
Sheila terus melenguh saat Aldo terus menjilati tempat itu. Gelenyar aneh ia rasakan pada sekujur tubuhnya. Sheila tau ini adalah perbuatan dosa, tapi entahlah pikiran dan hatinya berjalan tak seirama saat ini.
"Kau nikmat sayang... teruslah panggil namaku..."ujat Aldo sambil terus melakukan tugas sesuai nalurinya.
"Aku mohon Al ahhhhhhh.... henhhhhhh...tiikannhhhh.... aku... aku...aku ingin...."lenguh Sheila yang sudah tak terhitung berapa kali ia melenguh.
Sheila semakin dibuat kalang kabut saat ia merasakan sesuatu memaksa keluar dari intinya. Ia justru mendongakkan kepalanya ke atas, ia tak tahan dengan rasa yang akan ia keluarkan itu.
"Al... ahhh.... aku... aku sepertinya...huhhhh..hmmm...ahhhh"Sheila terus meracau tanpa henti.
"Keluarkan saja sayang,aku siap melahap itu."ujar Aldo sambil terus melakukan tugasnya di tempat indah milik Sheila.
"Ahhhhhhhh...."Sheila mend*sah panjang karena ia berhasil mendapatkan pelepasan pertamanya.
"Sekarang giliranku yang merasakan kenikmatan ini... bersiaplah sayangku..."ujar Aldo sambil membuka belt dan celana panjang yang ia kenakan.
"Aldo aku mohon ini salah Al, yang kita lakukan ini tidak benar.. Hentikan Al... aku mohon..."lirih Sheila sambil menangis.
Aldo tetap dengan pendiriannya. Ia bahkan sudah membuka sempurna penutup bagian bawahnya. Hingga terlihat benda yang sudah siap mengunjungi tempat indah milik Sheila. Sheila hanya bisa memejamkan matanya dengan air mata yang tak henti keluar. Aldo siap untuk melakukan penyatuannya itu.
Hingga....
Dret..Dret..Dret
Getaran ponsel di saku celananya menyadarkan Aldo dari halusinasinya itu. Ia raih ponselnya dan tertera nama 'Ayah' yang ditampilan di panggilan masuk.
Ia seketika tersadar halusinasinya terlalu jauh memikirkan bagaimana cara memperjuangkan hubungannya dengan Sheila. Bahkan Aldo sampai berpikir untuk merenggut kesucian Sheila. Untung itu hanya sebagai halusinasi, Aldo tak akan bisa melakukan itu. Aldo bahkan baru menyadari jika Sheila memang pergi dari Mall itu setelah mereka tadi sempat beradu argumen di lorong sepi itu.
Aldo menarik nafasnya begitu dalam sebelum mengangkat panggilan ponsel itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Ayah..."ujar Aldo dengan malas.
"Kamu jangan lupa ya malam nanti akan ada pertemuan dengan calon jodohmu,Al. Ayah minta kosongkan jadwalmu dan minta izin untuk bisa pulang lebih awal pada Erlan."pinta Ayah Al.
"Hmm Baiklah, Yah.."balas Aldo lalu mematikan ponselnya sepihak.
Apa yang tadi aku pikirkan ? Kenapa pikiranmu malah memikirkan untuk melakukan hal terlarang dengan Sheila demi hubungan kami. Ya Allah maafkan hamba-Mu ini.guman Aldo salam hati.
............
Sementara Sheila yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya sedang duduk termenung. Hatinya tak bisa berbohong jika nama Aldo masih berada di dalamnya, namun apalah daya perjodohan itu seakan menjadi dinding penghalang yang amat tebal membentengi hubungan mereka.
Air mata itu kembali jatuh. Rasanya begitu sesak bagi Sheila. Beberapa hari ini ia berusaha untuk melupakan Aldo, namun hasilnya bukan malah melupakan justru rasa cinta itu semakin dalam ia rasakan.
Haruskan ia berjuang ? Tapi apa yang harus ia lakukan ? Ia pun saat ini akan dijodohkan dengan pria yang sama sekali belum pernah ia temui dan kenal. Mungkinkah ini takdir dari Tuhan untuk keduanya ? Entahlah Sheila pusing jika memikirkan semua itu.
