Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
KELUH KESAH NAYLA


__ADS_3

Makan siang telah dilewati oleh Asyila. Kini mereka tengah berada di ruang keluarga. Membahas hal ringan dan tak lupa juga mengenai kehamilan Asyila.


“Trimester pertama mual-mual ga nak ?”Tanya mama Shindy pada Asyila.


“Mual parah Ma. Bahkan bukan mual aja Ma, Syila jadi bawaannya males buat bangun tidur.”jawab Asyila.


“Kamu tuh sama banget nak kaya mamanya Erlan, dulu papa kewalahan sama mual dan manjanya istri Papa.”timpal Papa Herman.


“Papa sama banget kaya aku coba. Bahkan nih istri Erlan manjanya kebangetan.”ujar Erlan membuat Asyila sedikit merengut.


“Wajar lah nak, itu bukan maunya istri kamu kok. Anak kamu yang mau dimanjain sama Papanya.”kini mama Shindy yang membela Asyila.


“Apalagi ya Pa kalo bawaannya udah ngidam tuh, Erlan harus bela-belain cari tengah malem. Ya mana Asyila pengen ngikut. Erlan khawatir karena ga baik buat Syila sama anak kami, tapi kalo ga diturutin udah pasti Erlan kena marah deh.”adunya pada sang Papa.


Asyila hanya menunduk. Begitu merepotkan kah kehamilan dirinya saat ini. Bahkan Erlan terang-terangan mengeluhkan segala hal yang ia alami untuk menhadapi Asyila selama kehamilannya. Asyila langsung terdiam, dan sikapnya sedari tadi diperhatikan oleh suaminya.


“Tapi ya Pa, gimanapun permintaan Asyila yang aneh-aneh atau sikapnya yang manja dan mualnya saat itu, Erlan begitu menikmati peran Erlan sebagai suami. Erlan jadi tau betapa sulitnya seorang wanita saat ia tengah mengandung. Erlan semakin menghargai dan mencintai mama dan istri Erlan setiap harinya. Kalian wanita hebat.”jelasnya sambil merangkul pundak Asyila.


Asyila tersenyum mendengar penuturan dari suaminya.


Mereka larut dalam obrolan ringan, hingga tak lama suara deru mesin mobil terdengar dari luar rumah.


“Opa itu pasti tante Nayla. Vino mau sambut ya Opa..”ujar Vino yang sedari tadi duduk di pangkuan papa Herman.


“Yaudah abang sambut gih tante Nay.”pinta Erlan.


Vino lalu turun dari pangkuan opanya, dan segera berlari untuk menyambut tantenya itu. Erlan hanya mengelengkan kepalanya melihat sikap anaknya itu.


Nayla membuka pintu dengan perasaan yang tak karuan. Saat pintu terbuka, ia melihat keponakan lucunya itu tengah berdiri untuk menyambutnya. Bukan memeluk Vino, Nayla justru tergesa-gesa untuk berlari menuju kamarnya. Bahkan ia tak menghiraukan panggilan dari keponakannya itu.


“Nay…”panggil mama Shindy.


Nayla hanya menoleh pada ibunya, ia tak berniat merespon. Entahlah perkataan kasar Bagas tadi kembali terngiang di telinganya. Bahkan Nayla kini tak bisa menahan air matanya yang keluar tanpa izin membasahi pipi lembutnya.


“Loh nak, kok nangis sayang.. Anak Papa kenapa ?”Tanya papa Herman berniat menghampiri Nayla. Namun justru Nayla berlari untuk masuk ke kamarnya.


Panggilan dari semua orang yang disana bahkan tak digubrisnya. Ia tutup pintu dengan kasar, membuat semua orang terkaget dengan sikapnya.


“Pa ada apa dengan Nayla ? Tidak biasanya seperti itu.”ujar mama Shindy sedikit khawatir.


“Entahlah Ma, tadi sebelum pergi dia terlihat baik-baik saja. Tadi Papa lihat juga dia menangis, apa dia diganggu oleh seseorang?”ujar papa Herman sambil menerka-nerka.

__ADS_1


“Nayla memangnya habis darimana Pa ?”Tanya Asyila ingin tahu.


“Tadi dia izin untuk menemui Bagas di café dekat rumah kalian.”jawab mama Shindy.


“Ma.. boleh Asyila yang masuk ke kamar Nayla ? siapa tau Asyila bisa tahu penyebab dari Nayla seperti itu.”pinta Asyila.


“Tentu nak, Nayla juga adikmu. Tolong tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi padanya hari ini. Karena selama ini Nay tidak pernah seperti itu.”ujar mama Shindy.


“Mas sebentar ya, Syila mau menyusul Nay ke kamar. Kita pulangnya agak maleman gapapa kan ?”ujar Asyila meminta izin pada Erlan.


“Yaudah kamu temani dulu Nay sampe dia tenang. Setelah itu baru kita pulang.Ingat naik tangganya hati-hati. “ujar Erlan yang direspon anggukan oleh Asyila.


...……...


Kamar Nayla…


Nayla kini tengah termenung di dekat jendela. Ia duduk sambil memeluk lutut kakinya. Air mata masih saja lolos membasahi pipinya. Hati dan pikirannya kini tengah kacau dan kecewa pada Bagas. Perkataan kasar yang Bagas lontarkan begitu menyakiti perasaannya. Ia tak mengerti kenapa bisa menaruh perasaan pada Bagas hingga sejauh ini.


Bodoh…Bodoh.. Bodoh… kau memang bodoh Nay.makinya pada dirinya sendiri.


Ceklek….


“Ada apa dengan adik iparku hari ini ?”Tanya Asyila.


