam-dalam untuk kakak. Kak Bagas sudah bahagia dengan kak Ajeng, tolong kak biarkan Nay melanjutkan hidup Nay dan belajar melupakan kakak dan menghapus nama kakak dari hati Nay. Biarkan si pengganggu ini pergi menjauh dari hidup kakak .”lirih Nayla sambil melepaskan pelukan Bagas dan segera berlari meninggalkan Bagas yang masih terpaku.
Bagas masih mematung dan mencerna apa yang baru saja telinganya dengar. Ia mencoba menormalkan hatinya yang sedari tadi terus berdegup saat berada di dekat Nayla. Tanpa ia sadari, ia menarik sedikit bibirnya saat mengetahui perasaan Nayla yang sebenarnya. Entahlah pikiran dan perasaannya ini selalu aneh jika sedang bersama dengan Nayla. NYAMAN itu lah yang selalu Bagas rasakan. Perubahan sikap Nayla beberapa hari ini membuatnya sedikit kelimpungan dan merasa dirinya seperti kehilangan sesuatu.
__ADS_1
Nayla mencintaiku ? Sejak kapan ? Apa yang ku dengar tadi adalah kebenarannya ? Dia menyatakan perasaannya sendiri padaku ? Dan hatiku kenapa begitu damai dan merasa senang saat tahu jika ia menaruh perasaan padaku ? Apa aku juga sudah mencintainya tapi aku tak sadar selama ini ? Apa perasaan aneh yang beberapa hari lalu aku rasakan adalah perasaan cinta juga ? Tapi kenapa aku tidak bisa peka pada hatiku sendiri ? Ya tuhan aku sudah menyakiti hatinya begitu dalam. Maafkan Kak Bagas Nay….lirih Bagas dalam hati.