Cinta Dalam Penantian

Cinta Dalam Penantian
Pemanasan


__ADS_3

Sore hari ini yang Asyila lakukan adalah mengemas beberapa pakaian miliknya dan Erlan untuk dibawa ke Paris malam nanti. Namun sedari tadi pikiran Asyila tidak terlepas pada anak kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Vino. Asyila tidak sanggup jika harus berjauhan dalam waktu yang lama dengan Vino.


Ceklek


Pintu kamar hotel terbuka. Menampilkan Erlan yang baru saja selesai menemui Orang tua dan anaknya di Kamar hotel yang lain. Erlan melihat wajah sendu dari istrinya, penyebabnya pun sudah bisa ia tebak.


Erlan berjalan menghampiri istrinya. Asyila sedang melamun dan bergelut dengan pikirannya bahkan ia tak sadar jika suaminya kini sudah berada di kamar. Erlan lingkarkan kedua tangannya ke arah perut Asyila, ia memeluk istrinya itu sambil menghirup dalam aroma yang memabukkan dari istrinya.


"Kenapa melamun hm ?"ucap Erlan


"Mas bikin kaget aja. Asyila gak apa apa kok mas. Mas darimana ?"tanya Asyila tanpa menjawab pertanyaan Erlan


Erlan melepaskan dekapannya, ia arahkan Asyila untuk menatapnya. "Bilang sama mas ada apa ?"ucap Erlan lembut seraya mengusap kepala Asyila


"Syila.. Syila.."ucapnya sedikit terisak. Erlan dengan cepat memeluk istrinya, membawanya ke dada Erlan


"Sstt... hei kok kamu nangis sayang ?"ucap Erlan seraya terus mengusap punggung Asyila untuk menenangkannya. Ia memegang dagu Asyila."Apa mas membuat kesalahan ?"tanya Erlan lembut


Asyila menggeleng"Tidak mas, Syila cuma gabisa kalo harus jauh sama Vino dalam beberapa hari ke depan."ucap Asyila menunduk


"Jadi maksudnya istri mas ini belum siap untuk berangkat bulan madu gitu hm ?"tanya Erlan

__ADS_1


"Bukan gitu mas, Syila tidak bermaksud menolak ajakan untuk honeymoon. Tetapi jika kita berdua pergi, terus Vino gimana ?"ucap Asyila sedikit khawatir


Erlan tersenyum. Wanita di hadapannya ini begitu sangat menyayangi anak sahabatnya yang bahkan tidak ada ikatan darah dengan Erlan ataupun dirinya, tapi jiwa keibuannya yang besar membuat Erlan sangat memuji karakter istrinya itu.


"Sayang.. Vino sudah mas beri pengertian ko, mas yakin Vino pasti senang jika kita pergi berbulan madu. Lagipula kamu ga perlu terlalu khawatir ada Papa dan Mama yang menjaga Vino. Ia juga anak yang mandiri sekarang. Jadi jangan khawatirkan dia lagi ya."jelas Erlan


"Tapi Syila gabisa jauh sama Vino mas"ucap Asyila sambil tertunduk


Erlan mengangkat wajah Asyila, ia kecup bibir Asyila tanpa me****tnya. "Kita juga perlu waktu berdua sayang, mas janji kita di Paris hanya seminggu saja. Setelah itu kamu bisa dengan puas bersama Vino."ucap Erlan


"Maaf mas aku terlalu egois ya, maaf aku ga mikirin soal kamu yang harus aku perhatikan juga, aku harusnya bisa memprioritaskan kamu juga karena sekarang kamu udah jadi suami aku."ucap Asyila kembali menunduk


"Engga kok sayang. Udah gausah bahas hal gini lagi deh, yang terpenting kamu siapin aja apa yang mau dibawa buat nanti disana."ucap Erlan


Erlan kembali memeluk Asyila dari belakang, menghirup aroma memabukkan istrinya. Ia menyempatkan mengecup ceruk leher Asyila bahkan tak segan mengh***p sehingga menimbulkan tanda merah. "Mas ga butuhin apapun sayang,cukup kamu kasih servis terbaik aja selama disana. Mas pasti senang."ucap Erlan sambil berbisik dengan nada sensual bahkan tak segan ia melakukan hal yang tak diduga oleh Asyila


"Mas ih apaan sih ? Kalo ada yang masuk gimana ?"ucap Asyila sedikit gugup


"Tenang sayang mas udah kunci ko kamarnya, jadi aman. Mau dilanjut ?"tanyanya semakin sensual


Erlan membalikkan tubuh Asyila, ia tatap dalam mata istrinya. Erlan semakin mendekatkan wajahnya dengan Asyila, istrinya bahkan sudah menutup matanya karena malu. Ia mencium bibir Asyila yang kini menjadi candu untuknya. Asyila masih menutup rapat bibirnya, namun dengan cepat Erlan menggigit bibir istrinya dan membuat Asyila sedikit membuka mulutnya. Lidahnya sudah menjelajah setiap rongga mulut Asyila

__ADS_1


"Mas...eemmmppp"Asyila melenguh


Erlan terus mencium bibir istrinya, bahkan lambat laun ia sudah membaringkan Asyila di tempat tidur itu. Kini Asyila sudah berbaring di tempat tidur, Erlan kini mengkungkung tubuh Asyila. Ia tatap istrinya dengan dalam mengisyaratkan dia ingin menjadikan Asyila miliknya sekarang. Erlan kembali mendekatkan wajahnya dengan Asyila, ia kecup kening, kedua mata, hidup, pipi dan terakhir bibir Asyila. Ia kembali mel***tnya dalam, bahkan tangannya sudah terampil mengusap apapun yang ada pada tubuh Asyila. Tanpa sadar Erlan sudah membuka satu persatu kancing piyama milik istrinya, tak lupa ia meraba bagian punggung istrinya untuk membuka pengait yang menghalangi barang berharga milik istrinya. Tubuh Asyila bagian atas sudah terbuka sempurna, bahkan tangan Erlan sudah mulai meremas dua buah harta berharga milik istrinya. Asyila menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan *******.


"Lepasin aja sayang, ga akan ada yang denger ko"ucap Erlan seraya terus memainkan dua benda kenyal itu


"Ahh..Mas Er-Erlan"ucapnya tertahan karena terus terbuai oleh perbuatan Erlan. ***** Erlan sudah sampai dipuncak, ia bahkan sudah bersiap untuk kembali meloloskan pakaian bagian bawah istrinya. Saat celana piyama sudah terbuka, hanya tersisa kain segitiga disana. Tangannya sudah sedikit menurunkan kain itu, namun tak lama..


Tok..Tok..Tok...


"Papa.. Mama.. Ini Vino Ma Pa.."teriak Vino yang terus mengetuk pintu kamar keduanya


"Mas itu Vino... udah ya mas"ucap Asyila yang masih terbuai dengan perlakuan Erlan


"Huftt ganggu banget si anak kamu Yank."Ucap Erlan seraya bergulir ke samping Asyila


"Sabar ya mas, masih ada waktu di Paris kan ?"ucap Asyila sambil membenarkan pakaian dan penampilannya


"Kamu ga paham si Yank, udah diujung banget ini. Tapi gapapa deh yang tadi pemanasan dulu aja. Servisnya pas kita udah sampe Paris ya. Kamu harus kasih servis terbaik pokonya."ucap Erlan


Asyila hanya mengangguk malu.

__ADS_1


Kalo udah di Paris nanti jangan harap kamu bisa lepas dari aku Sayang. Aku jamin kamu bakal kelelahan dan bakal aku bikin gabisa jalan deh hahahha.Batin Erlan


__ADS_2