Nayla mendongakkan kepalanya.”Kakak…..Hiks…Hiks…Hiks…”Nayla memeluk perut buncit Asyila, ia kembali menangis.


“Kenapa dek ? Apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan sama kakak ?”Tanya Asyila lagi.


Nayla menghapus air matanya dengan kasar.”Nay memang wanita bodoh kak.”ujar Nayla yang masih memeluk Asyila.


“Katakan ada apa hmm ?”Tanya Asyila sambil menangkup pipi adik iparnya.


Nayla lalu menceritakan kejadian di café tadi. Mulai dari dirinya yang berniat memberitahukan Bagas tentang rencana jahat dari Ajeng sampai makian Bagas yang begitu menyakiti hatinya.


“Bahkan Kak Bagas pun meragukan didikan yang diberikan untuk Nay dari orang tua dan Bang Erlan. Tak sampai disitu bahkan Kak Bagas berkata jika aku adalah wanita penganggu kak.”ujar Nayla yang masih terisak.


Asyila tak menyangka jika Bagas bisa berkata kasar seperti itu. Apa cintanya untuk Ajeng begitu dalam hingga ia mampu melontarkan kata-kata kasar pada adiknya.


Asyila lalu ikut duduk di samping nayla. Ia genggam tangan Nayla untuk menyalurkan ketenangan pada Nayla.


“Dengarkan kakak ya dek, Bagas bukan orang yang mudah percaya dengan apa yang orang lain bicarakan sebelum ia lihat sendiri kebenarannya. Apalagi orang yang kamu bicarakan adalah orang yang sangat ia cintai saat ini.”jelas Asyila.

__ADS_1


“Tapi apa perlu Kak Bagas sampai meragukan didikan dari keluarga Nay ?”Tanya Nayla.


“Dia disulut oleh emosi Nay, hingga ia tak sedikitpun menyadari apa yang ia bicarakan itu akan menyakitkan hati seseorang atau tidak.”ujar Asyila.


“Nay tadinya ingin menunjukkan recording itu kak, tapi Nay urungkan karena sudah terlanjur kecewa dengan kak Bagas.”uajr Nayla.


“Tapi menurut Kakak jika kamu menunjukkan bukti itupun percuma dek. Bagas tidak akan mempercayainya.”ujar Asyila.


“Kakak benar, aku hanya akan buang-buang waktu saja ya.”timpal nayla.


“Hmm biarkan waktu yang akan menunjukkan kebenarannya pada Bagas. Kakak yakin jika Bagas sudah tau kebenarannya, dia sendiri yang akan bertindak.”ujar Asyila.


“Kak Asyila benar, sekarang Nay tidak akan lagi mengikuti atau mencampuri urusan orang lain. Nay ingin focus untuk hidup Nay dan keluarga Nay saja.”ujar Nayla sambil melepas pelukannya dari Asyila.


Asyila menagkup pipi adik iparnya.”Inilah Nayla yang kakak kenal. Wanita kuat dan tangguh.”ujar Asyila.


Nayla tersenyum.”Terimakasih kak karena mau mendengar keluh kesah Nay.”ujar Nayla.


“Tidak perlu berterimakasih, Kakak sudah menganggap kamu sebagai adik sendiri, Nay. Jadi jangan sungkan jika ingin bercerita pada Kakak.”balas Asyila dan membawa Nay ke dekapannya.


“Peluk kak Syila sekarang jadi beda ya, ada yang halangin.”ujar Nayla diselingi dengan candaan.


“Iya nih calon ponakanmu ini sudah besar Nay.”ujar Asyila sambil tersenyum. “Hmm Nay, boleh kakak bertanya satu pertanyaan lagi ?”Tanya Asyila hati-hati.


Nayla mengenggam tangan kakak iparnya. “Tentu saja Kak, apa yang ingin kakak tanyakan.”balas Nayla.


“Bagaimana dengan perasaanmu pada Bagas dek ? Kaka sudah tau dari bang Erlan jika kamu mencintai Bagas sejak lama.”Tanya Asyila.


Nayla membuang nafasnya dengan berat.”Nay sudah memutuskan untuk mundur dan berhenti berharap pada kak Bagas, Nay juga akan belajar untuk mengubur perasaan Nay untuk kak Bagas. Nay lelah jika harus terus mengejar kak Bagas, sementara orang yang Nay kejar sampai saat ini bahkan tak menoleh sedikitpun kak. Nay memang tidak boleh menyerah kak. Namun saat ini Nay hanya memasrahkan semua pada Allah.”jelas Nayla.


Asyila kembali memeluk Nayla.”Kakak selalu berdoa untuk kamu, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kehidupan Nay. Tetaplah yakin jika rencana-Nya akan jauh lebih indah Nay.”ujar Asyila memberikan nasihat.


“Iya Kak… Hmm oh iya Kak, tadi katanya Kakak ke dokter ya buat periksa, gimana hasilnya ?”Tanya Nayla seraya melepas dekapannya.


“Alhamdulillah semua baik Nay. Calon keponakanmu juga berkembang dengan baik, dan yang harus Nay tau jenis kelaminnya perempuan loh.”ujar Asyila dengan antusias.


“Oh ya ? Jadi Nay akan punya ponakan cantik ? Wahh selamat ya kak, sehat dan lancer terus sampe lahiran.”ujar Nayla.


“Makasih onty Nay.”ujar Asyila sambil mengelus pipi Asyila.


Ya Allah berikan kebahagiaan bagi Nayla adik iparku. Selalu buat dia tersenyum seperti ini. Siapkan lah rencana indah untuknya ya Allah.doa Asyila dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2