Pintu kamarnya terbuka dan menampakkan pria paruh baya. Siapa lagi jika bukan ayahnya Sheila. Ia melihat jika putrinya begitu murung seharian ini. Bahkan setelah ia kembali dari Mall, Sheila langsung mengurung dirinya dalam kamar.
"Papa..."panggil Sheila sambil tersenyum.
"Kenapa diem terus di kamar sih ? Lagi ada masalah ya ?"tanya ayah Sheila sambil memegang pipinya.
Sheila menggeleng."Gak gitu,Pa. Sheila cuma pengen sendirian aja di kamar."ujar Sheila berkilah.
"Apa kamu mempermasalahkan perjodohan kamu dan anak teman ayah, nak ?"tanya papa Sheila dengan hati-hati.
"Sheila ga akan ragu sama pilihan dan keputusan Papa. Sheila yakin ko ini yang terbaik untuk Sheila, Pa."balas Sheila sambil tersenyum.
"Tadi papa sudah berbicara lewat telepon dengan teman papa itu untuk mengajaknya bertemu sekaligus makan malam."ujar papa Sheila.
__ADS_1
"Lalu ??"tanya Sheila.
"Ya mereka setuju untuk datang, makanya papa ke kamar kamu buat kasih tau ini. Persiapkan diri kamu ya, nanti mama akan bantu kamu bersiap. Gunakan moment ini untuk mengenalnya lebih jauh. Papa berpikir sih sepertinya dia cocok dan pantas untukmu."ujar papa Sheila.
"Baiklah,Pa."ujar Sheila
............
Malam hari pun tiba.
Aldo tengah mengemudikan mobilnya dengan pikiran yang terfokus hanya pada Sheila. Entahlah ia masih memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya sekarang. Ingin rasanya Aldo pergi dari sana dan membawa Sheila bersamanya untuk lari dan hidup tanpa gangguan siapapun. Tapi apalah daya, Aldo bukanlah anak pembangkang seperti kebanyakan cerita atau film yang membawa lari pasangannya dan melakukan pernikahan tanpa restu dari kedua orang tuanya.
Tanpa terasa mobil itu sudah sampai di Restoran tempat kedua keluarga itu bertemu. Aldo keluar dengan malas dari mobil dan berjalan di belakang kedua orang tuanya. Hingga mereka telah sampai di meja yang sudah dipesan oleh teman dari ayahnya itu.
Ayah Aldo tampak tengah mengabari temannya jika mereka sudah sampai. Tak lama tampak ada yang memanggil ayahnya dan ternyata keluarga dari calon jodohnya Aldo telah datang. Terlihat jika putri mereka hanya berjalan di belakang dan menundukkan kepalanya.
Aldo yang sudah duduk pun hanya memainkan ponselnya dan duduk membelakangi pintu masuk dari restoran itu. Rasanya ia begitu malas untuk bertemu wanita yang akan dijodohkan dengannya.
"Halo mas, bagaimana kabarnya ?" Tanya papa Aldo pada calon besannya.
"Alhamdulillah baik dan sehat, bahkan sangat senang setelah tau anakmu dan anakku akan dijodohkan rasanya seperti angin segar untukku."ujarnya sedikit berlebihan.
"Apa itu putrinya mas ?"tanya bunda Aldo sambil melirik
"Benar mbak, ini putri kami yang sudah kami ceritakan pada kalian."ujar istri dari calon besannya itu.
"Ayo sayang, kenalan dulu sama tante dan Om."pinta ayahnya sambil melirik anaknya itu.
Wanita itu mendekat dengan ragu. Ia masih saja menundukkan kepalanya. Rasanya ia ingin pergi dari sana sepertinya. Keraguan masih menyelimutinya saat ini. Namun ia hanya bisa menuruti keinginan kedua orang tuanya. Dengan terpaksa ia menegakkan kepalanya dan mencoba untuk menyapa orang tua calon jodohnya itu. Saat ia mendongak ketiga pasang mata itu dibuat terkejut satu sama lain. Bahkan mata wanita itu sudah berkaca-kaca melihat siapa orang tua yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu ????" ujar kedua paruh baya itu dengan ekspresi terkejut.