
Nayla segera menutup pintu ruangannya dengan kasar. Menumpahkan air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Ia kunci pintu itu agar tak ada yang bisa mengganggunya. Tubuh Nayla meluruh ke lantai. Entahlah ia merasa rapuh saat ini. Pengakuannya tentang perasaan yang ia simpan selama ini untuk Bagas bukan membuatnya bahagia malah sesak di dadanya semakin terasa.
Sungguh sakit saat tadi harus jujur soal perasaanku pada kak Bagas. Apa aku benar dengan mengungkapkan itu ? Ya Tuhan aku hanya ingin meraih kebahagiaanku. Aku berjanji setelah hari ini aku akan benar-benar melupakan perasaanku untuk Kak Bagas. Semoga ia bisa bahagia dengan pilihan hidupnya. Ya tuhan bantulah aku…lirih Nayla dalam tangisnya.
Tanpa diduga gawai milik Nayla berdering. Ia segera raih gawai itu di meja kerja, ia mengusap air matanya dengan kasar dan mencoba menormalkan kondisinya saat ini. Ia tersenyum saat melihat nama yang tertera di panggilan itu.
Kak Syila nih….gumamnya sambil tersenyum.
Segera ia geser tombol hijau di gawainya. Menarik nafas dengan dalam dan mencoba menormalkan perasaannya yang saat ini sebenarnya tengah dilanda kesedihan.
** Halo Assalamu’alaikum dek…panggil Syila di seberang sana.
** Walaikumsalam bumilkuu… ada apa kakak iparku yang cantik ?”jawab Nayla sambil tersenyum dipaksakan.
** Dek bisa tidak antar kakak ke mall untuk membeli sesuatu, bang Erlanmu itu sepertinya tidak bisa menemaniku saat ini. Dia bilang masih ada di proyek bersama dengan Aldo.tutur Syila sambil membuang nafasnya dengan kasar.
** Tadi bang Erlan emang bilang sih katanya kalo semisal dia ga sempet buat temenin kakak, abang minta Nay buat temani.jelas Nayla
** Jadi kamu bisa menemani kakak kan dek ?”Tanya Syila memastikan.
** Baiklah ayo, hmm biar Nay jemput kakak di rumah ya. Kita kesana barengan aja.saran Nayla
** Yaudah kakak siap-siap ya dek, kamu jugaa hati- hati di jalan jangan ngebut-ngebut.pinta Syila
__ADS_1
**Oke siap bumil.. tunggu Nay ya kak, kalo gitu Nay tutup teleponnya dan langsung menuju rumah kakak.. Assalamu’alaikum…ujar Nayla
** Yaudah kakak tunggu dek.. walaikumsalam…ujar Asyila
Seketika panggilan telepon itu berakhir. Nayla dengan segera menyambar tas dan kunci mobilnya. Ia bergegas menjemput Asyila ke rumahnya.
...…....
30 menit berlalu….
Deru mesin mobil Nayla kini tengah bergabung di Jalan bersama dengan kendaraan lain. Di sampingnya ada Asyila yang tengah asik memakan cemilan yang ia bawa dari rumahnya. Sesekali Nay melirik Asyila yang begitu nyaman dan asik dengan dunianya sendiri. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap dari bumil cantik itu.
Selama perjalanan Nay tak banyak bicara, Asyila sungguh merasa heran dengan tingkah Nayla yang menurutnya tak biasa itu. Sedari tadi Syila memperhatikan Nay secara diam-diam, seperti ada yang Nayla pikirkan saat itu. Terlihat dari Nay yang melamun meskipun tengah mengemudikan kendaraannya itu.
“Nay biar kakak yang nyetir aja ya.”tawar Syila.
Asyila tersenyum.”Kamu lagi melamunkan apa sih dek ? tubuhmu disini tapi pikiranmu tidak disini. Apa ada masalah ?”Tanya Syila.
“Kakak apa sih Nay baik-baik aja.”ujar Nayla dengan mata yang tak menatap pada Asyila. Nayla ingin kembali memutar stir mobilnya itu. Namun tangannya seketika dicegah oleh Asyila.
“ Kakak yakin kamu lagi sembunyiin sesuatu dari kakak.”ujar Syila.
Seketika Nayla meloloskan air matanya.”Kakak sepertinya selalu tau jika aku memang lagi gak baik-baik aja.”ujar Nayla dengan sendu.
__ADS_1
Asyila menggenggam tangan Nayla.”Ada apa hmm ?”Tanya Syila ingin tahu.
Nayla menarik nafasnya dengan dalam.”Tadi sebelum Nay jemput kakak, kak Bagas datang ke Kantor.”ujar Nayla dengan pelan.
“Lalu ?”Tanya Syila lagi.
“Dia mau minta maaf soal sikapnya pada Nay kak, dan….”ujarnya Nay terhenti.
Asyila tersenyum.”Lanjutkan… kakak akan mendengarkan.”pinta Syila dengan lembut.
“Nayla sudah mengakui perasaan Nay pada kak Bagas,tapi sepertinya kak Bagas hanya menyimak itu. Karena ia tak merespon sedikitpun Kak. Orang lain mengungkapkan perasaan pada pasangannya dengan rona bahagia, tapi apa yang Nay dapat kak Bagas hanya diam. Beginikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan kak ?”ujar Nayla semakin sendu.
Asyila menarik adik iparnya itu ke dekapannya.”Cinta tidak harus memiliki kan ? mungkin ini memang yang Allah inginkan. Jika memang kalian ditakdirkan bersama pasti Allah akan dekatkan. Berdoa selalu Nay, ingat Allah tidak tidur dan ia memberikan ujian pada hamba-Nya sesuai kemampuan dari kita untuk menjalankan.”ujar Asyila.
Nayla semakin terisak.”Tapi Nay sudah bertekad untuk lambat laun melupakan perasaan ini kak, Nay sadar diri jika kak Bagas tak pernah menyimpan perasaan apapun pada Nay. Dan ya lagipula kak Bagas sudah bahagia kan dengan kak Ajeng. Ya meskipun kita tau jika kak Ajeng itu bukan orang baik, tapi apa daya karena kak Bagas begitu mencintainya. Nay hanya berdoa agar kebahagiaan selalu menyertai kak Bagas ke depannya.”ujar Nayla sambil menghapus sisa air matanya.
Asyila tersenyum.”Kaka bangga sama kamu Nay. Kakak doakan kamu selalu dilimpahi kebahagiaan dalam hidup kamu.”ujar Asyila menggenggam erat tangan Nayla.
“Aamiin Yaa Rabb… makasih ya karena kakak selalu mendukung apapun langkah Nay. Pantas saja jika abang tuh cinta mati sama istrinya. Terbukti istrinya selain cantik, baik nya itu loh bikin orang lain juga seketika jatuh cinta.”ujar Nayla diselingi candaan.
“Lihat tuh nak, onty Nay udah pandai gombal kaya Papa.”ujar Asyila sambil mengelus perut buncitnya.
Nay mengelus perut buncit Asyila.”maafkan onty ya, karena onty cengeng jadi kelamaan deh sampe ke mall nya. Jangan ngambek ya girl.”ujar Nay mengajak bicara bayi di kandungan Asyila.
__ADS_1
“Yaudah ayo onty kita lanjutkan perjalanan. Aku udah pengen sampe ke mall nih.”ujar Asyila menirukan suara anak kecil.
“BERANGKATTTTTTTTT”seru Nayla sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.